
Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol. Sutarman
Polri masih bersikukuh bahwa rangkaian kekerasan yang terjadi belakangan ini, hingga penembakan rumah calon bupati Aceh Utara Misbahul Munir, adalah kriminal murni.
Padahal Gubenur Aceh Irawadi Yusuf dengan gamblang di hadapan rombongan Komisi III DPR RI yang melakukan kunjungan kerja ke Banda Aceh mengatakan, eskalasi kekerasan yang terjadi belakangan karena ada pihak yang tidak ingin dirinya maju lagi sebagai calon gubernur.
Berbagai lembaga swadaya masyarakat dan pengamat juga mengatakan hal yang sama, bahwa kekerasan itu terkait pilkada.
Usai pertemuan dengan Tim Pemantau Otsus Aceh dan Papua, di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (12/1), Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol. Sutarman mengungkapkan, penyidik Mabes Polri belum menemukan keterkaitan antara aksi penembakan dengan Pilkada di Aceh. Â Situasi keamanan di Aceh sampai dengan sekarang juga dapat dipastikan masih mendukung untuk diselenggarakannya pilkada.
“Sampai saat ini, berdasarkan laporan dari Kapolda Aceh, situasi keamanan di sana masih mendukung untuk dilakukan pilkada. Sejauh ini, rangkaian aksi penembakan yang terjadi belum ditemukan terkait dengan pilkada. Masih kriminal murni, karena penembakan menyasar kepada orang-orang tidak berdosa, seperti pekerja Tetapi, kita juga terus memantau perkembangan situasi di sana,” katanya.
Sutarman menginformasikan bahwa telah ditetapkan 2 tersangka untuk kasus penembakan di Aceh pada 4 Desember 2011. “Dari situ kita terus mendalami. Kita juga sudah menemukan beberapa selongsong peluru,” ucapnya.
Mabes Polri, kata dia, akan mendukung penuh upaya menjaga keamanan dan mengejar pelaku penembakan yang lain. Langkah tersebut sudah menjadi kewajiban kepolisian agar dapat mencegah kembali terjadinya aksi penembakan dan teror yang tidak diinginkan semua pihak.
Mabes Polri juga telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki termasuk menerjunkan Detasemen Khusus (Densus) 88. “Polda Aceh pun sudah melaksanakan patroli gabungan dalam jumlah besar, sekaligus lakukan berkomunikasi dengan masyarakat. Razia juga dilakukan di tempat tertentu, untuk persempit ruang gerak pelaku penembakan,” jelasnya.
Sutarman berpendapat, aksi penembakan sepertinya dilakukan memang untuk menimbulkan ketakutan masyarakat. Â “Tapi, sekali lagi, kami akan ungkap dari aspek kriminalnya dengan alat bukti dan keterangan saksi yang diperoleh, ditunjang kekuatan yang ada. Mari kita tegakan hukum demi Aceh yang lebih damai,” harapnya.
Sebelumnya, dalam pertemuan dengan Tim Pemantau Otsus Aceh dan Papu, Deputi Koordinasi Keamanan Nasional Menteri Politik Hukum dan Keamanan, Hendro Agung menyatakan, insiden penembakan oleh orang tak dikenal beberapa hari terakhir harus diungkap.
Pasalnya, gangguan ini sangat meresahkan masyarakat. “Kami mendukung Polda untuk merazia senjata api,” kata Hendro.
Segera Ungkap
Pihak kepolisian harus segera mengungkap berbagai kasus penembakan dan teror yang terjadi di Aceh. Kalau perlu, untuk menangkap pelaku penembakan dan teror tersebut, kepolisian dapat mengajak semua kalangan, termasuk mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Hal itu disampaikan Ketua Tim Pemantau Otonomi Khusus Aceh dan Papua, Priyo Budi Santoso, di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (12/1). “Saya berpesan kepada Kapolri supaya segera lakukan langkah terbaik untuk mengungkap peristiwa penembakan dan teror yang meresahkan dan menjadikan situasi keamanan tidak kondusif,” kata Priyo.
Wakil Ketua DPR RI tersebut berharap, apabila pelaku sudah tertangkap, kepolisian langsung mengumumkannya kepada publik. Kepolisian jangan ragu-ragu untuk melakukannya.
“Polri harus umumkan ke publik. Selain itu, pers juga perlu menyiarkannya secara penuh, karena tindakan penembakan dan teror yang terjadi merupakan perbuatan tidak terpuji,” ujar Priyo yang juga menjabat Ketua DPP Partai Golkar
This post was submitted by SP / IM.

