DPRD Sesalkan Bentrok di Lampung Selatan

Posted on January 27 2012 by Syafnijal Datuk Sinaro / SH

Ketua Komisi I DPRD Lampung Ismet Roni menyesalkan terjadinya kerusuhan tersebut, apalagi sudah berulang kali. Ia berharap konflik SARA ini yang terakhir.

“Jika terjadi persoalan hukum di antara warga agar segera diselesaikan menurut jalur hukum, bukan main hakim sendiri, apalagi main bakar. Aparat harus responsif dan tidak membiarkan persoalan tersebut melebar menjadi konflik SARA,” ujarnya kepada SH, Rabu (25/1).

Ia mengimbau kepada pemda agar segera merehabilitasi bangunan yang rusak dan terbakar. Pasalnya, jika berlarut-larut maka kepercayaan warga kepada pemerintah makin menurun dan ini berbahaya.

Berdasarkan data Pemkab Lampung Selatan (Lamsel), tercatat 65 rumah, empat gudang pabrik, tujuh warung, dan 30 sepeda motor milik warga Dusun Napal terbakar. Kemudian tujuh rumah warga Desa Kotadalam rusak.

Di pihak lain, sebagian besar warga Desa Kotadalam dan desa-desa tetangga masih mengungsi dan belum berani pulang ke rumah hingga Kamis (26/1) pagi, meskipun sudah ada kesepakatan dan perdamaian di antara tokoh-tokoh masyarakat Lampung dan Bali yang dimediasi Gubernur Lampung Sjachroedin ZP.

Sementara itu, warga Dusun Napal Desa Sidowaluyo Kecamatan Sidomulyo yang dua hari sebelumnya dibumihanguskan warga Desa Kotadalam dibantu sejumlah desa tetangga sudah mulai membersihkan puing-puing rumah mereka sejak Rabu siang.

Didi Suliantoro, warga Desa Seloretno yang berada di antara kedua desa yang bentrok, mengaku dia dan keluarganya masih mengungsi ke rumah saudara di Kalianda, sekitar 30 km dari rumahnya. “Bagaimana tidak, meski dijaga aparat, kita ndak tahu jika ada penyerangan malam-malam. Lagi pula nyawa kita cuma satu,ndak bisa diganti,” ujar Didi kepada SH, Kamis pagi.

Menurut dia, sebagian besar warga Desa Kotadalam, terutama kaum ibu dan anak-anak, masih belum berani pulang ke rumah. Mereka mengungsi ke rumah dinas wakil bupati dan camat Kalianda, serta rumah-rumah saudara mereka di desa-desa tetangga. “Kalau situasinya kondusif, mungkin sore ini mereka pulang,” tuturnya.

Warga Dusun Napal sejak Rabu siang mulai membersihkan puing-puing rumah mereka di bawah penjagaan aparat keamanan. Hingga Kamis pagi, kedua desa yang berseteru masih dijaga sekitar 1.000 aparat keamanan, 700 personel dari Kepolisian Daerah Lampung, sedangkan 300 lainnya personel TNI.

Guna mencegah meluasnya pertikaian antara warga, Gubernur Lampung, Rabu, memediasi pertemuan antara tokoh-tokoh kedua suku yang bertikai.

Dalam pertemuan tertutup di Kantor Gubernur Lampung yang dihadiri Ketua Parisada Hindu Dharma Mayor Jenderal TNI (Purn) SN Suwisma, Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI S Wijonarko, serta tokoh-tokoh adat dan agama itu dicapai kesepakatan damai antarkelompok yang bertikai. Isinya, warga sepakat bergotong royong memperbaiki kerusakan akibat bentrokan.

Sjachroedin meminta masyarakat berbagai suku tidak mudah termakan provokasi yang memecah belah persatuan. “Bentrok antarwarga di Kotadalam, Sidomulyo, Lampung Selatan, terjadi karena ulah provokator yang mengadu domba suku Bali dan Lampung,” ujar gubernur seusai pertemuan.

Wijonarko menyatakan, status siaga I diberlakukan hingga permasalahan tuntas. “Kami menempatkan ribuan personel sampai situasi normal dan warga yang bertikai beraktivitas normal. Bisa satu bulan, bisa juga dua bulan,” ujarnya.

This post was submitted by Syafnijal Datuk Sinaro / SH.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply