Sikap Berbahaya Menteri Agama + Ketua DPR: Aliran Syiah Tidak Sesat

Posted on August 29 2012 by Tempo / SP

24 Responses to “Sikap Berbahaya Menteri Agama + Ketua DPR: Aliran Syiah Tidak Sesat”

  1. mija says:

    Kalau masalah ijin gereja yasmin yng jelas pernah ada pemalsuan tanda tangan warga maka apapun keputusan pengadilan dianggap tdk berguna oleh warga maka pendirian gereja itu gugur dng sendirinya.

    • wanda says:

      disini saja orang bisa demo karena gereja , coba di swiss yg katanya negara maju?????menara masjid betul betul dilarang!!!! di jerman apalagi, di perancis< orang dilarang memakai burqa!!! diIndonesiaa saja mereka bisa belagu begini sebagiai minoritas

      • nia says:

        Berarti orang perancis, swiss itu pada belagu ya, saking takutnya. Mesjid berrrkembang sampai menaranya aja dilarang2

    • a says:

      Pendapat Tentang Kafirnya Sekte Syiah

      Kami tidak menghakimi. Tugas kami hanya
      menyampaikan keterangan dan menunjukkan
      bukti. Dan ternyata didapati, yang berpendapat
      bahwa Syi’ah itu kafir adalah para Imam-Imam
      Besar Islam, seperti: Imam Malik, Imam Ahmad,
      Imam Bukhari dan lain-lain. Berikut ini beberapa
      pendapat dan fatwa para ulama Islam mengenai
      golongan Syi’ah Rafidhah yang disebut dengan
      Itsna Asy’ariyah dan Ja’fariyah.

      Pertama: Imam Malik
      Al-Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al
      Marwadzi, ia berkata: “Saya mendengar Abu
      Abdullah berkata, bahwa Imam Malik berkata:
      ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺸﺘﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻴﺲ ﻟﻬﻢ ﺍﺳﻢ ﺃﻭ ﻗﺎﻝ :
      ﻧﺼﻴﺐ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ
      “Orang yang mencela shahabat-shahabat Nabi
      Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka ia tidak
      termasuk dalam golongan Islam.”
      (As Sunnah, milik al-Khalal: 2/557)
      Ibnu katsir berkata saat menafsirkan firman
      Allah Ta’ala:
      ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣَﻌَﻪُ ﺃَﺷِﺪَّﺍﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭِ ﺭُﺣَﻤَﺎﺀُ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺗَﺮَﺍﻫُﻢْ
      ﺭُﻛَّﻌًﺎ ﺳُﺠَّﺪًﺍ ﻳَﺒْﺘَﻐُﻮﻥَ ﻓَﻀْﻠًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭِﺿْﻮَﺍﻧًﺎ ﺳِﻴﻤَﺎﻫُﻢْ ﻓِﻲ ﻭُﺟُﻮﻫِﻬِﻢْ ﻣِﻦْ ﺃَﺛَﺮِ
      ﺍﻟﺴُّﺠُﻮﺩِ ﺫَﻟِﻚَ ﻣَﺜَﻠُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺘَّﻮْﺭَﺍﺓِ ﻭَﻣَﺜَﻠُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﻧْﺠِﻴﻞِ ﻛَﺰَﺭْﻉٍ ﺃَﺧْﺮَﺝَ ﺷَﻄْﺄَﻩُ
      ﻓَﺂَﺯَﺭَﻩُ ﻓَﺎﺳْﺘَﻐْﻠَﻆَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻮَﻯ ﻋَﻠَﻰ ﺳُﻮﻗِﻪِ ﻳُﻌْﺠِﺐُ ﺍﻟﺰُّﺭَّﺍﻉَ ﻟِﻴَﻐِﻴﻆَ ﺑِﻬِﻢُ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭَ
      ﻭَﻋَﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻣَﻐْﻔِﺮَﺓً ﻭَﺃَﺟْﺮًﺍ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ
      ‏[ﺍﻟﻔﺘﺢ29/ ]
      “ Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-
      orang yang bersama dengan Dia adalah keras
      terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih
      sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka
      ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan
      keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak
      pada muka mereka dari bekas sujud.
      Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan
      sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti
      tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka
      tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu
      menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas
      pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati
      penanam-penanamnya karena Allah hendak
      menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan
      kekuatan orang-orang mukmin). Allah
      menjanjikan kepada orang-orang yang beriman
      dan mengerjakan amal yang saleh di antara
      mereka ampunan dan pahala yang besar.”
      Beliau berkata: “Dari ayat ini, dalam satu riwayat
      dari Imam Malik –rahmat Allah terlimpah
      kepadanya-, beliau mengambil kesimpulan
      tentang kekafiran Rafidhah yang membenci para
      shahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Beliau berkata:
      “Karena mereka ini membenci para shahabat,
      dan barangsiapa membenci para shahabat, maka
      ia telah kafir berdasarkan ayat ini.” Pendapat ini
      disepakati oleh segolongan ulama radhiyallahu
      ‘anhum.” (Tafsir Ibnu Katsir: 4/219)[i]
      Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata:
      ﻟﻘﺪ ﺃﺣﺴﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻓﻲ ﻣﻘﺎﻟﺘﻪ ﻭﺃﺻﺎﺏ ﻓﻲ ﺗﺄﻭﻳﻠﻪ ﻓﻤﻦ ﻧﻘﺺ ﻭﺍﺣﺪﺍً ﻣﻨﻬﻢ
      ﺃﻭ ﻃﻌﻦ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺘﻪ ﻓﻘﺪ ﺭﺩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﻭﺃﺑﻄﻞ ﺷﺮﺍﺋﻊ
      ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ
      “Sungguh sangat bagus ucapan Imam Malik itu
      dan benar penafsirannya. Siapa pun yang
      menghina seorang dari mereka (sahabat Nabi)
      atau mencela periwayatannya, maka ia telah
      menentang Allah, Tuhan alam semesta dan
      membatalkan syari’at kaum Muslimin.” (Tafsir
      al-Qurthubi: 16/297)

      Kedua: Imam Ahmad
      Banyak riwayat telah datang darinya dalam
      mengafirkan golongan Syi’ah Rafidhah. Di
      antaranya: Al-Khalal meriwayatkan dari Abu
      Bakar al Marwadzi, ia berkata: “Aku bertanya
      kepada Abu Abdillah tentang orang yang mencela
      Abu Bakar, Umar, dan ‘Aisyah?” Beliau
      menjawab,
      ﻣﺎ ﺃﺭﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ
      “Aku tidak melihatnya di atas Islam.”
      Al-Khalal berkata lagi: Abdul Malik bin Abdul
      Hamid memberitakan kepadaku, ia berkata: Aku
      mendengar Abu Abdillah berkata:
      ﻣﻦ ﺷﺘﻢ ﺃﺧﺎﻑ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﻣﺜﻞ ﺍﻟﺮﻭﺍﻓﺾ
      “Barang siapa mencela (sahabat Nabi Shallallahu
      ‘Alaihi Wasallam) maka aku khawatir ia menjadi
      kafir seperti halnya orang-orang Rafidhah.”
      Kemudian beliau berkata:
      ﻣﻦ ﺷﺘﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻻ ﻧﺄﻣﻦ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻗﺪ ﻣﺮﻕ
      ﻋﻦ ﺍﻟﺪﻳﻦ
      “Barangsiapa mencela Shahabat Nabi Shallallahu
      ‘Alaihi Wasallam maka kami khawatir ia telah
      keluar dari Islam (tanpa disadari).” (Al-Sunnah,
      Al-Khalal: 2/557-558)
      Al-Khalal berkata: Abdullah bin Ahmad bin
      Hambal menyampaikan kepadaku, katanya:
      “Saya bertanya kepada ayahku perihal seseorang
      yang mencela salah seorang dari Shahabat Nabi
      Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka beliau
      menjawab:
      ﻣﺎ ﺃﺭﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ
      “Aku tidak melihatnya di atas Islam”.” (Al-
      Sunnah, Al-Khalal: 2/558. Bacalah: Manaakib al
      Imam Ahmad, oleh Ibnu Al-Jauzi, hal. 214)
      Tersebut dalam kitab As Sunnah karya Imam
      Ahmad, mengenai pendapat beliau tentang
      golongan Rafidhah:
      ﻫﻢ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺘﺒﺮﺃﻭﻥ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻳﺴﺒﻮﻧﻬﻢ
      ﻭﻳﻨﺘﻘﺼﻮﻧﻬﻢ ﻭﻳﻜﻔﺮﻭﻥ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺇﻻ ﺃﺭﺑﻌﺔ : ﻋﻠﻲ ﻭﻋﻤﺎﺭ ﻭﺍﻟﻤﻘﺪﺍﺩ ﻭﺳﻠﻤﺎﻥ
      ﻭﻟﻴﺴﺖ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻣﻦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻓﻲ ﺷﻲﺀ
      “Mereka itu adalah golongan yang menjauhkan
      diri dari shahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
      Wasallam dan mencelanya, menghinanya serta
      mengkafirkannya kecuali hanya empat orang saja
      yang tiada mereka kafirkan, yaitu: Ali, Ammar,
      Miqdad dan Salman. Golongan Rafidhah ini
      sama sekali bukan Islam.” (Al-Sunnah, milik
      Imam Ahmad: 82)
      Ibnu Abdil Qawiy berkata: “Adalah imam Ahmad
      mengafirkan orang yang berlepas diri dari mereka
      (yakni para sahabat) dan orang yang mencela
      ‘Aisyah Ummul Mukminin serta menuduhnya
      dengan sesuatu yang Allah telah membebaskan
      darinya, seraya beliau membaca:
      ﻳَﻌِﻈُﻜُﻢَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﺗَﻌُﻮﺩُﻭﺍ ﻟِﻤِﺜْﻠِﻪِ ﺃَﺑَﺪًﺍ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻣُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ
      “Allah menasehati kamu, agar kamu jangan
      mengulang hal seperti itu untuk selama-
      lamanya, jika kamu benar-benar beriman.” (QS.
      Al-Nuur: 17. Dinukil dari Kitab Maa Dhahaba
      Ilaihi al-Imam Ahmad: 21)

      Ketiga: Imam Al Bukhari (wafat tahun 256 H)
      Beliau berkata:
      ﻣﺎ ﺃﺑﺎﻟﻲ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﺠﻬﻤﻲ ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻀﻲ ، ﺃﻡ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ
      ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻭﻻ ﻳﺴﻠﻢ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﻻ ﻳﻌﺎﺩﻭﻥ ﻭﻻ ﻳﻨﺎﻛﺤﻮﻥ ﻭﻻ ﻳﺸﻬﺪﻭﻥ ﻭﻻ
      ﺗﺆﻛﻞ ﺫﺑﺎﺋﺤﻬﻢ
      “Bagi saya sama saja, apakah aku shalat di
      belakang seorang Jahmi (beraliran Jahmiyah)
      atau seorang Rafidzi (beraliran Syi’ah Rafidhah),
      atau aku shalat dibelakang Imam Yahudi atau
      Nashrani. Dan (seorang muslim) tidak boleh
      memberi salam kepada mereka, mengunjungi
      mereka ketika sakit, kawin dengan mereka,
      menjadikan mereka sebagai saksi dan memakan
      sembelihan mereka.” (Khalqu Af’al al-Ibad: 125)

      Keempat: Abdurrahman bin Mahdi
      Imam al-Bukhari berkata: Abdurrahman bin
      Mahdi berkata: “Keduanya adalah agama
      tersendiri, yakni Jahmiyah dan Rafidhah
      (Syi’ah).” (Khalqu Af’al al-Ibad: 125)
      Kelima: Al-Faryabi
      Al-Khalal meriwayatkan, ia berkata: “Telah
      menceritakan kepadaku Harb bin Ismail al-
      Kirmani, ia berkata: “Musa bin Harun bin Zayyad
      menceritakan kepada kami, ia berkata: “Saya
      mendengar al-Faryabi dan seseorang yang
      bertanya kepadanya tentang orang yang mencela
      Abu Bakar. Jawabnya: “Dia Kafir.” Lalu ia
      berkata: “Apakah orang semacam itu boleh
      dishalatkan jenazahnya?” Jawabnya: “Tidak.”
      Dan aku bertanya pula kepadanya: “Apa yang
      dilakukan terhadapnya, padahal orang itu juga
      telah mengucapkan Laa Ilaaha Illallah?”
      Jawabnya: “Jangan kamu sentuh (Jenazahnya)
      dengan tangan kamu, tetapi kamu angkat
      dengan kayu sampai kamu menurunkan ke liang
      lahatnya.” (al-Sunnah, milik al-Khalal: 2/566)

      Keenam: Ahmad bin Yunus
      Kunyahnya adalah Ibnu Abdillah. Ia dinisbatan
      kepada datuknya, yaitu salah seorang Imam
      (tokoh) As-Sunnah. Beliau termasuk penduduk
      Kufah, tempat tumbuhnya golongan Rafidhah.
      Beliau menceritakan perihal Rafidhah dengan
      berbagai macam alirannya. Ahmad bin Hambal
      telah berkata kepada seseorang: “Pergilah anda
      kepada Ahmad bin Yunus, karena dialah seorang
      Syeikhul Islam.”
      Para ahli Kutubus Sittah telah meriwayatkan
      Hadits dari beliau. Abu Hatim berkata: “Beliau
      adalah orang kepercayaan lagi kuat hafalannya”.
      Al-Nasaai berkata: “Dia adalah orang
      kepercayaan.” Ibnu Sa’ad berkata: “Dia adalah
      seorang kepercayaan lagi jujur, seorang Ahli
      Sunnah wal Jama’ah.” Ibnu Hajar menjelaskan,
      bahwa Ibnu Yunus telah berkata: “Saya pernah
      datang kepada Hammad bin Zaid, saya minta
      kepada beliau supaya mendiktekan kepadaku
      sesuatu hal tentang kelebihan Utsman.
      Jawabnya: “Anda ini siapa?” Saya jawab:
      “Seseorang dari negeri Kufah.” Lalu ia berkata:
      “Seorang Kufah menanyakan tentang kelebihan-
      kelebihan Utsman. Demi Allah, aku tidak akan
      menyampaikannya kepada Anda, kalau Anda
      tidak mau duduk sedangkan aku tetap berdiri!”
      Beliau wafat tahun 227 H. (Tahdzibut Tahdzib,
      1:50, Taqribut Tahdzib, 1:29).
      Beliau (Ahmad bin Yunus) rahimahullah berkata,
      ﻟﻮ ﺃﻥ ﻳﻬﻮﺩﻳﺎً ﺫﺑﺢ ﺷﺎﺓ ، ﻭﺫﺑﺢ ﺭﺍﻓﻀﻲ ﻷﻛﻠﺖ ﺫﺑﻴﺤﺔ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩﻱ ، ﻭﻟﻢ ﺁﻛﻞ
      ﺫﺑﻴﺤﺔ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﻲ ﻷﻧﻪ ﻣﺮﺗﺪ ﻋﻦ ﺍﻹﺳﻼﻡ
      “Seandainya saja seorang Yahudi menyembelih
      seekor kambing dan seorang Rafidhi (Syi’i) juga
      menyembelih seekor kambing, niscaya saya
      hanya memakan sembelihan si Yahudi, dan aku
      tidak mau makan sembelihan si Rafidhi. Karena
      dia telah murtad dari Islam.” (Al-Sharim al-
      Maslul, Ibnu Taimiyah: 57)

      Ketujuh: Al-Qadhi Abu Ya’la
      Beliau berkata, “Adapun Rafidhah, maka hukum
      terhadap mereka . . . sesungguhnya mengafirkan
      para sahabat atau menganggapnya fasik, yang
      berarti mesti masuk neraka, maka orang
      semacam ini adalah kafir.” (Al Mu’tamad, hal.
      267)
      . . sesungguhnya mengafirkan para sahabat atau
      menganggapnya fasik, yang berarti mesti masuk
      neraka, maka orang semacam ini adalah kafir. . .
      Sementara Rafidhah (Syi’ah) sebagaimana
      terbukti di dalam pokok-pokok ajaran mereka
      adalah orang-orang yang mengkafirkan sebagian
      besar Shahabat Nabi. Silahkan baca kembali
      tulisan yang telah kami posthing:
      Kitab Syi’ah Melaknat dan Mengafirkan Abu
      Bakar, Umar dan ‘Aisyah

      Kedelapan: Ibnu Hazam al-Zahiri
      Beliau berkata: “Pendapat mereka (Yakni
      Nashrani) yang menuduh bahwa golongan
      Rafidhah (Syi’ah) merubah Al-Qur’an, maka
      sesungguhnya golongan Syi’ah Rafidhah bukan
      termasuk bagian kaum muslimin. Karena
      golongan ini muncul pertama kalinya setelah dua
      puluh lima tahun dari wafatnya Rasulullah
      Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Syi’ah Rafidhah
      adalah golongan yang mengikuti langkah-
      langkah Yahudi dan Nashrani dalam melakukan
      kebohongan dan kekafiran.” (Al-fashl fi al-Milal
      wa al-Nihal: 2/213)[ii]
      Beliau berkata: “Salah satu pendapat golongan
      Syi’ah Imamiyah, baik yang dahulu maupun
      sekarang ialah Al-Qur’an itu sesungguhnya telah
      diubah.”
      Kemudian beliau berkata: “Orang yang
      berpendapat, bahwa Al Qur’an ini telah diubah
      adalah benar-benar kafir dan men-dustakan
      Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.(Al
      Fashl: 5/40)
      Beliau berkata: “Tidak ada perbedaan pendapat
      di kalangan semua kelompok umat Islam Ahlus
      Sunnah, Mu’tazilah, Murji’ah, Zaidiyah, bahwa
      adalah wajib berpegang kepada Al Qur’an yang
      biasa kita baca ini ” Dan hanya golongan Syi’ah
      ekstrim sajalah yang menyalahi sikap ini. Dengan
      sikapnya itu mereka menjadi kafir lagi musyrik,
      menurut pendapat semua penganut Islam. Dan
      pendapat kita sama sekali tidak sama dengan
      mereka (Syi’ah). Pendapat kita hanyalah sejalan
      dengan sesama pemeluk agama kita.” (Al Ihkam
      Fii Ushuuli Ahkaam: 1/96)
      Beliau berkata pula: “Ketahuilah, sesungguhnya
      Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak
      pernah menyembunyikan satu kata pun atau
      satu huruf pun dari syariat Ilahi. Saya tidak
      melihat adanya keistimewaan pada manusia
      tertentu, baik anak perempuannya atau
      keponakan laki-lakinya atau istrinya atau
      shahabatnya, untuk mengetahui sesuatu syariat
      yang disembunyikan oleh Nabi terhadap bangsa
      kulit putih, atau bangsa kulit hitam atau
      penggembala kambing. Tidak ada sesuatu pun
      rahasia, perlambang ataupun kata sandi di luar
      apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah
      kepada umat manusia. Sekiranya Nabi
      menyembunyikan sesuatu yang harus
      disampaikan kepada manusia, berarti beliau
      tidak menjalankan tugasnya. Barang siapa
      beranggapan semacam ini, berarti ia kafir. (Al
      Fashl, 2:274-275)
      Orang yang berkeyakinan semacam ini dikafirkan
      oleh Ibnu Hazm. Dan keyakinan semacam ini
      dipegang oleh Syi’ah Itsna Asy’ariyah. Pendapat
      ini dikuatkan oleh guru-guru beliau pada
      masanya dan para ulama sebelumnya.

      4 IMAM MADZHAB
      sikap Abu Hanifah terhadap sekte ini:
      ﻭﺫﻛﺮ ﺍﻟﺴﺒﻜﻲ ﺃﻥ ﻣﺬﻫﺐ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭﺃﺣﺪ ﺍﻟﻮﺟﻬﻴﻦ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ
      ﻭﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻄﺤﺎﻭﻱ ﻓﻲ ﻋﻘﻴﺪﺗﻪ ﻛﻔﺮ ﺳﺎﺏ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ، ﻓﺘﺎﻭﻯ
      ﺍﻟﺴﺒﻜﻲ 2/590 ‏) . ﻭﻗﺪ ﺫﻛﺮ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻔﺘﺎﻭﻯ ﺃﻥ ﺳﺐ ﺍﻟﺸﻴﺨﻴﻦ
      ﻛﻔﺮ ﻭﻛﺬﺍ ﺇﻧﻜﺎﺭ ﺇﻣﺎﻣﺘﻬﻤﺎ .” ﻭﻛﺎﻥ ﺃﺑﻮ ﻳﻮﺳﻒ ﺻﺎﺣﺐ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻳﻘﻮﻝ :
      ” ﻻ ﺃﺻﻠﻲ ﺧﻠﻒ ﺟﻬﻨﻤﻲ ﻭﻻ ﺭﺍﻓﻀﻲ ﻭﻻ ﻗﺪﺭﻱ . ﺍﻧﻈﺮ ﺷﺮﺡ ﺃﺻﻮﻝ
      ﺍﻋﺘﻘﺎﺩ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻟﻺﻣﺎﻡ ﺍﻟﻼﻟﻜﺎﺋﻲ 4 / 733
      Imam As-Subki menyebutkan bahwa madzhab
      Abu Hanifah dan salah satu pendapat syafi’I
      dan yang lahir dari Ath-Thahawi dalam
      akidahnya adalah kekufuran orang yang
      mencela Abu Bakar. (Fatawa As-Subki 2/590)
      Dan Imam As-Subki juga menyebutkan bahwa
      mencela asy-syaikhani (Abu Bakar dan
      Umar)adalah kekufuran, demikian pula jika
      mengingkari kepemimpinan mereka berdua. “
      Dan Abu Yusuf, sahabat Abu Hanifah berkata,
      “Aku tidak shalat di belakang penganut
      jahmiyyah dan tidak pula syiah rafidhah dan
      juga qadariyyah (pengingkar takdir). “ lihat
      Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah
      karya Imam Al-Lalika’i.

      Pernyataan Imam Abu Hanifah rahimahullah

      ﺃَﺻْﻞُ ﻋَﻘِﻴﺪَﺓِ ﺍﻟﺸِّﻴﻌَﺔِ : ﺗَﻀْﻠِﻴﻞُ ﺍﻟﺼَّﺤَﺎﺑَﺔِ، ﺭِﺿْﻮَﺍﻥُ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢِ
      Landasan akidah Syi’ah adalah menyesatkan para
      sahabat ridhwanullah ‘alaihim.
      Pernyataan ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari
      Abu Hanifah rahimahullah .

      Pernyataan Imam Malik bin Anas rahimahullah

      Kemudian al-Imam Malik berkata: “Barang siapa
      yang ada pada hatinya kedengkian (benci
      ataupun marah-pen) terhadap para sahabat
      Muhammad ‘ alaihissalam maka ayat ini (surat al-
      fath ayat 29-pen) telah mengenainya.” (as-
      Sunnah karya al-Khallal no. 765 versi al-
      Maktabah asy-Syamilah)

      Pernyataan Imam asy-Syafi’i rahimahullah

      ﻟَﻢْ ﺃَﺭَ ﺃَﺣَﺪﺍً ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟْﺄَﻫْﻮَﺍﺀِ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺑِﺎﻟﺰُّﻭﺭِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﺍﻓِﻀَﺔِ
      Aku belum pernah melihat suatu kaum yang
      paling berani bersaksi dengan kedustaan melebihi
      Rafidhah.
      Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul
      Auliya’.

      Pernyataan Imam Ahmad rahimahullah

      Siapakah Rafidhah itu?
      Al-Imam Ahmad menjawab:
      ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺸْﺘُﻢُ ﻭَﻳَﺴُﺐُّ ﺃَﺑَﺎ ﺑَﻜْﺮٍ ﻭَﻋُﻤَﺮَ ﺭَﺣِﻤَﻬُﻤَﺎ ﺍﻟﻠﻪ
      Orang yang mencela Abu Bakar dan Umar
      rahimahumallah. (as-Sunnah karya al-khallal:
      787)
      ﻣَﻦْ ﺷَﺘَﻢَ ﺃَﺧَﺎﻑُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻜُﻔْﺮَ ﻣِﺜْﻞُ ﺍﻟﺮَّﻭَﺍﻓِﺾِ ، ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : ﻣَﻦْ ﺷَﺘَﻢَ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏَ
      ﺍﻟﻨَّﺒِﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟَﺎ ﻧَﺄْﻣَﻦُ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻗَﺪْ ﻣَﺮَﻕَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ
      Barang siapa yang mencela (sahabat Nabi
      shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka aku aku
      mengkhawatirkan kekafiran padanya seperti
      kalangan Rafidhah. Kemudian berkata lagi:
      Barang siapa yang mencela sahabat Nabi
      shallallahu ‘alaihi wa sallam maka kita
      khawatirkan ia telah keluar dari agama. (as-
      Sunnah karya al-Khallal: 790)
      Pernah disampaikan kepada al-Imam Ahmad
      tentang orang yang mencela Utsman bin ‘Affan
      radhiyallahu ‘anhu , maka beliau menjawab:
      ﻫﺬﻩ ﺯَﻧْﺪَﻗَﺔ
      Ini adalah zindiq. (as-Sunnah karya al-Khallal:
      791)
      Kemudian al-Khallal mendengar langsung dari
      Abdullah bin Ahmad bin Hambal:
      “Aku bertanya kepada ayahku tentang orang yang
      mencela salah seorang sahabat Nabi shallallahu
      ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau (al-Imam
      Ahmad) menjawab:
      ﻣَﺎ ﺃَﺭَﺍﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ
      Aku memandangnya tidak di atas Islam. (as-
      Sunnah karya al-Khallal: 792)
      Al-Imam Ahmad mengatakan:
      ﻣَﻦْ ﺗﻨﻘﺺ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓَﻠَﺎ ﻳَﻨْﻄَﻮِﻱ
      ﺇِﻟَّﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻠِﻴَّﺔ ، ﻭَﻟَﻪُ ﺧَﺒِﻴﺌَﺔُ ﺳُﻮﺀٍ ، ﺇِﺫَﺍ ﻗَﺼَﺪَ ﺇِﻟَﻰ ﺧَﻴْﺮِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ، ﻭَﻫُﻢْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ
      ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
      Barang siapa yang merendahkan salah seorang
      sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
      maka tidaklah ia akan terguling kecuali di atas
      musibah (kesulitan dan kesempitan). Dan ada
      padanya sesuatu keburukan yang tersembunyi,
      yaitu ketika yang ia tuju (dengan celaanya itu-
      pen) adalah orang-orang terbaik, yaitu mereka
      adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
      wa sallam. (as-Sunnah karya al-Khallal: 763)

      PARA ULAMA’ AHLUSSUNNAH
      termasuk ke 4 imam mazhab Islam yang diakui ummat Islam
      di dunia .

      INILAH Sikap Ulama Islam terhadap Agama
      Syi’ah :

      1.) Imam ‘Alqamah bin Qais An-Nakha’iy
      rahimahulllâh (W. 62 H)
      Beliau berkata,
      ﻟﻘﺪ ﻏﻠﺖ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺸﻴﻌﺔ ﻓﻲ ﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻛﻤﺎ ﻏﻠﺖ ﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻓﻲ
      ﻋﻴﺴﻰ ﺑﻦ ﻣﺮﻳﻢ
      “Sungguh kaum Syi’ah ini telah berlaku ekstrem
      terhadap ‘Ali radhiyallâhu ‘anhû sebagaimana
      kaum Nashara berlaku ekstrem terhadap Isa bin
      Maryam.”
      –. [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad
      dalam As-Sunnah 2/548]

      2.) Imam ‘Amr bin Syarâhîl Asy-Sya’by Al-Kûfy
      rahimahulllâh (W. 105 H)
      Beliau bertutur,
      ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﻗﻮﻣﺎً ﺃﺣﻤﻖ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻌﺔ
      “Saya tidak pernah melihat suatu kaum yang
      lebih dungu daripada kaum Syi’ah.”
      –. [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad
      dalam As-Sunnah 2/549, Al-Khallâl dalam As-
      Sunnah 1/497, dan Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh
      Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jam’âh
      7/1461]
      Beliau juga bertutur,
      ﻧﻈﺮﺕ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻫﻮﺍﺀ ﻭﻛﻠﻤﺖ ﺃﻫﻠﻬﺎ ﻓﻠﻢ ﺃﺭ ﻗﻮﻣﺎً ﺃﻗﻞ ﻋﻘﻮﻻً ﻣﻦ
      ﺍﻟﺨﺸﺒﻴﺔ
      “Saya melihat kepada pemikiran-pemikiran sesat
      ini, dan Saya telah berbicara dengan
      penganutnya. Saya tidak melihat bahwa ada
      suatu kaum yang akalnya lebih pendek daripada
      kaum (Syi’ah) Al-Khasyabiyah.”
      –. [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad
      dalam As-Sunnah 2/548]

      3.) Imam Thalhah bin Musharrif rahimahulllâh
      (W. 112 H)
      Beliau berkata,
      ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻻ ﺗﻨﻜﺢ ﻧﺴﺎﺅﻫﻢ، ﻭﻻ ﺗﺆﻛﻞ ﺫﺑﺎﺋﺤﻬﻢ، ﻷﻧﻬﻢ ﺃﻫﻞ ﺭﺩﺓ
      “(Kaum Syi’ah) Rafidhah tidak boleh menikahi
      kaum perempuan mereka dan tidak boleh
      memakan daging-daging sembelihannya karena
      mereka adalah kaum murtad.”
      –. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-
      Ibânah Ash-Shughrâ` hal. 161]

      4.) Imam Abu Hanîfah Muhammad bin An-
      Nu’mân rahimahulllâh (W. 150 H)
      Beliau berucap,
      ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺃﻥ ﺗﻔﻀﻞ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﻭﻋﻤﺮ ﻭﻋﻠﻴﺎً ﻭﻋﺜﻤﺎﻥ ﻭﻻ ﺗﻨﺘﻘﺺ ﺃﺣﺪﺍً ﻣﻦ
      ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
      “Al-Jamâ’ah adalah (berarti) engkau
      mengutamakan Abu Bakar, Umar, Ali, dan
      Ustman, serta janganlah engkau mencela
      seorang pun shahabat Rasulullah shallallâhu
      ‘alaihi wa sallam.
      –. [Al-Intiqâ` Fî Fadhâ`il Ats-Tsalâtsah Al-
      A`immah Al-Fuqahâ` hal. 163]

