|
|
|
|
|||||
|
APRIL 2000 |
||||||
| BERITA TANAH AIR LOCAL NEWS MANCA NEGARA OPINI BUDAYA&TRADISI IMMIGRATION TOKOH ENGLISH KOMIK AMRIK HEMAT & NIKMAT JENAK JENAKA PENGALAMAN ROHANI FAMILI & PARENTING |
Dokumentasi
Sastra Melayu Tionghoa Kali ini Indonesia Media mencoba menyuguhkan artikel tentang Sastra Melayu Tionghoa, yang nyaris lenyap begitu saja. Mungkin untuk kaum awam atau generasi muda banyak yang tidak sempat mengetahui bahwa begitu kayanya kebudayaan Sastra Indonesia (Melayu) yang bermesraan dengan sastra dan pengaruh budaya dari segala penjuru dunia. salah satunya adalah sastra Melayu yang berkombinasi dengan sastra dan budaya Tionghoa. dalam kesempatan ini Indonesia Media menggapai tokoh penulis yang tidak asing lagi untuk pembaca IM yaitu Myra Sidharta yang menulis "Mysteri Pura Tanjung Sari" pada IM terbitan bulan Maret kemarin. Beliau juga pernah bersilahturahmi ke Los Angeles memberikan seminar dan bertatap muka dengan masyarakat Indonesia di Los Angeles dan pernah berdialog dengan staff Indonesia Media. Berhubung artikel ini cukup panjang maka kami akan bagi untuk 2 kali penerbitan. Beberapa bagian dari tulisan ini bernarasumber dari Ibu Myra sendiri dan Mathias Hariyadi (Kompas). Myra Sidharta MESKI
diucapkan dengan lirih, kegembiraan yang meluap di lubuk hati Myra
Sidharta (73) alias Ew Yong Tjhoen Moy, tampak nyata. Ini berkaitan dengan
terbitnya Keppres No 6/Tahun 2000 yang mencabut Inpres No 14/Tahun 1967
tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Tionghoa. ''Keputusan
Presiden Gus Dur itu bisa menjadi awal baik untuk menggali kekayaan
sejarah, kebudayaan, dan kesastraan Melayu Tionghoa," ungkap
pemerhati kebudayaan dan kesastraan peranakan Tionghoa yang akrab
dipanggil Moy ini sambil tertawa lebar. Tentulah
kegembiraan Moy itu mencapai klimaksnya, ketika buku Kesastraan Melayu
Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia Jilid I diluncurkan pertengahan Februari
lalu di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Peluncuran buku ini menandai
dibukanya pameran Buku-buku Sastra Melayu Tionghoa di tempat sama. Ia
gembira, karena materi buku setebal 519 halaman terbitan Kepustakaan
Populer Gramedia (KPG) bekerja sama Yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford
Foundation ini banyak diambil dari buku-buku koleksi perpustakaan
pribadinya. ''Jauh
lebih berguna meminjamkan, bahkan bila perlu memberikan buku-buku koleksi
saya tentang Sastra Melayu Tionghoa kepada penerbitan dibanding hanya
menyimpannya di almari. Di situ paling-paling akan ditutupi debu halus,
lalu dimakan ngengat," kata Moy. BUKU-buku
koleksi itu sebetulnya sudah ada yang mengincar. Awal tahun 1990
perpustakaan Cornell University sempat melirik buku-buku koleksinya dan
berniat membelinya. ''Saya
ndak mau kasih. Tiga anak saya, apalagi Amir Sidharta, juga tak setuju.
Katanya, 'Koleksi itu 'kan jadi salah satu identitas Mami!' Begitu protes
mereka agar saya tak melepas buku-buku itu," ungkap Moy menunjuk Amir
Sidharta, sebagai kurator galeri. Sebaliknya,
Moy merelakan koleksinya dipinjam para mahasiswa Fakultas Sastra UI
Jurusan Sastra Tionghoa, tempatnya mengajar puluhan tahun, sebagai bahan
studi atau keperluan membuat tesis. Namun, ya itu tadi, desah Moy
dalam-dalam, sudah jadi penyakit orang Indonesia yakni suka meminjam buku
cepat-cepat, tetapi ketika ditagih untuk segera mengembalikan suka mangkir
dengan seribu alasan.
''Ya
sudah, daripada repot urusan itu jauh lebih baik koleksi ini saya
sumbangkan agar orang lain bisa menerbitkan bahan-bahan ini menyusul
terbitnya buku Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia,"
jelasnya tentang motivasi menghibahkan 1000-an bukunya kepada BBJ beberapa
pekan lalu. Jumlah
itu baru sebagian saja. Nenek lima orang cucu dengan daya ingat luar biasa
ini mengajak Kompas melihat-lihat koleksinya. Di lantai dasar rumahnya
yang asri, persis di atas turap bibir Kali Krukut di Jl Prapanca Raya,
Jakarta Selatan, setumpuk buku kuno tersimpan rapi di tiga almari besar.
''Almari ini untuk buku-buku sastra Melayu Tionghoa, satunya untuk
buku-buku tentang Tionghoa, lainnya khusus untuk buku-buku soal perempuan.
