bertalogo.jpg (6695 bytes)

PBNU Sesalkan Penyerbuan Wisma Doulos


Klik gambar untuk melihat versi besar.

FREE WALLPAPER!!
Click the resolution you need:
640x480
800x600
1024x768
(Note: To set as a wallpaper just right click the enlarged image then select set wallpaper.
If you want to save the wallpaper select save picture as after the right click)

BERITA TANAH AIR
- Para Jenderal akan dipanggil paksa
- Komisi PBB Temukan
Bukti Keterlibatan TNI

-Kopassus Mengkoordinir Milisi
- Bukan Hulubalang Rezim
- Muhammadiyah Desak Pemerintah Akui Konghucuisme
- PBNU Sesalkan Penyerbuan Wisma Doulos
- Jenderal Wiranto Bakal Segera Pensiun?

LOCAL NEWS
- Dialog Interaktif NIA & Kesaksian Jonas Souisa
- Tatap Muka Dengan Christianto Wibisono
- Malam Natal Masyarakat Indonesia L.A. '99
- Peranan Tionghoa Dalam Penghentian Pembantaian di Makasar
- Sejenak Bersama Pdt. Eka Darmaputera Ph.D.
- 80-20
- Himbauan Kepada Indonesian Community

MANCA NEGARA
- Anak Gus Dur Belajar Bahasa Mandarin
- Tiongkok Sepenuhnya Dukung Keutuhan Wilayah RI
- RI Terima Budaya Tiongkok
- Gus Dur Turunan Tionghoa?

POLITIK
-
Habibie Gagal, Daerah- daerah tuntut merdeka (Bag.2)

OPINI
- Membangun Politik Luar Negeri Yang Bebas dan Mandiri

BUDAYA & TRADISI
- Perahu Pinisi (Bag.2)

IMMIGRASI
- Keterangan Mengenai Visa NonImigran

ENGLISH
- Tragedy Befalls Ternate, Indonesia

JENAK JENAKA
- Bukan Basa Basi +  Jambret

Penggunaan Isu Agama sebagai Komoditas Politik Menimbulkan Konflik Horisontal Antarmasyarakat

Jakarta, Pelaku peristiwa penyerbuan Yayasan Doulos, di Cipayung, Jakarta Timur beberapa hari lalu telah melakukan tindakan melawan hukum dan melanggar hak-hak warga masyarakat yang seharusnya dilindungi. Mereka juga telah menodai kesucian bulan Ramadhan dan kesucian agama Islam yang secara mendasar menolak tindakan kekerasan itu.

Pernyataan sikap ini disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) KH Hasyim Muzadi dan Sekretaris Jenderal Drs H Muhyidin Arubusman dalam keterangan persnya yang disampaikan Minggu (19/12) di Jakarta. Dia mengutuk semua pihak yang terlibat peristiwa penyerbuan Yayasan Doulos, baik secara langsung maupun tidak langsung.

''Kami sangat menyesalkan peristiwa perusakan, pembakaran dan pembunuhan yang terjadi di wisma Doulos serta menyatakan simpati dan bela sungkawa sedalam-dalamnya terhadap saudara kami dari umat Kristiani yang menjadi korban peristiwa tersebut,'' ujar Hasyim Muzadi.

Dia juga mendesak pemerintah untuk sesegera mungkin mengusut kasus ini dan menangkap semua pihak yang terlibat, termasuk provokator dan aktor-aktor intelektualnya. Kepada aparat keamanan diharapkan meningkatkan komitmen menjamin tegaknya tertib sosial, rasa aman dan keselamatan setiap warga negara dari setiap tindak kekerasan dengan dalih apa pun di luar koridor hukum yang berlaku.

Kepada semua pihak, khususnya umat Islam dan Nasrani diajak untuk semakin mempererat tali silaturrahmi dan tali persaudaraan sesama warga bangsa Indonesia serta mempertahankan dan meningkatkan rasa saling pengertian dan kerja sama.

Kepada warga NU, secara khusus ia mengimbau untuk tetap mempertahankan dan meningkatkan sikap tasamuh (toleran) dalam pergaulan sosial dengan semua komponen bangsa, baik yang seagama maupun yang berbeda agama.

Ketua Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) M Syukur Sabang menilai, penggunaan isu agama sebagai komoditas politik telah menimbulkan pecahnya konflik horisontal antar masyarakat sehingga biaya sosial (social cost) yang harus dikeluarkan bangsa Indonesia sangat tinggi.

Penilaian ini dikatakan pada press release yang disampaikannya, Minggu (19/12) menyikapi peristiwa penyerbuan terhadap sekelompok orang terhadap kompleks Yayasan Doulos Cipayung, Jakarta Timur.

Syukur merasa prihatin atas peristiwa yang justru terjadi pada bulan Ramadhan, bulan yang dianggap suci oleh umat Islam, serta menjelang umat Kristiani merayakan Natal.

Untuk itu dihimbau kepada seluruh umat beragama, khususnya warga GP Ansor untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap hasutan, politik adu domba dan rongrongan dengan kedok agama yang sengaja diarahkan agar timbul perpecahan nasional dan disintegrasi bangsa. (AO/S-22/SPD/IM)

Kembali ke halaman depan
Kembali ke halaman terbitan lalu