      5.) Imam Mis’ar bin Kidâm rahimahulllâh (W.
      155 H)
      Imam Al-Lâlakâ`iy meriwayatkan bahwa Mis’ar
      bin Kidâm dijumpai seorang lelaki dari kaum
      Rafidhah, kemudian orang tersebut
      membicarakan sesuatu dengannya, tetapi
      kemudian Mis’ar berkata,
      ﺗﻨﺢ ﻋﻨﻲ ﻓﺈﻧﻚ ﺷﻴﻄﺎﻥ
      “Menyingkirlah dariku. Sesungguhnya engkau
      adalah syaithan.”
      –. [Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wal
      Jamâ’ah 8/1457]

      6.) Imam Sufyân bin Abdillah Ats-Tsaury
      rahimahulllâh (W. 161 H)
      Muhammad bin Yusuf Al-Firyâby menyebut
      bahwa beliau mendengar Sufyân ditanya oleh
      seorang lelaki tentang pencela Abu Bakr dan
      Umar, Sufyân pun menjawab,
      ﻛﺎﻓﺮ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ
      “(Pencela itu) adalah kafir kepada Allah Yang
      Maha Agung.”
      Orang tersebut bertanya, “(Bolehkah) Kami
      menshalatinya?”
      (Sufyân) menjawab,
      ﻻ، ﻭﻻ ﻛﺮﺍﻣﺔ
      “Tidak. Tiada kemuliaan baginya.”
      Kemudian beliau ditanya, “Lâ Ilâha Illallâh.
      Bagaimana kami berbuat terhadap jenazahnya ?”
      Beliau menjawab,
      ﻻ ﺗﻤﺴﻮﻩ ﺑﺄﻳﺪﻳﻜﻢ، ﺍﺭﻓﻌﻮﻩ ﺑﺎﻟﺨﺸﺐ ﺣﺘﻰ ﺗﻮﺍﺭﻭﻩ ﻓﻲ ﻗﺒﺮﻩ
      “Janganlah kalian menyentuhnya dengan
      tangan-tangan kalian. Angkatlah (jenazah itu)
      dengan kayu hingga kalian menutup kuburnya.”
      –. [Disebutkan oleh Adz-Dzahaby dalam Siyar
      A’lâm An-Nubalâ` 7/253]

      7.) Imam Malik bin Anas rahimahulllâh (W. 179
      H)
      Beliau bertutur,
      ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺸﺘﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻟﻴﺲ ﻟﻬﻢ ﺳﻬﻢ،
      ﺃﻭﻗﺎﻝ ﻧﺼﻴﺐ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ
      “Orang yang mencela shahabat Nabi shallallâhu
      ‘alaihi wa sallam tidaklah memiliki saham atau
      bagian apapun dalam keislaman.”
      –. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah hal. 162
      dan Al-Khatsûl dalam As-Sunnah 1/493]
      Asyhab bin Abdul Aziz menyebutkan bahwa
      Imam Malik ditanya tentang Syi’ah Rafidhah
      maka Imam Malik menjawab,
      ﻻ ﺗﻜﻠﻤﻬﻢ ﻭﻻ ﺗﺮﻭ ﻋﻨﻬﻢ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻳﻜﺬﺑﻮﻥ
      “Janganlah kalian meriwayatkan hadits dari
      mereka. Sesungguhnya mereka itu sering
      berdusta.”
      –. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-
      Ibânah Al-Kubrâ` sebagaimana dalam Minhâj
      As-Sunnah karya Ibnu Taimiyah 1/61]

      8.) Imam Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim
      rahimahulllâh (W.182 H)
      Beliau berkata,
      ﻻ ﺃﺻﻠﻲ ﺧﻠﻒ ﺟﻬﻤﻲ، ﻭﻻ ﺭﺍﻓﻀﻲ، ﻭﻻ ﻗﺪﺭﻱ
      “Saya tidak mengerjakan shalat di belakang
      seorang Jahmy (penganut Jahmiyah), Râfidhy
      (penganut paham Syi’ah Rafidhah), dan Qadary
      (penganut paham Qadariyah).”
      –. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh
      Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah
      4/733]

      9.) Imam Abdurrahman bin Mahdi rahimahulllâh
      (W. 198 H)
      Beliau berucap,
      ﻫﻤﺎ ﻣﻠﺘﺎﻥ : ﺍﻟﺠﻬﻤﻴﺔ، ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ
      “Ada dua agama (yang bukan Islam, -pent.),
      yaitu Jahmiyah dan Rafidhah.”
      –. [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dalam Khalq
      Af’âl Al-‘Ibâd hal.125]

      10.) Imam Muhammad bin Idris Asy-Syâfi’iy
      rahimahulllâh (W. 204 H)
      Beliau berkata,
      ﻟﻢ ﺃﺭ ﺃﺣﺪﺍً ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻷﻫﻮﺍﺀ، ﺃﻛﺬﺏ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻋﻮﻯ، ﻭﻻ ﺃﺷﻬﺪ ﺑﺎﻟﺰﻭﺭ ﻣﻦ
      ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ
      “Saya tidak pernah melihat seorang pun
      penganut hawa nafsu yang lebih dusta dalam
      pengakuan dan lebih banyak bersaksi palsu
      melebihi Kaum Rafidhah.”
      –. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-
      Ibânah Al-Kubrâ` 2/545 dan Al-Lâlakâ`iy dalam
      Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah
      8/1457]

      11.) Imam Yazîd bin Harun rahimahulllâh (W.
      206 H)
      Beliau berkata,
      ﻳﻜﺘﺐ ﻋﻦ ﻛﻞ ﺻﺎﺣﺐ ﺑﺪﻋﺔ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺩﺍﻋﻴﺔ ﺇﻻ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻳﻜﺬﺑﻮﻥ
      “Boleh mencatat (hadits) dari setiap penganut
      bid’ah yang menyeru kepada bid’ahnya, kecuali
      (Syi’ah) Rafidhah karena mereka sering
      berdusta.”
      –. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-
      Ibânah Al-Kubrâ` sebagaimana dalam Minhâj
      As-Sunnah 1/60 karya Ibnu Taimiyah]

      12.) Imam Muhammad bin Yusuf Al-Firyaby
      rahimahulllâh (W. 212 H)
      Beliau berkata,
      ﻣﺎ ﺃﺭﻯ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻭﺍﻟﺠﻬﻤﻴﺔ ﺇﻻ ﺯﻧﺎﺩﻗﺔ
      “Saya tidak memandang kaum Rafidhah dan
      kaum Jahmiyah, kecuali sebagai orang-orang
      zindiq.”
      –. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh
      Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah
      8/1457]

      13.) Imam Al-Humaidy, Abdullah bin Az-Zubair
      rahimahulllâh (W. 219 H)
      Setelah menyebutkan kewajiban mendoakan
      rahmat bagi para shahabat, beliau berkata,
      ﻓﻠﻢ ﻧﺆﻣﺮ ﺇﻻ ﺑﺎﻻﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﻟﻬﻢ، ﻓﻤﻦ ﻳﺴﺒﻬﻢ، ﺃﻭ ﻳﻨﺘﻘﺼﻬﻢ ﺃﻭ ﺃﺣﺪﺍً ﻣﻨﻬﻢ،
      ﻓﻠﻴﺲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺴﻨﺔ، ﻭﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺊ ﺣﻖ
      “Kita tidaklah diperintah, kecuali memohonkan
      ampunan bagi (para shahabat). Siapa saja yang
      mencerca mereka atau merendahkan mereka
      atau salah seorang di antara mereka, dia
      tidaklah berada di atas sunnah dan tidak ada
      hak apapun baginya dalam fâ`i.”
      –. [Ushûl As-Sunnah hal.43]

      14.) Imam Al-Qâsim bin As-Sallam rahimahulllâh
      (W. 224 H)
      Beliau berkata,
      ﻋﺎﺷﺮﺕ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻭﻛﻠﻤﺖ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻜﻼﻡ، ﻭﻛﺬﺍ، ﻓﻤﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﺃﻭﺳﺦ ﻭﺳﺨﺎً، ﻭﻻ
      ﺃﻗﺬﺭ ﻗﺬﺭﺍً، ﻭﻻ ﺃﺿﻌﻒ ﺣﺠﺔ، ﻭﻻ ﺃﺣﻤﻖ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ …
      “Saya telah hidup dengan seluruh manusia. Saya
      telah berbicara dengan ahli kalam dan …
      demikian. Saya tidak melihat ada yang lebih
      kotor, lebih menjijikkan, argumennya lebih lemah,
      dan lebih dungu daripada kaum Rafidhah ….”
      –. [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-
      Sunnah 1/499]

      15.) Imam Ahmad bin Yunus rahimahulllâh (W.
      227 H)
      Beliau berkata,
      ﺇﻧﺎ ﻻ ﻧﺄﻛﻞ ﺫﺑﻴﺤﺔ ﺭﺟﻞ ﺭﺍﻓﻀﻲ، ﻓﺈﻧﻪ ﻋﻨﺪﻱ ﻣﺮﺗﺪ
      “Sesungguhnya kami tidaklah memakan
      sembelihan seorang Syi’ah Rafidhah karena dia,
      menurut Saya, adalah murtad.”
      –. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh
      Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jamâ’ah
      8/459]

      16.) Imam Ahmad bin Hanbal rahimahulllâh (W.
      241 H)
      Banyak riwayat dari beliau tentang celaan
      terhadap kaum Rafidhah. Di antaranya adalah :
      Beliau ditanya tentang seorang lelaki yang
      mencela seorang shahabat Nabi shallallâhu
      ‘alaihi wa sallam maka beliau menjawab,
      ﻣﺎ ﺃﺭﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ
      “Saya tidak memandang bahwa dia di atas
      (agama) Islam.” [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl
      dalam As-Sunnah 1/493]
      Beliau juga ditanya tentang pencela Abu Bakr,
      Umar, dan Aisyah maka beliau menjawab, “Saya
      tidak memandang bahwa dia di atas (agama)
      Islam.”
      –. [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-
      Sunnah 1/493]
      Beliau ditanya pula tentang orang yang
      bertetangga dengan (Syi’ah) Rafidhah yang
      memberi salam kepada orang itu. Beliau
      menjawab.
      ﻻ، ﻭﺇﺫﺍ ﺳﻠﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻻ ﻳﺮﺩ ﻋﻠﻴﻪ
      “Tidak (dijawab). Bila (orang Syi’ah) itu memberi
      salam kepada (orang) itu, janganlah dia
      menjawab (salam) tersebut.”
      –. [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-
      Sunnah 1/494]

      17.) Imam Al-Bukhâry, Muhammad bin Ismail
      rahimahulllâh (W. 256 H)
      Beliau berkata,
      ﻣﺎ ﺃﺑﺎﻟﻲ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﺠﻬﻤﻲ ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻀﻲ، ﺃﻡ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ
      ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ، ﻭﻻ ﻳﺴﻠﻢ ﻋﻠﻴﻬﻢ، ﻭﻻ ﻳﻌﺎﺩﻭﻥ، ﻭﻻ ﻳﻨﺎﻛﺤﻮﻥ، ﻭﻻ ﻳﺸﻬﺪﻭﻥ،
      ﻭﻻ ﺗﺆﻛﻞ ﺫﺑﺎﺋﺤﻬﻢ
      “Saya tidak peduli. Baik Saya melaksanakan
      shalat di belakang Jahmy dan Rafidhy maupun
      Saya mengerjakan shalat di belakang orang-
      orang Yahudi dan Nashara, (ketidakbolehannya
      sama saja). (Seseorang) tidak boleh menjenguk
      mereka, menikahi mereka, dan bersaksi untuk
      mereka.”
      –. [Khalq Af’âl Al-‘Ibâd hal. 125]

      18.) Imam Abu Zur’ah Ar-Râzy, Ubaidullah bin
      Abdil Karim rahimahulllâh (W. 264 H)
      Beliau berkata, “Apabila engkau melihat seorang
      lelaki yang merendahkan seorang shahabat
      Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam,
      ketahuilah bahwa dia adalah zindiq. Hal itu
      karena, di sisi Kami, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi
      wa sallam adalah benar dan Al-Qur`an adalah
      benar. Sesungguhnya, penyampai Al-Qur`an ini
      dan hadits-hadits adalah para shahabat
      Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Orang
      Syi’ah yang mencela shahabat) hanya ingin
      mempercacat saksi-saksi Kita untuk
      menghasilkan Al-Kitab dan Sunnah, Celaan
      terhadap (kaum pencela itu) adalah lebih pantas
      dan mereka adalah para zindiq.”
      –. [Diriwayatkan oleh Al-Khâtib dalam Al-
      Kifâyah hal. 49]

      19.) Imam Abu Hâtim Ar-Râzy, Muhammad bin
      Idris rahimahulllâh (W. 277 H)
      Ibnu Abi Hâtim bertanya kepada ayahnya, Abu
      Hâtim, dan kepada Abu Zur’ah tentang madzhab
      dan aqidah Ahlus Sunnah maka Abu Hâtim dan
      Abu Zur’ah menyebut pendapat yang disepakati
      oleh para ulama itu di berbagai negeri. Di antara
      perkataan mereka berdua adalah bahwa kaum
      Jahmiyah adalah kafir, sedang kaum Rafidhah
      telah menolak keislaman.
      –. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh
      Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wa Al-Jam’âh 1/178]

      20.) Imam Al-Hasan bin Ali bin Khalaf Al-
      Barbahary rahimahulllâh (W. 329 H)
      Beliau berkata,
      ﻭﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻷﻫﻮﺍﺀ ﻛﻠﻬﺎ ﺭﺩﻳﺔ، ﺗﺪﻋﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻴﻒ، ﻭﺃﺭﺩﺅﻫﺎ ﻭﺃﻛﻔﺮﻫﺎ
      ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ، ﻭﺍﻟﻤﻌﺘﺰﻟﺔ، ﻭﺍﻟﺠﻬﻤﻴﺔ، ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻳﺮﻳﺪﻭﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﻌﻄﻴﻞ
      ﻭﺍﻟﺰﻧﺪﻗﺔ
      “Ketahuilah bahwa seluruh pemikiran sesat
      adalah menghancurkan, mengajak kepada
      kudeta. Yang paling hancur dan paling kafir di
      antara mereka adalah kaum Rafidhah,
      Mu’tazilah, Jahmiyah. Sesungguhnya mereka
      menghendaki manusia untuk melakukan ta’thîl
      dan kezindiqan.”
      –. [Syarh As-Sunnah hal. 54]

      21.) Imam Umar bin Syâhin rahimahulllâh (W.
      385 H)
      Beliau berkata, “Sesungguhnya, sebaik-baik
      manusia setelah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa
      sallam adalah Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali
      ‘alaihimus salâm, serta sesungguhnya seluruh
      shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam
      adalah orang-orang pilihan lagi baik.
      Sesungguhnya Saya beragama kepada Allah
      dengan mencintai mereka semua, dan
      sesungguhnya Saya berlepas diri dari siapa saja
      yang mencela, melaknat, dan menyesatkan
      mereka, menganggap mereka berkhianat, serta
      mengafirkan mereka …, dan sesungguhnya Saya
      berlepas diri dari semua bid’ah berupa
      Qadariyah, Murji’ah, Rafidhah, Nawâshib, dan
      Mu’tazilah.”
      –. [Al-Lathîf Li Syarh Madzâhib Ahlis Sunnah
      hal. 251-252]

