locallogo.jpg (5185 bytes)

Peranan Orang Tionghoa
Dalam Penghentian Pembantaian 40.000 Jiwa Di Makassar


Klik gambar untuk melihat versi besar.

FREE WALLPAPER!!
Click the resolution you need:
640x480
800x600
1024x768
(Note: To set as a wallpaper just right click the enlarged image then select set wallpaper.
If you want to save the wallpaper select save picture as after the right click)

BERITA TANAH AIR
- Para Jenderal akan dipanggil paksa
- Komisi PBB Temukan
Bukti Keterlibatan TNI

-Kopassus Mengkoordinir Milisi
- Bukan Hulubalang Rezim
- Muhammadiyah Desak Pemerintah Akui Konghucuisme
- PBNU Sesalkan Penyerbuan Wisma Doulos
- Jenderal Wiranto Bakal Segera Pensiun?

LOCAL NEWS
- Dialog Interaktif NIA & Kesaksian Jonas Souisa
- Tatap Muka Dengan Christianto Wibisono
- Malam Natal Masyarakat Indonesia L.A. '99
- Peranan Tionghoa Dalam Penghentian Pembantaian di Makasar
- Sejenak Bersama Pdt. Eka Darmaputera Ph.D.
- 80-20
- Himbauan Kepada Indonesian Community

MANCA NEGARA
- Anak Gus Dur Belajar Bahasa Mandarin
- Tiongkok Sepenuhnya Dukung Keutuhan Wilayah RI
- RI Terima Budaya Tiongkok
- Gus Dur Turunan Tionghoa?

POLITIK
-
Habibie Gagal, Daerah- daerah tuntut merdeka (Bag.2)

OPINI
- Membangun Politik Luar Negeri Yang Bebas dan Mandiri

BUDAYA & TRADISI
- Perahu Pinisi (Bag.2)

IMMIGRASI
- Keterangan Mengenai Visa NonImigran

ENGLISH
- Tragedy Befalls Ternate, Indonesia

JENAK JENAKA
- Bukan Basa Basi +  Jambret

Oleh : Butce

Menanggapi tulisan dari bapak Sie Hok Tjwan yang menuliskan peranan Tionghoa keturunan dalam sejarah Indonesia pada Indonesia Media edisi November 1999. Terutama peranan mereka dalam menghentikan peristiwa pembunuhan 40.000 jiwa di Makassar. Saya sebagai cicit dari Kong Siu Tjoan tergerak untuk menuliskan kisah ini yang saya dengar lansung dari kakek saya.

Konon pada waktu itu, Ida kuneng putri raja Maros jatuh cinta dengan seorang perantau Tiongkok yang baru datang dari Tiongkok daratan. Pemuda yang bermarga Kong ini ikut berjuang dengan Sun Yat Sen sebagan nasionalis, namun melarikan diri dari Tiongkok ketika Komunis mulai masuk dan menguasai Peking. Dari perkawina ala sam pek in tai ini diturunkanlah keturunan peranakan yang beragama Islam dan peranakan yang beragama Buddha. Kebetulan nenek saya dalam kelompok peranakan yang beragama Buddha.

Rumah kakek saya di Tamajene, hanya beberapa blok dari tugu peringatan korban 40.000 jiwa.

Yaitu suatu tragedi pembantaian besar-besaran oleh Belanda kepada penduduk Makassar atau merah putih pada waktu itu. Nenek saya sebagai saksi mata dari pembantaian itu seringkali masih berkaca- kaca ketika menceritakan pembantaian yang mengerikan itu.

Pada waktu itu, terdengar desas desus bahwa akan ada pembersihan. Barangsiapa yang didapati menyembunyikan bendera merah putih akan diangkut sekeluarga dan dibunuh. Dan benar pada siang itu,

jalan didepan rumah dipenuhi dengan ratap tangis orang -orang yang kedapatan mempunyai merah putih. Mereka dibawa ketanah kosong dan rawa-rawa di belakang rumah kami. Konon waktu itu mereka disuruh menggali lubang besar, setelah itu disuruh berdiri berjajar dan ditembaki dari belakang. Begitu selanjutnya. Ratap tangis minta ampun ibu-ibu, anak-anak, terdengar sangat memilukan. Semakin siang semakin banyak orang yang dibawa oleh tentara belanda. Suara tembakan terdengar tidak henti-hentinya.

Seisi rumah dicekam ketakutan yang luar biasa. Pintu dan jendela ditutup rapat-rapat. Yang laki-laki dengan bersenjatakan tombak menunggu dengan was-was. Nenek saya yang baru menikah waktu itu bersembunyi dengan pisau ditangan. Beruntung rumah kami sama sekali tidak diperiksa, entah karena kebetulan atau karena rumah orang Tionghoa. Dan disangka tidak punya merah putih.. Tidak tahan mendengar suara orang dibunuh, dengan memberanikan diri kakek saya menulis surat ke konsulat general ( Wang Tek Fun ) atau atase perdagangan Tionghoa waktu itu, bahwa pembantaian tersebut melanggar perjanjian dan tidak berperikemanusiaan. Dengan mengendap ngendap dan mempertaruhkan nyawa dia membawa surat tersebut.

Pada saat itu jalan-jalan menjadi sangat lengang, kedapatan di jalan bisa berakibat dituduh sebagai mata-mata atau merah putih, panggilan Westerling kepada pejuang kemerdekaaan pada waktu itu. Berbekal bintang mas tanda jasa dari Sun yat Sen kepada bapaknya, sebagai tanda pengenal, setelah mendapat pemberitahuan itu, konsul Tiongkok datang dan menghentikan pembantaian tersebut. Menurut nenek saya, kalau tidak ada interfensi dari konsul RRT tersebut akan lebih banyak lagi orang mati terbunuh di Makassar. Cerita ini tidak pernah diketahui oleh orang luar, hanya kalangan keluarga saja . Saya sangat surprise bahwa pak Sie Hok Tjwan bisa mengetahui akan kisah dibelakang layar ini.(BC/IM)

Kembali ke halaman depan
Kembali ke halaman terbitan lalu