
Sebentar lagi, masyarakat Chinese akan merayakan
Tahun Baru Imlek. Tahun ini jatuh pada tanggal 23
Januari.
“Imlek” sebenarnya adalah dialect Hokkien terjemahan
dari bahasa Mandarin “Yin Lik” berarti Lunar Calendar.
Di Indonesia banyak keturunan orang Hokkien, maka
sebutan Tahun Baru Imlek menjadi kebiasaan yang
dipakai demi membedakannya dengan Tahun Baru yang
dirayakan pada tanggal 1 Januari.
Di Singapur umumnya disebut Chinese New Year, tanpa
diberi penerangan tambahan apakah itu berdasarkan
Lunar Calendar atau Western Calendar. Jadi,
perbedaannya hanya Chinese New Year dan New Year.
Menjelang Chinese New Year, seorang anak pernah
bertanya pada saya, “Yang dinamakan Chinese itu siapa
sebenarnya?” Nah, jawaban bagi pertanyaan singkat ini
gampang gampang susah, tapi sangat signifikan.
“Ya orang orang seperti kita ini yang merayakan Chinese
New Year,” jawabku singkat, mengharap ia puas.
“Jadi, kalau kita tidak merayakan Chinese New Year, kita
bukan Chinese?” Agaknya ia belum puas.
“Bukan begitu,” aku mulai mulai putar otak melayani
pertanyaan anak ini yang rupanya agak juwet.
“Jadi bagaimana, ya?” Ia bertanya dengan nada serius.
“Chinese adalah orang orang yang hidupnya tetap
berpegang teguh mengikuti kebiasaan budaya Chinese,
satu antaranya merayakan Chinese New Year.” Nah, ini
kedengarannya lebih mentok. Aku mulai merasa lega.
“Oh ya? Ini berarti kalau orang kulit hitam dari
Afrika Selatan atau kulit putih dari negeri Swedia ikut
merayakan Chinese New Year mereka akan menjadi
Chinese sama seperti kita?”
“Bukan, bukan begitu maksudku.” Aku mulai risih
dengan pertanyaannya yang semakin menekan.
“Jadi bagaimana, ya?”
“Hidup berdasarkan budaya Chinese tidak dapat dijelma
dengan satu kali merayakan Chinese New Year dalam
hidupnya.”
“Bagaimana kalau mereka merayakannya dua kali, atau
dua puluh lima kali dalam hidupnya, apa itu berarti
mereka sudah jadi Chinese?” Ia memandangku dengan
pancaran mata seakan aku adalah sumber pengetahuan,
pandangan anak kecil terhadap orang dewasa.
“Tidak juga, itu hanya berarti mereka gemar dengan
kebiasaan hidup dan budaya orang Chinese. Tapi tidak
merubah mereka menjadi Chinese.”
“Ooh sekarang aku mengerti.” Ia tersenyum puas.
“Baiklah kalau kamu sudah mengerti,” jawabku, ingin
memberi kesan bahwa aku adalah orang dewasa yang
berpengetahuan luas.
Namun dalam hati kecilku, aku sendiri tidak yakin
bagaimana sebenarnya membedakan Chinese dengan non
Chinese secara keseluruhan dalam satu lingkaran definisi.
Dunia berubah dan berubah tanpa berhenti. Yang tidak
berubah agaknya adalah the retail industry terpajang
sepanjang Orchar Road dan daerah China Town, Eu
Tong Sen Road dimana orang berjubel datang membeli
belah dan barang makanan yang berhubungan dengan
perayaan Chinese New Year. Perayaan yang banyak
menguntungkan para pedagang retail dan wholesale,
maka merekalah yang paling kuat mendengungkan
perayaan Chinese New Year.
This post was submitted by May Swan / IM.

