|
|
|
|
|||||||
|
APRIL 2000 |
||||||||
| BERITA
TANAH AIR LOCAL NEWS MANCA NEGARA OPINI BUDAYA&TRADISI IMMIGRATION TOKOH ENGLISH KOMIK AMRIK HEMAT & NIKMAT JENAK JENAKA PENGALAMAN ROHANI FAMILI & PARENTING
|
Mayjen TNI Raden Agus
Wirahadikusumah, M.P.A. Siapa tak kenal jenderal bintang dua bertubuh kecil ini? Pernyataannya dikenal pedas dan kritis. Tak jarang kalimat-kalimatnya menyerempet bahaya , lelaki itu, kini sedang menjadi titik sorotan. Setidaknya di kalangan kolega-koleganya, sesama Tentara Nasional Indonesia. Setelah sempat "bertikai" dengan Mayjen Djadja Suparman, ia malah menggantikan lawan polemiknya itu di kursi Pangkostrad. Sementara, kita tahu, Djadja harus "mengungsi" ke Bandung, menjadi Komandan Sesko TNI. Agus mengatakan dengan lugas bahwa persoalan paling mendasar dari sistem politik adalah kepemimpinan nasional yang feodalistis, sentralistis, dan paternalistis. Model kepemimpinan nasional seperti inilah yang, menurut Agus, menjadi akar dari banyak masalah yang menghambat pengembangan kehidupan demokrasi. Tak seperti umumnya perwira tinggi AD, bicaranya sangat terus terang, lugas, dan menohok ke pokok persoalan.
Wiranto dan Agus memiliki karakteristik pikiran yang berbeda dalam memahami reformasi dalam tubuh TNI, terutama dalam memperinci agenda-agenda operasionalnya yang harus disegerakan dan dalam merancang jadwal realisasi reformasi itu. Bagi Agus, penghapusan kursi TNI di legislatif pusat dan lokal serta perbaikan mendasar pada pelaksanaan fungsi teritorial TNI merupakan sebuah pekerjaan jangka pendek yang mesti dilakukan segera. Dan, Wiranto cenderung menolak perumusan prioritas seperti itu. Wiranto termasuk tipikal perwira yang terlampau sabar dan membayangkan reformasi TNI dalam banyak tahap yang memakan waktu. Agus adalah tipikal perwira yang tak sabar. Ia menginginkan reformasi yang segera, cepat, dan konkret. Naiknya Agus itu disertai dengan tudingan minor ke arahnya. Mulai dari kemampuannya sebagai pemimpin, koncoisme yang menyertai tudingan itu, sampai perkara kegemarannya kepada perempuan. Lahir dari keluarga ningrat Pasundan, selepas Akabri, Agus mengawali karirnya di lingkungan Kodam VII/Brawijaya. Khususnya di Brigif 2 kodam tersebut. Di sana ia sempat menjadi Komandan Peleton, Komandan Kompi, dan Perwira staf Operasi. Selepas itu, ia ditugaskan di bidang pendidikan, menjadi guru di Pusat Infanteri TNI AD, Bandung. Perjalanan karirnya sangat unik, perpindahan pos-nya sangat cepat. Bahkan, dia pernah dalam setahun pindah ke empat batalion. Ketika itu, sebelum ditugaskan sebagai Komandan Seskoad, 1988, ia ditugaskan di Batalion 328 Kostrad. Namun, baru "beberapa hari", ia sudah dipindahkan lagi ke Batalion 305. Eh, belum lagi "bernapas", ia sudah dipindahkan ke Batalion 330. Sepanjang karirnya dia sudah pindah tugas 28 kali.. Semua itu tentu saja ada sebabnya. Ketika itu, sebagai lulusan Kursus Komandan Batalion, ia sebenarnya berhak menduduki posisi komandan batalion. Tapi, ia malah ditempatkan sebagai Wakil Komandan Batalion. Agus ditempatkan di Batalion 328, yang jadi kebanggaan Prabowo [menantu mantan Presiden Soeharto] waktu itu. Saat itu, Prabowo masih berpangkat mayor dan jadi Wakil Komandan di sana," kata Agus. Karena Prabowo mengikuti Seskoad, Agus pun ditempatkan di situ, menggantikan Prabowo. Usai menyelesaikan pendidikan sekolah komandonya, Prabowo rupanya masih naksir dengan bekas kesatuannya itu. Agus, tentu saja, harus mengalah. Ia dipindahkan ke Batalion 