Malam itu jalan setapak di kawasan permukiman padat penduduk, Kelurahan Tanah Tinggi masih basah. Hujan deras sempat meliputi Jakarta sejak siang hingga petang. Butir-butir rintik hujan pun masih jatuh perlahan di atas kusen-kusen lapuk, lalu menetes di lorong-lorong permukiman itu.
Waktu semakin larut, sudah hampir pukul sebelas malam. Namun sebagian besar warga di sana belum terlelap, mereka masih duduk di teras-teras kecil yang terbuat dari batu.
Entah apa yang membuat mereka tak masuk ke dalam rumah dan mengambil selimut lalu tidur. Padahal, dinginnya malam dapat menjadi pedang tajam yang menusuk tulang dan sendi-sendi mereka yang terjaga.
Malam itu Jakarta teramat dingin, jauh lebih dingin ketimbang malam-malam sebelumnya. Mungkin karena hujan yang turun cukup lama, mungkin juga karena angin malam itu berembus kencang. Tetapi anehnya, mereka yang tinggal di permukiman ini, tepatnya di Kelurahan Tanah Tinggi, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, seolah tak terusik dinginnya malam.
Ketika malam semakin larut, mereka bukannya masuk ke dalam rumah untuk beristirahat, namun justru berbaring tepat di depan pintu rumah mereka, persis di sisi lorong jalan yang lembap dan becek.
Siapa pun yang melihat pemandangan itu pasti akan terperanjat.
Lebih miris lagi, di antara mereka yang tidur itu, terdapat manula dan anak-anak kecil. Tak beralas kasur pun tak berbalut selimut, mereka berbaring dengan berbantalkan gulungan kain.
Jika hal itu hanya terjadi pada satu atau dua rumah saja, mungkin kesalahan ada pada sang pemilik rumah. Namun jika lorong-lorong kecil dan berliku di sana disusuri, akan ditemukan puluhan bahkan ratusan rumah yang menunjukkan suasana serupa.
Selidik punya selidik, ternyata alasan mereka untuk tidur di luar rumah cukup kuat. Sebuah alasan yang mengiris hati dan membangkitkan kepedihan yang mendalam.
“Tidak ada tempat lagi, di dalam sudah penuh orang, makanya sebagian tidur di luar,” ucap seorang ibu bernama Titin.
Dari mulutnya juga akhirnya diketahui, sebagian besar warga di sana memiliki alasan yang sama, yakni karena keterbatasan ukuran luas rumah mereka yang dihuni belasan orang. Oleh karena itu pula rumah-rumah di daerah ini juga biasa disebut â€rumah burungâ€. Ya, rumah sekecil itu memang mirip sangkar burung.
Bayangkan saja, bagaimana bisa rumah Titin yang hanya berukuran 3 x 6 meter harus menampung 15 orang dalam waktu semalam? Terlebih di dalam rumah sempit itu terdapat berbagai perabotan rumah seperti lemari, meja, dan televisi. Meski rumah mereka terdiri dari tiga tingkat yang terbuat dari kayu, tetap saja itu tak dapat menjadi tempat bernaung saat malam.
Apalagi ketika hujan turun, bagian atas rumah mereka pasti terkena hujan dan embusan angin kencang. Ini karena memang bagian atasnya dibuat sekadar ada sebagai lapak untuk tidur. “Ya beginilah kondisinya, seperti kapal pengungsian yang hancur porak-poranda. Tidur terpaksa berdesakkan, itu pun tidak nyenyak, karena takut hujan dan angin,” Titin berkisah.
Situasi tak kalah menyedihkan dialami keluarga Ibu Umi yang memiliki anggota keluarga sebanyak sebelas orang. Padahal, luas rumah yang mereka tinggali hanya sekitar 2 x 3 meter. Ukuran itu tentu tidak sepenuhnya dapat mereka gunakan untuk tidur.
Pasalnya, mereka harus berbagi dengan sejumlah perabotan yang justru tidak mungkin diletakkan di luar rumah. Solusinya, sebagian dari mereka harus tidur di luar meski udara malam dan gigitan nyamuk dapat menyiksa dengan teramat sangat.
“Atau solusinya kami tidur gantian setiap beberapa jam sekali. Kadang anak-anak tidur dulu baru orang tua, atau sebaliknya. Sementara menunggu giliran untuk tidur, kami bisa di luar rumah dulu,” tutur Umi.
Di rumah keluarga Edi, seorang bocah perempuan berusia lima tahun tidur nyenyak di dekapan ibunya. Keduanya tidur lelap persis di sisi lorong becek itu. Untuk melindungi diri dari hujan, sehelai tenda biru lusuh dan koyak menjadi atap.
Mungkin karena tiupan angin, tempias air hujan sempat menyentuh wajah lembut gadis kecil itu. Seketika ia terbangun, ditatapnya wajah ibunya yang tetap terlelap. Namun, ibunya tak kunjung terbangun.
Berbagi MCK
Selain sulitnya mendapatkan tempat bernaung yang layak, mereka juga masih harus disulitkan dengan berbagi MCK untuk bersama.
Terlihat ada satu MCK di sana yang dipakai ratusan orang dari dua RW, yakni RW 07 dan RW 12. Selain itu, sempitnya lahan permukiman di sana membuat anak-anak kecil tidak memiliki ruang dan sarana bermain.
Akibatnya, sebagian anak kecil terpaksa bermain di sekitar jalan umum atau bahkan di sekitar jalur kereta api. Selain berbahaya, tentunya ruang-ruang itu belum cukup memenuhi kebutuhan mereka untuk bermain.
Ketua RW 12, Syahadat, mengakui sebagian besar warganya mengalami sulitnya mendapatkan penghidupan yang layak. Menurutnya, hampir seluruh orang yang tinggal di kawasan tersebut berada dalam situasi sulit untuk hidup nyaman.
“Di sini jalannya sempit-sempit, rumah-rumahnya juga begitu. Padahal dalam satu rumah bisa dihuni tiga sampai empat keluarga, jumlahnya bisa sampai belasan orang. Oleh karena itu kami harus tidur berdesakan,” ucapnya.
Ia berharap pemerintah sudi memperhatikan apa yang dibutuhkan warga di sana. Menurutnya, saat ini yang paling dibutuhkan adalah bantuan berupa bedah rumah agar kondisi rumah dapat dibuat lebih memadai untuk menampung para penghuninya.
“Biasanya perhatian dan bantuan baru datang saat menjelang pemilu saja, itu pun tidak untuk semua. Setelah pemilu, kembali lagi kami dilupakan,” Syahadat mengeluh.
Selain itu, ia berharap pemerintah dapat memberikan solusi terkait kebutuhan pekerjaan bagi warga di sana. Ia menyampaikan, saat ini sebagian besar warganya hanya berprofesi sebagai buruh serabutan yang hanya akan bekerja jika ada panggilan sementara.
This post was submitted by SH / IM.





