Sementara almari-almari di lantai atas khusus untuk psikologi, fiksi, dan
lainnya," kata istri Prof Dr Priguna Sidharta, dokter ahli syaraf,
yang selama wawancara berlangsung ikut menemani dari atas kursi roda. ''Yang
saya lakukan ini mengikuti jejak suami saya yang juga telah menghibahkan
ribuan buku tentang studi kedokteran kepada Universitas Atmajaya. Saya
kenal dia dalam sebuah pesta dansa. Dia tengah belajar spesialis syaraf di
Leiden, sementara saya di Amsterdam. Kami menikah pada 31 Januari 1953 di
Oegstgeest dan mendapat tiga anak: Sylvia, masih lajang dan kini di
Australia; Julie di AS; dan si bungsu Amir," jelas Moy. ''Saya
suka dia, karena Moy pintar bahasa asing," ungkap Prof Sidharta alias
Sie Pek Giok menyambung Moy yang mahir berbahasa Jerman, Belanda,
Perancis, Mandarin, Hokkian, Melayu Malaysia, dan tentu saja Inggris. *** KISAH
Moy yang mencintai kesastraan Melayu Tionghoa berjalan seiring dengan
sejarah hidupnya. Itu tampil jelas dalam naskah otobiografinya berjudul In
Search of My Ancestral Home yang ia tulis. Di situ ia mengisahkan betapa
mendiang kakeknya sangat berharap agar Moy jangan sampai kehilangan
identitasnya sebagai seorang peranakan Tionghoa. Maklumlah, kata Moy,
kakeknya adalah seorang Khe imigran asal Meixian, Propinsi Guangdong, RRT,
yang sejak tahun 1872 memutuskan menetap di Belitung (Sumsel) demi
penghidupan yang lebih baik. Tahun 1895 sang kakek menikah dengan gadis
Khe lokal bernama Chung Ah Kee. Desakan
itu dilakukan antara lain dengan menyuruh Moy belajar bahasa Mandarin. Hal
yang sebenarnya secara kebetulan bisa dilakukan Moy, karena di rumah
kakeknya waktu itu tengah mondok gratis seorang perempuan guru bahasa
Mandarin. Bersama sepupunya Moy belajar bahasa Mandarin pada awal masa
pendudukan Jepang. ''Studi
saya maju. Kakek begitu bangga kepada saya hingga suatu kali saya berani
menunjukkan tulisan saya. Tiba-tiba ia berkomentar begini, 'Nah, kamu kini
bisa menunjukkan kepada banyak orang, meski kamu didikan Belanda namun toh
kamu tetap bisa menjadi seorang gadis Tionghoa yang baik.' Kakek
mengatakan itu, karena beliau mencemaskan kami yang telah berpendidikan
Belanda ini suatu kali akan kehilangan cita rasa dan identitas
ketionghoaan kami," ungkapnya. Begitulah
Moy yang selama puluhan tahun rela nongkrong berjam-jam di Pasar Senen,
Jakarta Pusat, memburu buku-buku kuno kesastraan Melayu Tionghoa.
Kebiasaan berburu buku itu terpaksa ia tinggalkan, karena tahun-tahun
terakhir ini otot-otot kakinya sudah tak kuat lagi menahan berat tubuhnya
setiap kali harus lincah bergerak kala menyusuri lorong-lorong gelap dan
sempit di pasar loak Senen. ''Satu lagi, saya trauma karena di situ pernah
sekali waktu saya hampir kecopetan," jelas perempuan kelahiran
Belitung 1927. Selain di Pasar Senen, Moy juga berburu buku ke Muara Karang, Jakarta Utara. ''Kebetulan di situ ada pedagang langganan saya. Namun, tak jarang saya harus beradu cepat dengan Library of Congress AS yang juga berminat. Namun, mereka juga sering membantu saya mendapatkan buku-buku itu," tambah Moy. (Bersambung ke edisi berikutnya) LULUS
sebagai psikolog dari Rijks Universitet Leiden, namun garis sejarah Moy
menentukan lain: menjadi pemerhati kesastraan Melayu Tionghoa. Itu
sebabnya ia juga tak lama bertahan membuka praktik psikologi. ''Saya
capai, memberi konsultasi berjam-jam. Barangkali karena tak pernah nyuntik
dan memberi obat, para pasien lalu tak mau bayar," katanya geli. Namun,
sejumlah buku psikologi lahir dari tangan Moy. Taruhlah Menuju
Kesejahteraan Jiwa (bersama MAW Brouwer, 1984), Rumah Sakit dalam Cahaya
Ilmu Jiwa (1983), dan Penilaian Psikologis terhadap Anak-anak dengan Brain
Disfunction (1973). Selebihnya, buku atau makalah kesastraan Melayu
Tionghoa seperti The Making of the Indonesian Chinese Woman (1984), 100
Tahun Kwee Tek Hoay (1987), Khoo Phing Hoo, Writer of Kungfu Stories in
Indonesia (1991), Jakarta Through the Eyes of Ko Put On (1995). ''Yang
pasti, saya takkan berhenti menulis," katanya.
|
Anda ingin
Berlangganan Indonesia Media?
|
|||||
|
FastCounter by bCentral |
|||||||