BERITA TANAH AIR
 LOCAL NEWS
 MANCA NEGARA
 OPINI
 BUDAYA&TRADISI
 IMMIGRATION
 TOKOH
 ENGLISH
 KOMIK
 AMRIK
 HEMAT & NIKMAT
 JENAK JENAKA
 PENGALAMAN
 FAMILI & PARENTING

Kesastraan Melayu Tionghoa
(Lanjutan dari Budaya & Tradisi Edisi April 2000)

Myra Sidharta:

Kebudayaan Peranakan Tionghoa merupakan kebudayaan yang terkaya di Asia Tenggara. Hal ini nampak dari pakaian, makanan dan bahasanya yang merupakan sintesa dari kebudayaan Tionghoa, Melayu, Belanda, Portugis dan pelbagai kebudayaan lokal, tergantung di mana saja kaum Peranakan ini bermukim.

Bahasanya yang biasanya disebut bahasa Melayu Tionghoa tidak saja dipakai dalam pergaulan sehari-sehari tetapi juga digunakan  di mass media yang keberadaannya dapat ditelusuri sejak pertengahan abad ke 19. Mass media ini menyebabkan timbulnya kesastraan, karena halaman-halaman juga diisi dengan terjemahan karya sastra Tiongkok yang terkenal.  Terjemahan-terjemahan ini disusul pula dengan beberapa karya ciptaan sendiri yang di masa itu masih merupakan reportase berbentuk syair, seperti Sair kadatangan Sri Maharaja Siam di Betawi yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1870.

Mulai tahun itu sampai kira-kira 1960-an kesastraan Melayu Tionghoa berkembang pesat sehingga dapat digolongkan dalam beberapa bidang.  Di samping terjemahan dari bahasa Tionghoa dan Eropa terdapat juga karya fiksi dan non fiksi seperti buku referensi, misalnya mengenai cara menulis surat, membuat “pridato” dsb.

Perkembangan karya fiksi yang dimulai pada pergantian abad ke 20 berjalan seiring dengan perkembangan politik dan sosial  di luar maupun di dalam negeri yang secara langsung maupun tidak langsung mempunyai dampak terhadap masyarakat Tionghoa Indonesia. Perkembangan politik dan sosial  ini juga mempunyai dampak terhadap tema-tema yang dipakai untuk penulisan novel-novel, karena hubungan antara kesastraan dan masyarakat biasanya dianggap cukup erat.

Perkembangan politik yang terpenting dalam hal ini adalah: timbulnya Gerakan Tionghoa Modern di  Indonesia. Gerakan Modern ini mempunyai tujuan untuk memperbaiki adat-istiadat Tionghoa di Jawa yang dianggap sudah kolot. Untuk dapat memperbaiki kasalahan-kesalahan mereka perlu mempelajari ajaran-ajaran Konfusius. Untuk mempelajari ajaran-ajaran Konfusius bahasa Tionghoa diperlukan, sehingga didirikan sekolah-sekolah yang memberi pelajaran bahasa dan kebudayaan Tionghoa. Badan sosial yang mendirikan sekolah-sekolah ini adalah Tiong Hoa Hwee Koan (THHK), yang didirikan pada tahun 1900. Setelah didirikan, Tiong Hoa Hwee Koan mengumumkan beberapa tradisi pernikahan dan penguburan yang dianggap tidak lazim. 

Gerakan ini menjadi masalah besar untuk pemerintah Hindia Belanda dan untuk mengimbangi gerakan ini, pemerintah kemudian mendirikan sekolah-sekolah khusus untuk anak-anak peranakan Tionghoa yang ingin mendapat pendidikan Belanda, yaitu sekolah Hollandsch Chineesche School (HCS). Putra-putri keturunan Tionghoa dapat memilih antara sekolah Belanda yang berorientasi pada Indonesia atau sekolah Tionghoa yang berkiblat pada Tiongkok. Hal ini menyebabkan perpecahan di dalam masyarakat keturunan Tionghoa ini.

Perubahan lain  yang cukup berdampak pada penulisan kesastraan Melayu Tionghoa adalah surat-surat R.A. Kartini, yang di satu pihak menjadi katalisator emansipasi wanita. Meskipun sebelum surat-surat R.A.Kartini diterbitkan sudah ada perempuan-perempuan keturunan Tionghoa yang masuk sekolah dan bahkan sudah menulis kepada pemerintah Hindia Belanda agar diidzinkan untuk mengikuti ujian masuk sekolah guru, jumlah perempuan yang berpendidikan masih sangat minim, dan belum banyak diketahui mengenai mereka. 

Usaha untuk memajukan kaum perempuan tidak seluruhnya disambut baik oleh kaum lelaki. Hal Ini sangat jelas dari tulisan-tulisan yang muncul pada  sekitar 20-an, di mana banyak tulisan adalah mengenai masalah ini. Bukan saja kemajuan di bidang pendidikan yang dapat banyak kritik, modernisasi secara keseluruhan banyak ditantang oleh kaum lelaki. Pakaian dengan rok pendek, pemotongan rambut gaya “bob”, yaitu pendek sampai batas telinga, semua ini ditantang keras. Apalagi kalau gadis-gadis masuk sekolah Belanda dan ingin belajar dansa dengan para sinyo-sinyo, main tenis atau mengemudi mobil.

