SURABAYAÂ -Â Kelenteng Hong San Ko Tee atau lebih dikenal dengan Kelenteng Cokro di Jalan Cokroaminoto Surabaya terlihat sibuk, Kamis (19/1). Puluhan umat Konghucu terlihat mengeluarkan semua rupang atau patung dewa dari beberapa titik altar untuk dimandikan dengan air deterjen dan air kembang.
Setelah dimandikan, rupang kemudian dikeringkan dengan kain lembut dan bersih sebelum dikembalikan lagi di posisi altar. Tidak lupa, wewangian minyak cendana juga diusapkan sebagai penutup proses pembersihan rupang.
Suasana ritual memandikan rupang siang itu terlihat sangat hangat dan akrab. ”Beberapa penganut Konghucu bahkan sengaja meninggalkan pekerjaan atau tugas belajarnya untuk mengikuti ritual tahunan ini,” ujar Ketua Pengurus Kelenteng Cokro, Yuliani Pudjiastuti.
Ritual mandi rupang adalah salah satu ritual yang biasa dilakukan menjelang pelaksanaan sembahyang perayaan imlek setelah ritual Ci Suak atau pembersihan diri pada Minggu (15/1) lalu.
Layaknya manusia, kata Yuliani, rupang juga perlu dibersihkan agar terlihat bersih dan segar. ”Setelah kita membersihkan tubuh sang dewa maka berarti kita juga telah membersihkan diri kita sendiri dari segala noda di masa lalu, dan sejak saat ini menjadi bersih,” jelasnya.
Memandikan rupang, menurut keyakinan warga Konghucu, bukan hanya bermakna membersihkan fisik, namun yang terpenting juga bermakna membersihkan hati dan jiwa seseorang sehingga membuat manusia suci seperti bayi yang baru lahir.
Tidak hanya itu, memandikan rupang juga dipercaya akan menjauhkan diri dari berbagai macam penyakit, serta terhindar dari gangguan roh jahat.
”Karena menggunakan air suci, air bekas memandikan rupang tidak boleh dibuang sembarangan. Airnya harus dikumpulkan dan disiramkan atau dituangkan ke tanah yang bersih, atau tanah yang tidak mungkin diinjak orang,” tuturnya.
Suasana Imlek 2563 di Surabaya tidak hanya terlihat di beberapa titik pusat peribadatan Konghucu, sejumlah hotel berbintang sengaja menggelar acara khusus dengan tema budaya China.
Di Surabaya Plaza Hotel (SPH), misalnya. Selain meramaikan imlek dengan kesenian barongsai, manajemen menyuguhi pengunjung dengan penampilan drama Tiongkok yang diperankan karyawan SPH selama empat hari sejak 16 Januari lalu.
”Kami sengaja mendatangkan guru khusus guna melatih pemain barongsai untuk melakukan berbagai gerakan agar selaras dengan alat musiknya,” ujar Resident Manager SPH Tri Wahyu Utami.
Wayang Potehi
Sementara itu, di Hotel Majapahit, perayaan Tahun Baru Imlek tahun ini diramaikan dengan penampilan wayang potehi setiap sore sejak 16-21 Januari. Pertunjukan yang digelar Komunitas Lintas Agama dan Kelenteng Hong San Kiong, Jombang ini, terbuka untuk umum bertempat di ruang lobi hotel.
Wayang potehi adalah salah satu ragam seni budaya China yang biasa dipentaskan menyambut perayaan imlek. Potehi berasal dari kata pou (kain), te (kantung), dan hi (wayang). Potehi disebut wayang boneka yang berasal dari Hokkian, China Selatan. Kesenian ini dibawa perantau etnis Tionghoa ke Indonesia ratusan tahun silam.
Wayang potehi hampir mirip dengan pementasan wayang kulit yang diiringi penabuh gamelan dan sinden. Tapi di wayang potehi diiringi lima alat musik khas China, yaitu Yana, Orhu, Selu, Walo, dan Dongko.
Bukan hanya ragam budaya China saja yang dipilih untuk meramaikan tahun baru China kali ini, Hotel Sheraton memilih menyajikan kue keranjang sebagai salah satu sajian istimewa tamunya menjelang imlek tahun ini.
Chef Ajek dari Guangzhou, China mengatakan, kue keranjang biasa dijadikan kue hantaran kepada kerabat atau sahabat yang melambangkan hubungan baik antara pihak pemberi dan penerima, disertai harapan hubungan itu akan terus terjalin. ”Kue keranjang lebih nikmat disantap bersama keluarga pada malam menjelang imlek,” tuturnya.
Kue keranjang berbentuk ikan dan emas yang melambangkan kemakmuran dengan rasa manis dan gurih. ”Pembuatan kue ini disertai harapan tahun yang akan dilewati berjalan lancar, indah, dan penuh rezeki,” jelasnya.
This post was submitted by Achmad Faizal / SH.





