      22.) Imam Ibnu Baththah rahimahulllâh (W. 387
      H)
      Beliau bertutur, “Adapun (Syi’ah) Rafidhah,
      mereka adalah manusia yang paling banyak
      berselisih, berbeda, dan saling mencela. Setiap di
      antara mereka memilih madzhab tersendiri untuk
      dirinya, melaknat penyelisihnya, dan mengafirkan
      orang yang tidak mengikutinya. Seluruh dari
      mereka menyatakan bahwa tidak (sah)
      melaksanakan shalat, puasa, jihad, Jum’at, dua
      Id, nikah, talak, tidak pula jual-beli, kecuali
      dengan imam, sedang barangsiapa yang tidak
      memiliki imam, tiada agamanya baginya, dan
      barangsiapa yang tidak mengetahui imamnya,
      tiada agama baginya …. Andaikata bukan karena
      pengutamaan penjagaan ilmu, yang perkaranya
      telah Allah tinggikan dan kedudukannya telah
      Allah muliakan, dan penyucian ilmu terhadap
      percampuran najis-najis penganut kesesatan
      serta keburukan pendapat-pendapat dan
      madzhab mereka, yang kulit-kulit merinding
      menyebutkannya, jiwa merintih
      mendengarkannya, dan orang-orang yang berakal
      membersihkan ucapan dan pendengaran mereka
      dari ucapan-ucapan bid’ah tersebut, tentulah
      Saya akan menyebutkan (kesesatan Rafidhah)
      yang akan menjadi pelajaran bagi orang-orang
      yang ingin mengambil pelajaran.”
      –. [Al-Ibânah Al-Kubrâ` hal. 556]

      23.) Imam Al-Qahthâny rahimahulllâh (W. 387
      H)
      Beliau menuturkan kesesatan Rafidhah dalam
      Nûniyah-nya,
      ﺇﻥ ﺍﻟﺮﻭﺍﻓﺾَ ﺷﺮُّﻣﻦ ﻭﻃﻲﺀَ ﺍﻟﺤَﺼَﻰ … ﻣﻦ ﻛﻞِّ ﺇﻧﺲٍ ﻧﺎﻃﻖٍ ﺃﻭ ﺟﺎﻥِ
      ﻣﺪﺣﻮﺍ ﺍﻟﻨّﺒﻲَ ﻭﺧﻮﻧﻮﺍ ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ … ﻭﺭﻣﻮُﻫﻢُ ﺑﺎﻟﻈﻠﻢِ ﻭﺍﻟﻌﺪﻭﺍﻥِ
      ﺣﺒّﻮﺍ ﻗﺮﺍﺑﺘﻪَ ﻭﺳﺒَّﻮﺍ ﺻﺤﺒﻪ … ﺟﺪﻻﻥ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻨﺘﻘﻀﺎﻥِ
      Sesungguhnya orang-orang Rafidhah adalah
      sejelek-jelek makhluk yang pernah menapak
      bebatuan Dari seluruh manusia yang berbicara
      dan seluruh jin Mereka memuji Nabi, tetapi
      menganggap para shahabatnya berkhianat Dan
      mereka menuduh para shahabat dengan
      kezhaliman dan permusuhan Mereka (mengaku)
      mencintai kerabat Nabi, tetapi mencela para
      shahabat beliau Dua perdebatan yang
      bertentangan di sisi Allah
      –. [Nûniyah Al-Qahthâny hal. 21]

      24.) Imam Abul Qâsim Ismail bin Muhammad Al-
      Ashbahâny rahimahulllâh (W. 535 H)
      Beliau berucap, “Orang-orang Khawarij dan
      Rafidhah, madzhabnya telah mencapai
      pengafiran shahabat dan orang-orang Qadariyah
      yang mengafirkan kaum muslimin yang
      menyelisihi mereka. Kami tidak berpendapat
      bahwa boleh melaksanakan shalat di belakang
      mereka, dan kami tidak berpendapat akan
      kebolehan hukum para qadhi dan pengadilan
      mereka. Juga bahwa, siapa saja di antara
      mereka yang membolehkan kudeta dan
      menghalalkan darah, tidak diterima persaksian
      dari mereka.”
      –. [Al-Hujjah Fî Bayân Al-Mahajjah 2/551]

      25.) Imam Abu Bakr bin Al-‘Araby rahimahulllâh
      (W. 543 H)
      Beliau bertutur, “Tidaklah keridhaan orang-orang
      Yahudi dan Nashara kepada pengikut Musa dan
      Isa sama seperti keridhaan orang-orang
      Rafidhah kepada para shahabat Muhammad
      shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Yakni, (kaum
      Rafidhah) menghukumi (para shahahabat
      Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam) bahwa
      para (shahabat) bersepakat di atas kekafiran dan
      kebatilan.”
      –. [Al-‘Awâshim Min Al-Qawâshim hal. 192]

      26.) Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
      rahimahulllâh (W. 728 H)
      Beliau menyatakan, “… dan cukuplah Allah
      sebagai Yang Maha Mengetahui bahwa, dalam
      seluruh kelompok yang bernisbah kepada Islam,
      tiada yang (membawa) bid’ah dan kesesatan
      yang lebih jelek daripada (kaum Rafidhah)
      tersebut, serta tiada yang lebih jahil, lebih
      pendusta, lebih zhalim, dan lebih dekat kepada
      kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan, juga tiada
      yang lebih jauh dari hakikat keimanan daripada
      (kaum Rafidhah) itu.”
      –. [Minhâj As-Sunnah 1/160]
      Beliau berkata pula, “(Kaum Rafidhah) membantu
      orang-orang Yahudi, orang-orang Nashara, dan
      kaum musyrikin terhadap ahlul bait Nabi
      shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan umat beliau
      yang beriman sebagaimana mereka telah
      membantu kaum musyrikin dari kalangan At-
      Turk dan Tartar akan perbuatan mereka di
      Baghdad dan selainnya terhadap ahlul bait Nabi
      shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan Ma’din Ar-
      Risâlah, keturunan Al-‘Abbâs dan ahlul bait yang
      lain, berupa pembunuhan, penawanan, dan
      perusakan negeri-negeri. Kejelekan dan bahaya
      (orang-orang Rafidhah) terhadap umat Islam
      takkan mampu dihitung oleh orang yang fasih
      berbicara.”
      –. [Majmu’ Al-Fatâwâ 25/309]
      Sumber :
      Disadur dan diringkas dari Al-Intishâr Li Ash-
      Shahbi Wa Al-Âl Min Iftirâ`ât As-Samâwy Adh-
      Dhâl hal. 90-110

      Penyataan Ulama Kredibelitas Tentang
      Kesesatan Syiah :

      Sebagai bahan bandingan, apakah
      memang benar Syiah itu Islam ?. ada
      banyak pernyataan Imam imam besar
      Islam yang menyatakan Syiah itu sesat,
      bahkan kafir, dan juga pernyataan mereka
      menolak ucapan ulama ulama [kaliber
      Indonesia] yang disebutkan diatas :

      1. AL-IMAM ‘AMIR ASY-SYA’BI
      berkata, “Aku tidak pernah
      melihat kaum yang lebih dungu
      dari Syi’ah.” (as-Sunnah,
      2/549, karya Abdullah bin al-
      Imam Ahmad)

      2. AL-IMAM SUFYAN ATS-TSAURI
      ketika ditanya tentang
      seseorang yang mencela Abu
      Bakr dan ‘Umar c, beliau
      berkata, “Ia telah kafir kepada
      Allah l.” Kemudian ditanya,
      “Apakah kita menshalatinya
      (bila meninggal dunia)?” Beliau
      berkata, “Tidak, tiada
      kehormatan (baginya)….” (Siyar
      A’lamin Nubala, 7/253)

      3. AL-IMAM MALIK dan AL-IMAM
      ASY-SYAFI`I rahimahumallah,
      telah disebut di atas.

      4. AL-IMAM AHMAD BIN HANBAL
      berkata, “Aku tidak melihat dia
      (orang yang mencela Abu Bakr,
      ‘Umar, dan ‘Aisyah g) itu
      sebagai orang Islam.” (as-
      Sunnah, 1/493, karya al-Khallal)

      5. AL-IMAM AL-BUKHARI berkata,
      “Bagiku sama saja apakah aku
      shalat di belakang Jahmi
      (penganut Jahmiyah, red.) dan
      Rafidhi (penganut Syiah
      Rafidhah, red.), atau di
      belakang Yahudi dan Nashara
      (yakni sama-sama tidak boleh,
      red.). Mereka tidak boleh diberi
      salam, tidak dikunjungi ketika
      sakit, tidak dinikahkan, tidak
      dijadikan saksi, dan tidak
      dimakan sembelihan
      mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad,
      hlm. 125)

      6. AL-IMAM ABU ZUR’AH AR-RAZI
      berkata, “Jika engkau melihat
      orang yang mencela salah satu
      dari sahabat Rasulullah n,
      maka ketahuilah bahwa ia
      seorang zindiq. Yang demikian
      itu karena Rasul bagi kita
      adalah haq dan Al-Qur’an haq,
      dan sesungguhnya yang
      menyampaikan Al-Qur’an dan
      As-Sunnah adalah para sahabat
      Rasulullah n. Sungguh mereka
      mencela para saksi kita (para
      sahabat) dengan tujuan untuk
      meniadakan Al-Qur’an dan As-
      Sunnah. Mereka (Rafidhah)
      lebih pantas untuk dicela dan
      mereka adalah zanadiqah
      (orang-orang zindiq).” (al-
      Kifayah, hlm. 49, karya al-
      Khathib al-Baghdadi t)

      7. IMAM MALIK AL KHALAL
      meriwayatkan dari Abu Bakar Al
      Marwazi, katanya : Saya
      mendengar Abu Abdulloh
      berkata, bahwa Imam Malik
      berkata : “Orang yang mencela
      sahabat-sahabat Nabi, maka ia
      tidak termasuk dalam golongan
      Islam” ( Al Khalal / As Sunnah,
      2-557 )

      8. IBNU KATSIR
      berkata, dalam
      kaitannya dengan firman Allah
      surat Al Fath ayat 29, yang
      artinya :
      “ Muhammad itu adalah Rasul
      (utusan Allah). Orang-orang
      yang bersama dengan dia
      (Mukminin) sangat keras
      terhadap orang-orang kafir,
      berkasih sayang sesama
      mereka, engkau lihat mereka itu
      rukuk, sujud serta
      mengharapkan kurnia daripada
      Allah dan keridhaanNya. Tanda
      mereka itu adalah di muka
      mereka, karena bekas sujud.
      Itulah contoh (sifat) mereka
      dalam Taurat. Dan contoh
      mereka dalam Injil, ialah seperti
      tanaman yang mengeluarkan
      anaknya (yang kecil lemah), lalu
      bertambah kuat dan bertambah
      besar, lalu tegak lurus dengan
      batangnya, sehingga ia
      menakjubkan orang-orang yang
      menanamnya. (Begitu pula
      orang-orang Islam, pada mula-
      mulanya sedikit serta lemah,
      kemudian bertambah banyak
      dan kuat), supaya Allah
      memarahkan orang-orang kafir
      sebab mereka. Allah telah
      menjanjikan ampunan dan
      pahala yang besar untuk orang-
      orang yang beriman dan
      beramal salih diantara
      mereka”.Beliau berkata : Dari
      ayat ini, dalam satu riwayat
      dari Imam Malik, beliau
      mengambil kesimpulan bahwa
      golongan Rofidhoh (Syiah),
      yaitu orang-orang yang
      membenci para sahabat Nabi
      SAW, adalah Kafir.
      Beliau berkata : “Karena mereka
      ini membenci para sahabat,
      maka dia adalah Kafir
      berdasarkan ayat ini”. Pendapat
      tersebut disepakati oleh
      sejumlah Ulama. (Tafsir Ibin
      Katsir, 4-219 )

      9. IMAM AL QURTHUBI berkata :
      “Sesungguhnya ucapan Imam
      Malik itu benar dan
      penafsirannya juga benar,
      siapapun yang menghina
      seorang sahabat atau mencela
      periwayatannya, maka ia telah
      menentang Allah, Tuhan seru
      sekalian alam dan
      membatalkan syariat kaum
      Muslimin”. (Tafsir Al
      Qurthubi, 16-297)

      10. IMAM AHMAD AL KHALAL
      meriwayatkan dari Abu Bakar Al
      Marwazi, ia berkata : “Saya
      bertanya kepada Abu Abdullah
      tentang orang yang mencela
      Abu Bakar, Umar dan Aisyah?
      Jawabnya, saya berpendapat
      bahwa dia bukan orang Islam”.
      ( Al Khalal / As Sunnah, 2-557).

      11. Beliau Al Khalal juga berkata :
      Abdul Malik bin Abdul Hamid
      menceritakan kepadaku,
      katanya: “Saya mendengar Abu
      Abdullah berkata : “Barangsiapa
      mencela sahabat Nabi, maka
      kami khawatir dia keluar dari
      Islam, tanpa disadari”.

      12. (Al Khalal / As Sunnah, 2-558).
      Beliau Al Khalal juga berkata : “
      Abdullah bin Ahmad bin Hambal
      bercerita pada kami, katanya :
      “Saya bertanya kepada ayahku
      perihal seorang yang mencela
      salah seorang dari sahabat Nabi
      SAW. Maka beliau menjawab :
      “Saya berpendapat ia bukan
      orang Islam”. (Al Khalal / As
      Sunnah, 2-558)

      13. Dalam kitab AS SUNNAH karya
      IMAM AHMAD halaman 82,
      disebutkan mengenai pendapat
      beliau tentang golongan
      Rofidhoh (Syiah) :“Mereka itu
      adalah golongan yang
      menjauhkan diri dari sahabat
      Muhammad SAW dan
      mencelanya, menghinanya serta
      mengkafirkannya, kecuali hanya
      empat orang saja yang tidak
      mereka kafirkan, yaitu Ali,
      Ammar, Migdad dan Salman.
      Golongan Rofidhoh (Syiah) ini
      sama sekali bukan Islam.”

