Kelenteng Toa Se Bio, Keseimbangan Yin dan Yang

Posted on January 15 2012 by Isyanto / SH

Hari masih sore. Seperti biasa, lalu lintas di kawasan Glodok, Jakarta Barat, padat-merayap. Kemacetan tidak hanya terjadi di jalan utama, Jalan Pintu Besar Selatan, namun juga hingga jalan-jalan kecil di sekitar Glodok, termasuk Jalan Kemenangan III.

Kemacetan makin lengkap di depan Kelenteng Toa Se Bio, sebuah rumah ibadah tertua di Jalan Kemenangan III, Hal ini disebabkan parkiran sepeda motor pada jalan satu arah tersebut. Rupanya, Selasa (10/1) sore itu ada keramaian di kelenteng.

Teater Bejana mementaskan drama “Nonton Cap Go Meh” di halaman kelenteng yang tidak seberapa luas. Para pemain drama karya sastrawan China Melayu Kwee Tek Hoay berbaur dengan penonton, yang kebanyakan adalah umat Tao atau Buddha yang baru selesai sembahyang.

Yang membedakan penonton dengan pemain drama adalah cara bicaranya. Penonton bicara normal, sedangkan para pemain drama berbicara setengah berteriak untuk mengalahkan bising suara bajaj atau sepeda motor yang terjebak kemacetan di depan kelenteng

“Pementasan ini merupakan uji sebelum kami tampil di Gedung Kesenian Jakarta, 2-4 Februari mendatang,” kata Harry Prasetyo, salah satu pemeran dalam “Nonton Cap Go Meh”.

Menurut Harry, tampil dalam suasana seperti itu menuntut konsentrasi penuh dari para pemain. Jika tidak, pemain bisa lupa pada dialog naskah lantaran kedekatan secara fisik antara pemain dengan penonton.

“Baru kali ini saya bermain drama di tengah penonton,” ujar wartawan salah satu koran terbitan Jakarta itu.

Suasana makin meriah karena acara dilanjutkan dengan pertunjukan barongsai naga oleh perkumpulan barongsai Alam Semesta. Kelincahan para pemain barongsai dan gemuruhnya gamelan membuat pengguna jalan menoleh ke arah biara sambil “menikmati” kemacetan lalu lintas.

Pementasan “Nonton Cap Go Meh” dan barongsai Alam Semesta di Toa Se Bio merupakan bagian dari proyek Dinas Pariwisata DKI dalam rangka “Jakarta Biennale” ke-14. Kebetulan, Toa Se Bio berkesempatan menjadi tempat untuk pertunjukan ini. Toa Se Bio sendiri merupakan kelenteng bersejarah dan salah satu kelenteng yang menjadi objek wisata.

“Sayangnya, akses jalan menuju Toa Se Bio kecil, satu arah dan macet. Sudah begitu, tidak ada tempat untuk parkir mobil atau bus. Yang ada, tempat parkir sepeda motor. Akibatnya, turis jadi malas datang ke sini,” kata Alan, seorang Tao yang baru saja sembahyang dan ikut menonton pertunjukan tersebut.

Pengurus Kelenteng Toa Se Bio, Andi Santosa, mengakui baru kali ini diadakan pertunjukan drama di tempat ibadah itu. Oleh karena itu, banyak umat yang terheran-heran. “Asal maksudnya baik, kami selalu terbuka untuk siapa pun, termasuk untuk perkumpulan drama yang ingin pentas,” kata Andi.

Dibakar Massa

Secara harafiah, Toa Se Bio berarti ‘kelenteng utusan’. Memang, pada abad ke-15 seorang utusan Raja Cheng Goan Cheng Kun dari China Selatan pernah datang ke Glodok untuk bersilaturahmi dengan pengurus Kelenteng Cheng Goan Cheng Kun. Pendiri kelenteng ini adalah seorang pedagang yang berniaga di Pasar Glodok.