Bahkan ada sebuah majalah yang isinya memuat beberapa tulisan menantang modernisasi ini, namun di halaman muka ada foto-foto dengan bintang film yang mengenakan baju renang, agar majalah mereka lebih laku dijual.

Untung tidak semua tulisan mengecam para gadis yang “nakal”. Para penulis merupakan orang-orang  terpelajar meskipun tidak menyandang gelar sarjana. Mereka banyak membaca dan ingin juga membagi pengetahuan mereka kepada para pembaca. Jadi tidak mengherankan kalau tulisan mereka diselingi kutipan-kutipan dari para pengarang dan filsuf dunia  termasyhur, seperti Shakespeare, Voltaire, Goethe dll. 

Pada tahap permulaan kesastraan Tionghoa Melayu ini masih berpusat pada cerita-cerita sensasional  seperti Cerita Fientje de Feniks, seorang wanita Indo yang setelah putuskan hubungannya dengan seorang Belanda, dibunuh atas suruhan orang tersebut.  Cerita Oey See mengenai seorang yang menjadi kaya karena menemukan uang kertas di sebuah kampong, ketika melihat seorang anak main layang-layangan yang terbuat dari uang kertas.

Periode sebelum pencetusan Perang Pacific merupakan periode keemasan kesusastraan peranakan. Salmon berhasil menelusuri kira-kira 900 judul novel asli, yang ditulis oleh kuran lebih 250 pengarang, diantaranya ada beberapa wanita.  

Kritik terhadap keinginan para gadis untuk berlaku modern terus berlangsung, namun mereka tidak menghiraukannya. Mereka tetap saja mengenakan gaun pendek, memotong rambut dengan gaya bob. Yang berpendidikan Belanda bahkan mengikuti kursus sekretaris dan bekerja di perusahaan Belanda

Beberapa pengarang terkenal zaman ini adalah:

Kwee Tek Hoay yang pernah menulis lebih dari 200 buah karya, diantaranya ada novel, drama, karya pendidikan, keagamaan dan filsafat juga mengasuh beberapa majalah seperti Panorama, Moestika Romans,  dan Moestika Dharma.

Kwee tidak sepenuhnya menyetujui arus modernisasi wanita, tetapi ia minta agar mereka memilih jalan tengah. Hal ini adalah sesuai dengan ajaran Konfusius seperti diuraikan dalam Zhong Yong (Jalan Tengah)  Dramanya yang terkenal adalah Boenga Roos dari Tjikembang dan Drama dari Boven Digoel, yang ditulisnya setelah pemberontakan Komunis pada tahun 1927. Dalam novel ini, Kwee memuji usaha perempuan pribumi, yang turut  memperjuangkan Nasionalisme. Kwee pernah memrakarsai organisasi pengarang perempuan. Anggotanya berasal dari Jakarta, Sukabumi, Bogor, Bandung, beberapa kota di Jawa Tengah dan Timur dan Sulawesi dan mereka menerbitkan sebuah majalah agar dapat menghubungkan para anggota.

Sebagai seorang yang mendalami macam-macam agama, ia juga menyajikan asas-asas agama itu kepada pembacanya seperti reinkarnasi  dari agama Buddha, mistik  Theosofie yang di masa itu sangat populer berkat kunjungan Khrisnamurti ke Indonesia.

Seorang pengarang lain yang juga sangat produktif adalah Nyoo Cheong Seng, yang juga pernah menulis lebih dari 100 novel dengan namanya sendiri dan dengan nama Monsieur d’Amour (M. d’Amour), beberapa naskah sandiwara dan film,  serta jumlah cerpen yang tidak terhitung, karena tersebar di banyak majalah yang tidak semuanya dapat ditelusuri.  Nyoo adalah sutradara teater dan kemudian beralih ke film. Istrinya Fifi Young adalah seorang bintang film yang sangat terkenal. Nyoo pernah juga turut dengan rombongan sandiwara Dardanella, di bawah pimpinan Dewi Dja, tetapi setiba di India dalam perjalan ke Eropa, mereka kembali ke Indonesia karena ada urusan keluarga. Cerita-cerita yang disajikan Nyoo beraneka ragam dan ia sering menulis cerita-cerita daerah, yang dicatatnya pada saat ia turut dengan rombongan  dan dibawa pulang sebagai oleh-oleh kepada pembacanya. Di antara cerita-cerita ini adalah Timoeriana (mengenai Timor Timur) Balas Membalas (mengenai Aceh) Ida Ayu (mengenai Bali) dan Tjinggalabi Aoeah (Papua). Nyoo juga terkenal sebagai pengarang serie Gagaklodra, serie detective yang masih diingat orang banyak.