305. "Kemudian, rupanya, Prabowo ingin segera dipromosikan menjadi Komandan Batalion. Tapi, Agus yang lebih senior, sebenarnya dia lebih qualified sebagai komandan. Untuk tidak menimbulkan hal yang "bukan-bukan", akhirnya ia dan Prabowo sama-sama dipromosikan sebagai Komandan Batalion. Agus menjadi Komandan Batalion 330 dan Prabowo menjadi Komandan Batalion 328. Namun, "Baru tiga bulan di Batalion 330, Batalion 305 yang ditinggalkannya itu rusak. Komandan Batalionnya macam-macam di situ. Agus diperintahkan Pangkostrad Sahala Rajagukguk untuk segera memberesi karena di sana para prajuritnya melakukan demo kepada Komandan Batalion mereka. Tugas itu ia tunaikan hanya dalam tempo tiga bulan. "Baru kemudian dia masuk Seskoad. Padahal Agus, ketika dipindahkan ke Batalion 305, ia sedang asyik-asyiknya menularkan ilmu gerilya yang didapatkannya di Vietnam. Waktu itu dia lagi senang-senangnya mengembangkan kemampuan dan keterampilan pasukan Ranger Amerika, sekaligus kemampuan gerilya Vietkong. Saat itu dia baru pulang dari Suanthai. Prajurit yang ditinggalkannya sampai menangis, tuturnya. Memang, setidaknya, seperti dikatakannya sendiri, ia memang terbilang sukses memimpin anak buahnya. Itu terlihat dari setumpuk puisi yang ia terima dari anak buahnya. "Saya selalu akrab dengan anak buah. Karena itu, komunikasi saya tidak bisa basa-basi, komunikasi dengan nurani yang paling dalam dan sangat intens. Enggak ada basa-basi, enggak ada birokrasi, enggak ada feodalisme," kata Agus. Ujung-ujungnya, semua keakraban itu membuatnya enggan datang dalam acara perpisahan. Tentu saja, keakraban yang menunjukkan kualitas kepemimpinan Agus itu tak hanya berhenti sebatas keakraban. Bersamaan dengan itu, misi-misi yang dibebankan kepadanya pun ikut diselesaikan dengan baik. Misalnya, ketika ia meninggalkan Seskoad. Yang pasti, kata Agus, anak buah yang ditinggalkannya menangis dan kecewa. "Mereka mengharapkan kehadiran saya lebih lama lagi. Termasuk, di batalion-batalion sebelumnya," kata Agus. Dan, tindak-tanduk Agus tak hanya memikat hati anak buahnya. Kalangan sipil pun ikut jatuh hati kepadanya. Terutama, ketika ia melemparkan gagasan-gagasan yang mendukung "supremasi sipil". Tengoklah, misalnya, usulannya dalam Sidang Dengar Pendapat dengan Komisi I DPR, beberapa bulan lalu. Saat itu ia mengusulkan agar komando teritorial, dari korem, kodim, koramil, hingga babinsa, dibubarkan di daerah tertentu. Sebelumnya, mantan Asrenum Panglima TNI itu pun banyak melontarkan usulan yang memanaskan telinga teman-teman sejawatnya. Misalnya, soal pembersihan unsur KKN di tubuh tentara, pencabutan fungsi sospol dalam dwifungsi TNI, dan pengembalian fungsi intelijen. Menurut AWK--begitu ia kerap disebut para wartawan--penghapusan korem hingga babinsa itu penting untuk menghadapi otonomi daerah. Soalnya, selama ini lembaga-lembaga militer itu telah menjadi perpanjangan tangan Orde Baru dan menjadi mesin politik Golkar untuk menggalang berbagai macam operasi politik. Padahal, sebenarnya fungsi utama TNI adalah mempertahankan wilayah Indonesia. "Karena itu, lebih baik dihapuskan saja," ujar Agus ketika itu. Ia juga tak menyetujui rencana pemekaran kodam yang sempat didengungkan pemimpin TNI AD. Dan, yang paling "monumental", ia pun dengan pedas mengkritik pernyataan koleganya sendiri, Pangkostrad Letjen TNI Djadja Suparman, yang terkesan membela para jenderal yang tengah diselidiki keterlibatannya dalam pelanggaran HAM di Timor Timur pascajajak pendapat.
