|
|
||
|
|
Muchtar Pakpahan di Loma Linda | |
|
BERITA TANAH AIR LOCAL NEWS MANCA NEGARA OPINI BUDAYA & TRADISI IMMIGRASI ENGLISH AMRIK JENAK JENAKA
|
Acara dibuka agak terlambat dari yang dijadwal semula yang seharusnya dimulai pukul 8:00 malam. Sedikit kata sambutan dari Bapak K.E. Sianipar dalam pembukaan acara, di susul oleh moderator yang juga merangkap ketua cabang Partai Buruh Nasional, Bapak Herman Hemmie. Bapak yang beranak 3 ini pernah menulis buku : "Menarik Pelajaran dari Kedung Omboh", "Menuju Perubahan Sistem Politik", "DPR Semasa Orde Baru", "Potret Negara Indonesia", "Rakyat Menggugat 1 & 2" , "Untukmu Buruh Penjara Kutempuh", dan "Lima Tahun memimpin SBSI". Muchtar Pakpahan membuka ceramahnya dengan mengemukakan kondisi yang sebe-narnya di Indonesia saat ini. Beliau mengu-tarakan sangat menyedihkan, karena Indonesia termasuk yang nomor satu dalam hal: Korupsi, Pembunuhan, Pelanggaran Ham, Manipulasi, Kekacauan Lalulintas, Polusi kota, dan Perambahan hutan. Dari segi hutang ke luar negeri, setiap penduduk rata-rata dibebani hutang $1200,- demikianlah hasil karya dari Soeharto dan Habibie.
Hilangkan Biaya Invisible Agenda SBSI yang hendak di realisir dalam jangka pendek ini adalah peningkatan gaji buruh, dengan memberikan 20% dari penghasilan bersih perusahaan kepada buruh. Ide ini sempat memicu protes dari kelompok pengusaha industri. Namun penjelasan dari Pak Muchtar yang sering melakukan audit pembukuan dari perusahaan, mengemukakan, sering didapat biaya invisible yang statusnya sebagai biaya entertaintment kepada "bapak Ini dan bapak Anu", yang angkanya acapkali tak tanggung tanggung sampai milyaran. Nah biaya-biaya siluman inilah yang hendaknya pada era reformasi ini di eleminir,dan sudah waktunya dinikmati oleh buruh. Tentara Yang Mencuri Banyak perusahaan sering mempeker-jakan tentara atau
pensiunan sebagai petugas keamanan. Sering kedapatan justru tentara yang
malah mencuri diperusahaan, contoh-nya proyek Indo Rayon di Tapanuli
Utara, walaupun aktivitasnya dihentikan, tapi peng-gundulan hutan tetap
berjalan dan jelas dilakukan oleh tentara. Tadinya prasangka ditujukan
kepada kepada pemilik HPH yang melanggar ketentuan, kenyataannya lain dari
yang diduga. Tribunal of Military Crimes Masih tentang tentara, DR. Muchtar Pakpahan menyerukan,
agar Jenderal-jenderal yang berbuat kejahatan besar terhadap bangsa
Indonesia, dibawa ke pengadilan Internasional (Tribunal of Military
Crimes). Ten-tang Tribunal ini memang belum per-nah terjadi di
Indonesia, tapi tidak berarti tidak akan terjadi di Indonesia. Prosedur
ini bisa dilakukan terhadap negara yang tidak mampu mengadili dan
menghukum kejahatan militernya sendiri, biasanya memang kejahatan ini
didukung oleh rezim yang berkuasa, atau malah didalangi oleh rezim itu
sendiri. Maka atas keluhan dan tuntutan rakyatnya yang disampaikan kepada
PBB melalui komisi hak hak asasi manusianya (Mary Robinson di Geneva),
maka PBB akan membentuk tim pencari fakta. Setelah tim pencari fakta
menemukan data datanya yang bisa dianggap cukup kuat, maka dibuat tuntutan
melalui pengadilan Internasional. Sidang pengadilan bisa dilakukan dengan
memanggil pelaku kejahatan (yang biasanya tidak mau muncul di pengadilan).
Lalu pengadilan Internasional menjalani sidang terhadap terdakwa secara in
absentia. Dari hasil keputusan hakim Internasional, apabila dinyatakan
terdakwa bersalah, maka data data terdakwa akan disebarluaskan kesetiap
Port d’entree disetiap pelabuhan didunia, dan terdakwa dinyatakan
sebagai "buronan". Jadi apabila terdakwa pergi keluar negeri
hampir bisa dipastikan tidak akan lolos. Bukan saja tindakan ini berlaku
bagi terdakwa saja , bahkan anak isterinya juga akan ditolak masuk, atau Dukungan Solid untuk Mega Ex Dosen Universitas HKBP, UKI, dan Universitas 17 Agustus 1945, ini, juga menyatakan dengan bulat dukungannya terhadap Mega untuk menjadi presiden RI yang mendatang. hal ini sempat menimbul-kan kesalahpahaman dari seorang audiensi yang salah menalar ucapan dari Pakpahan yang diduganya agak berkelit, karena pernyataan sebelumnya yang menginfor-masikan bahwa; Secara diatas kertas Habibie yang bakal menang. Rupanya sekelompok masyarakat yang fanatik PDI-P menjadi tersinggung. Untunglah panitia cepat mengerahkan tenaga keamanan yang handal dalam meredakan ketegangan itu. Maka setelah insiden itu Pak Muchtar Pakpahan menandaskan kembali bahwa beliau dengan sepenuh hati mendukung Mega menjadi presiden yang mendatang. Kalau Habibie jadi presiden berarti tidak ada harapan, dari sudut HAM dia gagal, dari sudut korupsi, Bank Bali sudah jelas kasusnya. Acara berlanjut dengan tanya jawab yang berlangsung sampai larut malam (IM) |
|
|
|
Kembali ke halaman depan Kembali ke halaman terbitan lalu |
|