
Saya mendapat undangan menghadiri perayaan cap go meh, sekaligus peluncuran buku di Bentara Budaya Jakarta. Cap go meh tahun ini jatuh pada tanggal 6 Februari 2012 hari Senin kemarin, menutup keseluruhan rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek. Terus terang saja, undangan ini sedikit terlupakan sampai sehari sebelum hari H, dan itupun saya masih tidak yakin bisa menghadirinya karena beberapa urusan pekerjaan.
Saya ingin mengajak  pak Handoko dan mas Iwan untuk bersama-sama menghadirinya, dimana saya juga cukup paham pak Handoko dari hari Senin sampai Jumat biasanya ada di Jakarta — kalau sedang tidak bertugas ke luar kota atau ke luar negeri. Tapi ternyata pak Handoko mengabarkan tidak bisa ikut hadir. Saya lebih ragu lagi untuk menginfo mas Iwan. Hari Senin seharian berlalu begitu cepat, dan sore itu saya memutuskan untuk berangkat dan akan mengajak mas Iwan.
Ternyata perjalanan lancar-lancar saja, lebih cepat dari yang saya perkirakan. Setelah sampai, saya langsung menelepon mas Iwan dan mengajaknya untuk hadir. Cukup kaget juga mas Iwan tapi dengan cepat menjawab akan segera meluncur ke lokasi acara.
Sempat berkeliling di lokasi Bentara Budaya Jakarta, melihat beberapa koleksi batik, artefak dan berbincang dengan beberapa kenalan dan sahabat di sana. Mendekati pukul 19:30, saya melihat jajaran tempat duduk mulai dipadati para hadirin.
Tepat pukul 19:30, MC membuka acara dengan mengundang kelompok gambang keromong Sinar Gemilang pimpinan Sauw Ong Kian (artikel lengkap mengenai kelompok ini dapat dibaca di Kompas tertanggal 6 Februari 2012 di halaman pertama, di website Kompas, pilih e-paper).
Saya sungguh terkejut karena ternyata Encim Masnah alias Pang Tjin Nio (87 tahun), peranakan Jawa — Tionghoa, hadir di Bentara Budaya Jakarta dan ikut menembangkan beberapa lagu khas gambang keromong. Encim Masnah kelahiran Banten Lama tahun 1924, adalah sinden lagu-lagu klasik gambang keromong yang masih ada sekarang ini. Lepas dari usia senjanya, Encim Masnah ngibing dengan asik dan suaranya masih mengalun merdu. Menurut istilah mas Iwan, serasa dibawa ke lorong waktu di Jakarta tahun 60-70’an.
Keharuan menyeruak ketika Encim Masnah menyanyikan beberapa lagu ‘oldies’ gambang keromong, diiringi tepuk tangan dan kilatan lampu flash dari para media yang mengabadikannya. Nampak salah seorang muridnya berkaca-kaca ketika berbincang dengan Encim Masnah.
Kesenian lintas budaya yang juga lazim disebut cokek ini adalah jembatan budaya Betawi, Sunda dan Tionghoa Peranakan. Cokek berasal dari dialek Hokkian chio kek, tulisan aslinya 唱 曲 (chang qu, baca: jang jü) — literally berarti menyanyikan lagu (terima kasih koreksinya pak David Kwa). Artikel lengkap mengenai Encim Masnah dapat juga dibaca di Kompas tertanggal 6 Februari 2012 halaman 16 di rubrik Sosok, dituliskan dengan apik oleh Iwan Ong Santosa dan Irwan Julianto. (Untuk pengakses via website, pilih e-paper Kompas).
Lagu-lagu silih berganti mengalir sampai kira-kira 20 menit, dan acara pun dibuka. Sambutan pertama oleh pak Irwan Julianto, penggagas dan pendiri Komunltas Lintas Budaya Indonesia sekaligus kurator Bentara Budaya Jakarta. Pidato singkat beliau sanggup menggetarkan hati para hadirin ketika beliau menutupnya:Â “…bulan di atas kita bersinar terang, perayaan cap go meh bersama kita ini bukan dengan mengundang barongsai dan liong, tapi kita merayakannya bersama di sini dengan mendengarkan gambang keromong sambil menikmati lontong cap go meh…”
Kemudian sambutan demi sambutan silih berganti, dan sampailah kepada puncak acara yaitu peluncuran buku:Â Indonesian Chinese Peranakan ‘A Cultural Journey’Â yang diterbitkan oleh Intisari dan Indonesian Cross-cultural Society. Para penulis kawakan yang menulis buku ini adalah: Boedi Mranata, David Kwa, Esther Kuntjara, Gondomono, Handinoto, Helen Ishwara, Mary Northmore, Mona Lohanda, Musa Jonatan, Myra Sidharta, dan Rusdi Tjahyadi. Saya kebetulan mendapat kehormatan mengenal dan bersahabat baik dengan beberapa di antara beliau-beliau ini.
Penghargaan khusus diberikan kepada Encim Masnah atas kiprahnya selama beberapa dasawarsa dalam kesenian gambang keromong di Nusantara.
Nampak di antara para hadirin, tamu dari dalam negeri dan juga manca negara. Di antaranya dari Peranakan Museum Singapore, Jackie Yoong (Curator) dan Maria Khoo Joseph (Assistant Curator), Huihan Li — Belanda, ibu Mely G. Tan, Brigjen Purnawirawan Tedy Yusuf (Him Tek Ji), Aimee Dawis, pak William Wongso — Duta Rendang Indonesia, dan masih banyak lagi lainnya.
Tidak lagi berpanjang kata, semoga foto-foto ini dapat bercerita lebih banyak lagi.
Red and gold Kereta Kuda dari abad ke 19 — salah satu ‘icon’ pameran kali ini
Ukiran pada sangkar burung
Jajaran koleksi batik dengan corak Tionghoa Peranakan:
Altar sembahyangan leluhur
Tok-wi, kain penutup altar sembahyangan
Zhui Yuan (追远, baca: cuei yuen), “Menelisik Asal Usul”
(Photo: ISK)
This post was submitted by Josh Chen /Baltyra / IM.

