|
|
|
|
|||
|
APRIL 2000 |
||||
|
BERITA TANAH AIR
|
Tamu Kita Bulan
Ini Benny Subianto, namanya memang persis sekali
dengan direksi dari salah satu perusahaan mobil raksasa di
Indonesia--Astra. Semua
ejaaannya persis sama sekali.
Tapi beliau adalah seorang peneliti independen di IPCOS (Institute
for Policy and Community Development Studies) dan pernah magang di
Institut Studi Arus Informasi (ISAI) milik Goenawan Muhammad.
Benny datang ke Amerika Serikat dalam rangka undangan UCLA dan juga
menyampaikan ceramah di Konperensi Internasional Studi Asia di San Diego
baru-baru ini. Sekaligus
juga menghadiri acara pelepasan Dan Lev seorang Indonesianis di University
of Washington Seattle, 13 Maret yang lalu.
Acara Dan Lev ini banyak dihadiri oleh pakar Indonesia seperti:
Christianto Wibisono, Goenawan Muhammad, Kastorius Sinaga, Daniel
Dhakidae, Abdul Hakim Nusantara, Todung Mulya Lubis, Erman Rajagukguk,
Marsillam Simanjuntak, dan Jeffrey Winters. Kelahiran Semarang ini adalah seorang
lulusan Universitas Indonesia bidang sospol dan melanjutkan S2nya di
Cornell University, Ithaca.
Pada tanggal 5 Maret yang lalu, beliau bertandang ke Kantor
Committee for Human Rights in Indonesia (CHI) di Duarte untuk berdiskusi
sekaligus mengetahui lebih jauh perjuangan orang Tionghoa di Los Angeles. Setelah kejatuhan Soeharto, beliau terlibat
penelitian mengenai politik Tionghoa pasca Orde Baru (Orba).
Beliau meneliti di beberapa kota besar Indonesia tentang perilaku
orang Tionghoa menghadapi pemerintahan baru.
Ditemukan bahwa kesadaran politik Tionghoa agak membaik
dibandingkan dengan jaman Orba, dimana selama 32 tahun dibungkam oleh
orang sakti bernama Soeharto.
Kalaupun ada orang Tionghoa yang berpolitik itu hanya masuk
kategori penggembira saja.
Soeharto menjadikan orang Tionghoa sebagai mesin uang saja.
Di Indonesia ada lelucon mengenai shio orang Tionghoa yang hanya
ada 3 padahal seluruhnya ada 12, yaitu: Kelinci, Sapi dan Kambing yang
konotasinya adalah kelinci percobaan, sapi perahan dan kambing hitam.
Jadi praktis selama 32 tahun orang Tionghoa dibungkam oleh
penguasa. Oleh
Faisal Basri, ekonom muda dan mantan Sekjen PAN orang Tionghoa itu
disebutkan bagai istri simpanan yang hanya mau dinikmati tubuhnya saja,
tidak pernah disayangi. Padahal dahulu kita mengenal ada Baperki,
Tiong Hoa Hwee Koan, Chung Hwa Hwee, Sin Ming Hui dll.
Kita juga mengenal nama-nama yang beken seperti Siauw Giok Tjhan,
Oei Tjoe Tat, Tan Po Gwan, Inyo Beng Goat, Auwyang Peng Koen, Gouw Giok
Siong, Go Gien Tjwan, Tan Eng Tie, Kho Wen Sioe, Yap Thiam Hien.
Mereka adalah nama-nama yang berjuang buat kemajuan Indonesia.
Ada beberapa yang menjadi menteri dan anggota DPR.
Selain itu karir mereka cukup terkenal.
Ada yang menjadi pengacara terkenal seperti Yap Thiam Hien, Gouw
Giok Siong, pemilik Harian Kompas Auwyang Peng Koen dan juga beberapa
dokter terkenal yang mendirikan rumah sakit seperti Husada di Mangga Besar
Raya. Jangan
lupa waktu dulu ada Universitas Res Publika (cikal bakal Trisakti) milik
Baperki yang terkenal.
Jadi kalau mau dihitung orang Tionghoa juga memiliki saham dalam
Republik Indonesia. Sejarah
juga banyak melupakan bahwa sebagian besar keturunan Indonesia berasal
dari Yunan Selatan. Kesadaran politik yang membaik ini banyak
disebabkan masih besarnya kekuatiran mengenai keamanan di Indonesia buat
golongan Tionghoa. Karena
selama ini memang etnis inilah selalu menjadi sasaran kemarahan rakyat dan
menjadi bulan-bulanan penguasa.
Di Solo, saat Pemilu 99 banyak orang Tionghoa menjadi Satgas PDIP
oleh karena untuk melindungi dirinya mereka sendiri jadi bukan untuk
tujuan partai. Belum
lagi di Pontianak, Singkawang, Medan, Palembang dan beberapa kota lainnya,
penelitian Benny menunjukkan keterlibatan Tionghoa Indonesia dalam politik
bukan hanya didasari oleh kesadaran politik tetapi juga oleh ketakutan
akan ancaman kerusuhan, penjarahan dan perkosaan seperti kasus Mei 98 yang
sampai sekarang belum dituntaskan.
Bahkan Prabowo Subianto, mantan Komandan Kopassus akan membuat buku
putih pembelaan dirinya atas sangkaan otak perencanaan tragedi biadab Mei
98. Mudah-mudahan
saja fenomena ini akan semakin berkurang sehingga rasa aman segera
dimiliki oleh Tionghoa Indonesia yang sudah menganggap Indonesia tanah
tumpah darahnya. Yang
juga lebih suka sayur lodeh, sayur asem, tempe, rawon, gado-gado
dibandingkan Fuyunghai, Capcai, babi hong, siomay, bakso. Tionghoa Indonesia memang harus proaktif
untuk memperjuangkan dirinya tapi juga harus juga ada jaminan keamanan
dari pemerintah. Usulan
kepada pemerintah Gus Dur agar jangan orang Tionghoa hanya dijanjikan atau
diiming-imingi saja untuk tetap bertahan di Indonesia sementara rasa aman
masih belum ada walaupun jaminan keamanan sudah diberikan secara verbal
perse. Siapa
yang mau hidup dibayangi rasa was-was tiap hari.
Kemana-mana dibayangi rasa takut padahal salah satu hak asasi
manusia adalah bebas dari rasa takut. Usulan lain buat pemerintah Gus Dur untuk
segera menegakkan hukum dan keadilan yang berlaku untuk semua golongan.
UUD atau UU boleh diamandemen atau dirubah tapi pelaksanaan di
lapangan harus juga dimonitor.
Contoh kecil saja yang katanya SBKRI buat golongan asing sudah
ditiadakan, tapi untuk golongan Tionghoa yang mau membuat paspor masih
saja diperlukan. Mudah-mudahan
saja sekarang sudah tak ditanya lagi.
Tanda-tanda khusus di KTP masih ada.
Membuat KTP ataupun SIM masih lebih mudah lewat calo, bahkan
calonya sendiri adalah pegawai bersangkutan.
Beranikah Indonesia seperti Tiongkok yang menghukum mati koruptor
baru-baru ini? Kapan
Indonesia akan disebut kembali sebagai salah satu macan Asia ganti dari
kucing yang mengeong kalau kondisinya masih seperti ini.
Thailand sudah bebas dari ketergantungan IMF, Indonesia masih
mengemis minta bantuan sana-sini.
Kalau kita perhatikan negara yang benar-benar melaksanakan hukum
dan keadilan, biasanya negara itu maju.
Indonesia bukan tidak bisa jaya kembali tapi sense of crisisnya
kurang dan goodwillnya untuk berubah masih rendah.
Memang kita tidak bisa menentukan dari siapa kita akan lahir tapi
kita bisa menentukan akan jadi apa kita nantinya. Dalam kesempatan itu Dr. Judo.D menambahkan
bahwa bukan tidak ada orang Tionghoa yang mau berkecimpung didalam kancah
perpolitikan pada saat ORBA. Beliau sendiri pernah menjabat sebagai
pengurus suatu golongan politik yang mendominasi saat itu. Jabatan yang
diembannya cukup tinggi, namun beliau enggan merinci apa jabatan
spesifiknya pada tingkat DPP itu. Beliau juga menjelaskan salah satu
sebabnya yang membuat dia lengser dari kancah politik adalah suasana
pemerintahan ORBA yang makin hari dirasa makin tidak karuan itu, ditambah
lagi system dari pemerintah yang menanamkan pola diskriminatif terhadap
suku Tionghoa dan toh tetap terkena pada dirinya juga. Padahal beliau
sudah mengabdi dengan rasa sebagai bangsa Indonesia seutuhnya. Namun
semangatnya untuk kemajuan Indonesia tetap membara, beliau juga
menyarankan agar LSM yang ada di Amerika ini juga harus merangkul semua
suku-suku asal Indonesia, sehingga pola rasialis yang pernah dialaminya
tidak selalu terulang lagi dari generasi kegenerasi.
Tingkat kebahayaan dari Indonesia sudah
tidak dapat diduga duga
. Dalam waktu sehari sudah bisa terjadi perubahan besar , walaupun
CIA tidak dapat meramalkannya. Hal ini mirip dengan situasi seperti dulu
terhadap Syah Iran. Marzuki tidak dapat dukungan sehingga dia
tidak bisa mengadili pihak pihak yang bersalah. Kalau Gus Dur sampai
sakit, dan mangkat, bagaimana nasibnya bangsa Indonesia ini . Disinyalir ada $150 juta grand yang
diberikan secara gratis untuk mengobati ekonomi Indonesia, kalau uang ini
jatuh ketangan orang orang yang tidak bertanggung jawab, yang ditakutkan
uang ini jatuh ketangan orang yang bikin kerusuhan. Belanda juga kasih $100 juta ke Indonesia,
dan harus diingat Partai partai juga bisa menghabisi uang tersebut dengan
berbagai alasan, dikawatirkan nantinya kembali ke system KKN nya ORBA. Jadi kita harus menyuarakan terus, melobby,
menuntut penegakan hukum termasuk menuntut penuntasan kasus Mei 98.
Yang penting jangan sampai under estimate, demikian ujar Pak Chris. Utomo Lukman/Dr Irawan/Indonesia Media
Syukuran
Panitia 150 Tahun Los Angeles
|
Anda ingin
Berlangganan Indonesia Media?
|
|||
|
FastCounter by bCentral |
|||||