Naiknya Agus Wirahadikusumah menjadi Pangkostrad menimbulkan fenomena baru: kalau seorang prajurit ingin naik pangkat, harus melawan atasannya dulu... Agus menepis, "Itu sebenarnya langkah-langkah dari pihak-pihak yang tidak menyukai saya dengan mengembuskan cara-cara seperti itu. Sebenarnya, polemik itu memang dibuat oleh mereka-mereka melalui media. Yang jelas, katakanlah seperti pernyataan Pak Djadja. Itu kan sesuatu pernyataan yang sangat mengejutkan. Dalam arti, cukup membahayakan solidaritas TNI, memberikan aroma rangsangan kepada prajurit untuk bertindak di luar aturan, sehingga saya perlu memberikan satu komentar dan mendinginkan suasana. Akhirnya, itu dibesar-besarkan menjadi satu polemik di media massa. Kemudian, hubungannya dengan Pak Wiranto, sama sekali saya tidak pernah mengeluarkan pernyataan itu. Itu yang sangat disayangkan. Orang yang tidak paham kejadian yang sesungguhnya memberikan komentar dan penilaian. Jika itu benar, tentu saja pernyataan saya itu sulit dipahami dan diterima oleh militer profesional. Tapi, yang jelas, pernyataan itu diangkat dari satu perbincangan dua minggu sebelumnya dengan media yang saya gelar setiap minggu di kediaman saya di Makassar. Pertemuan rutin dengan wartawan itu untuk memberikan wawasan kepada wartawan lokal, pemahaman dan background, supaya daya analisisnya tajam, akurat. Tapi, kemudian ditangkap sebagai statement Pangdam. Itu yang tidak dipahami oleh orang-orang yang memberikan komentar negatif kepada saya." Agus dituding melanggar kode etik perwira. Selain dianggap melanggar kode etik perwira, Agus pun diisukan tak bermoral. Misalnya, seperti disebut-sebut sebuah selebaran gelap, anak kelima dari 12 putra-putri R. Maryun Wirahadikusumah, S.H. itu, konon, melakukan tindakan tak bermoral kepada beberapa atlet perempuan bulu tangkis. Untuk itu, Agus menanggapinya enteng, bahwa itu tak lebih dari upaya orang untuk mendongkel dirinya keluar dari kepengurusan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI). "Itu kan sebenarnya persoalan-persoalan interen PBSI yang dilansir orang-orang yang berkepentingan di dalam. Katakanlah untuk menyingkirkan saya dari manajemen PBSI. Itu sudah kelihatan. Kemudian, itu diangkat lagi oleh orang-orang yang mungkin tak menyukai saya di tubuh TNI. Seolah-olah untuk membenarkan bahwa saya tidak bermoral," kata Agus. "Tapi, biar saja. Masyarakat yang menilai sampai sejauh mana moralitas itu," ujarnya. "Kalau kita berbicara mengenai moralitas, saya minta dikembalikan lagi. Apakah penculikan itu bermoral? Apakah permainan-permainan yang menimbulkan kerusuhan Mei itu bermoral? Apakah penembakan-penembakan dan tindakan-tindakan di luar batas-batas profesionalitas sebagai tentara terhadap mahasiswa itu bermoral? Termasuk juga masalah-masalah di Timor Timur dan Aceh. Apakah itu bermoral? Saya kembalikan lagi. Jangan keluar dari kenyataan. Itu sangat tidak bermoral dan sangat merusak kredibilitas TNI sebagai tentara yang seharusnya dicintai rakyat," Toh, keluarganya pun sami mawon kalemnya menghadapi tudingan itu. "Dari dulu mereka sudah tahan banting," katanya. "Sejak letnan dua, saya banyak menghadapi tantangan untuk menghadirkan kebenaran dan keadilan. Itu selalu saya pegang teguh," kata Agus. "Sejak letnan dua, saya selalu menghadapi penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan pemimpin. Dan, saya sangat keras memerangi itu. Demikian juga penyimpangan terhadap hak prajurit. Sejak itu, idealisme saya tidak pernah berubah," katanya. Agus pun mengungkapkan kekagumannya kepada Tri Rachmaningsih, 48 tahun, perempuan berdarah Solo-Minang yang mendampingi hidupnya sejak 25 tahun silam. "Kalau ada yang saya kagumi, jelas istri saya," Menurut Agus, kekaguman kepada istrinya itu bukan tanpa alasan. "Ibu itu tahan banting," ucapnya. Dan, itu, kata Agus, sangat membantu karirnya. Bahkan, membuat sepasang buah hati mereka juga tumbuh dengan karakter sama: tahan banting. "Saya beruntung sekali mendapatkan Ibu. Ia membuat anak-anak siap tahan banting," tutur laki-laki penggemar Gudang Garam Filter dan kopi Nescafe itu. Dua buah hatinya itu, Diah Gustinar Savitri, dokter gigi yang kini tengah melanjutkan pendidikan S2-nya di Amerika, dan Yunan Mahastra Satria yang sedang belajar