Tan Hong Boen atau Im Yang Tjoe  juga banyak menulis tentang macam-macam subyek, terutama mistik Jawa yang ditekuninya semasa dia masih bekerja sebagai wartawan dan keliling Jawa naik sepeda. Ia membuat cerita-cerita mengenai tuyul, gandaruwo, dll, tetapi ia juga menulis cerita-cerita wayang seperti dipertunjukkan di pesisir utara pulau Jawa. Tan menjadi kaya raya, bukan karena tulisannya, melainkan karena pabrik obat yang menghasilkan Pil Kita.

Liem Khing Hoo menjadi terkenal sebagai penulis masalah sosial. Liem menulis Berjoang, cerita mengenai beberapa orang peranakan Tionghoa yang bertransmigrasi ke Kalimantan untuk mendirikan semacam negara Utopia di sana. Merah adalah sebuah novel tentang pertentangan buruh di sebuah pabrik rokok kretek dan majikan mereka, sedangkan Masyarakat adalah novel mengenai pedagang kecil di masa depresi ekonomi dunia 1929.

Serangkaian tulisan sejarah dalam bentuk roman diterbitkan oleh serie Penghidoepan. Penulis-penulisnya, H.S.T. dan S.A.M.  sebenarnya adalah satu orang yaitu Tan Keng Sam, yang juga namakan diri Han Sioe Tjiat. Ia menulis sejumlah tulisan mengenai kehidupan zaman Majapahit.

Masih banyak tulisan lain mengenai sejarah Jawa dan  yang patut dibut adalah Koeda Poetih dari Ong Ping Lok. Cerita ini adalah mengenai kudanya Sunan Mas (1703-1708) yang menceritakan putrinya Sunan yang jatuh cinta dengan Tedjo, putranya seorang Kiai yang menentang Sunan Mas. Ong menganggap cerita ini sebagai masterpiecenya.

Ketika pada tahun 30-an konfrontasi Tiongkok dan Jepang meningkat dapat kita melihat sejumlah tulisan mengenai kesetiaan orang-orang keturunan Tionghoa yang “pulang” ke Tiongkok. Ada yang pergi untuk masuk tentara dan ada juga yang melanjutkan pendidikan. Bahkan ada organisasi yang merkrutkan pemuda-pemuda keturunan Tionghoa ini agar turun di medan perang. Usaha ini banyak ditentang oleh Kwee Tek Hoay yang tidak melihat ada manfaatnya bagi masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia. Beberapa cerita heroik ditulis oleh Tjie Tek Goan dan bahkan ada sebuah tulisan dalam bahasa Sunda, yaitu Tjin Nio atawa isteri sadjati di medan Perang Tiongkok-Japan  oleh A.S. Tanoewiredja.  

Di antara sekian banyak pengarang pria, untung juga ada beberapa nama wanita. Yang patut disebut adalah Nyonya Oen Hong Seng yang menulis dengan nama samaran Dahlia. Dahlia membela kaum wanita dengan menulis mengenai kelakuan baik mereka dan mengecam kaum lelaki yang berpikiran sempit dan melihat tindakan kurang pantas di setiap kelakuan wanita. Sayang Dahlia meninggal muda sehingga tulisan-tulisannya tidak lagi muncul.

Pengarang kedua yang menulis sampai tahun 1970-an adalah Tjan Kwan Nio. Yang menarik adalah bahwa penulis ini mula-mula banyak menulis tentang masyarakat eropa di Perancis, Turki dll. Tetapi ia juga banyak menulis tentang masyarakat Peranakan dan bahkan pernah menulis tentang Raden Pandji Prajitna, seorang tokoh bangsawan dari kerajaan Pajajaran.

Setelah Perang Pacific masa produktif pengarang keturunan Tionghoa telah lewat. Apa alasannya tidak diketahui. Beberapa surat kabar seperti Sin Po dan Keng Po masih teruskan usahanya tetapi pada awal enam puluhan  juga diberhentikan.

Kini hanya sedikit  pengarang keturunan Tionghoa  yang masih aktif menulis. Tulisan mereka sebenarnya tidak masuk kategori ini, karena mereka menulis dalam bahasa Indonesia dan tidak lagi memakai bahasa Melayu Tionghoa.

Alm. Kho Ping Hoo terkenal dengan cerita-cerita silatnya. Kho sangat produktif dan daftar karyanya mencapai hampir dua ratus judul, di antaranya ada beberapa cerita bukan silat. Yang unik dari Kho ialah bahwa ia tidak menterjemahkan dan juga tidak menyadur cerita silat dari bahasa Tionghoa tetapi membuat karya ciptaan sendiri dengan setting di Tiongkok dan Indonesia zaman dahulu. Marga T. dan Mira W. adalah dua pengarang wanita yang sangat produktif dan karya-karya mereka sangat dinikmati oleh pembaca-pembaca seluruh Indonesia.

Indonesia Media


FastCounter by bCentral