|
|
Riau-Jambi Bagian 1 dari 2
Selain ciri-ciri rasial yang menandai kedatangan
orang-orang dan daratan Asia, juga dibawa serta kompleks kebudayaan
tertentu, karena itu mereka memang berhak menyandang nama sebagai
pendukung kompleks kebudayaan khusus. Namun karena luasnya persebaran dan
besarnya keanekaragaman kebudayaan yang mereka kembangkan, seorang sarjana
Perancis yang mempunyai perhatian besar pada asul-usul, perkembangan, dan
persebaran kebudayaan di Asia Selatan menamakan kelompok penduduk dan
kebudayaan yang menyebar di kepulauan Nusantara sebagai Indonesia untuk
membedakan dengan penduduk dan kebudayaan di daratan Asia Tenggara. Di
antara sempalan penduduk yang kemudian menetap di sepanjang pantai
kepulauan Nusantara
dan kemudian
mengembangkan kebudayaan pantai yang bertumpu pada kebudayaan
perdagangan ialah mereka yang kemudian dikenal sebagai orang Melayu. Di Indonesia orang Melayu dikenal sebagai salah satu
sukubangsa yang cukup besar peranan dan sumbangan dalam pengembangan
kebudayaan nasional. Ciri paling mendasar bagi identitas kesukubangsaan Melayu
pada masa sekarang adalah bahasanya yang mendasari bahasa nasional
Indonesia, mem eluk agama Islam, dan kebudayaan yang cenderung terbuka
terhadap pembaharuan. Ciri
yang lain nampaknya berangkat dan anggapan penduduk ash, bahwa orang atau
kelompok yang beralih memeluk agama Islam adalah menjadi orang Melayu
seperti yang terjadi di pulau Kalimantan dan Sumatera. Menjadikan bahasa sebagai pegangan untuk mengidentifikasikan suku-suku bangsa Melayu tidak dapat diterapkan sepenuhnya. Karena suku-suku bangsa yang bahasanya termasuk rumpun bahasa Melayu belum tentu mengaku sebagai orang Melayu, sebaliknya mereka lebih suka menggunakan identitas kesukubangsaannya sendiri, seperti orang Minangkabau. Lampung, Banjar, dan sebagainya.
Sementara itu ada kelompok-kelompok sukubangsa yang dengan
tegas menyebut dirinya sebagai orang Melayu, yang dibedakan dari
sukubangsa Melayu lain berdasarkan batas geografis dan kesejahteraan.
Dengan demikian dikenal adanya sukubangsa Melayu Langkat atau Melayu Deli,
Melayu Jambi, Melayu Riau, Melayu Bangka, Melayu Pontianak, dan
seterusnya. Melayu RiauPada abad-abad yang dulu mereka sempat mempunyai beberapa
kerajaan, seperti kesultanan Bintan atau Tumasik, kandis atau kuantan,
Gasib atau Siak, Kriteng atau Inderagiri, Malaka, Rokan, Siak Sri
Inderapura, kampar, Pelalawan, Singingi, dan sebagainya. Orang Melayu di Riau mi amat sedikit yang bertanam padi di
sawah, karena keadaan alamnya tidak memungkinkan untuk itu, namun ada juga
yang berladang. Pada masa lalu mungkin mereka lebih mengandalkan mata
pencaharian mengolah sagu, mengumpulkan hasil hutan, menangkap ikan,
berladang, dan berdagang. Dalam
sistem perladangan tanaman yang biasa dibudidayakan antara lain padi, ubi,
sayuran, dan buah-buahan. Mereka juga menanam jenis tanaman keras yang
sangat tinggi harganya, yaitu karet. Berdasarkan prinsip keturunan atau kekerabatan orang Melayu
Riau menarik garis keturunan yang cenderung bilateral. Setiap keluarga
inti mendiami sendiri, kecuali pasangan baru yang biasanya menumpang di
rumah orang tua pihak istri sampai mereka memiliki anak.
