|

Menpora di L.A.
Dubes Dorojatun
|
Tatap muka dengan Menpora.
Los Angeles, 28 Juni ,1999. Memenuhi permintaan dari
Menpora, Bpk.HR.Agung Laksono, telah diadakan Temu Muka dan Diskusi dengan
masyarakat Indonesia di Los Angeles yang mengambil tempat di Auditorium
Krida Loka, KJRI Los Angeles. Acara yang diawali dengan makan malam itu
dibuka oleh Acting Konjen, Bpk J.S. Philliang.
Dalam kata perkenalannya, Menpora sudah menandaskan bahwa
kedatangannya tidak untuk mendiskusikan bidang olahraga (apalagi urusan
olahraga Gulat-Red), melainkan lebih menekankan kepada soal politik,
Pak Agung yang mengaku sering bolak balik Jakarta-LA hampir setiap 3 bulan
sebelum dia menjabat Menpora ternyata mempunyai anak-anak yang memang
sekolah di LA. Bapak yang stylenya mengingatkan kami pada mantan Menpen
Harmoko ini, rupanya telah mengamalkan secara sungguh- sungguh sila pertama
dari Pancasila dikeluarganya sendiri, karena dia mengakui bahwa walaupun
dirinya seorang muslim, namun dia tidak keberatan dengan isterinya yang
menganut agama Kristen.
Mengakui kemenangan PDI-Perjuangan.
Menpora mengakui keme-nangan memang ada di tangan PDI-P
dibawah ibu Mega, dengan ancer-ancer 34%, lalu disusul Golkar 26%, karena
itu koalisi dengan partai partai lainnya tetap diperlukan, untuk meraih 351
kursi dari 700 kursi yang tersedia.
Undang Undang tidak melarang presiden
wanita
Menpora juga menandaskan bahwa, memang dalam UUD tidak
pernah dinyata-kan pelarangan wani-ta jadi presiden. Per-nyataan ini dalam
me-nanggapi salah satu partisan mimbar, yang merasa nada sumbang yang
dilan-sir akhir akhir ini untuk menjegal Mega menjadi presiden.
Kewanitaan Menperta diragukan ?
Ketika dibuka mimbar tanya jawab, seorang hadirin dengan
sangat penasaran bertanya : "Apakah Menteri peranan wanita, Tuti
Alawijah itu betul wanita? Karena timbul keraguan atas kewanitaanya setelah
dia membuat statement yang seolah mendiskreditkan capres
wanita."tukasnya. Menpora menjawab dengan penuh keyakinan bahwa dia
tahu betul Menperta itu seorang wanita asli.
Habibie warganegara Jerman ?
Lagi, timbul pertanyaan sensasional yang sering kita
dengar pada mimbar mimbar sebelumnya; "Apakah presiden Habibie seorang
warganegara Jerman? Karena dia pernah menjabat suatu posisi yang penting di
Jerman, yang lazimnya hanya dipegang oleh orang yang berwarganegara
Jerman." Menpora dengan sangat diplomatisnya menjawab:
"Kewarganegaraan pak Habibie tak perlu disangsikan, dia warganegara
Indonesia."
Penghamburan uang Golkar di Sulawesi Utara
Bpk. Emile Mailangkay selaku ketua PPLN KJRI –LA 99’
dan tokoh masyarakat Kawanua, menanyakan kebenaran kasus penghamburan uang
oleh Golkar disana oleh Baramuli. Karena menurut laporan-laporan dari putera
daerah Manado, pada waktu kampanye, propinsi Sulawesi Utara sudah dinyatakan
merah total, alias mayoritas adalah mendukung PDI-Perjuangan. Mengapa
setelah Baramuli dari Golkar kasak kusuk disana , tiba tiba hasil pemilu di
Sulawesi Utara bisa dimenangkan oleh Golkar? Dengan nada yang emosionil, pak
Emile menandaskan bahwa; didalam wilayah PPLN akreditas KJRI-LA yang
dipimpinnya dia yakin tidak ada penghamburan uang oleh Golkar, karena dia
sudah menjaga segala aspek agar pemilu di wilayahnya dilangsungkan dengan
100% Jurdil, alias tidak ada "money politic", dan mengapa tidak
sebaiknya Golkar mundur saja dan beri kesempatan pada parpol yang memang
dikehendaki rakyat banyak, pertanyaan ini diajukan karena, sehubungan dengan
Menpora yang juga statusnya sebagai salah satu ketua Golkar. Dalam hal ini
pak Agung Laksono menyangkal adanya penghamburan uang Golkar oleh Baramuli.
