|
||
|
Drs.
Laurentius Tedy Susanto |
|
|
BERITA TANAH AIR LOCAL NEWS MANCA NEGARA POLITIK OPINI BUDAYA & TRADISI IMMIGRASI LEGENDA ENGLISH AMRIK HEMAT & NIKMAT JENAK JENAKA |
Sekilas BiografiLahir di Sekadau kabupaten Sanggau 2 Januari 1942. Bahasa yang didapat dari pendidikan formal hanya bahasa Indonesia, sedangkan pengetahuan bahasa mandarin hanya diperoleh lewat les saja . SMAnya di Malang di Hwa Ing dan 2 tahun di Dempo Malang, masuk ITB Tahun 1962, 1969 jadi apoteker dan pulang kampung ke Pontianak, sebagai apoteker pengusaha, dan usaha utama yang sekarang adalah Dealer mobil Toyota di Kalbar. Tahun 1978 masuk membantu masyarakat Tionghoa sebagai pekerja sosial dalam lingkungan marga Lim (Yayasan Halim) dan ketua dari Yayasan Bhakti suci yang menaungi 40 yayasan disana 1978-1982 (2 periode) Beliau adalah promotor yang mengajukan suara untuk membereskan status warga yang terkatung-katung dengan hasilnya inpres nomor 2 tahun 1980, waktu itu Camat berwenang mensahkan SBKRI (WNI) yang sempat menerbitkan SKBRI untuk 200.000 orang WNI dalam waktu hanya 1,5 bulan. Sekarang agaknya DPR sedang menggodok UUD tentang kewarganegaraan. Sampai sekarang Pak Susanto masih menjabat sebagai ketua, kendati beliau sudah mohon di lengserkan berkali kali tetapi masih tidak diijinkan oleh pengurus. Kenapa mau masuk politik Sebenarnya jiwa politik sama sekali tidak ada didiri pak Susanto. Karena peristiwa Mei 1998, hanya ada 2 jalan, keluar atau "stay and fight". Dari pada lari tinggalkan kawan-kawan, lebih baik stay. Waktu itu beliau mencoba dorong tokoh-tokoh yang lain untuk berjuang. Karena itu dia buat Forum Khatulistiwa. Dia bilang kita tetap Tionghoa biar bagaimanapun juga dan sampai kapan pun juga, maka kita harus tunjukan identitas kita, dan masuk ke system. Kita harus lewat partai, tapi kalau ikut partai orang-orang pada takut pertamanya, karena trauma dengan Baperki. Namun phobia itu lama lama menyurut juga akibat tuntutan zaman reformasi. Sekarang banyak orang Tionghoa yang peduli dengan politik. Pengalaman sekian tahun, suara yang kita titipkan ke Golkar, tapi Golkar tidak pernah
memperhatikan pikiran kita. Bukan berarti kita mau ekslusif, di KALBAR dia kerja sama
dengan Dayak , bahkan orang Dayaknya dijadikan pimpinan. Di Singkawang OK, orang Hakka
lebih berani tapi orang Tio Ciu, takut. Walaupun berat perjuangannya meyakinkan orang
orang Tionghoa, tetap dikerjakan dengan konsisten membuat cabang-cabang si daerah. dan
terakhir lolos sebagai partai yang boleh ikut pemilu. Sebagai WNI kami punya saham atas pembangunan Republik Indonesia Yang penting kita harus Fight sendiri, ini yang menjadi latar belakang kita untuk masuk dalam politik . Kita lihat orang Yahudi di kejar-kejar di Jerman, Tapi begitu mereka ke AS, mereka ikut politik. dan banyak pengaruhnya ke kongress, walau anggotanya di kongress sedikit. Partai Bhineka Tunggal Ika Indonesia (PBI) PBI adalah partai Tionghoa , tapi miskin. sampai kampanye kita (Pak Susanto dan kawan kawan) harus keluarkan uang sendiri, hanya beberapa gelintir orang pada mulanya.. Kerja sama orang Dayak dan Tionghoa cukup baik . Setelah kampanye orang orang melihat dan simpatik lalu berikan dana sumbangan kepada PBI. Mereka juga berhubungan dengan partai sejenis secara regional seperti partai orang Tionghoa di Serawak. Ia menghimbau banyak anak muda untuk terjun kedalam system / politik. karena kalau sudah masuk kedalam system, maka kita baru bisa memperjuangkan hak kita, inilah jalan yang konstitusionil. Satu hal yg dialami ketika dia di DPR, yaitu kesempatan bicara adalah sangat terbatas. karena DPR yang sekarang lain dengan yang dulu, setiap orang mau ngomong setelah reformasi. Kalau hanya 1-3 menit bicara, ini tidak cukup waktu untuk bicarakan masalah Tionghoa. Tidak ada orang yang membicarakan nasib kita. Karena kesempatan bicara yang sempit, mereka sendiri hanya bicarakan kepentingannya sendiri. Kami tidak salahkan mereka (partai lainnya) karena mereka mempunyai kepentingannya sendiri. Untuk itu sekarang kita harus bicara untuk kita sendiri, karena waktu bicara kita di DPR kurang. Sudah saatnya orang Tionghoa disini bersatu. Ada baiknya ajaklah seluruh keluarga bergabung untuk perjuangan bersama. Dia tidak mau pindah ke AS karena di Kalimantan begitu banyak orang miskin yang harus diberi perhatian. Padahal pihak Jepang pernah menawarkan bantuan kepadanya untuk buka dealer di AS. Pemilik Dealer Utama Toyota Kalbar ini merelakan waktunya bekerja sebagai anggota MPR/DPR, beliau malah harus nombok Rp.14 juta rata-rata perbulan dalam mengemban tugas ini. Ini semata mata hanya karena kepeduliannya terhadap Indonesia.
Masalah Indonesia Banyak sekali ketimpangan ketimpangan yang harus di benahi, dari pemilu saja kita malu kepada dunia, negara mana yang menghitung suara pemilu sampai berbulan bulan, UUD '45 masih dianggap tak bisa disentuh, hanya mau di amandemen saja. Sekarang sedang diusahakan pemilihan presiden langsung, juga utusan daerah seharusnya dipilih dari daerah. Money politic gampang mempengaruhi DPRD dalam UUD yang ada sekarang. Kasus kasus korupsi yang besar masih belum bisa di bongkar dengan jelas, sampai sekarang belum ditangkap koruptor yang sesungguhnya, keluh Pak Susanto. Agus Djayaputra: "Yang penting hukumnya bisa ditegakkan" Dr. Frits Hong (pakar Perbankan): "Gampang periksa saja Bank, kucuran kreditnya kepada siapa, nota rekomendasinya dari siapa, dan lain-lainnya." Pak Frits juga dalam kesempatan ini menceritakan bahwa puteranya, Robert seorang ahli ekonomi ditawarkan untuk duduk dalam jajaran IBRA (Indonesian Banks Restructuring Agency) yang mengurus rekapitalisasi bank, tapi beliau berpesan kepada puteranya agar jangan tergiur untuk korupsi atau memancing ikan di air keruh, "kalau kamu mau kerja, kerjakanlah dengan rasa tanggung jawab untuk Indonesia, jangan sekali kali kamu makan uang haram", demikian tandasnya kepada putera tunggalnya. Soal kasus Sambas Susanto menjelaskan asal mula kejadiannya, bahwa ada orang Madura datang ke kampung Melayu, dan melakukan pencurian, lalu ditangkap dan dipukuli. Kemudian orang Madura ini pulang dan mengajak seluruh orang Madura untuk bunuh orang Melayu. Kelihatannya ada organisasi yang membiayai orang orang Madura. Karena ada tempat ekslusif untuk menampung pendatang dari Madura sampai mencapai populasi 80.000. KALBAR - populasinya kira kira Melayu 30 %, Dayak 51%, dan sisanya Tionghoa dan suku lainnya. . Tionghoa di Kalbar Forum Kathulistiwa memaparkan sejarah orang Tionghoa di Indonesia, pada abad 12 Tionghoa datang ke Kalbar, dan telah kawin campur dengan penduduk asli Dayak. Sebenarnya dari profil wajahnya pak Susanto jelas terlihat tulang pipinya yang tinggi menunjukkan dia adalah salah satu produk kawin campur Tionghoa-Dayak, dia juga menyatakan neneknya selalu mengenakan pakaian daerah, maka dia ingin Tionghoa yang sudah turun-temurun juga diakui sebagai suku asli. Dewan seni Tionghoa Kalbar, sudah diakui oleh PEMDA. sebenarnya dari orang Dayak sudah mau mengakui Tionghoa sebagai salah satu suku. dan juga melayu di Kalimantan sudah mau akui Tionghoa sebagai suku. tapi hanya tunggu suatu saat kondisi yang tepat untuk dideklarasikan. Di MPR/DPR Sewaktu Pak Susanto masuk team GBHN, dia hanya usul 2 masalah, yaitu mengusulkan memberi kebebasan beragama dan kemudahan mendirikan rumah ibadah, masalah ini sangat sensitive dan akhirnya tidak bisa dibicarakan. Yang kedua adalah memberikan mata pelajaran budi pekerti di sekolah, mula mula dari golongan lainnya tidak setuju pendidikan budi pekerti. tapi untungnya masuk juga dalam GBHN yang diperjuangkan oleh dia. Diperjuangkannya UU anti diskriminasi diperlukan jalur komisi II, hal ini sudah disampaikan kepada Yussril Mahendra, menteri penentuan Undang-Undang. melalui fraksi DPR, dan dilimpahkan kepada Prof. Sahetapy.(catatan SNB Solidaritas Nusa dan Bangsa pimpinan Esther Jusuf SH juga secara sinergi memperjuangkan UU ini) Masalah UU anti diskrimanasi, tidak ada resistensi yang terbuka, Mandagri sudah memerintahkan penghapusan tanda KTP pada warga keturunan sebagai realisasinya. Dalam hal ini Ir.Pius Chan (Ketua Committee for Human Rights in Susanto segera mencatat masukan ini kedalam organizernya untuk dibawa pulang ke rapat MPR/DPR yang akan datang. Kemana mengontak Pak Susanto ? Kantor Drs.L.T.Susanto Indonesia Media |
|
|
Kembali ke halaman depan Kembali ke halaman terbitan lalu |
|