Indonesia Pilih Kerjasama Dengan Tiongkok Untuk Bangun Kereta Api Berkecepatan Tinggi


ABF4F9CE-7B45-458A-B259-AF78C99703FC_w640_r1_sJakarta – Menteri BUMN Rini Soemarno hari Rabu (30/9) mengatakan Kementerian BUMN kini sedang berunding dengan Tiongkok perihal membangun jaringan kereta api berkecepatan tinggi pertama di Indonesia, yang menghubungkan ibukota Jakarta dengan Bandung, Jawa Barat.

Pemerintah Indonesia memilih Tiongkok, karena Jepang berkeras meminta jaminan pemerintah atas proyek ini, sedangkan proposal Tiongkok memenuhi syarat-syarat pemerintah – termasuk tidak perlunya jaminan pemerintah dan pendanaan dari anggaran negara.

Kekalahan Jepang dipandang sebagai pukulan berat terhadap pemerintahan Perdana Menteri Shinzo Abe yang berupaya mengambil manfaat dari ekspor infrastruktur untuk menghidupkan pertumbuhan ekonomi Jepang.

“Jadi secara otomatis kini kami berunding dengan Tiongkok,” ujar Rini yang membawahi beberapa BUMN. Ditambahkannya sebuah perusahaan patungan – yang 60% sahamnya merupakan milik Indonesia – “secara pasti” akan dibentuk bersama Tiongkok dalam tahun ini.

Total biaya pembangunan diperkirakan akan mencapai sekitar 70 triliun rupiah. “Proyek ini akan mengikuti sistem transportasi umum di Hong Kong di mana pembangunan alat transportasi umum di sekeliling kota menjadi pendapatan penting pada awal proyek ini,” ujar Rini.

Kementerian BUMN merujuk pada pemanfaatan beragam wilayah pemukiman padat dan daerah komersil yang dirancang untuk memaksimalkan akses atas transportasi umum, dan kerap menggabungkan beragam fitur guna mendorong penggunaan transportasi umum.

“Tiongkok akan mengajukan proposal tentang berapa kecepatan kereta api ini apakah hanya 250 kilometer per jam atau bisa ditingkatkan hingga 300 kilometer per jam”, ujar Rini.

Untuk pendanaan, 75% anggaran berasal dari pinjaman dari China Development Bank yang menawarkan pembayaran kembali selama 40 tahun dengan masa tenggang 10 tahun dan bunga 2%. 25% lainnya berasal dari modal.

Proyek yang akan menggunakan 59% bahan lokal itu akan memanfaatkan jalan raya bebas hambatan, lahan dan fasilitas infrastruktur lain milik BUMN yang terlibat dalam proyek ini, sehingga bisa mengurangi biaya pembebasan lahan.

“Meskipun pendanaan tersebut akan berasal dari luar negeri, tetapi akan digunakan di dalam negeri sehingga bisa benar-benar membantu pembangunan ekonomi,” ujar Rini.

Menteri Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga hari Selasa (29/9) mengungkapkan keraguan tentang kelayakan proposal Tiongkok untuk membangun jaringan kereta api itu tanpa pendanaan Indonesia sama sekali. “Ini tidak masuk akal. Saya ragu proyek ini akan berhasil”, ujar Suga setelah bertemu Sofyan Djalil, Utusan Khusus Presiden Joko Widodo.

Soemarmo mengakui bahwa kereta api cepat di Tiongkok mungkin tidak sesempurna “Shinkansen”, tetapi menurutnya pembangunan jaringan kereta api berkecepatan tinggi di Tiongkok telah membuat negara itu memiliki lebih banyak keahlian dan pengalaman.

“Kami tidak membangun sesuatu tanpa mempertimbangkan keselamatan rakyat Indonesia,” tegas Rini. “Kami telah mengoperasikan kereta api, pesawat terbang, jadi secara otomatis kami menyediakan layanan publik, dan kami selalu mempertimbangkan keselamatan para penumpang”, tambahnya.

Menanggapi pernyataan Menteri Suga bahwa, Rini menanggapi, “Tidak… proses tender ini telah dilakukan secara terbuka dan transparan”.

“Mohon diingat bahwa isu-isu teknis telah menjadi isu sekunder karena kendala keuangan pemerintah”, ujar Rini sambil menjelaskan bahwa anggaran pemerintah diprioritaskan untuk membangun jaringan kereta api di pulau yang belum berkembang, di luar Jawa.

“Pemerintah tidak ingin memberi jaminan – dalam hal ini anggaran – tetapi mengamati soal lalu lintas, yang kami nilai penting untuk membangun koridor Jakarta-Bandung, dan juga karena kepadatan penduduk di Jakarta dan daerah sekitarnya, sehingga perlu membangun jaringan kereta api ini,” tambah Rini. (voa/IM)

 

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *