Pengungsi Menjadi Gubenur Jendral


Klik gambar untuk melihat versi besar.

BERITA TANAH AIR
-Kronologis Krisis Indonesia
-Prasangka Rasial
-Sweeping terhadap Militer
-Beri Jalan Orang Tionghoa

LOCAL NEWS
-
M. Pakpahan di Loma Linda
-TNI berbadan tanpa jiwa
-Sejenak bersama Virgo H.
-Kunjungan dekan FKG Trisakti di L.A.
-Pengungsi Menjadi Gubenur Jendral
-Malam Sukuran CHI

MANCA NEGARA
-
Sejarah keturunan Tionghoa yang terlupakan

OPINI
-
Kenapa Tionghoa Indonesia jadi kambing hitam
-Demokrasi dan keberanian moral

BUDAYA & TRADISI
-
Tip Gunakan Sumpit

IMMIGRASI
-
Kelanjutan Status Asylum

ENGLISH
-
Wen Ho Lee's Daughter Speaks Out

AMRIK
-
Thanksgiving

JENAK JENAKA
-Jakarta Orde Baru
-Rencana Penyerbuan

 

Mungkinkah seorang pengungsi menjadi Gubenur Jendral? Apa yang tidak mungkin terjadi di negara lain, ternyata terjadi di Kanada!

Tanggal 7 October ini, Adrienne Poy, yang selalu menggunakan nama - keluarga mantan suaminya, Clarkson ditunjuk menjadi Governor General yang ke-26. Wanita 60 tahun ini lahir di Hongkong. Pada tahun 1941, berbareng dengan masuknya tentara Jepang, keluarga Poy masuk sebagai pengungsi (refugee) di Kanada. Pada waktu itu tidaklah mungkin bagi seorang Asia masuk sebagai imigran. Keluarga Poy beruntung karena mereka mendapat dispensasi khusus. Ayahnya adalah seorang tentara Inggris yang saat itu sudah mendapat beberapa tanda penghargaan.

KELUARGA POY - KELUARGA SUKSES

Lebih dari 50 tahun hidup di Kanada, anak anak keluarga William & Ethel Poy mencapai karier yang sangat gemilang. Anak keluarga Poy yang laki laki, Neville berhasil menjadi dokter bedah yang kenamaan. Menantu perempuan Poy menjadi satu satunya Senator berdarah Tionghoa. Adrienne sekarang telah menjadi kepala dari negara yang menerimanya sebagai pengungsi 58 tahun yang lalu. Ini sebuah kejutan. Baru pernah dalam sejarah Kanada yang berusia 132 tahun ini seseorang yang berdarah Tionghoa menjadi kepala negara.

Adrienne adalah seorang budayawan yang serba bisa. Sebagai pengarang, beliau telah menulis 2 novel pada tahun 60an. Setelah itu dia beralih ke broadcasting, TV dan film, mulai dari penyiar sampai ke producer. Pernah juga mewakili propinsi Ontario di Paris, semacam diplomat dalam perdagang-an dan kebudayaan.

ADRIENNE POY YANG SERBA BISA

Perjalanan hidup Adrienne sepintas lalu kelihatan lancar. Sebagai murid yang cemerlang, Adrienne mendapat beasiswa untuk masuk ke Univerisity of Toronto. Melanjutkan studinya sampai M.A. kemudian Adrienne melanjutkan studinya ke Universitas Sorbonne di Perancis. Beliau adalah seorang polyglot, menguasai berbagai bahasa. Fasih dalam 3 bahasa: Inggris, Perancis dan Italia, belum lagi bahasa Spanyol dan Kanton - membuat karier Adrienne lancar. Adrienne sudah menerbitkan 3 buku dan terkenal lewat suksesnya sebagai Executive Producer dari "Adriennce Clarkson Presents" di CBC. Program ini sudah berjalan selama 25 tahun, dan membuat dia sangat dikenal rakyat Kanada. Sebagai Produsen TV dan Film, Adrienne meraih puluhan penghargaan, mulai dari Gemini Award, Prix Gemeaux, Actra Award (Israel) dst dst. Tidak tanggung tanggung, delapan gelar Honoris Causa sudah diraihnya dari berbagai universitas terkemuka di Amerika Utara. Beliau juga duduk di berbagai pimpinan badan kesenian dan kebudayaan. Penghargaan tertinggi di Kanada, Officer of the Order of Canada diterima Adrienne pada tahun 1992.

KISAH PRIBADI ADRIENNE

Adrienne pertama kali menikah dengan Prof. Clarkson, seorang pakar ilmu politik. Sejak awal tahun 80an dia hidup bersama dengan seorang pakar falsafah dan pemikir Kanada yang terkemuka, John R Saul, yang muda beberapa tahun dari Adrienne. Mereka baru menikah beberapa bulan yang lalu, konon setelah mendapat pesan khusus Perdana Menteri Chretien mengenai pencalonan sebagai Governor General.