ekonomi di negeri yang sama. "Semua hujatan dan cercaan itu saya anggap kecil. Enggak ada apa-apanya buat saya. Istri dan anak-anak sudah cukup terlatih menghadapi isu," katanya percaya diri. Menurut Agus, karakter keluarganya terbentuk karena prinsip kemandirian yang ditanamkannya. Bagaimanapun, menurut Agus, seorang prajurit setiap saat bisa sakit, mati, dan gugur dalam tugas. Karena itu, Agus melatih keluarganya untuk tidak bergantung kepadanya. "Hadapi kehidupan ini secara realistis," kata jenderal penggemar sepeda motor besar Harley Davidson itu menegaskan. Uniknya, kendati lahir dari kalangan ningrat, Agus menerapkan sikap antifeodalisme di keluarganya. "Saya ini keturunan ke-17 Prabu Siliwangi," katanya. Kemenakan Jenderal Umar Wirahadikusumah ini tidak mengizinkan anak-anaknya menyandang nama "Wirahadikusumah". "Saya ingin anak-anak saya tumbuh dengan percaya diri, bahwa mereka harus membangun citra dan jati diri mereka masing-masing. Saya tidak mau mereka jadi feodal," ujar Agus. Karena itulah, ia tak menyukai gaya-gaya menjilat, koncoisme, dan praktek-praktek berbau KKN lainnya. Termasuk, untuk karirnya. Tapi, naiknya Anda menjadi Pangkostrad ini dihubungkan dengan kedekatan Anda dengan Gus Dur dan Bondan Gunawan serta Marsilam... Itu penilaian yang salah sama sekali. Saya tidak pernah punya kedekatan-kedekatan yang berkaitan dengan promosi karir saya. Dari dulu sampai sekarang saya tidak pernah punya keinginan menggantungkan karir saya kepada seseorang. Saya selalu ingin menjadi diri saya sendiri, bukan karena orang lain. Dan itu sudah saya lakukan. Itu sudah berjalan sejak saya meniti karir di Angkatan Darat. Kalau dengan Fordem? Tidak pernah saya mengerti namanya Fordem. Tapi, menjelang 17 Agustus 1999, saya melihat kekhawatiran, kondisi bangsa ini sangat terpuruk, seperti juga pernah dialami oleh bangsa Jepang pada masa Restorasi Meiji. Dari pengalaman bangsa Jepang itu, saya menghimpun semua kekuatan pemikiran bangsa. Para guru besar bangsa ini yang saya himpun menjadi dewan kurator, yang membantu saya menciptakan sebuah yayasan yang dinamakan Yayasan Fase Baru Indonesia. Yayasan itu diciptakan untuk membangun kualitas pemimpin-pemimpin Indonesia di masa yang akan datang. Termasuk, di antaranya, Bapak Bondan Gunawan, sebagai salah seorang founding father-nya. Tidak ada kedekatan dengan orang-orang Istana, Fordem, dan segala macam. Enggak. Saya melihat pribadi-pribadi yang benar-benar punya sikap nasionalisme yang kuat untuk membangun bangsa yang sudah sangat terpuruk moralnya ini. Ketika Gus Dur berpesan kepada Panglima TNI Widodo agar perwira seperti Anda ditaruh di Jakarta, terkesan Gus Dur membela Anda... Saya tidak pernah kenal Gus Dur. Tidak pernah tahu dan tidak pernah ada hubungan. Sebelum Gus Dur menjadi Presiden... Tidak pernah juga. Kapan? Saya tidak mengerti. Tapi, soal ia mendukung saya, itu hak Presiden. Beliau jernih melihat orang dengan nurani yang kuat dan dalam. Kita harus melihatnya dari situ dan saya bersyukur bahwa masih ada orang, apalagi pemimpin bangsa nasional yang dipilih oleh rakyat ini, yang cukup jeli untuk melihat kemampuan saya. Itu suatu tantangan bagi saya untuk membuktikan tanggung jawab saya kepada masyarakat bahwa Gus Dur itu tidak salah. Jadi, kalau Presiden Gus Dur seolah-olah membela saya, itu saya kira nurani Gus Dur sendiri untuk melihat kebenaran dalam arti yang sesungguhnya. Sebagaimana saya katakan, selama ini kan yang sebenarnya terjadi adalah pertarungan antarkekuatan lama dan baru. Yang di dalamnya, kekuatan lama masih terus berusaha bercokol tanpa bisa mengatasi krisis. Itu yang saya katakan, kalau tidak mampu, sebagai wujud public accountability, mundur saja. Sebab, bangsa dan masyarakat ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut dalam kondisi yang sangat sulit seperti ini. Sudah dua tahun lebih. Berikan kepada kekuatan-kekuatan baru yang akan menyelamatkan bangsa. Dan, kekuatan baru pun, kalau suatu saat tidak sanggup, ia harus rela menyerahkan lagi kepada kekuatan lain yang lebih siap dan lebih mampu menyelamatkan bangsa ini. Begitu saja, sederhana. Victoria S/Frm/Indonesia Media.
Presiden
Punya Bukti Satu Pangdam 'Ngacak-Ngacak' |
|
|||||||
|
FastCounter by bCentral |
|||||||||