Tampaknya, ia seorang pengagum atau pengikut Raja Cheng Goan Cheng Kun. Oleh karena itu, untuk mengingat sang raja, ia mendirikan kelenteng dengan nama tersebut. Belakangan, nama Toa Se Bio lebih dikenal ketimbang nama Cheng Goan Cheng Kun, karena Toa Se Bio lebih mudah diingat ketimbang Cheng Goan Cheng Kun.

“Saat terjadi kerusuhan dan pembantaian etnis China pada 1740, kelenteng ini sempat dibakar massa. Yang selamat hanya patung Cheng Goan Cheng Kun dan hio lo (tempat menancapkan lidi hio yang biasa diletakkan di altar di depan patung dewa). Kini, patung tersebut kami simpan di lemari kaca di lantai atas agar tidak rusak, mengingat usianya yang sudah sangat tua. Yang kami pasang di altar kelenteng ini adalah replikanya,” kata Andi.

Adapun hio lo tetap berada di tempat semula, dapat dilihat oleh semua orang. Hio lo bertulisan aksara China kuno ini kerap menjadi objek penelitian mahasiswa dan dosen Universitas Indonesia.

“Salah satu keistimewaan kelenteng ini adalah sangat manjur untuk bersumpah. Yang menepati janji sumpahnya di depan altar kelenteng ini hidupnya akan berjaya, sedangkan yang kukuh dengan kebohongannya akan celaka,” kata pengurus Kelenteng Toa Se Bio lain yang enggan disebut namanya.

Kelenteng dibangun kembali sepuluh tahun kemudian atau pada 1750 dengan nama yang sama. Umat pada waktu itu menggalang dana selama bertahun-tahun agar Toa Se Bio tegak kembali.

Sepanjang sejarahnya, Toa Se Bio mengalami beberapa kali perluasan dan penambahan areal dengan membebaskan tanah warga di sekitarnya. Kini, Toa Se Bio berdiri di atas tanah seluas kurang lebih 2.000 meter persegi.

“Perubahan bangunan kelenteng ini hanya pada lantai, sedangkan langit-langit dan atap tidak pernah berubah, yakni, atap melengkung yang menyerupai ekor burung walet,” kata Andi.

Yin dan Yang

Berdasarkan pengamatan SH, kelenteng selalu dibangun berdekatan atau di tengah pasar.

Contohnya adalah Kelenteng Boen Tek Bio yang dengan Pasar Lama Tangerang, Hok Tek Tjeng Sin dekat Pasar Karet dan Pasar Bendungan Hilir, Hok Tek Tjeng Sin Cidodol dekat Pasar Kebayoran Lama, belum lagi kelenteng lain yang dekat Pasar Pal Merah, Pasar Pecah Kulit, dan Pasar Glodok. Pertanda apakah itu?

“Kelenteng selalu dibangun dekat pasar untuk memudahkan umat Tao atau Buddha berdoa sebelum dan sesudah melakukan aktivitas dagang. Mereka berdoa sebelum berdagang agar mendapatkan rezeki yang berlimpah. Usai berdagang, mereka berdoa untuk beryukur atas rejeki yang dilimpahkan Yang Maha Kuasa hari itu,” kata Andi.

Namun yang terpenting dari semua itu, lanjut Andi, kedekatan kelenteng dengan pasar bertujuan menjaga keseimbangan antara Yin (hawa dingin) dan Yang (hawa panas).

Orang berdagang itu biasanya hawanya panas, karena persaingan dan mengejar keuntungan. Hal ini harus diimbangi dengan hawa dingin berupa doa dan derma. Dengan cara ini diharapkan para pedagang menjadi tidak serakah, tidak kikir, dan tetap welas asih terhadap sesama.

“Yah, kayak tubuh manusia saja. Kita harus memasukkan makanan agar ada tenaga dan tetap hidup. Tapi, kita juga harus mengeluarkannya. Jika kita tidak mengeluarkannya, akan timbul penyakit,” kata Andi.

This post was submitted by Isyanto / SH.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply