|
|
||
|
|
TNI Berbadan Tanpa Jiwa | |
|
BERITA TANAH AIR LOCAL NEWS MANCA NEGARA OPINI BUDAYA & TRADISI IMMIGRASI ENGLISH AMRIK JENAK JENAKA
|
Oleh: Roman
Celnado
Sejak Orde Baru turun, makin banyak terkuak prestasi negatip TNI dimasa lampau maupun masih bisa disaksikan saat-saat ini di Timor Timur dan paling baru di Jakarta.Pelatihan kaum milisi dan mempersenjatai mereka adalah karya anggota TNI.Tidak tanggung-tanggung. Wiranto malah mengirim dua ahli terornya ke Timtim lama sebelum referendum dilaksanakan,yaitu Syafie Samsuddin dan Zacky Makarim. Rakyat diteror, dibunuh, Dili dibumihanguskan. Permainan tidak berperikemanusiaan ini dilaksanakan dengan penuh arogansi:sampai-sampai kedua ahli teror ini sempat menyaksikan (mungkin malah mensupervisi) penghancuran rumah Uskup Belo dan gereja-gereja serta gedung-gedung lain. Seolah mau mengatakan: nih ambil sampah yang kami tinggalkan! Sudah banyak Indonesia menanamkan dana di Timor Timur selama 24 tahun. Kalian rakyat yang tidak tahu berterima kasih, rasakan pembalasan kami ! Dari sudut pandang orang-orang ini sekilas terkesan ada kebenarannya:rakyat Timtim tidak tahu berterima kasih,sudah dibantu habis-habisan dengan dana untuk membangun infrastruktur,sekarang malah memilih merdeka.Di Jakarta sendiri berkali kali ada demonstrasi kelompok yang merasa sudah banyak berkorban di Timtim,dari saat perebutan wilayah sampai kemudian harus mempertahankannya.Saya bisa mengerti perasaan keluarga tentara yang menjadi korban. Ribuan tentara kita sudah menjadi korban disana.Tidak jarang kita dengar ceritera tentang satu kompi yang habis disapu Fretilin/Falintil.Benar,pengorbanan kita sudah sangat banyak dalam mempertahankan suatu kekeliruan sejarah,baik secara materi maupun jiwa! Meskipun pengorbanan jiwa dan materi sudah demikian banyak,mengapa rakyat Timtim tetap memilih untuk merdeka ? Pertanyaan ini yang rupanya tidak pernah dimajukan kepada Habibie serta Wiranto. TNI memang berhasil mempertahankan status quo Timtim selama puluhan tahun,meskipun tidak pernah berhasil mematahkan perlawanan rakyat.Diperkirakan bahwa sekitar 200 000 rakyat Timtim telah menjadi korban keganasan militer selama dua dekade.Apakah mereka yang memprotes lupa bahwa 200 000 rakyat Timtim tewas (belum lagi yang dianiayai dan diperkosa) dibandingkan dengan sekitar 1500 prajurit TNI yang tewas dan 2000 yang cacat merupakan suatu perbandingan yang sangat pincang ??? Apakah 3500 prajurit TNI lebih berharga daripada 200 000 rakyat Timtim ? Kecongkakan dan kebrutalan TNI terhadap rakyat bukan hanya terjadi di Timtim.Dimana daerah dikuasai tentara,disitu pula rakyat menderita.Lihat saja apa yang telah dilakukan terhadap rakyat Aceh, rakyat Irian, Ambon, Sambas, peristiwa Mei 1998 di Jakarta, peristiwa Tanjung Priok, peristiwa Semanggi dsb. Kekejaman tentara mulai terlihat di Kalimantan Barat selama menghadapi PARAKU pada akhir tahun enampuluhan. Pemerkosaan terhadap wanita-wanita dimulai disana, tetapi tidak ada yang berani melaporkan karena malu. Jadi, pemerkosaan bukan hanya terjadi di Aceh, Irian, Timtim, Jakarta,tetapi boleh dikatakan pertama kali terjadi di Kalimantan Barat. Akan menarik jika ada diantara pelaku sejarah disana yang sekarang pasti sudah pensiun sebagai tentara berani mengungkapkan kebobrokan sejarah tentara ini.Boleh dikata tidak ada satupun pemilik toko atau warung nasi di Sambas, Pemangkat, Singkawang, Mempawah dan Pontianak yang tidak pernah ditampar tentara.Sebabnya ? Sehabis makan dan minum,tentara cuma bilang:saya utang ya ? Siapa yang agak menggerutu lalu memperoleh hadiah tangan alias ditampar. Demikian juga bagi pemilik toko-toko.Tentara masuk toko beli kain dan barang-barang lain tidak dibayar. Sampai saat ini juga trauma masa lalu akibat penindasan tentara ini masih terasa. Pendeknya rakyat takut berurusan dengan tentara dan polisi.Rakyat menjadi sapi perah. Tentara dan polisi (isteri-isteri mereka) yang mendalangi penyelundupan ke Sarawak,penebangan kayu liar, dsb. Saya yakin bahwa pengalaman rakyat Kalimantan Barat menjadi cermin bagi daerah lain yang telah saya sebutkan diatas. Tentara kita cuma mengerti istilah-istilah: culik, pukul, tendang, aniaya, perkosa, tembak. Segala duit yang dikeluarkan dalam rangka AMD (Abri Masuk Desa) ternyata sia-sia saja.Hanya kulitnya yang seolah-olah kelihatan dekat dengan rakyat. Tidak terlepas kemungkinan bahwa yang terjadi justru AMD diplesetkan menjadi Aku Menggerayangi Dara atau Aku Merampas Desa. Dimana daerah dikuasai tentara, disitu pula rakyat menderita lahir dan batin. Kata moral tidak dikenal Dalam suatu diskusi interaksi sekitar setahun yang lalu, seorang perwira muda dari Angkatan Laut dengan sangat bersemangat menghimbau agar kita jangan terlalu berharap adanya reformasi yang didukung tentara. Di AKABRI sendiri para kadet diajarkan segala ilmu kecuali satu: MORAL. Maka itu jangan berharap para jendral yang sekarang berkuasa akan mengerti moral dalam keputusan mereka.Yang dikenal cuma kekuasaan dan kekerasan ! Ingat bahwa TNI biadab hanya dilatih untuk MEMBUNUH dan DIBUNUH. Mereka tidak pernah diajarkan untuk membela RAKYAT Perubahan nama dari ABRI menjadi TNI tidak akan membawa perubahan,selama hanya kulitnya saja yang berubah.Yang jauh lebih penting adalah perubahan jiwa. MORAL sebagai manusia, moral sebagai alat negara yang mestinya mengabdi rakyat harus ditanamkan. Dengan mengenal moral, seorang tentara akan dapat membedakan mana yang BENAR, mana yang TIDAK BENAR dan mana yang DIPERBOLEH-KAN. Akibat tidak mengenal moral, kita bisa saksikan segala kekejaman yang telah dilakukan tentara kita selama puluhan tahun. Kembali saya ingatkan lagi kegagalan Orde Baru dengan ABRInya yang tidak berhasil mengemban misi atau mengisi semangat yang tercantum dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya: Bangunlah jiwanya,bangunlah badannya.Sangat menyedihkan bahwa selama ini yang dibangun cuma badan,tanpa jiwa. Secara keseluruhan kita telah menjadi semacam zombie, mayat berjalan tanpa jiwa. RUU PKB dipaksakan untuk disahkan DPR. Kalau benar telah diadakan banyak perubahan, mestinya disosialisaikan dulu kepada rakyat. Wiranto dengan arogan mengatakan bahwa RUU PKB harus disahkan ! Mahasiswa atau rakyat yang sejak berbulan-bulan memprotes dianggap sepi saja. Ini bukti pemaksaan kemauan terhadap rakyat.Dengan segala kesadisan tentara menghadapi mahasiswa. Alhasil: 7 korban jiwa, mungkin ratusan menderita luka-luka berat dan ringan, fasilitas umum rusak berat. Sesudah semua ini terjadi, dengan gampang jubir TNI mengatakan bahwa