      14. AL-FARIYABI AL KHALAL
      meriwayatkan, katanya : “Telah
      menceritakan kepadaku Harb bin
      Ismail Al Karmani, katanya :
      “Musa bin Harun bin Zayyad
      menceritakan kepada kami :
      “Saya mendengar Al Faryaabi
      dan seseorang bertanya
      kepadanya tentang orang yang
      mencela Abu Bakar. Jawabnya :
      “Dia kafir”. Lalu ia berkata :
      “Apakah orang semacam itu
      boleh disholatkan
      jenazahnya ?”. Jawabnya :
      “Tidak”. Dan aku bertanya pula
      kepadanya : “Mengenai apa
      yang dilakukan terhadapnya,
      padahal orang itu juga telah
      mengucapkan Laa Ilaaha
      Illalloh?”. Jawabnya :
      “Janganlah kamu sentuh
      jenazahnya dengan tangan
      kamu, tetapi kamu angkat
      dengan kayu sampai kamu
      turunkan ke liang lahatnya”. (Al
      Khalal / As Sunnah, 6-566)

      Diantara para Imam dan para Ulama yang telah
      mengeluarkan fatwa-fatwa tersebut adalah :

      IMAM MALIK
      ﺍﺍﻻﻣﺎﻡ ﻣﺎﻟﻚ
      ﺭﻭﻯ ﺍﻟﺨﻼﻝ ﻋﻦ ﺍﺑﻰ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﻤﺮﻭﺯﻯ ﻗﺎﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺑﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻘﻮﻝ :
      ﻗﺎﻝ ﻣﺎﻟﻚ : ﺍﻟﺬﻯ ﻳﺸﺘﻢ ﺍﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
      ﻟﻴﺲ ﻟﻬﻢ ﺍﺳﻢ ﺍﻭ ﻗﺎﻝ ﻧﺼﻴﺐ ﻓﻰ ﺍﻻﺳﻼﻡ .
      ( ﺍﻟﺨﻼﻝ / ﺍﻟﺴﻦ : ۲،٥٥٧ )
      Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al
      Marwazi, katanya : Saya mendengar Abu Abdulloh
      berkata, bahwa Imam Malik berkata : “Orang yang
      mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak
      termasuk dalam golongan Islam” ( Al Khalal / As
      Sunnah, 2-557 )

      IMAM AHMAD
      ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﺣﻤﺪ ﺍﺑﻦ ﺣﻤﺒﻞ
      ﺭﻭﻯ ﺍﻟﺨﻼﻝ ﻋﻦ ﺍﺑﻰ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﻤﺮﻭﺯﻯ ﻗﺎﻝ : ﺳﺄﻟﺖ ﺍﺑﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻤﻦ ﻳﺸﺘﻢ
      ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﻭﻋﻤﺮ ﻭﻋﺎﺋﺸﺔ ؟ ﻗﺎﻝ : ﻣﺎﺃﺭﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺳﻼﻡ
      ( ﺍﻟﺨﻼﻝ / ﺍﻟﺴﻨﺔ : ۲، ٥٥٧ )
      Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al
      Marwazi, ia berkata : “Saya bertanya kepada Abu
      Abdullah tentang orang yang mencela Abu Bakar,
      Umar dan Aisyah? Jawabnya, saya berpendapat
      bahwa dia bukan orang Islam”. ( Al Khalal / As
      Sunnah, 2-557).

      AL BUKHORI
      ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻯ
      ﻗﺎﻝ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : ﻣﺎﺃﺑﺎﻟﻰ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﺠﻬﻤﻰ ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻀﻰ
      ﺃﻡ ﺻﻠﻴﺖ ﺧﻠﻒ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ
      ﻭﻻ ﻳﺴﻠﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻻ ﻳﻌﺎﺩﻭﻥ ﻭﻻ ﻳﻨﺎﻛﺤﻮﻥ ﻭﻻ ﻳﺸﻬﺪﻭﻥ ﻭﻻ ﺗﺆﻛﻞ ﺫﺑﺎﺋﺤﻬﻢ
      ( ﺧﻠﻖ ﺃﻓﻌﺎﻝ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ :١٢٥ )
      Iman Bukhori berkata : “Bagi saya sama saja,
      apakah aku sholat dibelakang Imam yang
      beraliran JAHM atau Rofidhoh (Syiah) atau aku
      sholat di belakang Imam Yahudi atau Nasrani.
      Dan seorang Muslim tidak boleh memberi salam
      pada mereka, dan tidak boleh mengunjungi
      mereka ketika sakit juga tidak boleh kawin
      dengan mereka dan tidak menjadikan mereka
      sebagai saksi, begitu pula tidak makan hewan
      yang disembelih oleh mereka. (Imam Bukhori /
      Kholgul Afail, halaman 125).

      AL FARYABI
      ﺍﻟﻔﺮﻳﺎﺑﻰ
      ﺭﻭﻯ ﺍﻟﺨﻼﻝ ﻗﺎﻝ : ﺃﺧﺒﺮﻧﻰ ﺣﺮﺏ ﺑﻦ ﺍﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺍﻟﻜﺮﻣﺎﻧﻰ
      ﻗﺎﻝ : ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﻮﺳﻰ ﺑﻦ ﻫﺎﺭﻭﻥ ﺑﻦ ﺯﻳﺎﺩ ﻗﺎﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﺍﻟﻔﺮﻳﺎﺑﻰ ﻭﺭﺟﻞ
      ﻳﺴﺄﻟﻪ ﻋﻤﻦ ﺷﺘﻢ ﺃﺑﺎﺑﻜﺮ
      ﻗﺎﻝ : ﻛﺎﻓﺮ، ﻗﺎﻝ : ﻓﻴﺼﻠﻰ ﻋﻠﻴﻪ، ﻗﺎﻝ : ﻻ . ﻭﺳﺄﻟﺘﻪ ﻛﻴﻒ ﻳﺼﻨﻊ ﺑﻪ ﻭﻫﻮ
      ﻳﻘﻮﻝ ﻻ ﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ ،
      ﻗﺎﻝ : ﻻ ﺗﻤﺴﻮﻩ ﺑﺄﻳﺪﻳﻜﻢ، ﺍﺭﻓﻌﻮﻩ ﺑﺎﻟﺨﺸﺐ ﺣﺘﻰ ﺗﻮﺍﺭﻭﻩ ﻓﻰ ﺣﻔﺮﺗﻪ .
      ( ﺍﻟﺨﻼﻝ/ ﺍﻟﺴﻨﺔ : ۲،٥٦٦ )
      Al Khalal meriwayatkan, katanya : “Telah
      menceritakan kepadaku Harb bin Ismail Al
      Karmani, katanya : “Musa bin Harun bin Zayyad
      menceritakan kepada kami : “Saya mendengar Al
      Faryaabi dan seseorang bertanya kepadanya
      tentang orang yang mencela Abu Bakar.
      Jawabnya : “Dia kafir”. Lalu ia berkata : “Apakah
      orang semacam itu boleh disholatkan
      jenazahnya ?”. Jawabnya : “Tidak”. Dan aku
      bertanya pula kepadanya : “Mengenai apa yang
      dilakukan terhadapnya, padahal orang itu juga
      telah mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh?”.
      Jawabnya : “Janganlah kamu sentuh jenazahnya
      dengan tangan kamu, tetapi kamu angkat dengan
      kayu sampai kamu turunkan ke liang lahatnya”.
      (Al Khalal / As Sunnah, 6-566).

      AHMAD BIN YUNUS
      Beliau berkata : “Sekiranya seorang Yahudi
      menyembelih seekor binatang dan seorang Rofidhi
      (Syiah) juga menyembelih seekor binatang,
      niscaya saya hanya memakan sembelihan si
      Yahudi dan aku tidak mau makan sembelihan si
      Rofidhi (Syiah), sebab dia telah murtad dari
      Islam”. (Ash Shariim Al Maslul, halaman 570).

      ABU ZUR’AH AR ROZI
      ﺃﺑﻮ ﺯﺭﻋﺔ ﺍﻟﺮﺍﺯﻯ
      ﺍﺫﺍ ﺭﺃﻳﺖ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻳﻨﺘﻘﺺ ﺃﺣﺪﺍ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
      ﻭﺳﻠﻢ
      ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺯﻧﺪﻳﻖ، ﻷﻥ ﻣﺆﺩﻯ ﻗﻮﻟﻪ ﺍﻟﻰ ﺍﺑﻄﺎﻝ ﺍﻟﻘﺮﺍﻥ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ .
      ( ﺍﻟﻜﻔﺎﻳﺔ : ٤٩ )
      Beliau berkata : “Bila anda melihat seorang
      merendahkan (mencela) salah seorang sahabat
      Rasulullah SAW, maka ketahuilah bahwa dia
      adalah ZINDIIG. Karena ucapannya itu berakibat
      membatalkan Al-Qur’an dan As Sunnah”. (Al
      Kifayah, halaman 49).

      ABDUL QODIR AL BAGHDADI
      Beliau berkata : “Golongan Jarudiyah, Hisyamiyah,
      Jahmiyah dan Imamiyah adalah golongan yang
      mengikuti hawa nafsu yang telah mengkafirkan
      sahabat-sahabat terbaik Nabi, maka menurut
      kami mereka adalah kafir. Menurut kami mereka
      tidak boleh di sholatkan dan tidak sah
      berma’mum sholat di belakang mereka”. (Al Fargu
      Bainal Firaq, halaman 357).
      Beliau selanjutnya berkata : “Mengkafirkan mereka
      adalah suatu hal yang wajib, sebab mereka
      menyatakan Allah bersifat Al Bada’

      IBNU HAZM
      Beliau berkata : “Salah satu pendapat golongan
      Syiah Imamiyah, baik yang dahulu maupun
      sekarang ialah, bahwa Al-Qur’an sesungguhnya
      sudah diubah”.
      Kemudian beliau berkata : ”Orang yang
      berpendapat bahwa Al-Qur’an yang ada ini telah
      diubah adalah benar-benar kafir dan
      mendustakan Rasulullah SAW”. (Al Fashl, 5-40).

      ABU HAMID AL GHOZALI
      Imam Ghozali berkata : “Seseorang yang dengan
      terus terang mengkafirkan Abu Bakar dan Umar
      Rodhialloh Anhuma, maka berarti ia telah
      menentang dan membinasakan Ijma kaum
      Muslimin. Padahal tentang diri mereka (para
      sahabat) ini terdapat ayat-ayat yang menjanjikan
      surga kepada mereka dan pujian bagi mereka
      serta pengukuhan atas kebenaran kehidupan
      agama mereka, dan keteguhan aqidah mereka
      serta kelebihan mereka dari manusia-manusia
      lain”.
      Kemudian kata beliau : “Bilamana riwayat yang
      begini banyak telah sampai kepadanya, namun ia
      tetap berkeyakinan bahwa para sahabat itu kafir,
      maka orang semacam ini adalah kafir. Karena dia
      telah mendustakan Rasulullah. Sedangkan orang
      yang mendustakan satu kata saja dari ucapan
      beliau, maka menurut Ijma’ kaum Muslimin, orang
      tersebut adalah kafir”. (Fadhoihul Batiniyyah,
      halaman 149).

      AL QODHI IYADH
      Beliau berkata : “Kita telah menetapkan kekafiran
      orang-orang Syiah yang telah berlebihan dalam
      keyakinan mereka, bahwa para Imam mereka
      lebih mulia dari pada para Nabi”.
      Beliau juga berkata : “Kami juga mengkafirkan
      siapa saja yang mengingkari Al-Qur’an, walaupun
      hanya satu huruf atau menyatakan ada ayat-ayat
      yang diubah atau ditambah di dalamnya,
      sebagaimana golongan Batiniyah (Syiah) dan
      Syiah Ismailiyah”. (Ar Risalah, halaman 325).

      AL FAKHRUR ROZI
      Ar Rozi menyebutkan, bahwa sahabat-sahabatnya
      dari golongan Asyairoh mengkafirkan golongan
      Rofidhoh (Syiah) karena tiga alasan :
      Pertama: Karena mengkafirkan para pemuka kaum
      Muslimin (para sahabat Nabi). Setiap orang yang
      mengkafirkan seorang Muslimin, maka dia yang
      kafir. Dasarnya adalah sabda Nabi SAW, yang
      artinya : “Barangsiapa berkata kepada
      saudaranya, hai kafir, maka sesungguhnya salah
      seorang dari keduanya lebih patut sebagai orang
      kafir”.
      Dengan demikian mereka (golongan Syiah)
      otomatis menjadi kafir.
      Kedua: “Mereka telah mengkafirkan satu umat
      (kaum) yang telah ditegaskan oleh Rasulullah
      sebagai orang-orang terpuji dan memperoleh
      kehormatan (para sahabat Nabi)”.
      Ketiga: Umat Islam telah Ijma’ menghukum kafir
      siapa saja yang mengkafirkan para tokoh dari
      kalangan sahabat.
      (Nihaayatul Uguul, Al Warogoh, halaman 212).

      IBNU TAIMIYAH
      Beliau berkata : “Barangsiapa beranggapan bahwa
      Al-Qur’an telah dikurangi ayat-ayatnya atau ada
      yang disembunyikan, atau beranggapan bahwa
      Al-Qur’an mempunyai penafsiran-penafsiran
      batin, maka gugurlah amal-amal kebaikannya.
      Dan tidak ada perselisihan pendapat tentang
      kekafiran orang semacam ini”
      Barangsiapa beranggapan para sahabat Nabi itu
      murtad setelah wafatnya Rasulullah, kecuali tidak
      lebih dari sepuluh orang, atau mayoritas dari
      mereka sebagai orang fasik, maka tidak diragukan
      lagi, bahwa orang semacam ini adalah kafir.
      Karena dia telah mendustakan penegasan Al-
      Qur’an yang terdapat di dalam berbagai ayat
      mengenai keridhoan dan pujian Allah kepada
      mereka. Bahkan kekafiran orang semacam ini,
      adakah orang yang meragukannya? Sebab
      kekafiran orang semacam ini sudah jelas….
      (Ash Sharim AL Maslul, halaman 586-587).

      SYAH ABDUL AZIZ DAHLAWI
      Sesudah mempelajari sampai tuntas mazhab
      Itsna Asyariyah dari sumber-sumber mereka yang
      terpercaya, beliau berkata : “Seseorang yang
      menyimak aqidah mereka yang busuk dan apa
      yang terkandung didalamnya, niscaya ia tahu
      bahwa mereka ini sama sekali tidak berhak
      sebagai orang Islam dan tampak jelaslah baginya
      kekafiran mereka”. (Mukhtashor At Tuhfah Al
      Itsna Asyariyah, halaman 300).

      MUHAMMAD BIN ALI ASY SYAUKANI
      Perbuatan yang mereka (Syiah) lakukan
      mencakup empat dosa besar, masing-masing dari
      dosa besar ini merupakan kekafiran yang terang-
      terangan.
      Pertama : Menentang Allah.
      Kedua : Menentang Rasulullah.
      Ketiga : Menentang Syariat Islam yang suci dan
      upaya mereka untuk melenyapkannya.
      Keempat : Mengkafirkan para sahabat yang
      diridhoi oleh Allah, yang didalam Al-Qur’an telah
      dijelaskan sifat-sifatnya, bahwa mereka orang
      yang paling keras kepada golongan Kuffar, Allah
      SWT menjadikan golongan Kuffar sangat benci
      kepada mereka. Allah meridhoi mereka dan
      disamping telah menjadi ketetapan hukum
      didalam syariat Islam yang suci, bahwa
      barangsiapa mengkafirkan seorang muslim, maka
      dia telah kafir, sebagaimana tersebut di dalam
      Bukhori, Muslim dan lain-lainnya.
      (Asy Syaukani, Natsrul Jauhar Ala Hadiitsi Abi
      Dzar, Al Warogoh, hal 15-16)

      PARA ULAMA SEBELAH TIMUR SUNGAI JAIHUN
      Al Alusi (seorang penulis tafsir) berkata :
      “Sebagian besar ulama disebelah timur sungai ini
      menyatakan kekafiran golongan Itsna Asyariyah
      dan menetapkan halalnya darah mereka, harta
      mereka dan menjadikan wanita mereka menjadi
      budak, sebab mereka ini mencela sahabat Nabi
      SAW, terutama Abu Bakar dan Umar, yang
      menjadi telinga dan mata Rasulullah SAW,
      mengingkari kekhilafahan Abu Bakar, menuduh
      Aisyah Ummul Mukminin berbuat zina, padahal
      Allah sendiri menyatakan kesuciannya,
      melebihkan Ali r.a. dari rasul-rasul Ulul Azmi.
      Sebagian mereka melebihkannya dari Rasulullah
      SAW dan mengingkari terpeliharanya Al-Qur’an
      dari kekurangan dan tambahan”. (Nahjus
      Salaamah, halaman 29-30).
      Demikian telah kami sampaikan fatwa-fatwa dari
      para Imam dan para Ulama yang dengan tegas
      mengkafirkan golongan Syiah yang telah mencaci
      maki dan mengkafirkan para sahabat serta
      menuduh Ummul mukminin Aisyah berbuat
      serong, dan berkeyakinan bahwa Al-Qur’an yang
      ada sekarang ini tidak orisinil lagi (Mukharrof).
      Serta mendudukkan imam-imam mereka lebih
      tinggi (Afdhol) dari para Rasul.
      Semoga fatwa-fatwa tersebut dapat membantu
      pembaca dalam mengambil sikap tegas terhadap
      golongan Syiah.
      “Yaa Allah tunjukkanlah pada kami bahwa yang
      benar itu benar dan jadikanlah kami sebagai
      pengikutnya, dan tunjukkanlah pada kami bahwa
      yang batil itu batil dan jadikanlah kami sebagai
      orang yang menjauhinya.”