SAMBUTAN RAKYAT

Bagaimana pendapat masyarakat me-ngenai pengangkatan ini? Pers menyambut-nya dengan hangat dan semangat. Adrienne dianggap sebagai tokoh yang sangat sesuai untuk mewakili Kanada menjelang mili-neum ke tiga. Banyak pengagumnya diantara rakyat Kanada. Dilain pihak ada juga yang menganggap beliau snobbish. Terlalu "regal" dan angkuh bagi rakyat biasa. Jan Wong, seorang kolumnis terkemuka di Toronto malah menganggap Adrienne sebagai "kacang" yang lama lupa pada kulitnya. Lupa bahwa dia sebenarnya punya darah Tionghoa.

KISAH KISAH IMIGRAN SUKSES

Beberapa bulan belakangan ini 4 kapal yang berisi 600 orang pengungsi dari daerah Fujian mendarat di propinsi BC. Kehebohan imigran gelap ini banyak menimbulkan lagi rasisme yang laten. Pengangkatan ini sangat berarti untuk meredam rasisme. Bukan saja ada refugee yang berhasil, tapi tidak tanggung tanggung, mereka mulai memasuki bidang politik dan budaya, bukan hanya da-lam bidang business. Diantara yang sangat berhasil adalah Raymond Chan, wakil Menteri Luar Negeri Kanada. Raymond lahir di Hongkong dan kemudian masuk perguruan tinggi University of British Columbia di Vancouver. Begitu lulus Raymond menjalankan business restoran dan bekerja sebagai engineer di pusat penelitian nuklir. Kariernya menanjak setelah peristiwa Tien An Men. Raymond ketika itu memimpin organisasi HAM yang membela korban korban Tien An Men. Berkat usahanya, puluhan ribu pengungsi Tionghoa boleh menetap di Kanada, tanpa melewati prosedur yang biasa. Setelah terpilih sebagai anggota Parlemen, dia terpilih sebagai Secretary of State. Raymond telah 3 kali ke Indonesia sehubungan dengan peristiwa Mei 1998 dan Timor Timur. Pada saat kunjung-annya bulan Agustus lalu, beliau berdebat dengan BJ Habibie. Berita ini sudah dimuat di Indonesia Media beberapa bulan yang lalu.

Di propinsi British Columbia ada lagi seorang tokoh kaum Tionghoa. David Lam beberapa tahun yang lalu ditunjuk menjadi Lieutenant Governor propinsi ini, jabatan kehormatan tertinggi di sebuah propinsi. Beliau juga kelahiran Hongkong dan baru menjadi imigran di Kanada setelah berke-luarga dengan 2 anak. Berkat keuletannya belaiu menjadi milyuner dalam waktu 10 tahunan. Beliau seorang filantropis dan su-dah banyak sekali menyumbang ke berbagai badan sosial dan universitas. David Lam akhirnya di tunjuk Premier Van Der Zalm (setarap dengan Governor sebuah state di US) untuk m menjadi Lieutenant Governor. Van Der Zalm sendiri adalah seorang imigran Belanda yang masuk setelah Perang Dunia II. Patut dicatat bahwa sedikitnya dua menteri Kabinet Kanada sekarang ini adalah imigran generasi pertama. Belum lagi berba-gai anggota parlemen yang terpilih, ada satu yang malah belum 10 tahun tinggal di Kanada. Betapa indahnya suasana yang bebas dari diskriminasi dimana setiap orang bebas untuk mencapai cita citanya tanpa ada campur tangan dan peraturan peme-rintah yang membonsai. Suatu hal yang patut untuk dicatat Presiden Indonesia yang berikut agar Indonesia agar ikut menghargai kaum imigran. Mau tak mau harus di akui bahwa untuk memajukan negara - perlu "suntikan" dari darah baru kaum imigran. Singapura sangat sadar akan hal ini dan berusaha keras untuk memilih imigran professional. Kanada dan US selain memilih bakat bakat baik, juga mempunyai misi mulia untuk membantu mereka yang mengalami penindasan ni negeri negeri lain (Vietnam,Somali, Haiti, Bosnia, Kosovo dll) tanpa memandang ras dan agama. Hal ini terjadi juga di semua negara maju, kecuali Jepang. Kita doakan agar pemerintah Indonesia sadar akan hal ini dan bisa memanfaat-kan potensi setiap warga negara, tanpa mengungkit asal usul, ras, etnik dan agama yang dianutnya.

Semoga KTP baru tidak memuat segala kode untuk keturunan dan juga keterangan mengenai agama, yang akhirnya digunakan untuk menyulitkan warga. SEMOGA!(iwan suwandi/ Indonesia Media)

Kembali ke halaman depan
Kembali ke halaman terbitan lalu