BUDAYA & TRADISI

 

Pek Cun

Oleh Eka Chandrasari.

Parangtritis. Artikel ini saya tulis karena teringat masa kecil saya di Pulau Bangka, di mana setiap perayaan Pek Cun, semua orang pergi ke pantai untuk berpiknik. Saya setiap tahun pergi bersama keluarga. Kami menggelar tikar di atas pasir pantai Bangka yang putih mengkilap dan lembut itu, lalu makan bacang bersama sambil memandang ombak yang menabrak batu karang, di bawah teduhnya daun kelapa yang bergerak perlahan ditiup angin sepoi-sepoi......

satunet.- Barangkali, tradisi Tionghoa Pek-Cun kini makin dilupakan banyak orang. Namun tradisi yang lama dilarang pemerintah Orde Baru ini bakal diselenggarakan lagi di pantai Parangtritis, Bantul dan pantai Jepara, Selasa.

Kali ini event Pek-Cun bakal diselenggarakan di pendopo obyek wisata Parangtritis dan langsung diprakarsai Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul. Bersama beberapa tokoh masyarakat Tionghoa, pemda akan bersama-sama memeriahkan perayaan tersebut.

Menurut Kepala Dinas Bantul, Rustamto, perayaan ini semata-mata dimaksudkan untuk mengembangkan pariwisata dan seni budaya. Apalagi tradisi Pek-Cun sudah lama tenggelam. Rencananya, perayaan ini akan dijadikan event rutin setiap tahun.

Rencananya, sebanyak 33 anggota Tim SAR Parangtritis siap mengamankan pantai sekaligus bertugas membawa sesaji untuk dilabuhkan ke laut. Selain itu, ada pula parade Barongsai dan Nagaliong dari lima wilayah. Masing-masing Yogyakarta, Magelang, Salatiga, Solo dan Kebumen. Sedangkan peserta dari masing-masing wilayah berjumlah 100 orang.

Selama ini, ada beberapa versi kebiasaan dalam perayaan Pek-Cun. Pertama, adalah keajaiban alam, yaitu hanya pada hari raya Pek-Cun pada jam 11:00 sampai jam 14:00 telur bisa berdiri.

Kedua, sedekah laut untuk mengirim kepada penguasa laut dan leluhur. Ketiga, legenda untuk mengenang jasa kepahlawanan Perdana Menteri Tiongkok, Dji Yeng yang ribuan tahun lalu memilih mati bunuh diri dengan menenggalamkan dirinya ke sungai daripada harus takluk pada bangsa lain.

Maka untuk mengenang jasa PM Dji Yeng, lalu diadakan Pek/Peh-Cun. Pek/Peh berarti dayung, sedangkan Cun berarti perahu atau lengkapnya mendayung perahu. Sampai saat ini Singapura, Hongkong dan Taiwan masih melombakan perayaan Lomba Perahu berhias.

Cerita tentang Festival Perahu Naga (Duan Wu Jie)

Oleh : Dedi (T-Net)

Penanggalan Tiongkok tanggal 5 bulan 5 adalah hari Festival Perahu Naga (Tahun 2000 jatuh pada tanggal 6 Juni). Pada hari itu, keluarga - keluarga membuat bacang, di berbagai tempat ada perlombaan perahu naga.

Asal mula festival Perahu Naga, adalah untuk mengenang seorang sastrawan yang sangat mencintai negara, yang bernama Qu Yuan. Beliau adalah seorang menteri dari negara Chu pada masa perang antar negara (Zhan guo shi dai). Beliau sangat mencintai negara, mengeluarkan segala kemampuan untuk membuat negara bertambah baik, bertahan dari serangan negara Qin. Beliau walaupun juga seorang sastrawan, namun sangat membantu memberikan strategi peperangan kepada raja. Tetapi sayangnya, ada seorang penghianat yang berhasil membujuk raja, sehingga raja tidak mempercayai Qu yuan, bahkan membuangnya.

Aspirasi Qu yuan tidak menjadi kenyataan, walaupun sangat kecewa dan terluka, tetapi tetap saja sepanjang hari menguatirkan keadaan negerinya. Akhirnya pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Tiongkok, beliau bunuh diri menerjunkan diri ke sungai Mi Luo (sekarang di propinsi Hunan).

Rakyat yang mengetahuinya, segera mencari mayatnya dengan menggunakan perahu. Akhirnya semua menetapkan pada hari itu diadakan festival perahu naga, dan mengadakan lomba perahu naga untuk mengenangnya.

Pada jama dulu, perahu yang digunakan adalah perahu kecil, bentuknya sangat sederhana, namum akhirnya perlahan-lahan mengalami perubahan, dekorasinya dibentuk seperti "the flood dragon/jiao long" dan berkesan bersinar, menjadi perahu naga. Perlombaan perahu naga ini juga mengartikan agar kita (orang yang seperahu) mau bekerja sama dengan giat.

Pada faestival perahu naga, selain perlombaan perahu, juga ada kegiatan makan bacang. Ketika Qu yuan meninggal, rakyat melemparkan sesaji untuk sembahyang ke dalam sungai sebagai adat saat itu, tetapi karena takut terbawa arus sungai, mereka membungkus nasi ke dalam sebuah batangan bambu, barulah dilemparkan ke dalam sungai. Kemuadian, hal tersebut diubah dengan menggunakan daun bambu, disebut: bacang.

Rasa bacang bermacam-macam, ada yang manis, ada yang asin, dengan cirinya yang lengket dan wangi daun bambu, rasanya sangat enak. Hal ini juga menggambarkan salah satu kebudayaan makanan Tiongkok.

Cerita tentang Qu yuan terus berlangsung turun termurun, semua orang sangat menghormati pahlawan tersebut, sehingga festival perahu naga juga ditetapkan sebagai festival satrawan.

Diterjemahkan dari buku Chinese Stories (Zhongguo Gushi).

Catatan: Ada versi yang menyebutkan bahwa ketika Qu yuan meninggal, orang-orang melemparkan bacang ke dalam sungai agar mayat Qu yuan tidak dimakan oleh ikan-ikan.

Indonesia Media.


FastCounter by bCentral