|
|
|
|
||||
|
|
|
|
||||
|
BERITA TANAH AIR |
Poso
Rusush Aksi kerusuhan ini telah mengakibatkan 215 rumah di Lambogia dan Kasintuwu musnah terbakar. Sebagian rumah itu adalah rumah-rumah yang baru dibangun akibat terbakar dalam kerusuhan akhir Desember 1998. Selain itu, massa pun memusnahkan empat bangunan sekolah, dua rumah ibadah, serta tiga unit mobil dan tiga unit motor. Korban meninggal dunia tercatat tiga orang akibat tembakan petugas, seorang di antaranya meninggal dalam perjalanan menuju Rumah Sakit (RS) Palu. Untuk mencegah makin luasnya kerusuhan ini, aparat keamanan setempat memblokir wilayah perbatasan antara Sulawesi Tengah (Sulteng), Sulawesi Selatan (Sulsel), serta perbatasan Sulteng dan Sulawesi Utara (Sulut). Pemblokiran ini juga untuk menghindari mobilisasi massa dari dua daerah yang bertetangga. "Pengalaman kerusuhan sebelumnya menunjukkan bahwa ada masyarakat dari kedua propinsi tetangga, yakni Sulut dan Sulsel, yang terprovokasi dan mencoba masuk ke Sulteng. Agar kejadian seperti ini tidak terulang, perbatasan kedua propinsi yang menghubungkan dengan Sulteng dilokalisir untuk sementara," jelas Kepala Penerangan Kodam VII/Wirabuana Mayor (Inf) Joko Warsito kepada pers di Makassar, Selasa. Ia menambahkan, jumlah aparat keamanan di wilayah kerusuhan itu ditambah menjadi satu satuan setingkat kompi (SSK) Polisi Perintis, empat Satuan setingkat peleton (SST) Kompi B Yonif 711 Raksatama, dan satu SST dari Kodim 1307/ Poso. Sementara itu, dalam pertemuan dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama di Kabupaten Poso, Kepala Polda Sulteng Kolonel (Pol) Soeroso menyatakan akan menarik personel Brimob dari Poso. Masyarakat mendesak penarikan aparat Brimob, karena korban tewas diduga akibat tertembak personel Brimob. Penjarahan Keterangan yang dihimpun Kompas menyebutkan, aksi penjarahan mulai berlangsung sejak Selasa pagi. Harta benda milik warga seperti televisi, kipas angin, kursi, pesawat telepon, tempat tidur, dan perabot rumah tangga lainnya dijarah massa. "Setelah mengambil barang-barang, mereka lantas membakar rumahnya. Mereka seperti kesetanan mengambil apa saja yang bisa diambil. Setelah itu, mereka mulai membakari apa saja yang belum terbakar. Mungkin kalau di dalam rumah itu ada eskalator, itu juga diangkat," ujar Syarif, seorang warga di Tentena. Lokasi kerusuhan tidak hanya terkonsentrasi di Lambogia, tetapi telah meluas hingga Kasintuwu. Aksi massa yang beringas ini mencari sasaran rumah-rumah atau toko milik penduduk yang belum dijarah dan belum dibakar. Sementara itu, Komandan Rayon Militer Poso Kota Letda (Inf) Guntur yang dikonfirmasi menyatakan, massa yang terlibat dalam aksi kerusuhan, kemarin, semakin banyak. Gubernur terharu Gubernur Sulteng H Bandjela Paliudju yang meninjau lokasi kerusuhan bersama Muspida Sulteng, Selasa, menyatakan terharu melihat penderitaan warga yang terpaksa mengungsi. Namun, Gubernur mengimbau kepada warganya, terutama para pengungsi, agar tidak melakukan balas dendam, karena hanya akan memperburuk situasi. "Biarlah Tuhan yang membalas perbuatan mereka," ujar Paliudju. Dalam kunjungannya, Gubernur memberi bantuan sebesar Rp 50 juta kepada sekitar 3.000 pengungsi yang telah kehilangan harta benda dan tempat tinggal. Mereka menempati tempat penampungan di Markas Kodim Poso (400 orang), Markas Kompi B/711 (526 orang), Kelurahan Kawua (200 orang), GOR Poso (400 orang), Balai Desa Tagolo (1.000 orang), serta ratusan lainnya yang mengungsi ke gunung-gunung. (ren/lam/IM) |
Baca Juga Artikel: Presiden Gus Dur Berhentikan Sukardi & Jusuf Kalla Kejagung Sita Kekayaan Soeharto Pengacara & Tim dokter Soeharto terancam hukuman 5 tahun Ganti rugi Kedungombo tak manusiawi Ruang tahanan Bob Hasan pakai 4 kunci "Beri Menko Ekuin Wewenang Penuh" Bentrok antarkelompok di pesisir Galela Hakim seluruh Jakarta akan dipindahkan 380 Anggota DPR RI Tidak bayar pajak Peruri bantah tuduhan cetak uang palsu Letjen TNI Johny Lumintang tantang Prabowo
|
||||
|
FastCounter by bCentral |
||||||