UU PKB ini ditangguhkan.Didepan TV dan media massa lain diakuinya bahwa "rupanya" rakyat kurang mengerti, kurang sosialisasi sebelum RUU PKB ini dimajukan ke DPR untuk disahkan.Demikianlah TNI menghadapi rakyat: represif, paksakan kemauan.Sudah jatuh korban dianggap biasa saja.Inikah Tentara Nasional Indonesia ? Masih beranikah Wiranto menatap rakyat ? Sungguh suatu kekejian yang luar biasa. Dalam hal ini saya tidak ingin masuk kedalam diskusi mengenai maksud terselubung dari para jendral dalam menggolkan UU PKB ini. Kasus pemaksaan disahkannya RU PKB sekali lagi dengan sangat jelas membuktikan bahwa TNI pro status quo. Bagi partai-partai yang benar-benar reformis, janganlah terjebak ! Hati Rakyat Selama dua minggu terakhir, beberapa netter telah banyak menyampaikan kritik, kekesalan, kedongkolan dan rasa keputusasaan terhadap TNI. Ada yang malah mengusulkan agar TNI dibubarkan saja karena bukannya melindungi, malah menindas rakyat. Mereka tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Dengan senjata yang dibeli dengan uang rakyat, tentara telah menindas rakyat. Suatu fakta yang sangat menyedihkan. Kita telah merdeka dari penjajahan kekuatan fisik asing, tetapi rakyat dijajah oleh tentara sendiri dengan nama keren Tentara Nasional Indonesia. Simpati masyarakat dunia terhadap penderitaan rakyat dianggap sebagai campur tangan urusan dalam negeri. Lalu sementara kelompok menghembuskan nasionalisme sempit untuk mengalihkan perhatian. Ablengkungsmanuver yang murahan ! Esensi permasalahan tetap sama,yaitu TENTARA DIMUSUHI RAKYAT karena selama ini tidak bisa merebut hati rakyat !!? Lihat saja bagaimana sejak peristiwa Semanggi tahun lalu dan kemarin di Sudirman rakyat ikut melempari tentara. Apakah para jendral sudah buta matanya atau memang hati yang buta ? Lalu dengan tenang Wiranto mengatakan bahwa gerakan mahasiswa ditunggangi preman. Mungkin saja ada beberapa preman yang ikut memanfaatkan kesempatan. Tapi secara keseluruhan, ini adalah gerakan menyampaikan suara nurani rakyat. Dalam suatu diskusi baru-baru ini di Jakarta, seorang peserta dengan agak emosional mengatakan bahwa TNI beraninya cuma melawan rakyat sendiri yang tidak bersenjata.Menghadapi Falintil saja tidak beres, apalagi menghadapi tentara asing dengan perlengkapan penuh. Paradigma baru diperlukan Saya sendiri agak skeptis apakah TNI dibawah pemimpin-pemimpin sekarang sanggup mengubah pola pikir mereka. Mereka sudah terbiasa dengan pola pendekatan kekerasan dan feodalistis: penguasa yang bersenjata selalu benar. Sebenarnya ada kader-kader pemimpin dalam tubuh TNI yang dapat diandalkan. Cuma saja dalam perseteruan kekuatan yang ada saat ini apakah mereka SANGGUP dan BERANI tampil kedepan membela kepentingan rakyat. Sudah pasti tidak mungkin mengadakan perubahan seketika. Sudah terlalu lama cara rekrut tentara berbau duit sehingga tujuan pengabdiannya cuma duit. Ini berlaku dari prajurit sampai Akabri. Disini kita lihat paralelisme kebobrokan dengan sipil. Untuk menjadi lurah, camat, bupati, gubernur dsb seorang harus mengeluarkan dana pelicin yang banyak. Setelah menjabat ya itulah: korupsi untuk mengembalikan (paling sedikit) dana yang sudah dikeluarkan.Kebobrokan TNI tidak terlepas dari kebobrokan kita berbangsa dan bernegara. Bagi pemegang