|
|
|
|
|||||
|
APRIL 2000 |
||||||
|
BERITA TANAH AIR
|
Forum Komunikasi Menuju Demokrasi Indonesia Indonesia: Perkembangan dan Prospek By Wei Siong Tan, Ph.D.
Atlanta, Georgia, 27 Februari, 2000 - Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan dari KJRI dalam menyelengarakan forum masyarakat ini. Mari kita bertepuk tangan untuk team dari KJRI. Tujuan dari forum komunikasi ini adalah untuk mempersatukan masyarakat Indonesia di Atlanta dan untuk membangun kepedulian dan menambah pengertian kita atas tantangan tangangan yang dihadapi Indonesia menuju suatu negara yang demokrasi. Kami sangat senang sekali pakar ekonomi Dr. Mari Pangestu dan senior diplomat PBB Dr. Benny Widyono bisa hadir di antara kita pada malam hari ini. Saya yakin kita semua akan belajar banyak dari ceramah mereka. Tema hari ini adalah forum komunikasi menuju demokrasi Indonesia. Dalam rangka ini kita bisa bertanya apakah arti demokrasi dan apakah itu pokok pokok demokrasi? Demokrasi berasal dari kata Yunani – demos dan kratis yang mana demos berarti rakyat dan kratis berarti kuasa atau otoritas. Disini kita bisa melihat demokrasi itu berarti menaruh kekuasahan pemerintah di tangan rakyat. Ini bukan berarti rakyat boleh melakukan hal apa saja menurut kemauan emosional. Demokrasi yang kita maksudkan adalah demokrasi yang berlandaskan atas hukum yang bertekad untuk melindungi dan mengembangkan kebebasan. Jadi harus ada unsur unsur dasar demokrasi yang tercantum di dalam Undang Undang Dasar negara.
Unsur kedua, demokrasi mengakui bahwa setiap orang adalah ciptaan Tuhan dan telah diberi hak hak tertentu yang tidak boleh diganggu gugat. Menurut unsur ini, tidak ada pengecualian dalam pengakuan hak perseorangan. Tuntutan seseorang terhadap kehidupan, kebebasan dan harta benda harus diakui. Setiap orang mempunyai hak untuk diperlakukan sederajat. Tidak ada perbedaan antara suku, ras, atau agama. Semua orang harus dianggap sama di bawah hukum. Tidak ada seorang pun yang di atas hukum. Unsur ketiga, demokrasi berkeyakinan bahwa kebebasan itu pada dasarnya
baik. Kebebasan berarti setiap orang bebas menentukan tujuannya sendiri.
Sumber kebebasan adalah keputusan pribadi dan tangung jawab
pribadi. Dari unsur ini, berarti setiap orang bebas memenuhi kebutuhannya,
bebas dari takut, bebas untuk mengungkapkan pendapat, bebas untuk beragama
dan bebas untuk mencapai kebahagiaan. Abraham Lincoln berkata pemerintah demokrasi adalah pemerintah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Semuanya ini kedengarannya sederhana. Tetapi dalam prakteknya sangat rumit. Selama 32 tahun di masa order baru, setiap unsur demokrasi telah di remehkan. Sekarang Indonesia seperti bayi kecil yang belajar berjalan. Setiap gerakan harus dipraktekan berulang ulang. Setiap kemajuan itu dicapai sesudah banyak mengalami kejatuhan. Kita sekarang memiliki pemimpin yang agak istimewa. Sampai saat ini kita sudah paham bahwa Presiden Gus Dur itu sangat pintar, berpengetahuan, dan karismatik. Dia dapat memberi ceramah panjang lebar yang bermutu tanpa catatan. Dia banyak baca atau lebih tepat banyak dibacain. Seminggu sesudah Presiden Gus Dur dilantik. Dia berceramah dalam bahasa Inggris di Bali di depan diplomat, wartawan, dan utusan internasional. Dengan lelucon mengenai diri sendiri yang telah menjadi ciri khas Gus Dur, Presiden berkata bahwa dia dan Megawati adalah pasangan yang cukup unik untuk memimpin Indonesia, yang satu tidak bisa melihat dan yang satunya lagi tidak bisa berbicara. Harapan kita adalah dengan pasangan yang unik ini, kita memperoleh kombinasi pemimpin yang bisa melihat dan bisa berbicara, bisa melihat dalam arti bisa memahami tantangan tantangan berat yang dihadapi Indonesia menuju demokrasi, bisa berbicara dalam arti bisa menuturkan visi untuk menuntun rakyat ke jalan demokrasi. Tantangan itu banyak dan berat. Semoga apa yang kita diskusikan malam ini dapat membantu pengertian kita dan benar benar membuat kita sadar akan tugas berat yang ada di bahu pemimpin kita di Indonesia. Terimah kasih. Dr. Wei Siong Tan is the President of AccuSentry, Inc., a technology company providing online visual inspection systems to manufacturers of discrete components. Prior to founding AccuSentry in 1991, Dr. Tan worked as a research engineer at Georgia Institute of Technology for six years doing research in the fields of developing missile interceptor image processing technology for the United States Strategic Defense Initiative programs. Dr. Tan got his doctorate degree from the Electrical Engineering Department of Georgia Institute of Technology in the field of computer engineering and architecture in 1989. Dr. Tan is the president of Indonesians of Chinese Heritage Foundation (ICHF) and Indonesian Grace Christian Association (IGCA). Both are non-profit organizations based in Atlanta. He is married to Mimi Tan. They have three children: Ian, Isabelle and Iona.
Syukuran
Panitia 150 Tahun Los Angeles |
Anda ingin
Berlangganan Indonesia Media?
|
|||||
|
FastCounter by bCentral |
|||||||