Duel Maut TNI Vs Polri

Posted on May 9 2012 by Vidi Batlolone / SH

BlackBerry bergetar dan mengeluarkan bunyi. Seorang aktivis mengirim pesan. Isinya sebuah salinan berita di internet. Topiknya tentang bentrokan antara anggota Kostrad dan Brimob di Gorontalo.

Tak lupa, ia membubuhkan komentarnya yang ditaruh di bawah berita. “Kita saksinya pertandingan ini. Kalau Brimob sama Kostrad aku memilih ’Elkostrad’,” katanya sambil tertawa. Ia adalah Haris Rusli Moti, Ketua Petisi 28. Ia melihat peristiwa itu seperti pertandingan “maut” antara kesebelasan Real Madrid dan El Barca (Barcelona).

Bentrokan di Gorontalo ini dipicu pelemparan batu dan botol kepada anggota Brigade Mobil yang sedang berpatroli. Sejumlah anggota Brimob mengalami luka-luka dan dibawa ke RS. Tidak terima, mereka kembali ke lokasi pelemparan di sekitar Kompleks Kantor Pemilihan Umum Kabupaten Gorontalo. Seorang anggota TNI, Prada Firman, tewas.

Setelah Reformasi, perseteruan antara TNI dan Polri sering terjadi. Peristiwa paling fenomenal terjadi pada 2001. Bentrokan antara anggota Polresta Madiun dengan Batalion 501 diawali masalah sepele, yaitu berselisih di antrean SPBU. Bentrokan ini membuat situasi Madiun, Jawa Timur mencekam. Dua warga sipil ikut jadi korban. Kantor Mapolresta Madiun sempat dua kali diserang anggota TNI. Baku tembak tak terhindarkan.

Ada juga bentrok di Ternate, Oktober 2009, yang dipicu masalah penjagaan di sebuah pelabuhan Bentrokan ini bermula dari kesalahpahaman antara anggota TNI-Polri yang ditugaskan mengamankan kapal Lambelu ketika mendarat di Pelabuhan Ternate, Maluku Utara.

Sejumlah anggota bintara magang Polri tiba-tiba diserang anggota TNI yang berpakaian preman. Akibatnya, tiga anggota bintara terluka terkena tusukan sangkur. Turut pula menjadi korban seorang warga sipil bernama Mahendra Rustam. Akibat insiden ini, Kota Ternate mendadak menjadi tegang. Sempat terjadi beberapa kali letusan senjata organik.

Peristiwa bentrok antara anggota TNI versus Polri itu bukan kali itu saja terjadi. Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mencatat, sejak 2005 hingga kini, setidaknya terjadi 27 peristiwa bentrokan terbuka antara anggota dua korps tersebut di berbagai daerah.

Dari seluruh peristiwa tersebut, tercatat tujuh anggota polisi tewas. Sementara itu, ada empat yang tewas dari TNI. Tidak cuma itu, bentrokan demi bentrokan telah melukai 32 personel polisi dan 15 orang tentara.

Kesejahteraan

Anggota Komisi III DPR Achmad Baskara mengatakan, bentrokan yang terjadi akhir-akhir ini dipicu faktor kesejahteraan yang timpang antara prajurit TNI dan Polri.

“Pemerintah jangan menutup mata dan harus segera mencari solusi atas gap psikologis antara TNI dan Polri saat ini. Satire yang sering kita dengar dalam masyarakat kita bahwa sekarang ini, ’TNI penuh dengan tantangan dan Polri penuh dengan tentengan’ memang keadaan yang nyata di lapangan,” katanya, saat dihubungi di Jakarta, Minggu (6/5).

Kebijakan negara memisahkan Polri dari TNI yang dulu bernama ABRI, serta menyerahkan sepenuhnya kewenangan keamanan dalam negeri kepada Polri, telah menimbulkan kecemburuan psikologis TNI. Hal itu masih ditambah lagi adanya aturan larangan berbisnis bagi institusi TNI yang semakin menambahkan kecemburuan ekonomi, karena telah menutup peluang akses ekonomi petinggi-petinggi dan oknum TNI lainnya.