kekuasaan dalam pemerintahan baru nanti,ini fakta yang harus dipertimbangkan kalau benar-benar ingin membangun Indonesia Baru.Kalau tidak, saya kuatir nanti cuma ganti orang saja. Lagu lama yang dikumandangkan,seperti Habibie belajar dari Suharto. Sami mawon: korupsi jalan terus, TNI terus menindas rakyat ! Selama TNI tidak berani mengoreksi diri dan membuat paradigma baru yang mengandung moral tinggi serta transparan bagi rakyat, selama itu pula tidak akan didukung rakyat. Penderitaan rakyat sudah terlalu banyak. Jangan coba membohongi rakyat terus, seperti yang dilakukan oleh Wiranto bulan April yang lalu dengan mengatakan bahwa pemerintah sudah mengadakan reformasi, tapi secara gradual. Bagaimana bisa ada reformasi kalau lengkah pertama saja belum diambil ? Buktinya Orde Baru dipaksa turun oleh rakyat. Janganlah terus membuat slogan muluk yang tidak dimengerti orang (malah yang membuatnya sendiri kadang-kadang saya ragukan apakah dia mengerti istilah itu). PARADIGMA BARU TNI harus mencerminkan: 1. Bahwa TNI ADALAH ALAT NEGARA,BUKAN PENGUASA NEGARA. Saat Suharto turun tahta,dengan lantang Wiranto mengatakan didepan televisi bahwa mulai saat itu Bapak Suharto dan keluarganya akan dilindungi ABRI.Betapa contoh ini mencerminkan kecongkakan ABRI yang menganggap dirinya diatas hukum ! 2.Bahwa TNI TUNDUK PADA HUKUM YANG BERLAKU. Lihat saja bagaimana anak KASAD yang tertangkap memperdagangkan shabu-shabu bisa lolos dari penegakan hukum ! Segudang contoh bisa dimajukan. 3.Bahwa TNI MENGUTAMAKAN KEPENTINGAN RAKYAT. Lihat saja bagaimana TNI memaksakan disahkannya RUU PKB tanpa mempedulikan protes rakyat. Lihat saja bagaimana TNI membantu milisi Timtim untuk menteror rakyat dan membakar fasilitas umum. 4.Bahwa ANGGOTA TNI AKAN DIAJARKAN arti MORAL. Jangan lagi anggota TNI masa depan bertindak bagaikan robot yang tidak mempunyai perasaan. Mereka harus diajarkan bagaimana membedakan mana yang benar dan yang salah serta apa yang diperbolehkan. Sejauh ini, yang dipelajari para perwira TNI yang memperoleh kesempatan belajar diluar negeri hanya segi luar saja. Jiwa dan moralitas dari suatu tindakan tidak diresapi. Hasilnya kita lihat antara lain pada diri Syafrie Samsuddin dan Zacky Makarim. 5.Bahwa TNI MEMERLUKAN DUKUNGAN RAKYAT Selama ini cuma semboyan saja.Yang terjadi justru sebaliknya: rakyat yang harus meminta belaskasihan tentara. Sebagian terbesar rakyat Indonesia sekarang mungkin sedang siap untuk mengkumandangkan lagu perjuangan yang selama puluhan tahun diajarkan di SD: CUKUP SUDAH MASA JANJI, CUKUP SUDAH SABAR MENANTI ... Masih ada waktu bagi TNI untuk secara jujur mengoreksi diri dan membuat citra baru yang dapat mengundang simpati dan dukungan rakyat.Kalau di luar negeri tentara kita sanggup mengambil hati rakyat tempat mereka bertugas,mengapa terhadap rakyat sendiri prinsip ini tidak diterapkan ? Keadilan dan kebenaran sudah terlalu lama diperkosa demi kepentingan kelompok dan pribadi. Semoga TNI berani mengambil langkah konkrit untuk mengadakan perubahan, dengan berpegang pada unsur paling penting,yaitu MORAL.Tidak mungkin kebenaran dan keadilan dinegara ini ditegakkan selama TNI tidak mengenal arti moral, apalagi mempraktekkannya. (IM) |
|
|
|
Kembali ke halaman depan Kembali ke halaman terbitan lalu |
|