Kelihatan dari air muka pak Emile ada kekecewaan atas jawaban diplomatis
menpora itu.
Hilangnya kepercayaan rakyat.
Pastor yang melayani Keluarga Katholik Indonesia di
Amerika (KKIA), Romo Lukas, mengingatkan bahwa kepercayaan rakyat sudah
tidak ada lagi terhadap penguasa, banyak tenaga tenaga ahli disinyalir telah
meninggalkan Indonesia, bersama juga dengan modalnya. Rakyat Indonesia tidak
butuh undang undang atau peraturan peraturan yang dibuat untuk
mempertahankan status quo, tapi yang dibutuhkan adalah "kepercayaan
rakyat", rakyat sudah tidak percaya lagi dengan Golkar. Kalau
pemerintahan mendatang Habibie masih duduk sebagai presiden, Kepercayaan
rakyat sudah tidak ada, sebab rakyat tahu siapa sebenarnya ada dibelakang
Habibie. Mengenai persyaratan sebagai Capres harus sarjana dan lain
sebagainya, Soeharto pendidikannya juga tidak tinggi, yang penting adalah
dapat mengatur orang orang yang bekerja disekitarnya. Untuk itu dihimbau
agar Golkar mundur dan beri kesempatan kepada yang lainnya, jangan berdalih
macam macam untuk mendu-dukkan orang yang itu itu lagi dalam pemerintahan.
Dari semua statement yang dilontarkan oleh masyarakat Los
Angeles, mungkin dapat disimpulkan sebagai berikut: Kalau sampai Ibu Mega
tidak menjadi presiden RI yang ke-4. padahal terbukti PDI-P yang diketuainya
menang dalam pemilu, maka dunia akan menertawakan Indonesia, dan rakyat
kecil akan heran, mereka akan merasa dibodohi dan kecewa berat. Walaupun
sudah dilansir bahwa pemilu adalah pemilihan partai, dan bukan pemilihan
presiden, karena tingkat kecerdasan rakyat Indonesia masih belum mampu untuk
memilih presiden secara langsung. Disisi lain tingkat kecerdasan rakyat
Indonesia lebih tak mampu lagi melihat presiden terpilih yang bukan dari
partai pemenang. Ini tidak masuk dalam akal mereka. Phenomena ini terbukti
dari adanya cap jempol darah, mengubur diri, jalan merangkak, dan kelakuan
yang aneh aneh dari rakyat untuk menggoalkan Mega menjadi presiden.
Dosa bangsa yang paling besar adalah: tidak mampu
menyekolahkan anak-anak nya.
Menpora membandingkan anggaran pendidikan dinegara negara tetangga
sudah mencapai 25% , sedangkan Indonesia masih 7% , jadi dia mencanangkan
anggaran pendidikan Indonesia seharusnya diting-katkan sampai diatas 30%
dari seluruh anggaran belanja negara. Mungkin karena itulah, supaya pak
Agung tidak dicap sebagai pendosa maka, dia memberikan seperangkat komputer
set kepada PERMIAS, yang diserahterimakan kepada ketua PERMIAS, Drg. Cortino
Soekotjo, pada akhir pertemuan.
(Indonesia Media)
|
|