Berbaik Sangka dengan Kontroversi Baju Koko ala Jokowi

Posted on April 21 2012 by Trbnews / IM

10 Responses to “Berbaik Sangka dengan Kontroversi Baju Koko ala Jokowi”

  1. Wal Suparmo says:

    KENYATAAN IDI DKI SUKU BETAWI SEKARANG MINORITAS. DARI 2 JUTA ORANG BETAWI YG PENDATANG 12 JUTA ORANG SUKU LAIN.

  2. Indra partono says:

    Indonesia unik karana sifat lemah lembut, gotong royong dan toleran esoteric animisme di perdalam dengan filsafat Hindu ( dekat dengan alam) dan filsa Budha (cinta dan berbuat kebaikan terhadap semua machluk). Makanya rakyat jelata mudah di intimidasi oleh filsafat2 yang keras dan memaksa sampaikan candi2 yang begitu besarnya harus ditimbun oleh rakyat agar tidak ketahuan ber agama lain. Bukti nyata perlakuan2 terhadap Tenaga Kerja asing yang di sewenang kan di negara2 totaliter yang dengan memakai agama untuk kekuasan absolut, marusia di cuci otak untuk membeo, menurut saja kalau tidak dibunuh, Negara kita yang toleran telah diintimidasi akibatnya pertu berkedok santri dengan busana agar di cap alim, santri. Dizaman modern informatsi technology berlogikalah menganalisa sebab akibat. Rakyat jelata telah menjadi korban kemunafikan pengaruh
    berkedok santri. Kembangkanlah kepribadian asli dengan menerapkan modernisasi zaman. Apa2 yang berbau intimidasi singkirkan. Nama calon gubernur Joko Widodo itu kepribadian Indonesia tidak perlu alias, bin, dll sudah merefleksikan cinta Indoneisa. Tidak perlu pakai uniform negara2 Arab tetapi hanya buatan Indonesia asli.

    • SETYO says:

      JOKOWI BUKAN ORANG RELIGIUS DENGAN JAWABANNYA TERSEBUT ,, TERBUKTI IKUT KONSER MUSIK ROCK DAN BERJINGKRAK JINGKRAK … JANGAN2 NANTI JADI TEMENNYA GENK MOTOR LAGI YANG MERESAHKAN MASYARAKAT JAKARTA ..
      MASAK SIH MAKAN TERONG TEMPE AJA PAKE UNDANG WARTAWAN .. COBA ANAK ISTRINYA DIMINTA MAKAN ITU TERUS APA MAU .. SAYA GAK YAKIN .. WARTAWAN PERLU MELIPUT YANG SEPERTI ITU .. JANGAN HANYA KARENA DIKASIH DUIT AJA ..
      JOKOWI MELECEHKAN BUDAYA BETAWI BERIKUT MEDIA JUGA ..

    • Tamu says:

      Setuju. Urusan agama mesti dipisahkan dari hukum. Kenapa kita mesti mengikuti pengaruh buruk negara islam fundamentalis?Sudah waktunya rakyat bisa berpikir sendiri, tidak mengikuti filosofi agama yg sudah turun temurun.

  3. Wal Suparmo says:

    KENYATAANNYA SEBELUM TAHUN 1965 DI INDONEIA TIDAK ADA PERSOALAN TTG PLURALISME. BARU SETELAH PEMBERANTASAN PKI OLEH TNI DAN PARA SANTRI MAKA AGAMA IMPORT ISLAM DI TAMBAH LAGI DENGAN YG LEBIH EXTRIM LAGI SEPERTI WAHABI. PERSAUDARAAN MUSLIM, HIBUTH THAHRIR DSB.SEMUANYA UNTUK MENUJUK KE NEGARA AGAMA.

  4. KENIKMATAN MEMAHAI & MENGERTI & MENGHAYATI BERBAGAI PERBEDAAN, BERARTI KITA MAMPU MENIKMATI HIDUP…era globalisasi sudah tidak terbendung apapun alasannya..

  5. Prajogo Asri says:

    Siapa yang benar2 cinta Indonesia dengan menyumbangkan bakat, aspirasi, daya usaha bagi keadilan social di negara kita yang sedang didalam process pembangunan itulah pahlawan Indonesia sejati. Warga negara boleh biru, merah, kuning hijau tidak masalah bila jujur dan berbakti. Banyak politikus bila ber-kaok2, berkorupsi dan mualim agama belagak santri, dengan lidah beracun dan lelucon mencuci otak serta berkedok busana karena telah jalan2 berkunjung ketempat suci, lalu mem-bakar2 rakyat yang ekonomi lemah untuk bergerombolan melakukan tindakan2 yang melanggar perikemanusiaan ; Merekalah manipulator utama penghasut yang merugikan negara yang berdasarkan hukum netral. Memang dengan globalisasi keadilan, kesejahteraan, tanggung jawab social adalah tanggung jawab seluruh warga negara Indonesia. Suku isme, gender itu hanya dipermukaan kulit saja tetapi hati yang tulus berbakti bagi kesejahteraan dan keadilan sosial , upah jasa dengan kompensasi berdasarkan upaya, keunggulan dan jerih payah keringat yang sutji adalah kewajiban dan tanggung jawab setiap warga. Jangan main todong dan paksa mentang2 ada kekuasaan. Semua tindakan harus diatas rel hukum yang objectif. Majukanlah pendidikan yang tidak munafik tetapi ilmiah, logika dan cinta akan alam semesta.

  6. Endang Jamil says:

    Demi kemajuan bangsa kita sifat2 yang picik harus dihapuskan dari kalbu masyarakat. Tindakan2 yang tidak toleran bukanlah kepribadian asli Indonesia. Negara kita bukanlah Indoafghan atau Indoarabia melainkan negara yang patut menjadi contoh bahwa setiap insan warga negara Indonesia dihargai pendapatnya, bakatnya, dan lahiriah jasmani maupun jiwanya. Ingatlah lagu kebangsaan kita yang menghimbau " ..Disanalah aku (semua warga negaranya) berdiri jadi pandu ibuku (pelopor keadilan bagi tanah air dimanapun mereka berada) ……Bangunlah Jiwanya (bukan intimidasi paksaan membebekmembeo tetapi beritikad baik untuk kesejahateraan merata) bangunlah Bangsanya (kepribadian toleran, lemah lembut, serius, disiplin, pencinta semua machluk di semesta alam) untuk Indonesia Raya",

  7. setyo says:

    dukungan untuk pak hidayat yang membesarkan budaya jakarta dan betawi…

Leave a Reply