PILOT Lion Air berinisial Han ditangkap bersama pacarnya saat berpesta narkoba di Hotel Grand Clarion, Makassar, Selasa (10/1). Pilot itu sudah diintai sejak dari Jakarta. Dia bersama rekannya, Hen, beserta empat orang lainnya kini diperiksa di Jakarta.
Kabid Humas Polda Sulawesi Selatan dan Barat Kombes Chevy AS mengatakan, pilot Han sudah diikuti petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) dari Jakarta hingga ke tempat kejadian di Studio Karaoke 33 Hotel Grand Clarion. Pihak BNN mendapat informasi, selain pilot itu juga ada rekannya, Hen, yang diduga membawa sabu dalam jumlah cukup besar ke Makassar.
“Polda Sulselbar hanya mendampingi BNN dan BNP, karena ini operasi pusat. Para tersangka sudah dibawa ke Jakarta, tidak ditangani Polda Sulselbar,” kata Chevy, Rabu (11/1).
Pejabat Humas BNN, Sumirat mengatakan, tim BNN tengah melakukan pendalaman dan pengembangan di lapangan untuk mengetahui apakah Han dan temannya terlibat dalam jaringan pengedar narkoba atau hanya sebagai pemakai. “Kamimasih melakukan pendalaman,” katanya.
Menurut analisa BNN, tidak terutup kemungkinan ada orang lainnya yang juga berprofesi sebagai pilot yang terlibat penyalahgunaan narkoba. “Diduga ada, tapi masih dalam proses penyelidikan,” ujar Direktur Narkotika Alami BNN, Brigjen Benny Mamoto, saat dihubungikemarin.
Seperti diberitakan, Han dan Hen ditangkap tim BNN di salah satu ruang studio karaoke. Dari tangan mereka disita beberapa paket sabu dan alat isap. Penggerebekan yang dipimpin langsung Benny Mamoto itu sempat mengagetkan sang pilot dan rekan-rekannya. Kepada petugas, Hen membantah sebagai pemasok narkoba di Makassar.
“(Yang ditangkap) Ada 6 orang, terdiri atas 3 laki-laki dan 3 perempuan,” ujar Benny Mamoto  kemarin.
Dia mengatakan, tiga laki-laki tersebut termasuk pilot Lion Air, Han. Yang dua lagi Hen dan Da. Hen adalah pengusaha di Makassar.
“Kami geledah di situ. Dia (pilot—Red) bersama temannya, seorang pengusaha di Makassar,” kata Benny.
Adapun Da, kata Benny, merupakan anak muda yang tinggal di Makassar. Sedangkan tiga perempuan yang ikut ditangkap terdiri atas Ae, Di, dan Si. Salah satunya adalah adalah pacar pilot Lion Air tersebut.
“Bukan pramugari, tapi anak muda di situ juga,” ujar Benny .
Penangkapan itu terjadi Selasa (10/1) sekitar pukul 00.00 Wita. Dari tangan Han dkk disita beberapa paket sabu beserta alat isapnya.
Setelah melakukan penggerebekan serta menyita sejumlah barang bukti di tempat karaoke, Benny bersama anggotanya melanjutkan penggeledahan di salah satu kamar hotel di Makassar yang merupakan tempat menginap Han. Dari kamar tersebut disita satu paket sabu seberat 0,3 gram yang ada di dalam saku pakaian sang pilot, beberapa plastik bekas sabu, dan 2 alat isap sabu alias bong.
Tingkatkan pengawasan
Direktur Umum Lion Air Edward Sirait saat dimintai konfirmasi soal kasus ini menuturkan bahwa ia sangat menyesali hal tersebut. “Kami akan meningkatkan pengawasan terhadap seluruh karyawan kami supaya hal seperti ini tidak terjadi lagi,” kata Edward .
Edward menuturkan, Lion Air sendiri sebenarnya selalu mengadakan cek rutin terhadap seluruh karyawannya. “Kami melakukan tes kesehatan jasmani dan rohani setiap enam bulan sekali. Kami juga melakukan tes urine secara sampling,” ujarnya.
Mengenai upaya peningkatan pengawasan para karyawannya, Edward melanjutkan, pihaknya akan mengawasi seluruh gerak-gerik karyawan, terutama sebelum terbang. “Akan kami lihat gelagat-gelagatnya. Bila ada yang mencurigakan, kami akan ambil tindakan,” kata Edward lagi.
Edward mengakui, kasus ini adalah peristiwa kedua. “Beberapa tahun sebelumnya, karyawan kami juga pernah ada yang kedapatan mengkonsumsi narkoba. Tapi detailnya saya lupa,” katanya.
Membahayakan
Kementerian Perhubungan segera bertindak mencabut sementara (suspend) lisensi pilot Lion Air, Han. “Lisensi sebagai pilot yang bersangkutan di-suspend,” kata Kepala Humas Kemenhub Bambang S Ervan ketika dihubungi kemarin.
Dia mengatakan, lisensi itu bisa dicabut sementara atau dicabut seterusnya, tergantung hasil proses hukum terhadap pilot bersangkutan di persidangan nanti. “Dari hasil persidangan dilihat apakah yang bersangkutan pengguna atau pengedar narkoba. Nanti ada pertimbangan dokter juga,” kata Bambang.
