YESUS DILAHIRKAN DI IRIAN


Klik gambar untuk melihat versi besar.

BERITA TANAH AIR
- Selamat Datang "Provokator"?
- Tiga Provokator Jakarta
- Tindak Lanjut Temuan TGPF Mei 98
- Mengelola Pluralitas

LOCAL NEWS
- Drs. L.T. Susanto Anggota DPR/MPR-RI berkunjung ke L.A.
- KJRI-LA Tatap Muka dan buka layanan paspor
- Pesan Duta Besar RI untuk Permias
- Tatap Muka dengan Amien Rais di L.A.
- Pernyataan Majelis Pekerja Harian PGI
- Gus Dur Bakal Melihat

MANCA NEGARA
- 700 TKI Bermasalah Terkatung-katung

POLITIK
- Habibie Gagal, Daerah-daerah Tuntut Merdeka (bagian 3)

OPINI
- Jebakan Kemelut Sam Kok

BUDAYA & TRADISI
- Peranakan Tionghoa Makasar

IMMIGRASI
- If You Are Unable to Immigrate to the US, Canada is Your Alternative

LEGENDA
- Yesus Dilahirkan Di Irian

ENGLISH
- Taboos and Superstitions of Chinese New Year
- A Letter to Mary Robinson
- Rainbow

AMRIK
- Program Beasiswa Fulbright 2001/2

HEMAT & NIKMAT
- Bagaimana Cara Mendapatkan Asuransi Mobil Yang Murah?

JENAK JENAKA
- Persalinan

 

Udara terasa sangat panas di kota Biak siang itu Karena itu dalam perjalanan pulang dari sekolah,saya putuskan untuk singgah di pinggir laut sambil mencari teman saya Manufandu, yang sudah tidak sekolah selama 3 hari. Mama Yoseba , neneknya sedang duduk duduk di pintu gubuk reotnya yang menghadap ke laut sambil mengunyah sirih. Sekali kali dia meludahkan ludahnya yang memerah karena sirih sambil memperhatikan cucunya yang berumur 4 tahun, telanjang bulat mencari keong di pinggir pantai. Begitu melihat saya dia tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang menghitam karena kebanyakan makan pinang.

"Nyong ( tuan muda), si paitu lagi kelaut…, mau nyong?" sahutnya sambil menawarkan sebuah pinang, dengan sedaun sirih dan sedikit kapur dari kantongan kainnya yang lusuh. Kuatir menyinggung perasaannya, saya ambil pinang tersebut dan mengunyahnya, setelah beberapa saat saya campur dengan sirih dan sedikit kapur. Mama Yoseba terkekeh –kekeh melihat expresi saya yang meludahkan ludah berwarna merah, konon pinang sirih bisa menguatkan gigi.

"Nyong… Yesus itu lahir di pulau Biak" Sahutnya sambil menunjuk kalung salib di leher saya.

"Ha ? kok bisa mama…." Sahut saya heran.

Mama Yoseba mengangguk angguk."Kita orang Biak sudah tahu Yesus sebelu misioanaris datang..

Nyong tahu ndak, Biak itu pusat dunia…." Oh oke, si mama Yoseba ini belum belajar geographi pikirku.

"Dan pulau supiori adalah Nasareth…." Katanya lagi.

Penasaran dengan cerita tersebut,akhirnya saya menggali lebih banyak cerita dari para tua- tua, dan inilah cerita tersebut.

Konon sebelum kedatangan para misionaris. Adalah seorang tua bernama Mansar Manarmakeri.

Sekujur tubuhnya penuh kudis, kalau di Irian istilahnya "Kaskado". Kulitnya bersisik dan penuh luka-luka yang menjijikkan. Karena kaskado ini mansar manarmakeri agak dikucilkan oleh seluruh kampung.

Pada waktu itu pula di desa tersebut ada seorang wanita cantik yang bernama Insoraki. Gadis cantik yang bermata indah ini adalah kembang desa di pulau tersebut.Banyak pemuda-pemuda yang berusaha mendekatinya namun tidak ada seorangpun yang bisa menyentuh hatinya.

Suatu hari si Insoraki berenang dan mandi di kali. Pada waktu itu konon, Mansar Manarmaker yang menaruh hati secara diam-diam kepada si jelita, berusaha mengintip dari hulu sungai. Dengan penuh perasaan si Mansar memetik buah bundi dan mengirimkan melalui aliran sungai tersebut. Dia mengirimkan cintanya kepada Insoraki. Cerita mencatat bahwa buah bundi itu hanyut dan menyentuh buah dada sang gadis….Insoraki karena kaget berteriak " yeeeeeee…….." Menurut mama Yoseba buah dada itu adalah sus….kalau digabung jadi Yeesus.

Dengan kehendak alam si perawan Insoraki tiba-tiba hamil. Seluruh desa menjadi gempar ,tidak ada seorangpun pemuda yang merasa pernah berhubungan dengan dia. Ketika ditanyai si Insoraki menyangkal,

Dia mengaku masih perawan dan tidak pernah berhubungan dengan seorang priapun. Akhirnya para tua-tua adat berembuk dan mengambil keputusan untuk menanyai anak itu ketika dia lahir.

Ketika anak itu lahir, dikumpulkan seluruh kaum pria di kampung tersebut, tidak terkecuali tua dan muda.

Dan mereka meminta si bayi untuk menunjukkan siapakah ayahnya yang sebenarnya.

Setiap pemuda berharap-harap cemas bahwa merekalah yang terpilih untuk mempersunting si dara jelita.

Namun malang tak dapat ditolak si bayi menunjuk kepada si Mansar, yang berdiri dengan kepala tertunduk di ujung barisan. Si Insorakipun mengiyakan dan menyetujui untuk dipersunting oleh si orang tua kaskado, Mansar Manarmakeri.

Para pemuda yang merasa kecewa dan merasa terhina dengan pilihan Insoraki, mengejek pasangan tidak seimbang tersebut. Mereka menghina dengan berbagai cara dan seluruh penduduk mengucilkan dan mengusir pasangan tersebut.

Dengan disaksikan oleh seluruh penduduk kampung, Mansar Manarmaker pergi kepantai dan menggambar sebuah perahu di pasir dengan tongkatnya, dia juga membuat sebuah api unggung yang besar. Tanpa disangka-sangka si Mansar meloncat ke dalam api unggung yang semakin membesar tsb, ajaib api itu tidak membunuhnya malah merubahnya menjadi pemuda yang sangat tampan dengan kulit yang putih dan mulus tanpa cacat sedikitpun. Seisi kampung yang terpana akan perubahan tersebut segera berubah sikap, mereka berusaha membujuk Mansar untuk tinggal dan membuat KORERI ( perubahan) untuk mereka.

Tapi sayang Mansar telah terlanjur luka hatinya. Dia berjalan ke pinggir pantai dan menciptakan perahu dari lukisannya tersebut. Sambil membawa Insoraki dan bayinya, Mansar menarik perahunya ke laut.

Para penduduk desapun menangis memohon Mansar untuk membatalkan niatnya. Akhirnya Mansarpun berjanji, bahwa dia akan kembali dan membawa kemakmuran (KORERI ) kepada orang-orangnya.

Setiap orang berharap bahwa Mansar Manarmaker akan kembali kepada kaumnya dan membawa KORERI.( perubahan yang lebih baik).

Pada waktu itu mendaratlah kapal-kapal Belanda, dengan para misionaris-misionaris yang membawakan

Cerita tentang kelahiran Yesus dari perawan Maria. Para tua-tua yang mendengar kemiripan cerita tersebut, mengangguk-angguk dan mengambil kesimpulan tersendiri. Orang –orang putih tersebut sebenarnya adalah orang hitam yang berubah karena KORERI, dan cerita yang mirip tersebut adalah kisah Insoraki dan bayinya…, Mansar Manarmaker adalah Allah Bapa. Betlehem adalah nama lain dari kota Biak.

"Tapi itu rahasia…nyong jangan bilang siapa-siapa, nanti dorang ( mereka ) marah saya .." sahut mama Yoseba sambil mengedipkan matanya. Mama Yoseba merasa bangga , dia adalah salah satu dari orang yang mengetahu rahasia jagat raya ini.

"Beres mama" Tiba-tiba saya merasa ada tangan kecil yang menarik tangan saya. Si kecil Metu ( singkatan dari Metusalak) tersenyum memperlihatkan giginya yang putih masih dengan ingus yang meleleh, tangannya yang kurus hitam terjulur, sangat tidak seimbang dengan perutnya yang buncit.

Tanpa sungkan dia memeluk leher saya dengan tubuhnya yang basah dan merogoh kantong seragam saya mencari permen seperti biasanya. Mama Yoseba hanya bisa terkekeh-kekeh melihat ulah cucunya yang lucu.

BUTCE/Indonesia media

Kembali ke halaman depan
Kembali ke halaman terbitan lalu