      Sumber : albayyinat.net

      KH. HASYIM ASY`ARI
      dalam kitabnya
      “Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah
      Nahdlatul Ulama’” memberi peringatan kepada
      warga nahdliyyin agar tidak mengikuti paham
      Syi’ah. Menurutnya, madzhab Syi’ah
      Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah bukan
      madzhab sah. Madzhab yang sah untuk diikuti
      adalah Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.
      Beliau mengatakan: “Di zaman akhir ini tidak
      ada madzhab yang memenuhi persyaratan
      kecuali empat madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i
      dan Hambali. Adapun madzhab yang lain
      seperti madzhab Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah
      Zaidiyyah adalah ahli bid’ah. Sehingga
      pendapat-pendapatnya tidak boleh
      diikuti” (Muqaddimah Qanun Asasi li
      Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, hlm: 9).

  2. Frans Mambo says:

    Mungkin pak menteri melekat kebiasaan sebagai ketua partai atau masih kago jadi menteri atau menjadi menteri untuk kepentingan golongan. Bingung juga punya menteri seperti ini

  3. Ags says:

    Yg penting kita damai,jngn maen kasr,klu ada maslah kita musawarah,undang2 to buatan manusia,ga perlu undang2,yg penting to musawarah,buka titik kesalahanya,diamana,sesatnya,kebenaran to cuma satu,pasti ketauan salahnya sesatnya

  4. Cecep says:

    Betul Pak Ags. Kita tidak perlu agama. Agama kalau ajarannya salah–untuk apa?.

    yang penting mah–hati kita mesti bener. Sama2 musawarah

  5. Ali Al Mujtaba says:

    Ane bermubahalah pada siapa saja yang menganggap syi'ah itu sesat atau kafir "Ane Ali Al Mujtaba bermubahalah, bahwa syi'ah itu adalahajaran Rosul melalui ahlul baytnya yang suci dan merupakan ajaran Islam yang paling murni! Yang mengatakan syi'ah itu sesat maka dialah yang sesat dan yang mengatakan syi'ah itu kafir maka dialah yang kafir! Jika pernyataan ane itu salah maka ane akan dihukum Alloh dengan hukuman yang sepedih-pedihnya mulai detik ini juga sampai akhir hayat ane!" Jika ente percaya Alloh maka ente harus percaya mubahalah ane ini!

  6. Ali Al Mujtaba says:

    Wahai yang anti syi'ah lihatlah mubahalah ane di atas! Ane telah melakukan mubahalah tersebut berkali kali dan semakin sehat! Berarti ane berada dalam kebenaran!

  7. MANEMBAH says:

    Sebaiknya dan seyogyanya Syiah tidak memakai Islam
    Daftar saja “Agama Syiah” jadi jelas ada agama Islam,Katolik,Hindu,Budha dan ada “Agama Syiah”
    Supaya jelas bedanya ..lha kalo nebeng Islam sementara nyimpang – nyimpang ada ritual – ritual Rebutan hebatnya dan haknya Ali dan ngorbankan sahabat Nabi yang lain kan namanya berlawanan.
    Maka buat saja “Agama Syiah” supaya nggak repot
    Kalo SKB 2 Mentri / Mendirikan Rumah Ibadah kan udah jelas syarat2nya dan ketentuannya kalo syarat 90 ktp jemaat ada di satu RT bangun di wilayah RT nggak ada ya wil.Rw, nggak ada ya wil.Kecamatan,nggak ada lagi Wil Kelurahan nggak ada lagi ya wil.Kabupaten, nggak ada lagi ya seterusnya.
    Syarat didukung 60 warga yabg lain di sekitar kalo setuju ya kena apa, tapi kalo dipalsukan itu jadi Masalah,

    Kebebasan BerAgama memang kita tau di jamin oleh undang2 , “kebebasan” artinya bukan sesuka maunya, kan ada aturan dan tata caranya , Rasanya semua sudah diatur menurut Peraturan yang Teratur

    Ya, Mari kita dukung Pemerintah dengan peraturan yang teratur.

  8. Brigth says:

    -Sebaiknya kalau mengerti suatu masalah mestinya mengerti dulu unsur-unsur masalah itu baru beropini dan menyimpulkan ,menurut saya artikel di atas kurang referensi, mestinya hal yg mesti di Ketahui dan dimengerti adalah :
    – Apa dan Bagaimana sebenarnya syiah, ideologinya , sejarahnya dsb..
    – Apa dan Bagaimana sebenarnya Islam, Isi Kitabnya, ajarannya dsb..
    – Apa dan Bagaimana sebenarnya Nasrani, Isi kitabnya, ajarannya dsb..
    – Bagaimana seharusnya Nasrani menyebarkan agamanya dengan sesuai petunjuk dalam Kitabnya yang Asli ?
    – Di dunia ini pasti ada sisi buruknya yang harus dihindari manusia dalam hidupnya, nah, Bandingkan semua sisi buruk Syiah, Nasrani, Demokrasi, Islam (kalau ada ) dan piliihlah Dintara itu yang paling sedikit keburukannya , hitung dan logika kan sesuai dengan Data dan Fakta… baru bicara secara adil dan bijaksana…

  9. James says:

    Kalau Ketua DPR berani Menyatakan bahwa Syiah itu TidaK Sesat, mengapa DPR Tidak Mampu Melindungi Warga Syiah, kan mereka sengsara saat ini, jadi suatu Pernyataan itu memerlukan suatu Bukti Tindakan yang membenarkannya

  10. pengamat says:

    Syiah itu tetap Islam juga. Rukun Islam itu ada lima, syahadat, sholat lima waktu, bayar zakat, berpuasa dan naik haji ke mecca. Kalau semua itu dipenuhi, berarti mereka tetap Islam.

  11. ALI Ahmad says:

    Syiah itu bukan bagian dari Islam, dan Islam bukan syiah. Syiah itu bikinan Yahudi yang dibawa oleh Abdullah bin Saba’. Jadi sudah jelas bahwa syiah adalah kafir. Mereka syiah ibadahnya saja sudah menyelisihi tuntunan Rasululllah SAW, mecaci para sahabat, mencaci istri Rasul, dsb. Dan syiah itu lebih berbahaya dari orang kafir umumnya… karena syiah memakai baju muslim padahal bukan muslim…dan kedok mereka mengatasnamakan ahlul bait. Waspadalah wahai umat muslim di negeri ini. Hancurnya dunia kelak adalah salah satunya kaum muslim sudah terfitnah Syiah (kaum yg bersekutu dengan Dajjal)

  12. james says:

    apa FPI juga Islam ??? berkedok dengan Nama Islam tetapi Kelakuan seperti Preman, kaum Syiah tidak pernah melakukan kekerasan sedangkan FPI melakukannya, jadi mana yang sebenarnya boleh di ijinkan ??? Kaum Syiah atau Preman FPI Berkedok Islam ???

  13. sasa says:

    kok gampang mengkafirkan orang lain, kafirnya dirinya sendiri kok tidak dilihat

  14. james says:

    yang teriak-teriak Maling kan biasanya dia Maling juga ??? maka tidak salah lagi yang Teriak-teriak orang lain Kafir maka yang Teriak itulah yang KAFIR, gak nyadar dia

  15. pengamat says:

    saya tidak berani langsung mengatakan syiah itu sesat. Sebab saya sendiri belum pernah melihat langsung bagaimana mereka beribadah. Sebaiknya MUI study banding dulu ke Iran dan Iraq sebelum memutuskan permasalahan ini.

  16. alam says:

    saya setuju dengan tn.pengamat seblm kita mengatakan aliran syiah sesat, lebih baik MUI setudi banding dulu ke negara yang banyak penggikut aliran syiah br bisa menyayakan suati alran sesat atau tidak sesatnya dengan data2 yg di dapat melalui studi banding y ?

  17. Roni says:

    yang pasti sesat orang yang worship” white guy “mati di kayu salib. Ini contoh perbuatan fasik dan zalim menganiaya diri sendiri. Sudah pasti memperoleh azab yang kekal dari Yang Maha Kuasa. Masa Tuhan dibilang mati dikayu salib untuk menebus dosa manusia ? Sangat memalukan hal2 seperti itu. Bahan tertawaan warga.

  18. James says:

    he he orang yang worship Moh. SAW justru itu yang Sesat, karena semua jenis Kejahatan dan Teror Di Halalkan, ajaran Islam yang Mana tuh ??? rupanya ajaran yang Sesat itu, karena di Arab sendiri sangat berbeda dengan ajaran Muslim?Islam di Indonesia karena Pemakaian Pelajaran Quran di Indonesia tidak dengan Bahasa Arab yang Asli, ini menurut seorang Muslim/Islam dari Arab sendiri loh !!!

  19. Roni says:

    benarkah orang Islam worship Moh. SAW ? anda keliru james. Orang Islam hanya worship Tuhan Yang Esa, Tuhan yang sama di worship oleh Ibrahim ( Abraham) dan anaknya Ismail (Eshmael) dan Ishak (Isaac). Tuhannya Yakub (Jacoeb) dan Yusuf (Josef). Tuhannya Musa (Moses) dan Tuhannya Isa (Jesus), Tuhannya Muhammad adalah Tuhan yang sama, Tuhan yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya dari kali yang pertama. Allah namanya seperti yang tersebut dalam kitab-kitab terdahulu. Taurat (Torah), Zabur, Injil dan Al-Quran adalah kitab yang telah diturunkannya. Yesus/ Isa sendiri berkata ke orang2 Yahudi/ Israel, “Sembahlah “Allah” Tuhan-ku dan Tuhan-mu”. Barang siapa mengambil Tuhan yang lain selain Allah, maka surga diharamkan baginya. Nerakalah tempat kembali setelah kematiannya. Jadi tidak benar Yesus mengklaim dirinya Tuhan yang menjadi manusia ataupun anak Tuhan. Tidak mungkin Yesus berlaku seperti Firaun, manusia yang mengklaim dirinya seorang Tuhan. Kamu bisa baca Torah dan Injil yang asli berbahasa hebrew, disitu sudah ditulis nama Allah dan Muhammad. Injil asli bukan ditulis dalam bahasa Yunani, melainkan bahasa Hebrew kuno sebab Yesus berbicara/ menyeru kepada orang2 Yahudi, bukan kepada orang2 romawi atau yunani. Orang Islam cinta damai dan membaca Al-quran dengan bahasa arab yang asli lalu diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh departemen agama RI.

  20. a says:

    Berpegang Teguh kepada Sunnah Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin

    عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَاريةَ رَضي الله عنه قَالَ: وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدَّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ: أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

    Abu Najih, Al ‘Irbad bin Sariyah ra. ia berkata: Artinya : “Rasulullah telah memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran”. Kami bertanya ,”Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah selamanya (meninggal), maka berilah kami wasiat” Rasulullah bersabda, “Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya siapa diantara kalian masih hidup niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. Karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah olehmu hal-hal baru (perkara-perkara yang baru (yang diada-adakan)), kepada hal-hal yang baru itu adalah bid’ah dan sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat.”
    (Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud (4608), At-Tirmidziy (2676) dan Ibnu Majah (44,43))

    Dari Abu Said Al-Khudri ia berkata :
    Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

    Artinya : “Jangan kalian mencaci maki/menghina para shahabatku, karena seandainya salah seorang diantara kalian berinfaq emas sebanyak gunung Uhud tak akan dapat menyamai derajat salah seorang diantara mereka, bahkan separuhnyapun tidak”.

    (Hadits Shahih Riwayat : Bukhari 4:195, Muslim 7:188, Ahmad 3:11, Abu Dawud 4658 dan Tirmidzi 3952).

    Pendapat Tentang Kafirnya Sekte Syiah

    Kami tidak menghakimi. Tugas kami hanya
    menyampaikan keterangan dan menunjukkan
    bukti. Dan ternyata didapati, yang berpendapat
    bahwa Syi’ah itu kafir adalah para Imam-Imam
    Besar Islam, seperti: Imam Malik, Imam Ahmad,
    Imam Bukhari dan lain-lain. Berikut ini beberapa
    pendapat dan fatwa para ulama Islam mengenai
    golongan Syi’ah Rafidhah yang disebut dengan
    Itsna Asy’ariyah dan Ja’fariyah.

    4 IMAM MADZHAB
    sikap Abu Hanifah terhadap sekte ini:

    ﻭﺫﻛﺮ ﺍﻟﺴﺒﻜﻲ ﺃﻥ ﻣﺬﻫﺐ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭﺃﺣﺪ ﺍﻟﻮﺟﻬﻴﻦ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ
    ﻭﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻄﺤﺎﻭﻱ ﻓﻲ ﻋﻘﻴﺪﺗﻪ ﻛﻔﺮ ﺳﺎﺏ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ، ﻓﺘﺎﻭﻯ
    ﺍﻟﺴﺒﻜﻲ 2/590 ‏) . ﻭﻗﺪ ﺫﻛﺮ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻔﺘﺎﻭﻯ ﺃﻥ ﺳﺐ ﺍﻟﺸﻴﺨﻴﻦ
    ﻛﻔﺮ ﻭﻛﺬﺍ ﺇﻧﻜﺎﺭ ﺇﻣﺎﻣﺘﻬﻤﺎ .” ﻭﻛﺎﻥ ﺃﺑﻮ ﻳﻮﺳﻒ ﺻﺎﺣﺐ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻳﻘﻮﻝ :
    ” ﻻ ﺃﺻﻠﻲ ﺧﻠﻒ ﺟﻬﻨﻤﻲ ﻭﻻ ﺭﺍﻓﻀﻲ ﻭﻻ ﻗﺪﺭﻱ . ﺍﻧﻈﺮ ﺷﺮﺡ ﺃﺻﻮﻝ
    ﺍﻋﺘﻘﺎﺩ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻟﻺﻣﺎﻡ ﺍﻟﻼﻟﻜﺎﺋﻲ 4 / 733
    Imam As-Subki menyebutkan bahwa madzhab
    Abu Hanifah dan salah satu pendapat syafi’I
    dan yang lahir dari Ath-Thahawi dalam
    akidahnya adalah kekufuran orang yang
    mencela Abu Bakar. (Fatawa As-Subki 2/590)
    Dan Imam As-Subki juga menyebutkan bahwa
    mencela asy-syaikhani (Abu Bakar dan
    Umar)adalah kekufuran, demikian pula jika
    mengingkari kepemimpinan mereka berdua. “
    Dan Abu Yusuf, sahabat Abu Hanifah berkata,
    “Aku tidak shalat di belakang penganut
    jahmiyyah dan tidak pula syiah rafidhah dan
    juga qadariyyah (pengingkar takdir). “ lihat
    Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah
    karya Imam Al-Lalika’i.

    Pernyataan Imam Abu Hanifah rahimahullah

    ﺃَﺻْﻞُ ﻋَﻘِﻴﺪَﺓِ ﺍﻟﺸِّﻴﻌَﺔِ : ﺗَﻀْﻠِﻴﻞُ ﺍﻟﺼَّﺤَﺎﺑَﺔِ، ﺭِﺿْﻮَﺍﻥُ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢِ
    Landasan akidah Syi’ah adalah menyesatkan para
    sahabat ridhwanullah ‘alaihim.
    Pernyataan ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari
    Abu Hanifah rahimahullah .

    Pernyataan Imam Malik bin Anas rahimahullah

    Imam Malik bin Anas rahimahulllâh (W. 179
    H)
    Beliau bertutur,
    ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺸﺘﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻟﻴﺲ ﻟﻬﻢ ﺳﻬﻢ،
    ﺃﻭﻗﺎﻝ ﻧﺼﻴﺐ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ
    “Orang yang mencela shahabat Nabi shallallâhu
    ‘alaihi wa sallam tidaklah memiliki saham atau
    bagian apapun dalam keislaman.”
    –. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah hal. 162
    dan Al-Khatsûl dalam As-Sunnah 1/493]

    Asyhab bin Abdul Aziz menyebutkan bahwa
    Imam Malik ditanya tentang Syi’ah Rafidhah
    maka Imam Malik menjawab,
    ﻻ ﺗﻜﻠﻤﻬﻢ ﻭﻻ ﺗﺮﻭ ﻋﻨﻬﻢ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻳﻜﺬﺑﻮﻥ
    “Janganlah kalian meriwayatkan hadits dari
    mereka. Sesungguhnya mereka itu sering
    berdusta.”
    –. [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-
    Ibânah Al-Kubrâ` sebagaimana dalam Minhâj
    As-Sunnah karya Ibnu Taimiyah 1/61]

    Kemudian al-Imam Malik berkata: “Barang siapa
    yang ada pada hatinya kedengkian (benci
    ataupun marah-pen) terhadap para sahabat
    Muhammad ‘ alaihissalam maka ayat ini (surat al-
    fath ayat 29-pen) telah mengenainya.” (as-
    Sunnah karya al-Khallal no. 765 versi al-
    Maktabah asy-Syamilah)

    Al-Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al
    Marwadzi, ia berkata: “Saya mendengar Abu
    Abdullah berkata, bahwa Imam Malik berkata:
    ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺸﺘﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻴﺲ ﻟﻬﻢ ﺍﺳﻢ ﺃﻭ ﻗﺎﻝ :
    ﻧﺼﻴﺐ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ
    “Orang yang mencela shahabat-shahabat Nabi
    Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka ia tidak
    termasuk dalam golongan Islam.”
    (As Sunnah, milik al-Khalal: 2/557)

    Ibnu katsir berkata saat menafsirkan firman
    Allah Ta’ala:
    ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣَﻌَﻪُ ﺃَﺷِﺪَّﺍﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭِ ﺭُﺣَﻤَﺎﺀُ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺗَﺮَﺍﻫُﻢْ
    ﺭُﻛَّﻌًﺎ ﺳُﺠَّﺪًﺍ ﻳَﺒْﺘَﻐُﻮﻥَ ﻓَﻀْﻠًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭِﺿْﻮَﺍﻧًﺎ ﺳِﻴﻤَﺎﻫُﻢْ ﻓِﻲ ﻭُﺟُﻮﻫِﻬِﻢْ ﻣِﻦْ ﺃَﺛَﺮِ
    ﺍﻟﺴُّﺠُﻮﺩِ ﺫَﻟِﻚَ ﻣَﺜَﻠُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺘَّﻮْﺭَﺍﺓِ ﻭَﻣَﺜَﻠُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺈِﻧْﺠِﻴﻞِ ﻛَﺰَﺭْﻉٍ ﺃَﺧْﺮَﺝَ ﺷَﻄْﺄَﻩُ
    ﻓَﺂَﺯَﺭَﻩُ ﻓَﺎﺳْﺘَﻐْﻠَﻆَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻮَﻯ ﻋَﻠَﻰ ﺳُﻮﻗِﻪِ ﻳُﻌْﺠِﺐُ ﺍﻟﺰُّﺭَّﺍﻉَ ﻟِﻴَﻐِﻴﻆَ ﺑِﻬِﻢُ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭَ
    ﻭَﻋَﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻣَﻐْﻔِﺮَﺓً ﻭَﺃَﺟْﺮًﺍ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ
    ‏[ﺍﻟﻔﺘﺢ29/ ]
    “ Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-
    orang yang bersama dengan Dia adalah keras
    terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih
    sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka
    ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan
    keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak
    pada muka mereka dari bekas sujud.
    Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan
    sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti
    tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka
    tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu
    menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas
    pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati
    penanam-penanamnya karena Allah hendak
    menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan
    kekuatan orang-orang mukmin). Allah
    menjanjikan kepada orang-orang yang beriman
    dan mengerjakan amal yang saleh di antara
    mereka ampunan dan pahala yang besar.”
    Beliau berkata: “Dari ayat ini, dalam satu riwayat
    dari Imam Malik –rahmat Allah terlimpah
    kepadanya-, beliau mengambil kesimpulan
    tentang kekafiran Rafidhah yang membenci para
    shahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Beliau berkata:
    “Karena mereka ini membenci para shahabat,
    dan barangsiapa membenci para shahabat, maka
    ia telah kafir berdasarkan ayat ini.” Pendapat ini
    disepakati oleh segolongan ulama radhiyallahu
    ‘anhum.” (Tafsir Ibnu Katsir: 4/219)

    Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata:
    ﻟﻘﺪ ﺃﺣﺴﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻓﻲ ﻣﻘﺎﻟﺘﻪ ﻭﺃﺻﺎﺏ ﻓﻲ ﺗﺄﻭﻳﻠﻪ ﻓﻤﻦ ﻧﻘﺺ ﻭﺍﺣﺪﺍً ﻣﻨﻬﻢ
    ﺃﻭ ﻃﻌﻦ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺘﻪ ﻓﻘﺪ ﺭﺩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﻭﺃﺑﻄﻞ ﺷﺮﺍﺋﻊ
    ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ
    “Sungguh sangat bagus ucapan Imam Malik itu
    dan benar penafsirannya. Siapa pun yang
    menghina seorang dari mereka (sahabat Nabi)
    atau mencela periwayatannya, maka ia telah
    menentang Allah, Tuhan alam semesta dan
    membatalkan syari’at kaum Muslimin.” (Tafsir
    al-Qurthubi: 16/297)

    Beliau juga pernah ditanya bagaimana menyikapi orang-orang rafidhah, maka ia menjawab,

    “Jangan berbicara kepada mereka dan jangan bersikap manis, karena mereka semua pendusta.”

    (Minhaj Sunnah, 1/61)

    Pernyataan Imam asy-Syafi’i rahimahullah tentang syiah

    ﻟَﻢْ ﺃَﺭَ ﺃَﺣَﺪﺍً ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟْﺄَﻫْﻮَﺍﺀِ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺑِﺎﻟﺰُّﻭﺭِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﺍﻓِﻀَﺔِ

    “Saya belum melihat seorang pun yang paling banyak bersaksi/bersumpah palsu (berdusta) dari Syi’ah Rafidhah”.

    (Adabus Syafi’i, m/s. 187, al-Manaqib karya al-Baihaqiy, 1/468 dan Sunan al-Kubra, 10/208. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486)

    – Dari Yunus bin Abdila’la, beliau berkata: Saya telah mendengar asy-Syafi’i, apabila disebut nama Syi’ah Rafidhah, maka ia mencelanya dengan sangat keras, dan berkata: “Kelompok terjelek! (terbodoh)”. (al-Manaqib, karya al-Baihaqiy, 1/468. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486)

    – Al-Buwaitiy (murid Imam Syafi’i) bertanya kepada Imam Syafi’i, “Bolehkah aku shalat di belakang orang Syiah?” Imam Syafi’i berkata, “Jangan shalat di belakang orang Syi’ah, orang Qadariyyah, dan orang Murji’ah” Lalu Al-Buwaitiy bertanya tentang sifat-sifat mereka, Lalu Imam Syafi’i menyifatkan, “Siapasaja yang mengatakan Abu Bakr dan Umar bukan imam, maka dia Syi’ah”. (Siyar A’lam Al-Nubala 10/31)

    Imam-imam Madzhab Syafi’iyah ,Imam
    Malik,Imam Daud Adz-Dzhahiri, Imam Ahmad
    bin Hanbal, dan Imam Ishaq bin Rahuwiyah
    rahimahumullah mewajibkan orang yang shalat
    dibelakang imam yang bermadzhab syiah
    rafidhah untuk mengulangi shalatnya. (lihat :
    Ushuluddin 342)

    – asy-Syafi’i berkata tentang seorang Syi’ah Rafidhah yang ikut berperang: “Tidak diberi sedikit pun dari harta rampasan perang, kerana Allah menyampaikan ayat fa’i (harta rampasan perang), kemudian menyatakan: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami”. (Surah al-Hasyr, 59: 10) maka barang siapa yang tidak menyatakan demikian, tentunya tidak berhak (mendapatkan bahagian fa’i).” (at-Thabaqat, 2/117. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/487)

    – Imam as-Subki Rahimahullah berkata, ‘Aku melihat di dalam al-Muhith dari kitab-kitab Hanafiah, dari Muhammad (bin Idris as-Syafi’i) bahwa tidak boleh shalat di belakang Rafidhah.’ (Fatawa as-Subki (II/576), lihat juga Ushulud Din (342))

    Pernyataan Imam Ahmad rahimahullah

    Siapakah Rafidhah itu?
    Al-Imam Ahmad menjawab:
    ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺸْﺘُﻢُ ﻭَﻳَﺴُﺐُّ ﺃَﺑَﺎ ﺑَﻜْﺮٍ ﻭَﻋُﻤَﺮَ ﺭَﺣِﻤَﻬُﻤَﺎ ﺍﻟﻠﻪ
    Orang yang mencela Abu Bakar dan Umar
    rahimahumallah. (as-Sunnah karya al-khallal:
    787)
    ﻣَﻦْ ﺷَﺘَﻢَ ﺃَﺧَﺎﻑُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻜُﻔْﺮَ ﻣِﺜْﻞُ ﺍﻟﺮَّﻭَﺍﻓِﺾِ ، ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : ﻣَﻦْ ﺷَﺘَﻢَ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏَ
    ﺍﻟﻨَّﺒِﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟَﺎ ﻧَﺄْﻣَﻦُ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻗَﺪْ ﻣَﺮَﻕَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ
    Barang siapa yang mencela (sahabat Nabi
    shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka aku aku
    mengkhawatirkan kekafiran padanya seperti
    kalangan Rafidhah. Kemudian berkata lagi:
    Barang siapa yang mencela sahabat Nabi
    shallallahu ‘alaihi wa sallam maka kita
    khawatirkan ia telah keluar dari agama. (as-
    Sunnah karya al-Khallal: 790)
    Pernah disampaikan kepada al-Imam Ahmad
    tentang orang yang mencela Utsman bin ‘Affan
    radhiyallahu ‘anhu , maka beliau menjawab:
    ﻫﺬﻩ ﺯَﻧْﺪَﻗَﺔ
    Ini adalah zindiq. (as-Sunnah karya al-Khallal:
    791)
    Kemudian al-Khallal mendengar langsung dari
    Abdullah bin Ahmad bin Hambal:
    “Aku bertanya kepada ayahku tentang orang yang
    mencela salah seorang sahabat Nabi shallallahu
    ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau (al-Imam
    Ahmad) menjawab:
    ﻣَﺎ ﺃَﺭَﺍﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ
    Aku memandangnya tidak di atas Islam. (as-
    Sunnah karya al-Khallal: 792)

    Al-Imam Ahmad mengatakan:
    ﻣَﻦْ ﺗﻨﻘﺺ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓَﻠَﺎ ﻳَﻨْﻄَﻮِﻱ
    ﺇِﻟَّﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻠِﻴَّﺔ ، ﻭَﻟَﻪُ ﺧَﺒِﻴﺌَﺔُ ﺳُﻮﺀٍ ، ﺇِﺫَﺍ ﻗَﺼَﺪَ ﺇِﻟَﻰ ﺧَﻴْﺮِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ، ﻭَﻫُﻢْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ
    ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
    Barang siapa yang merendahkan salah seorang
    sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
    maka tidaklah ia akan terguling kecuali di atas
    musibah (kesulitan dan kesempitan). Dan ada
    padanya sesuatu keburukan yang tersembunyi,
    yaitu ketika yang ia tuju (dengan celaanya itu-
    pen) adalah orang-orang terbaik, yaitu mereka
    adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
    wa sallam. (as-Sunnah karya al-Khallal: 763)

