|
|
|
|
|||
|
APRIL 2000 |
||||
|
BERITA TANAH AIR
|
Masalah Senjata Api di Amerika Pabrik senjata api genggam atau pistol yang paling besar di Amerika, Smith & Wesson Corporation minggu lalu sepakat menjalankan serangkaian tindakan keamanan dan pembatasan dalam penjualan senjata api guna mengurangi jumlah kematian yang tidak perlu. Salah satu langkah itu, kata Smith & Wesson adalah memasang kunci pada tiap pistol yang dijualnya dalam waktu kurang dari dua bulan sejak pengumuman ini. Dan tiga tahun dari sekarang, tiap pistol yang dijual oleh perusahaan itu hanya akan bisa ditembakkan oleh pemiliknya yang sah, dengan menggunakan teknologi komputer yang canggih. Ini penting sebab banyak korban karena penembakan adalah anak-anak muda yang menggunakan pistol milik orang tuanya tanpa izin. Kata sebuah statistik resmi, hampir separuh dari 32,000 lebih orang yang mati kena tembak dalam tahun 1997 adalah orang-orang yang berumur dibawah 34 tahun. Kelompok umur 15 sampai 24 tahun adalah yang paling banyak korbannya, yaitu lebih dari 8,170 orang. Sejak lima tahun terakhir ini, lebih dari separuh negara bagian di Amerika telah mengesahkan peraturan yang memperbolehkan orang membawa senjata api di tempat umum, asalkan punya izin untuk itu. Tapi untuk mendapat izin tadi, orang harus lulus pemeriksaan latar belakang, yang diadakan oleh polisi, supaya penjahat atau orang yang dicari-cari polisi tidak bisa dengan mudah membeli senjata api. Sebuah undang-undang pemilikan senjata api, yang disebut The Brady Law dinyatakan berlaku di seluruh Amerika sejak permulaan tahun 1994. James Brady adalah sekretaris pers Presiden Ronald Reagan, ketika terjadi usaha pembunuhan presiden dalam tahun 1981. James Brady kena tembak dan lumpuh sampai sekarang. Pemilikan senjata api itu merupakan soal yang sangat peka di Amerika. Kalangan yang pro mengatakan, itu adalah hak warga-negara yang dijamin oleh Undang-undang Dasar, sedangkan pihak yang anti mengatakan, banyaknya senjata api yang dimiliki orang sipil telah meningkatkan jumlah korban pembunuhan dan kejahatan. Saat ini diperkirakan ada 200 juta senjata api dari berbagai jenis yang dimiliki oleh warga Amerika, dan mungkin separuh rumah tangga di negeri itu punya sedikitnya satu senjata api. Angka-angka statistik menunjukkan luka tembak adalah sebab kematian yang terbesar di Amerika. David Hemenway, ahli ekonomi di Universitas Harvard mengadakan semacam survei diantara 1,200 orang pemilik, dan bukan pemilik senjata api. Hasilnya? Orang-orang yang tidak suka senjata merasa semakin tidak aman dengan banyaknya senjata api, sedangkan para pemilik senjata api tidak sepakat tentang dampaknya dalam masyarakat. Kata Professor Gary Kleck dari Universitas Florida, banyak orang Amerika membeli senjata api sebagai alat untuk bela diri, dan bukan untuk maksud kejahatan. Warga Amerika yang takut menjadi korban kejahatan yakin, kalau mereka memiliki senjata api, kemungkinan jadi korban akan jauh lebih kecil. Tapi soalnya, bukan hanya orang baik-baik saja yang berpikiran begitu. Kata Professor Daniel Polsby, para penjahat juga berpendapat sama. Polsby, seorang pakar yang mempelajari hubungan antara senjata dan aksi-aksi kekerasan dalam masyarakat mengatakan, jumlah senjata api yang dimiliki oleh laki-laki kulit hitam yang tinggal di kota besar naik sangat tinggi. Kenaikan itu, katanya, disebabkan banyak pemilik senjata api adalah pedagang atau pengecer obat bius. Anak-anak umur belasan tahun yang terlibat perdagangan cocaine juga membeli senjata api, biasanya dari pasar gelap, untuk melindungi diri da ri ancaman pedagang obat bius lainnya. Atau dari ancaman para pemuda yang lebih tua dari mereka, yang seringkali merampok uang mereka. Soal lain yang meningkatkan jumlah senjata api dalam masyarakat Amerika adalah kampanye yang dilancarkan oleh para pelobi dan pembuat senjata supaya lebih banyak orang perempuan membeli senjata untuk menjaga diri. Kata ahli sosiologi di Universitas Chicago, Tom Smith, kelompok peminat senjata dan pabrik senjata itu menggunakan orang perempuan sebagai sasaran kampanye penjualan senjata mereka, karena selama ini mereka beranggapan, perempuan-lah yang paling keras mendorong dikeluarkannya peraturan pembatasan penggunaan dan pemilikan senjata api. Tapi yang jadi masalah, kalaupun polisi tidak memberikan izin senjata kepada orang tertentu, orang itu bisa mendapatkan senjata yang diinginkan dari pasar gelap. Dan jelas para penjahat tidak akan membeli senjata dari toko, karena itu hanya akan menarik perhatian pada diri mereka sendiri. (IM)
Syukuran
Panitia 150 Tahun Los Angeles |
Anda ingin
Berlangganan Indonesia Media?
|
|||
|
FastCounter by bCentral |
|||||