|
|
Keterlibatan Soeharto Dalam G-30-S Amsterdam, Indonesia Media, September 2000
Sebagai orang, jendral Soeharto memberi kesan yang kalem dan sangat berhitungan. Dia bukan petualang (bukan adventurer). Sebelum peristiwa G-30-S Soeharto memang memelihara hubungan baik dengan kedua perwira bawahannya ini yang ternyata condong kiri. Dia hadir sebagai tamu terhormat pada perkawinannya kol.Untung. Tetapi hubungan baik belum tentu berarti dia sepaham dan sekongkol dengan mereka. Didalam penghidupan seseorang, apalagi bagi seorang komandan pasukan, hubungan antar-manusia penting sekali. Selama tidak terjadi halangan yang besar, hubungan tersebut terkadang dapat mengatasi permusuhan di waktu perang. Ada pepatah Tionghoa yang bunyinya kira-kira sbb.: “kenallah musuhmu dan kenallah dirimu sendiri. Seratus pertempuran, seratus kemenangan”. Jendral Soeharto melihat dan mendengarkan kanan-kiri untuk sebanyak mungkin menjajaki keadaan. Selain dari itu hubungan dengan orang-orang kiri sebelum G-30-S merupakan suatu dekking yang memperkuat kedudukannya karena dibawah Bung Karno, dan PKI sebagai partai yang besar dan resmi. Ikatan kekeluargaan dan perasaan setiakawan di Indonesia lebih mendalam ketimbang soal-soal ideologi. Saya percaya bila dikatakan ketika peristiwa Madiun, overste Parman dari pihak lawan-komunis telah menyelamatkan Ir.Sakirman, saudaranya yang tergolong PKI. Overste Parman belakangan dikenal umum sebagai Jendral Soeparman. Dikatakan pula Ir.Sakirman pun telah berusaha memberi isyarat adanya bahaya kepada jendral Soeparman pada malam terjadinya peristiwa G-30-S tetapi gagal. Satu contoh lagi. Jendral Sarwo Edhi terkenal bertanggung jawab atas kematian banyak orang-orang PKI. Dikabarkan ayahnya adalah orang BTI (Barisan Tani Indonesia), organisasi massa PKI. Sarwo Edhi telah berusaha untuk mengeluarkan ayahnya dari tahanan. Tetapi yang belakangan ini menolak selama kawan-kawan setahanan tidak ikut dibebaskan. Seorang pembesar lain buru-buru ke Jawa Timur dengan maksud menyelamatkan nyawa famili yang ditangkap oleh golongan anti-komunis. Tetapi terlambat. Familinya sudah dibunuh. Mr.Liem Koen Seng yang dekat dengan PKI keluar dari tahanan berkat pertolongan Jendral Amir Machmud dari pihak Soeharto. Setelah mendengarkan informasi dari kol.Latief tentang rencana G-30-S, Soeharto sebagai komandan pasukan ada alasan untuk terlebih dahulu menjajaki keadaan dan mengawasi perkembangan-perkembangan yang akan datang. Benarkah info yang baru diperoleh itu ? Bukankah ini permainan pihak-pihak tertentu saja ? Betulkah Bung Karno ikut mengetahui serta merestuinya ? G-30-S semulanya tidak bermaksud membunuh para jendral yang hendak diciduk. Ada faktor lagi yaitu Soeharto dan jendral Yani satu sama lain saling tidak menyukai. Bila Yani ditawan apalagi kalau kemudian dalam isyu “Dewan- Jendral” dipersalahkan, hal itu tidak merugikan Soeharto. Maka sebaiknya dia menunggu saja bagaimana nantinya. Selesai pertemuan Latief dengan Soeharto, pimpinan G-30-S berkesimpulan Soeharto, panglima Kostrad, bersikap netral. Netralisasi pasukan Kostrad, mereka anggap telah berlangsung dengan baik. Adalah terlalu jauh untuk menganggap Soeharto perancang seluruh perkembangan dari permulaan G-30-S hingga dia menjadi presiden. Risikonya petualangan demikian terlalu besar. Bisa berhasil, bisa juga berkembang ke jurusan yang tidak terduga sama sekali (seperti terjadinya kalau dilihat dari sudut G-30-S). Soeharto orangnya sangat was-was. Sebisanya dia akan mengambil jalan yang hasilnya secara lumrah dapat diperhitungkan dimuka dan begitupun memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh, karena selalu masih bisa meleset. Kalau dia perancangnya, dia akan pimpin sendiri. Tidak bakal pasrah lain orang. Ini gerakan yang berbahaya, bukan urusan remeh. Dia tidak sembrono, bukan orang yang gegabah. Setelah jenderal-jenderal terbunuh, letkol.Untung sebagai pemimpin pelaksanaan G-30-S tak tertolong lagi. Dia menjalani hukuman mati. Lain halnya dengan kol.Latief. Meskipun Latief merupakan saksi yang dapat membahayakan Soeharto, dia tidak dibunuh. Selama 32 tahun Soeharto dengan mudah dapat membunuhnya, tetapi tidak dilaksanakan. Nampaknya Soeharto masih ada lemah perasaan terhadap Latief. Sedari 1 Oktober 65 perkembangan meruncing dan sangat gawat. Dipandang dari sudut kemiliteran Soeharto mengetahui PKI bukan tandingannya pihak musuh-musuhnya PKI. Secara politik pengumuman Dewan-Revolusi dengan Untung sebagai ketua, merupakan kebodohan yang besar. Orang pada umumnya tidak mengenal nama itu. Tidak ada jendral maupun pembesar sipil yang akan bersedia menerima perintah dari letkol.Untung dan mengakui dia sebagai atasannya. Lebih-lebih untuk menempatkan nasib nusa dan bangsa kedalam tangannya. Bung Karno tidak tercantum didalam daftar anggauta Dewan-Revolusi. Orang pada teka-teki, apakah ini berarti suatu coup terhadap Bung Karno ? Mungkin Soeharto tidak dapat membenarkan pembunuhan para jendral. Setelah mengetahui apa yang terjadi pada malam 30 Sept/1 Okt 65 dia jelas memilih pihak. Konsekwensinya golongan kiri dihancurkan. Soeharto menganggap keadaan tidak memungkinkan jalan tengah. Masuk akal bila dikatakan Soeharto sebelumnya, selain berhubungan dengan golongan kiri juga sudah ada hubungan dengan MI6 (Military Intelligence 6, Inggris) dan CIA (Central Intelligence Agency, Amerika Serikat) yang menjanjikan backing bila ada perkembangan tertentu. Sebagai panglima Kostrad Soeharto telah memelihara hubungan dengan kiri dan kanan tanpa mengikat diri. Dengan terbunuhnya jendral Yani dan disamping itu Jenderal Nasution luka-luka serta Bung Karno kedudukannya terguncang 1965/66, ditambah adanya backing dari MI6 dan CIA, jalan ke puncak pimpinan negara terbuka bagi jendral Soeharto. Dengan kekerasan tanpa menghiraukan jumlah korban manusia dan tanpa mengindahkan Hak-hakAzasi Manusia dia telah mempergunakan kesempatan tersebut. Sie Hok Tjwan /Indonesia Media
|
|||
| |
||||
|
FastCounter by bCentral |