Penembakan Massal Kembali Terjadi Di Negara Paman Sam


e91f7577-9a8c-4368-8adc-3256bf76e748_169Jakarta – Penembakan massal kembali terjadi di Amerika Serikat. Peristiwa ini terjadi di Umpqua Community College di Roseburg, Oregon, Kamis waktu setempat, yang menewaskan setidaknya 10 orang. Pelaku penembakan Chris Harper Mercer, 26, diduga memposting rencananya di media sosial, mengaku kagum pada pelaku penembakan Universitas California yang menewaskan tujuh orang tahun lalu.

Mayoritas pelaku penembakan di AS mengalami gangguan mental. Namun data terbaru menunjukkan, jumlah penderita gangguan jiwa di AS tidak bertambah signifikan, tetapi berdasarkan analisa baru Fakultas Kesehatan Harvard dan Northeastern University, angka penembakan naik tiga kali lipat dari tahun 2011 ke 2014.

Studi Harvard menunjukkan bahwa serangan di publik dalam rentang waktu itu rata-rata terjadi setiap 64 hari. Dibandingkan 29 tahun sebelumnya, serangan terjadi rata-rata setiap 200 hari.

Beberapa pengamat meyakini penembakan seperti penyakit menular, hal ini menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Bahkan studi tahun lalu menemukan bahwa penembakan biasanya terjadi sekitar dua pekan atau 13 hari setelah penembakan sebelumnya.

Adam Lankford, professor hukum kriminal di Universitas Alabama yang melakukan studi penembakan massal mengatakan bahwa kejahatan ini lebih cepat menular di AS ketimbang negara lainnya karena akses senjata api yang sangat mudah di negara ini.

Kepemilikan senjata api di AS adalah yang paling besar di seluruh dunia. Ada 270 juta hingga 310 juta senjata api yang beredar di AS. Dengan populasi sebesar 318,9 juta, artinya lebih dari sepertiga warga AS yang memiliki senjata api, berdasarkan data Pew Research Center.

Usaha Presiden Barack Obama mereformasi undang-undang kepemilikan senjata mendapatkan penentangan dari parlemen yang lebih dahulu dilobi oleh perusahaan produsen senjata.

Keinginan untuk menjadi terkenal menjadi alasan mengapa penembakan massal menjadi menular. Biasanya, pelaku penembakan massal akan mengisi tajuk utama dan halaman depan di media massa serta menarik perhatian publik dunia.

Seperti yang ditulis oleh Mercer yang diduga memposting kalimat di sebuah media sosial. Dia mengatakan “ingin menjadi terkenal karena merasa hidupnya saat ini tidak berarti”.

“Sepertinya warga Amerika tumbuh dengan hasrat untuk menjadi terkenal, dan tidak diragukan lagi ada hubungan antara perhatian media terhadap para pelaku dan tindakan yang akan mereka lakukan,” ujar Lankford. (cnn/IM)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *