|
|
Seminar oleh Guru besar Universitas Indonesia Prof. DR. James Dananjaya Peranan Tionghoa Dalam Perkembangan Kebudayaan Indonesia Oleh: Utomo Lukman & Dr. Irawan Latar Belakang Sebagai salah satu kegiatan Committee for Human Rights in Indonesia, maka telah diadakan seminar bersama Prof. DR. James Danandjaja alias Tan Soe Lin di Duarte Inn pada hari Sabtu, 9 September 2000. Pak James ini adalah lulusan UC Berkeley. Beliau sekarang sedang mengadakan penelitian di UC Berkeley untuk penerbitan buku folklore Amerika dalam bahasa Indonesia yang dibiayai oleh Fulbright. Folklore ini merupakan keahlian beliau yang tak ada duanya di Indonesia. Sudah belasan buku ditulis beliau, termasuk buku humor. Acara kali ini sekaligus untuk memperkenalkan “Tionghoa Cultural Center” yang sudah mulai mengadakan kegiatan. Dari Makanan Sampai Rumah Sakit Dengan bahasa humor yang menjadi ciri khasnya, Pak James memulai dengan bahwa peranan Tionghoa dalam pembangunan kebudayaan Indonesia bukanlah hanya dari segi makanan saja seperti taoge, tauco, bakmi, pangsit, siomay saja tapi banyak dari segi lain. Tahukah kalau ada beberapa artis kita yang Tionghoa. Salah satu penyanyi & pencipta lagu terkenal yaitu Titik Puspa sudah mengakui kalau dia keturunan Tionghoa. Lalu sekolah yang cukup terkenal adalah Pah Hua (Tionghoa Hwee Kwan) di sekitar Perniagaan, Pa Chung di sekitar Mangga Besar, Sin Ming Hui di Gajahmada. Rumah sakit modern pertama di Indonesia yang didirikan oleh kaum Tionghoa (yayasan Kong Kuan). Bahkan RS ini dibangun sebelum CBZ (RSCM), dan sebelum Yang Seng Ie (Husada), namun karena alasan yang tidak jelas RS ini dibongkar oleh Belanda. Nyaris sejarah ini terlupakan kalau tidak prasastinya ditemukan di gedung Arsip Nasional yang pernah tercampakan sebagai marmer pijakan kaki. Yang membangun kali Ciliwung di pusat kota adalah seorang bangsawan Tionghoa. Gedung-gedungpun banyak yang dipengaruhi arsitektur Tionghoa. Tengok saja di Jakarta dan berbagai kota besar lainnya di Indonesia. Bahkan beberapa mesjidpun menunjukkan arsitektur Tionghoa karena ada banyak sunan yang keturunan Tionghoa dari 9 sunan di Indonesia, (baca tulisan Sie Hok Tjwan…red). Dari sudut Kesenian seperti Gambang Kromong, Cokek/Ronggeng, Lenong , wayang Potehi, Barongsay, dan lainnya. Dari segi dunia ala Las Vegas, dikenal Koprok, Ceki, Kiu-kiu (gapleh), Mah yong, Hwa Hwei, dan terakhir Tah Siauw (besar/kecil tebakan buntut). Jadi kalau dibilang pengaruh kebudayaan Tionghoa hanya dari segi makanan saja adalah keliru besar. Ataupun dari segi uang cepek, ceceng, gocap, ceban dll. Cerita Unik Pengalaman hidup pak James adalah unik. Beliau pernah menjadi guru balet di Chiauw Cung Mangga Besar. Selain itu mengajar di sekolah Tionghoa saat belum ditutup pemerintah. Walaupun tidak menikah beliau mengangkat 2 anak pribumi. Sekarang bersekolah di perguruan tinggi yang tetap dibiayai beliau. Sejak peristiwa Mei 98, beliau aktif menyuarakan penghapusan diskriminasi terhadap Tionghoa. Selain itu beliau laris berceramah mengenai Tionghoa untuk mengetahui sejarah Tionghoa di Indonesia. Beliau adalah lulusan Pah Hua dimana salah alumninya adalah Brigjen Teddy Jusuf yang dikenal sebagai ketua Paguyuban Marga Tionghoa Indonesia. Sindhunata ngaku salah Dalam hal Integrasi vs Asimilasi, menurut pak James yang paling cocok di Indonesia bukanlah asimilasi tetapi adalah integrasi sesuai lambang negara kita Bhineka Tunggal Ika. Indonesia terdiri dari banyak suku. Terbukti asimilasi yang dipaksakan pemerintah gagal terlihat orang Tionghoa tetap menjadi kambing hitam, kelinci percobaan dan sapi perahan. Sindhunata salah satu tokoh asimilasi sudah mengakui kesalahannya dan memang kita lihat selama ini asimilasi tidak membawa penyelesaian. Kalau ada gejolak politik, Tionghoa paling mudah dijadikan korban. Malah saat ini berkembang konsep salad bowl untuk negara yang etnis sangat majemuk seperti Indonesia dimana segala etnis dapat hidup berdampingan secara damai tanpa ada pertumpahan darah. Asli atau Tidak Menurut beliau di Indonesia tidak ada suku yang benar-benar asli kecuali beberapa suku di bagian timur. Moh. Husni Thamrin matanya berwarna biru. Prof. Sahetapy yang vokal matanya agak sipit. Juwono Sudarsono ada keturunan Belandanya. Yusril Mahendra mungkin juga punya campuran Tionghoa. Kalau memang benar mau dikatakan asli di Indonesia mungkin hanya golongan pitchentropus erectus saja. Penutup Acara yang dipandu Nugroho Iskandar MBA ini memakan waktu selama 2 jam. Akhir diskusi terasa sangat menarik dimana terlibat diskusi untuk mengganti nama dengan nama tionghoa kembali, bagaimana meningkatkan peran tionghoa luar negeri untuk keadaan di Indonesia. Himbauan pak James adalah manfaatkan kesempatan ini untuk menaikkan ke permukaan atau publik bahwa Tionghoa punya andil di bumi Nusantara yang selama ini banyak ditutup-tutupi. Di Indonesia banyak orang Tionghoa yang menjadi permata yang indah hanya sayang masih disembunyikan. Kapan akan ditemukan? |
Other stories:
California Republican Party
passed resolution unanimously |
|||
|
FastCounter by bCentral |