Oleh sebab itu pola menetap orang Melayu Riau dapat dikatakan
neolokal. Keluarga inti yang disebut kelamin umumnya mendirikan rumah di
lingkungan tempat tinggal pihak istri. Dahulu orang Melayu Riau hidup mengelompok menurut asal
keturunan yang disebut suku yang sifatnya patrilineal. Akan tetapi mereka
yang bermukim dekat wilayah kebudayaan Minangkabau membentuk suku yang
matrilineal, dan ada yang menyebutnya hinduk (induk atau cikal bakal).
Setiap suku dipimpin oleh seorang penghulu. Kalau suku itu bermukim
di sebuah kampung, maka penghulu akan langsung menjadi datuk penghulu
kampung (kepala kampung). Setiap
penghulu dibantu oleh beberapa tokoh adat, seperti, batin, jernang,
tua-tua, dan monti. Sedangkan di bidang kcagamaan dipimpin oleh imam dan
khotib. Bentuk kesenian orang Melayu Riau kebanyakan bernafaskan budaya Islam. Di sini berkembang seni sastra keagamaan yang dinyanyikan dengan iringan musik rebana, berdah, kerompang, atau kompang, dan sebagainya. Di dalam masyarakat pernah terkenal bentuk-bentuk teater rakyat, seperti makyong, dul muluk, mendu, dan lain-lain. Musik Melayu dianggap sebagai dasar dan perkembangan musik dangdut yang populer sekarang.
AKITSukubangsa Akit berdiam di pulau Rupat, sebuah pulau di wilayah propinsi Riau. Pada masa lampau kegiatan hidup mereka lebih banyak dilakukan di perairan laut dan muara-muara sungai. Mereka mendirikan rumah di atas rakit-rakit yang mudah di pindahkan dan satu tepian ke tepian lain. Daerah mereka termasuk ke dalam kepenghuluan Hutan Panjang, kecamatan Rupat, kabupaten Bengkalis. Jumlah populasinya sekitar 3.500 jiwa. Menurut cerita orang tua-tua mereka, nenek moyang orang Akit berasal dan salah satu anak suku Kit yang menghuni daratan Asia Belakang. Karena suatu alasan mereka mengembara ke selatan, melewati Semenanjung Malaka. Keadaan telah memaksa mereka mengenal gelombang dan asinnya air laut, tetapi juga kebebasan bergerak di atas rakit dan sampan. Dengan demikian mereka telah mulai mengembangkan kehidupan adaptif di perairan kepulauan Riau. Orang Akit menggantungkan kehidupannya kepada kegiatan berburu, menangkap ikan dan mengolah sagu. Mereka berburu babi hutan, kijang atau kancil dengan menggunakan sumpit bertombak, panah, dan kadangkala pakai perangkap. Teman setia mereka untuk perburuan macam itu adalah anjing. Orang Akit memiliki adat kebiasaan bersunat yang sebenarnya sudah jauh sebelum agama Islam masuk. Prinsip garis keturunan mereka cenderung patrilineal. Selesai upacara perkawinan seorang isteri segera dibawa oleh suaminya ke rumah mereka yang baru, atau menumpang sementara di rumah orang tua suami. Pemimpin otoriter boleh dikatakan tidak kenal dalam masyarakat sederhana mi, tetapi karena pengaruh kesultanan Siak masa dulu sukubangsa Akit mengenal juga pemimpin kelompok yang disebut batin. Orang Akit dikenal pemberani dan berbahaya sekali dengan senjata sumpit beracunnya. Sehingga mereka diajak bekerja sama memerangi Belanda yang pada zaman itu sering menangkapi orang Akit untuk dijadikan budak. Mereka menyebut orang Melayu sebagai orang selam, maksudnya Islam. Sistem kepercayaan aslinya berorientasi kepada pemujaan roh nenek moyang. Pada masa sekarang sebagian orang Akit sudah memeluk agama Budha, terutama lewat perkawinan perempuan mereka dengan laki-laki keturunan Tionghoa. Indonesia Media |
|||
|
FastCounter by bCentral |