Anggota Polri, meskipun tidak seluruhnya, lebih sejahtera tingkat ekonominya ketimbang prajurit TNI. Selain itu, kata dia, kekuasaan Polri juga lebih besar dan nyata ketimbang TNI yang hanya akan berfungsi jika terjadi perang.

Tak heran, terlihat adanya indikasi bahwa TNI ingin kembali mendapatkan kewenangan di luar fungsi pertahanan negara, yaitu keamanan dalam negeri, seperti yang dilakukan lewat RUU Keamanan Nasional.

“Faktor-faktor laten seperti itulah yang menurut saya membuat konflik antara oknum-oknum TNI dan Polri mudah tersulut, sekalipun karena masalah sepele,” ujarnya. Oleh karena itu, pemerintah harus berani meningkatkan kesejahteraan prajurit TNI secara maksimal sehingga setara dengan anggota Polri. Remunerasi dan fasilitas hidup yang baik adalah jawaban atas masalah itu.

Selama ini, kesejahteraan hanya dinikmati petinggi-petinggi TNI, sedangkan kehidupan prajurit masih belum sejahtera. Dengan demikian, tanpa adanya peningkatan kesejahteraan prajurit TNI, sulit berharap tidak akan ada lagi bentrok antara TNI-Polri.

Sementara itu, anggota Komisi I DPR Susaningtyas Nefo Kertopati mengatakan, kecemburuan ekonomi hanya salah satu variabel yang menyebabkan masih terjadinya bentrokan antara prajurit TNI dan anggota Polri. “Kecemburuan hanya salah satu variabel bentrokan. Pembinaan religi dan sumber daya manusia sangat penting juga,” ujarnya.

Meski demikian, Susaningtyas mengakui persoalan kesejahteraan yang timpang menjadi salah satu faktor yang sering kali menyebabkan bentrokan antara prajurit TNI dan anggota Polri, di luar faktor-faktor lainnya. “Berbagai hal selain kesejahteraan pun harus dibenahi. Jangan lalu salah satu merasa termarginalkan,” ujarnya.

Peningkatan kesejahteraan belum tentu dapat menjamin bentrok antara prajurit TNI dan anggota Polri tidak akan terjadi lagi. Ini karena, kata dia, masih banyak variabel pendukung lainnya yang bisa mengatasi persoalan di antara kedua lembaga itu, di antaranya dukungan masyarakat dalam melihat aspek hukum TNI dan Polri.

This post was submitted by Vidi Batlolone / SH.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

7 Responses to “Duel Maut TNI Vs Polri”

  1. Teteng says:

    Wah seru deh! setiap institusi merasa kekuasaan maupun persenjataan milik pribadi bukan milik negara untuk melingungi rakyat. Main koboy okpa2 dan pakai otot2 tidak memakai pemikiran kepala dingin. Pendidikan, pendidikan, pendidikan, pertanggung jawaban, pertanggung jawaban, transparansi untuk naim pangkat berdasarkan kebijaksanaan, moral yang tinggi, netral dan kepandaian.

  2. Yusron killmydiery says:

    NPA GAG DI JDIIN FILM JHA ….

  3. Cecep says:

    Tah- —ini baru bener.

    Indonesia bisa jadi nagara pertama yang punya film TNI lawan polisi

  4. jasakeren says:

    ini bisa disebut positif atau tidak yaah ?
    salam kenal dari jasakeren.com :-D

  5. jono says:

    Ne dia klo agt dewan dableg, analisanya gak jelas.

    Kesejahteraan apa lgi yg mau disetarakan ?

    Loe tau gak klo remunerasi + gaji tamtama TNI jauh lebih gede dari agt POLRI.

    Jdi gak usah pake alasan ketimpangan kesejahtraan dech.

    Payah loe jdi agt dewan.. hayo sapa kemaren yg milih agt dewan bego ini ??

    • punisher says:

      beda seribu perak aja lo bilang jauh lebih gede,,,,,,,,,,,,,lo tau gak berapa gaji + remunerasi seorang prajurit berpangkat Prada???????????

  6. punisher says:

    mau dibawa kemana negara ini?????????????????????????????????????????
    ??

Leave a Reply