Klik gambar untuk melihat versi besar.

BERITA TANAH AIR
-Kronologis Krisis Indonesia
-Prasangka Rasial
-Sweeping terhadap Militer
-Beri Jalan Orang Tionghoa

LOCAL NEWS
-
M. Pakpahan di Loma Linda
-TNI berbadan tanpa jiwa
-Sejenak bersama Virgo H.
-Kunjungan dekan FKG Trisakti di L.A.
-Pengungsi Menjadi Gubenur Jendral
-Malam Sukuran CHI

MANCA NEGARA
-
Sejarah keturunan Tionghoa yang terlupakan

OPINI
-
Kenapa Tionghoa Indonesia jadi kambing hitam
-Demokrasi dan keberanian moral

BUDAYA & TRADISI
-
Tip Gunakan Sumpit

IMMIGRASI
-
Kelanjutan Status Asylum

ENGLISH
-
Wen Ho Lee's Daughter Speaks Out

AMRIK
-
Thanksgiving

JENAK JENAKA
-Jakarta Orde Baru
-Rencana Penyerbuan

 

Jakarta Orde Baru

Jakarta di jaman Orde Baru dan Suharto masih berkuasa. Seorang pria berlari-lari sepanjang jalan Merdeka Utara di depan Istana Negara sembari berteriak, "Seluruh Indonesia menderita karena ulah satu orang! Satu orang!" Ia ditangkap, dan digiring ke kantor Intel.

Di sana sudah menunggu seorang interogator. "Apa yang Anda teriakkan di jalanan tadi?"

"Seluruh dunia menderita karena ulah satu orang."

"Dan siapa yang satu orang itu?" tanya interogator, dengan mata beringas.

"Apa maksud Anda dengan siapa? Aidit, tentu saja."

"Ooo...........," interogator itu tersenyum lega.

"Kalau begitu Anda dipersilahkan pulang." Lelaki tadi berjalan meninggalkan ruangan pemeriksaan. Tetapi, sebelum mencapai pintu ruangan, ia tertegun dan berpaling kepada sang interogator.

"Maaf, Pak," katanya. "Kalau menurut Anda sendiri, siapa yang satu orang itu?"

Rencana Penyerbuan oleh Wiranto dan Habibie

Menteri Pertahanan Wiranto sedang bertukar pikiran dengan Presiden Habibie, tentang bagaimana mengatasi krisis ekonomi yang tak kunjung reda. "Pak Presiden," kata Wiranto, "Bagaimana kalau kita serbu saja Amerika?"

"Apa?" teriak Presiden Habibie, "Gila, kita bisa hancur lebur!"

"Betul," kata Wiranto "Tapi setelah itu mereka akan memberi kita uang untuk membangun kembali. Dan siapa tahu, mungkin kita akan dijadikan negara bagian ke 51"

"Bisa jadi," kata Presiden Habibie, "Tapi bagaimana kalau kita yang menang?"

Kembali ke halaman depan
Kembali ke halaman terbitan lalu