Pengamat penerbangan Alvin Lie sangat menyayangkan pilot maskapai penerbangan komersial terlibat pesta narkoba. “Itu jelas sangat membahayakan keselamatan penerbangan. Jangankan pilot, sopir truk saja harus tes narkoba. Begitu ada indikasi narkoba, tidak boleh nyopir. Apalagi ini pilot pesawat terbang,” katanya ketika dihubungi kemarin.
Alvin mendesak Dirjen Perhubungan Udara memperketat uji kesehatan para pilot, termasuk memberlakukan kewajiban uji narkoba. “Karena pilot setiap enam bulan harus uji kesehatan, mungkin perlu ditambahkan dalam uji kesehatan ada tes narkoba sekalian. Sebab sejauh ini tidak ada tes narkoba. Lebih pada tes kesehatan fisik, urine, obesitas, pendengaran, penglihatan, jantung, dan lainnya,” ujarnya.
Sementara itu kalangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) meminta kepada seluruh maskapai penerbangan melakukan tes urine terhadap semua pilotnya. Hal itu untuk mengantisipasi terulangnya kejadian pilot tertangkap tangan mengonsumsi narkoba. Sang pilot yang terbukti nyabu harus mendapatkan hukuman berat karena sudah membahayakan nyawa penumpangnya.
“Saya mengapresiasi hasil kerja dari BNN. Semoga saja ini menunjukkan bahwa operasi BNN tidak pandang bulu, siapa pun yang menyalahgunakan narkoba akan digilas,” ujar politisi PKS yang juga anggota Komisi III DPR, Aboebakar Alhabsy, kemarin.
Namun di sisi lain, kata Aboebakar, ini peringatan bagi bangsa Indonesia atas bahaya laten narkoba yang menggurita ke segala kalangan. “Narkoba telah dikonsumsi oleh semua kalangan, Karenanya, kewaspadaan nasional terhadap narkoba harus ditingkatkan,” ujarnya.
Belajar dari kasus ini, kata Aboebakar, tes urine sebenarnya tak hanya diperlukan untuk para sopir bus, tapi juga untuk para pilot. “Ini kan mengancam keselamatan publik. Karenanya, harus ada upaya deteksi dini dari pemerintah. Lucu, pas di pesawat kita diingatkan pramugari jangan membawa narkoba karena ada ancaman pidana yang cukup berat, namun justru pilotnya yang pakai narkoba,” ujarnya.
Kedua kali
Bagi maskapai penerbangan Lion Air, ini merupakan kali kedua pilotnya tertangkap memakai narkoba. Sebelumnya seorang pilot Lion Air bernama Moh Nasri diadili di Pengadilan Negeri Tangerang, karena tertangkap ketika menikmati barang haram itu.
Jaksa penuntut umum Sukanto SH mengatakan, terdakwa ditangkap petugas saat pesta sabu-sabu bersama rekannya, Imron dan Husni Thamrin (kopilit), di apartemen Modern Golf Kota Tangerang lantai 6 kamar 7.
Saat petugas menggerebek, ditemukan pil ekstasi di saku baju terdakwa serta sabu-sabu yang disimpan di dasinya. Menurut terdakwa, pil ekstasi itu miliknya dan sempat dikantonginya saat terbang ke Surabaya. Namun untuk barang bukti sabu dia tidak tahu kenapa terselip di dasinya yang biasa dipakai untuk dinas pilot.
Menurut terdakwa, ketika akan menerbangkan pesawat ke Surabaya, dia ditelepon oleh Husni Thamrin (kopilot) agar mengambil pil ekstasi kepada terdakwa Lidyawati (disidangkan terpisah) di sebuah minimarket yang berlokasi di belakang Bandara Soekarno-Hatta.
Saksi ahli, psikiater Carlania Lusi, yang didengar keterangannya di sidang menjelaskan, dia pernah memeriksa Moh Nasri saat masih diperiksa polisi.
Menurut dia, Nasri adalah pencandu sabu dan pil ekstasi. “Dia mengaku sehari nyabu dua kali dan terkadang dilakukan di udara,” kata psikiater yang bertugas di RS ketergantungan obat di Cibubur tersebut.
This post was submitted by WK ./ IM.






















Narkoba kadang-2 malah bisa menjadikan STIMULANS kerja yg baik bagi individu tertentu.Ada seorang dokter ahli bedah bahkan baru hanya bisa mennjalankan pekerjaannya dengan lebihi baik jika sesudah dalam pengaruh narkoba. Mungkin Capt. Harun A, ini demikian juga karena dia bahkan sudah mempunyai ribuan jam terbang dengan selamat.
mengantisipasi keselamatan jutaan penumpang pesawat terbang, SUDAH SAATNYA DIBERLAKUKAN SANKSI TERHADAP PERUSAHAAN PENERBANGAN YANG MEMPEKERJAKAN PECANDU NARKOBA,.