    Banyak riwayat telah datang darinya dalam
    mengafirkan golongan Syi’ah Rafidhah. Di
    antaranya: Al-Khalal meriwayatkan dari Abu
    Bakar al Marwadzi, ia berkata: “Aku bertanya
    kepada Abu Abdillah tentang orang yang mencela
    Abu Bakar, Umar, dan ‘Aisyah?” Beliau
    menjawab,
    ﻣﺎ ﺃﺭﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ
    “Aku tidak melihatnya di atas Islam.”
    Al-Khalal berkata lagi: Abdul Malik bin Abdul
    Hamid memberitakan kepadaku, ia berkata: Aku
    mendengar Abu Abdillah berkata:
    ﻣﻦ ﺷﺘﻢ ﺃﺧﺎﻑ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﻣﺜﻞ ﺍﻟﺮﻭﺍﻓﺾ
    “Barang siapa mencela (sahabat Nabi Shallallahu
    ‘Alaihi Wasallam) maka aku khawatir ia menjadi
    kafir seperti halnya orang-orang Rafidhah.”
    Kemudian beliau berkata:
    ﻣﻦ ﺷﺘﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻻ ﻧﺄﻣﻦ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻗﺪ ﻣﺮﻕ
    ﻋﻦ ﺍﻟﺪﻳﻦ
    “Barangsiapa mencela Shahabat Nabi Shallallahu
    ‘Alaihi Wasallam maka kami khawatir ia telah
    keluar dari Islam (tanpa disadari).” (Al-Sunnah,
    Al-Khalal: 2/557-558)
    Al-Khalal berkata: Abdullah bin Ahmad bin
    Hambal menyampaikan kepadaku, katanya:
    “Saya bertanya kepada ayahku perihal seseorang
    yang mencela salah seorang dari Shahabat Nabi
    Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka beliau
    menjawab:
    ﻣﺎ ﺃﺭﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ
    “Aku tidak melihatnya di atas Islam”.” (Al-
    Sunnah, Al-Khalal: 2/558. Bacalah: Manaakib al
    Imam Ahmad, oleh Ibnu Al-Jauzi, hal. 214)
    Tersebut dalam kitab As Sunnah karya Imam
    Ahmad, mengenai pendapat beliau tentang
    golongan Rafidhah:
    ﻫﻢ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺘﺒﺮﺃﻭﻥ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻳﺴﺒﻮﻧﻬﻢ
    ﻭﻳﻨﺘﻘﺼﻮﻧﻬﻢ ﻭﻳﻜﻔﺮﻭﻥ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺇﻻ ﺃﺭﺑﻌﺔ : ﻋﻠﻲ ﻭﻋﻤﺎﺭ ﻭﺍﻟﻤﻘﺪﺍﺩ ﻭﺳﻠﻤﺎﻥ
    ﻭﻟﻴﺴﺖ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﻣﻦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻓﻲ ﺷﻲﺀ
    “Mereka itu adalah golongan yang menjauhkan
    diri dari shahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
    Wasallam dan mencelanya, menghinanya serta
    mengkafirkannya kecuali hanya empat orang saja
    yang tiada mereka kafirkan, yaitu: Ali, Ammar,
    Miqdad dan Salman. Golongan Rafidhah ini
    sama sekali bukan Islam.” (Al-Sunnah, milik
    Imam Ahmad: 82)
    Ibnu Abdil Qawiy berkata: “Adalah imam Ahmad
    mengafirkan orang yang berlepas diri dari mereka
    (yakni para sahabat) dan orang yang mencela
    ‘Aisyah Ummul Mukminin serta menuduhnya
    dengan sesuatu yang Allah telah membebaskan
    darinya, seraya beliau membaca:
    ﻳَﻌِﻈُﻜُﻢَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﺗَﻌُﻮﺩُﻭﺍ ﻟِﻤِﺜْﻠِﻪِ ﺃَﺑَﺪًﺍ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻣُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ
    “Allah menasehati kamu, agar kamu jangan
    mengulang hal seperti itu untuk selama-
    lamanya, jika kamu benar-benar beriman.” (QS.
    Al-Nuur: 17. Dinukil dari Kitab Maa Dhahaba
    Ilaihi al-Imam Ahmad: 21)

    Imam Ahmad bin Hanbal rahimahulllâh (W.
    241 H)
    Banyak riwayat dari beliau tentang celaan
    terhadap kaum Rafidhah. Di antaranya adalah :
    Beliau ditanya tentang seorang lelaki yang
    mencela seorang shahabat Nabi shallallâhu
    ‘alaihi wa sallam maka beliau menjawab,
    ﻣﺎ ﺃﺭﺍﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﺳﻼﻡ
    “Saya tidak memandang bahwa dia di atas
    (agama) Islam.” [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl
    dalam As-Sunnah 1/493]
    Beliau juga ditanya tentang pencela Abu Bakr,
    Umar, dan Aisyah maka beliau menjawab, “Saya
    tidak memandang bahwa dia di atas (agama)
    Islam.”
    –. [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-
    Sunnah 1/493]
    Beliau ditanya pula tentang orang yang
    bertetangga dengan (Syi’ah) Rafidhah yang
    memberi salam kepada orang itu. Beliau
    menjawab.
    ﻻ، ﻭﺇﺫﺍ ﺳﻠﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻻ ﻳﺮﺩ ﻋﻠﻴﻪ
    “Tidak (dijawab). Bila (orang Syi’ah) itu memberi
    salam kepada (orang) itu, janganlah dia
    menjawab (salam) tersebut.”
    –. [Diriwayatkan oleh Al-Khallâl dalam As-
    Sunnah 1/494]

    Imam Ahmad (wafat 241 H) berkata:
    “Tidak harus bagi seseorang Islam memburuk-burukkan para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Sekiranya ada siapa saja melakukan demikian,
    maka wajiblah ia didera!” Beliau juga pernah berkata:
    “Apabila kamu melihat seseorang memburuk-burukkan seseorang Shahabat, maka raguilah keislaman dan keimanannya.”
    (Ash Sharimu Al Maslul, halaman 568 dan Mufti Muhammad Syafi`, Maqami Shahabah, halaman 118)

    ABU HAMID AL GHOZALI
    Imam Ghozali berkata :
    “Seseorang yang dengan
    terus terang mengkafirkan Abu Bakar dan Umar
    Rodhialloh Anhuma, maka berarti ia telah
    menentang dan membinasakan Ijma kaum
    Muslimin. Padahal tentang diri mereka (para
    sahabat) ini terdapat ayat-ayat yang menjanjikan
    surga kepada mereka dan pujian bagi mereka
    serta pengukuhan atas kebenaran kehidupan
    agama mereka, dan keteguhan aqidah mereka
    serta kelebihan mereka dari manusia-manusia
    lain”.
    Kemudian kata beliau : “Bilamana riwayat yang
    begini banyak telah sampai kepadanya, namun ia
    tetap berkeyakinan bahwa para sahabat itu kafir,
    maka orang semacam ini adalah kafir. Karena dia
    telah mendustakan Rasulullah. Sedangkan orang
    yang mendustakan satu kata saja dari ucapan
    beliau, maka menurut Ijma’ kaum Muslimin, orang
    tersebut adalah kafir”. (Fadhoihul Batiniyyah,
    halaman 149).

    Imam Abu Bakr bin Al-‘Arabi rahimahulllâh
    (W. 543 H)
    Beliau bertutur, “Tidaklah keridhaan orang-orang
    Yahudi dan Nashara kepada pengikut Musa dan
    Isa sama seperti keridhaan orang-orang
    Rafidhah kepada para shahabat Muhammad
    shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Yakni, (kaum
    Rafidhah) menghukumi (para shahahabat
    Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam) bahwa
    para (shahabat) bersepakat di atas kekafiran dan
    kebatilan.”
    –. [Al-‘Awâshim Min Al-Qawâshim hal. 192]

    Imam Al Bukhari (wafat tahun 256 H)

    Beliau berkata:

    ما أبالي صليت خلف الجهمي والرافضي ، أم صليت خلف اليهود والنصارى ولا يسلم عليهم ولا يعادون ولا يناكحون ولا يشهدون ولا تؤكل ذبائحهم

    “Bagi saya sama saja, apakah aku shalat di belakang seorang Jahmi (beraliran Jahmiyah) atau seorang Rafidzi (b eraliran Syi’ah Rafidhah), atau aku shalat dibelakang Imam Yahudi atau Nashrani. Dan (seorang muslim) tidak boleh memberi salam kepada mereka, mengunjungi mereka ketika sakit, kawin dengan mereka, menjadikan mereka sebagai saksi dan memakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’al al-Ibad: 125)

    Imam Al-Hasan bin Ali bin Khalaf Al-
    Barbahari rahimahulllâh (W. 329 H)
    Beliau berkata,
    ﻭﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻷﻫﻮﺍﺀ ﻛﻠﻬﺎ ﺭﺩﻳﺔ، ﺗﺪﻋﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻴﻒ، ﻭﺃﺭﺩﺅﻫﺎ ﻭﺃﻛﻔﺮﻫﺎ
    ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ، ﻭﺍﻟﻤﻌﺘﺰﻟﺔ، ﻭﺍﻟﺠﻬﻤﻴﺔ، ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻳﺮﻳﺪﻭﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﻌﻄﻴﻞ
    ﻭﺍﻟﺰﻧﺪﻗﺔ
    “Ketahuilah bahwa seluruh pemikiran sesat
    adalah menghancurkan, mengajak kepada
    kudeta. Yang paling hancur dan paling kafir di
    antara mereka adalah kaum Rafidhah,
    Mu’tazilah, Jahmiyah. Sesungguhnya mereka
    menghendaki manusia untuk melakukan ta’thîl
    dan kezindiqan.”
    –. [Syarh As-Sunnah hal. 54]

    Imam Sufyân bin Abdillah Ats-Tsauri
    rahimahulllâh (W. 161 H)
    Muhammad bin Yusuf Al-Firyâby menyebut
    bahwa beliau mendengar Sufyân ditanya oleh
    seorang lelaki tentang pencela Abu Bakr dan
    Umar, Sufyân pun menjawab,
    ﻛﺎﻓﺮ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ
    “(Pencela itu) adalah kafir kepada Allah Yang
    Maha Agung.”
    Orang tersebut bertanya, “(Bolehkah) Kami
    menshalatinya?”
    (Sufyân) menjawab,
    ﻻ، ﻭﻻ ﻛﺮﺍﻣﺔ
    “Tidak. Tiada kemuliaan baginya.”
    Kemudian beliau ditanya, “Lâ Ilâha Illallâh.
    Bagaimana kami berbuat terhadap jenazahnya ?”
    Beliau menjawab,
    ﻻ ﺗﻤﺴﻮﻩ ﺑﺄﻳﺪﻳﻜﻢ، ﺍﺭﻓﻌﻮﻩ ﺑﺎﻟﺨﺸﺐ ﺣﺘﻰ ﺗﻮﺍﺭﻭﻩ ﻓﻲ ﻗﺒﺮﻩ
    “Janganlah kalian menyentuhnya dengan
    tangan-tangan kalian. Angkatlah (jenazah itu)
    dengan kayu hingga kalian menutup kuburnya.”
    –. [Disebutkan oleh Adz-Dzahaby dalam Siyar
    A’lâm An-Nubalâ` 7/253]

    Imam Ibnu Katsir –rahimahullah- (w 774) berkata,
    “Akan tetapi mereka itu (orang-orang syi’ah rafidhah) adalah kelompok yang sesat, golongan yang rendah,
    mereka berpegang kepada dalil-dalil yang mutasyabih (samar) dan meninggalkan perkara-perkara yang muhkamah (jelas) disisi para ulama Islam.”
    (Al Bidayah wa An Nihayah, 5/251)

    Imam Ibnu Baththah rahimahulllâh (W. 387
    H)
    Beliau bertutur, “Adapun (Syi’ah) Rafidhah,
    mereka adalah manusia yang paling banyak
    berselisih, berbeda, dan saling mencela. Setiap di
    antara mereka memilih madzhab tersendiri untuk
    dirinya, melaknat penyelisihnya, dan mengafirkan
    orang yang tidak mengikutinya. Seluruh dari
    mereka menyatakan bahwa tidak (sah)
    melaksanakan shalat, puasa, jihad, Jum’at, dua
    Id, nikah, talak, tidak pula jual-beli, kecuali
    dengan imam, sedang barangsiapa yang tidak
    memiliki imam, tiada agamanya baginya, dan
    barangsiapa yang tidak mengetahui imamnya,
    tiada agama baginya …. Andaikata bukan karena
    pengutamaan penjagaan ilmu, yang perkaranya
    telah Allah tinggikan dan kedudukannya telah
    Allah muliakan, dan penyucian ilmu terhadap
    percampuran najis-najis penganut kesesatan
    serta keburukan pendapat-pendapat dan
    madzhab mereka, yang kulit-kulit merinding
    menyebutkannya, jiwa merintih
    mendengarkannya, dan orang-orang yang berakal
    membersihkan ucapan dan pendengaran mereka
    dari ucapan-ucapan bid’ah tersebut, tentulah
    Saya akan menyebutkan (kesesatan Rafidhah)
    yang akan menjadi pelajaran bagi orang-orang
    yang ingin mengambil pelajaran.”
    –. [Al-Ibânah Al-Kubrâ` hal. 556]

    IBNU HAZM
    Beliau berkata : “Salah satu pendapat golongan
    Syiah Imamiyah, baik yang dahulu maupun
    sekarang ialah, bahwa Al-Qur’an sesungguhnya
    sudah diubah”.
    Kemudian beliau berkata : ”Orang yang
    berpendapat bahwa Al-Qur’an yang ada ini telah
    diubah adalah benar-benar kafir dan
    mendustakan Rasulullah SAW”. (Al Fashl, 5-40).

    Pandangan Ibnu Hazm rahimahullah,

    Beliau berkata:

    وأما قولهم ( يعني النصارى ) في دعوى الروافض تبديل القرآن فإن الروافض ليسوا من المسلمين ، إنما هي فرقة حدث أولها بعد موت رسول الله صلى الله عليه وسلم بخمس وعشرين سنة .. وهي طائفة تجري مجرى اليهود والنصارى في الكذب والكفر

    “Pendapat mereka (Yakni Nashrani) yang menuduh bahwa golongan Rafidhah (Syi’ah) merubah Al-Qur’an, maka sesungguhnya golongan Syi’ah Rafidhah bukan termasuk bagian kaum muslimin. Karena golongan ini muncul pertama kalinya setelah dua puluh lima tahun dari wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Syi’ah Rafidhah adalah golongan yang mengikuti langkah-langkah Yahudi dan Nashrani dalam melakukan kebohongan dan kekafiran.” (Al-fahl fi al-Milal wa al-Nihal: 2/213)

    Beliau rahimahullah berkata lagi:

    ولا خلاف بين أحد من الفرق المنتمية إلى المسلمين من أهل السنة ، والمعتزلة والخوارج والمرجئة والزيدية في وجوب الأخذ بما في القرآن المتلو عندنا أهل .. وإنما خالف في ذلك قوم من غلاة الروافض وهم كفار بذلك مشركون عند جميع أهل الإسلام وليس كلامنا مع هؤلاء وإنما كلامنا مع ملتنا

    “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan semua kelompok umat Islam Ahlus Sunnah, Mu’tazilah, Murji’ah, Zaidiyah, bahwa adalah wajib berpegang kepada Al-Qur’an yang biasa kita baca ini. . . . Dan hanya golongan Syi’ah ekstrim sajalah yang menyalahi sikap ini. Dengan sikapnya itu mereka menjadi kafir lagi musyrik, menurut pendapat semua penganut Islam. Dan pendapat kita sama sekali tidak sama dengan mereka (Syi’ah). Pendapat kita hanyalah sejalan dengan sesama pemeluk agama kita.” (Al-Ihkam Fii Ushuuli Ahkaam: 1/96)

    Beliau berkata pula: “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah menyembunyikan satu kata pun atau satu huruf pun dari syariat Ilahi. Saya tidak melihat adanya keistimewaan pada manusia tertentu, baik anak perempuannya atau keponakan laki-lakinya atau istrinya atau shahabatnya, untuk mengetahui sesuatu syariat yang disembunyikan oleh Nabi terhadap bangsa kulit putih, atau bangsa kulit hitam atau penggembala kambing. Tidak ada sesuatu pun rahasia, perlambang ataupun kata sandi di luar apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah kepada umat manusia. Sekiranya Nabi menyembunyikan sesuatu yang harus disampaikan kepada manusia, berarti beliau tidak menjalankan tugasnya. Barang siapa beranggapan semacam ini, berarti ia kafir. (Al Fashl: 2/274-275)

Leave a Reply