Belajar Pantang Menyerah dari Negeri Sakura

Posted on January 30 2012 by Wahyu Dramastuti / SH

Tahun ini bunga sakura mekar tepat pada waktunya. Masih indah seperti biasanya.

Meskipun kali ini tidak ada acara hanami, acara rutin untuk melihat keindahan bunga sakura yang sedang mekar; biasanya dilakukan sambil pesta makan minum di bawah pohon sakura bersama keluarga, saudara, kolega kerja, dan teman.

Masing-masing membawa bento, bekal makanan atau beragam camilan ringan. Tahun ini tahun yang berbeda dengan sebelumnya. Masih tersisa guratan duka di wajah rakyat Jepang. Bunga sakura pun terlewatkan begitu saja. Banyak acara festival hanami mendadak dibatalkan di berbagai kota di Jepang.

Aku masih teringat Takehara Tomoko. “Di manakah Tomoko? Sudah hampir satu bulan, masih juga tak terdengar kabarnya,” jeritku dalam hati.

Inilah sepenggal cerita Hani Yamashita, yang mengisahkan hari-hari dukanya mengalami bencana gempa bumi 8,9 skala Richter dan tsunami lebih dari sepuluh meter pada 11 Maret 2011 yang menghantam tujuh provinsi di Jepang.

Sampai hari ini Hani masih berharap bertemu sahabatnya, Takehara Tomoko, yang pada 11 Maret itu pergi ke Kota Sendai, Miyagi, padahal pusat gempa ada di prefektur Miyagi.

Hani adalah ibu dua anak, warga Yogyakarta yang mengikuti suaminya menetap di Jepang, yang kemudian menjadi relawan membantu para korban tsunami.

Dia menuliskan kisah ini bersama Junanto Herdiawan, analis ekonomi yang bertugas di Tokyo, Jepang dalam sebuah buku berjudul Japan Aftershock, Kisah-kisah Berani Menghadapi Tsunami, yang diluncurkan, Sabtu (28/1), di Jakarta.

Satu hikmah yang patut dicontoh oleh bangsa Indonesia – yang bisa dipelajari dari rakyat Jepang – adalah hidup mandiri tanpa mengeluh, dan gotong royong membantu sesama dengan hati tulus. Apalagi, geografis Indonesia sama dengan Jepang, terdiri dari pulau-pulau dan terletak di daerah rawan gempa.

Seperti pesan Tomoko berulang kali sebelumnya kepada Hani, “Hidup ini memang harus berjuang. Hani, sesusah apa pun kondisi kita, kita harus berjuang untuk melakukan hal yang terbaik. Jangan pernah putus asa. Kita boleh kehilangan segalanya, tapi tidak boleh kehilangan semangat dan harapan.” Hani-chan, ganbatte-ne (ayo berusaha yang terbaik), hani-chan… motto ganbare, berusahalah yang lebih keras lagi.

Semangat ini terus digencarkan setelah tsunami itu. Seorang profesor di bidang ekonomi sering muncul di TV untuk memberikan solusi hemat segalanya bagi warga Jepang. Hemat listrik pun dipatuhi seluruh rumah tangga, termasuk anak-anak yang menghentikan bermain nintendo.

“Keluarga dan teman-teman di Indonesia menyuruhku segera balik ke kampung halaman, Yogya,” kata Hani kepada SH. Apalagi muncul kesimpangsiuran informasi mengenai reaktor nuklir Fukushima Daiichi.

Namun ternyata masyarakat Jepang percaya akan kredibilitas pemerintah Jepang, sehingga mereka merasa tenang, tidak panik berlebihan, tapi justru saling menguatkan, bahkan tidak ada pencurian dan penjarahan.

Hal ini membuat hati Hani menjadi tegar. “Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, korban bencana alam yang kehilangan segalanya pun masih sanggup bertahan hidup. Tidak seharusnya aku kalah semangat dengan mereka,” begitu tekadnya, kemudian memilih tetap tinggal di Jepang untuk menjadi relawan menolong para korban, dengan bidang tugas menyortir bantuan.

Pakaian layak pakai yang disumbangkan bagi para korban, misalnya, harus benar-benar dipilih yang utuh tak bercacat. Bagaimanapun, korban adalah manusia yang patut dihormati. Sementara itu, menjadi relawan harus rela merogoh kocek sendiri untuk transportasi dan perbekalan. Pantang bagi mereka untuk meminta ongkos kepada korban maupun pemerintah.

Media Massa

Hani juga menyaksikan peranan media massa sangat penting untuk membangkitkan spirit masyarakat. Tidak ada tayangan korban meninggal dunia atau luka parah. Yang dimunculkan justru kisah-kisah nyata dari korban selamat dan perjuangannya di lokasi bencana.

Yang terlihat di layar TV hanya gedung-gedung yang ambruk, rumah penduduk yang tersapu tsunami, tetapi tanpa diiringi lagu yang mendayu-dayu yang justru memicu kesedihan yang berlarut-larut.

Sebaliknya, pemberitaan media massa sarat informasi seperti peringatan pemerintah akan gempa susulan, dan imbauan kepada masyarakat agar menghemat listrik, serta cara-cara menghadapi bencana alam dan akses telepon ke pusat bencana yang bisa dihubungi 24 jam nonstop.

Pemerintah bahkan “membeli” semua iklan di media massa untuk hari-hari pertama pascabencana. Banyak radio yang sering memutar lagu pembangkit semangat seperti Makenaide yang artinya jangan menyerah kalah.

Namun, pemerintah juga gencar mengajarkan arti gempa bumi, simulasi gempa, dan cara-cara menghadapinya. Di setiap prefektur di Jepang, ada 47 prefektur, tersedia tempat belajar tentang bencana. Anak-anak sejak dini diajak belajar langsung di Fire Department (Dinas Kebakaran). Materinya disesuaikan dengan umur anak.

Diajarkan simulasi sederhana seperti melindungi bagian kepala, berlindung di bawah meja, lalu setelah gempa mereka berjalan berbaris secara teratur keluar dari ruangan. Dalam satu ajaran, rutin diadakan 2-3 kali simulasi gempa yang melibatkan seluruh sekolah. Ada pula simulasi rutin tanggap bahaya kebakaran dan badai.

Media massa juga rutin menyosialisasikan panduan mengenai bencana alam. Memakai bahasa sederhana yang mudah dipahami, tidak menggunakan istilah-istilah asing. Dalam buku panduan dijelaskan bahwa setiap keluarga harus menyiapkan ransel serbaguna. Satu ransel diisi air mineral dan obat-obatan. Satu ransel berisi pakaian kering, radio, senter, baterai pengganti, makanan kering atau makanan kaleng, uang tunai, dan peluit.

Di bawah tempat tidur harus disiapkan sepatu bersih, yang gunanya untuk melindungi kaki dari pecahan kaca dan lain-lain pada saat bencana; juga wajib menyimpan sepeda di halaman rumah. Anak-anak pun diajar untuk mengetahui lokasi pengungsian terdekat.

Namun, pelajaran lain yang sangat berharga adalah, kebersamaan antara pemerintah dan rakyatnya. Tidak ada bendera partai politik di lokasi bencana, tidak ada cela dari pihak oposisi.

Semua bahu-membahu demi kemanusiaan. Apakah ada yang buruk dari semua ini? Mari, Indonesia, kita belajar dari spirit bangsa Jepang! Mou ikkai gambarimasu kore kara mata hajimarimasu, sekali lagi berjuang sekuat tenaga. Mulai saat ini, kembali menata kehidupan.

This post was submitted by Wahyu Dramastuti / SH.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply