‘Orang Jawa’ Belajarlah Arti Nasionalisme dari Penggergaji Tower PLN Aceh!

Posted on January 10 2012 by Kanedi / Kps

Belum lagi kasus penembakan pekerja galian kabel fiber optic Telekom asal Jawa di Aceh terungkap, sepekan kemudian bumi rencong kembali dihebohkan oleh robohnya tower PLN di Aceh Utara akibat digergaji orang tak dikenal.

 

Berbeda dengan kasus penembakan, kasus penggergajian tower PLN sudah menunjukkan titik terang. Itu berkat tertangkapnya empat pemuda saat sedang beraksi “membongkar” tower telepon seluler diLhokseumawe.

 

Meskipun tidak dapat disimpulkan langsung bahwa kedua kasus tersebut saling bertemali, tetapi secara tersirat ada pelajaran berharga dari kedua peristiwa yang terjadi dalam sepekan itu.

 

Dari kasus penembakan, terungkap bahwa semua korban (target) adalah para pekerja (buruh kasar) asal Pulau Jawa. Motif penembakan itu banyak sekali kemungkinannya, misalnya karena kepentingan politik lokal terkait pemilukada atau karena adanya sentimen lama GAM. Tetapi sulit dipahami mengapa harus membunuh para pekerja asal Jawa yang notabene bekerja untuk pembangunan telekomunikasi Aceh?

 

Dari kasus tertangkapnya empat pemuda pelaku penggergajian tower ponsel terungkap bahwa motif mereka mempreteli menara ponsel itu karena ingin mengambil komponen aluminium menara tersebut untuk dijual guna memenuhi kebutuhan ekonomi.

 

Jika benar pengakuan keempat pemuda itu melakukan perobohan menara ponsel dan/atau menara PLN karena desakan ekonomi, maka kejadian tersebut telah membuka mata kita bahwa di Aceh masih banyak orang tak memiliki pekerjaan sehingga harus “mencuri” besi dan aluminium untuk makan.

 

Disinilah isu nasionalisme relevan dikedepankan. Terutama relevan untuk ditanyakan kepada PT Telkom atau rekanannya. Jika benar di Aceh masih banyak pengangguran mengapa untuk melakukan penggalian kabel saja harus membawa tenaga kerja dari Jawa? Apakah di Aceh tidak tersedia tenaga buruh kasar yang bisa melakukan pekerjaan tersebut?

 

Seandainya para pekerja penggalian jalur kabel itu mayoritas dari Aceh, apakah mereka akan ditembaki? Atau, andai saja proyek penggalian itu disub-tenderkan kepada pemborong lokal, apakah juga mereka harus mendatangkan pekerja dari Jawa?

 

Jika jawaban kedua pertanyaan itu semuanya “tidak” maka jelas ada sesuatu yang perlu dikoreksi dalamkebijakan pelaksanaan proyek pembangunan di republik ini, khususnya proyek-proyek besar yang ditangani pusat (baca Jawa).

 

Sebagaimana diketahui banyak proyek-proyek besar yang lokasinya di daerah tetapi pemenang tendernya adalah perusahan swasta nasional atau BUMN. Nah perusahaan-perusahan kategori ini umumnya berkantor pusat di Jawa.

 

Mereka sepertinya tidak mau ambil risiko dengan merekrut tenaga lokal dimana proyek tersebut dibangun. Alasannya beragam, tenaga lokal kurang trampillah, kurang disiplinlah, dan sebagainya. Maka jalan pintasnya adalah dengan membawa tenaga kerja yang sudah mereka kenal skill dan disiplinnya.

 

Padahal, dalam konteks nasional hakikat pemerataan pembangunan bukan hanya soal menyebarkan objek fisik semata-mata, melainkan juga bagaimana mendistribusikan skill dan sikap professional itu ke daerah-daerah. Bila orang daerah tidak pernah diberi kesempatan untuk berlatih dan bekerja, dari mana mereka bisa memperoleh ketrampilan.

 

Di sinilah pentingnya peran pengusaha (pengusaha nasional) untuk memikirkan, merumuskan, dan menerapkannya. Tentu saja itu semua butuh dukungan (force) dari pemerintah untuk memastikannya.

 

Sudah saatnya BMUN dan Perusahaan Swasta Nasional (yang ada di Jawa) berhenti memilih jalan pintas dengan mengabaikan potensi SDM lokal dalam merekrut tenaga kerja untuk proyek-proyek di daerah.

 

Cukuplah pengalaman kita dengan Freeport, sebuah perusahaan pertambangan raksasa yang hanya bisa memamerkan kemewahan di tengah hutan belantara, tanpa membawa perubahan berarti bagi kemajuan dan kesejahteraan penduduk lokal di tanah Papua.

 

Hanya dengan kepekaan terhadap aspirasi rakyat di daerah yang disertai dengan pelibatan masyarakat lokal di dalam kegiatan pembangunan di daerahlah jargon-jargon nasionalisme mempunyai makna dan NKRI dapat dipertahankan dengan harga pasti, bukan dengan harga mati.

This post was submitted by Kanedi / Kps.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

3 Responses to “‘Orang Jawa’ Belajarlah Arti Nasionalisme dari Penggergaji Tower PLN Aceh!”

  1. suroso says:

    keterlibatan masyarakat lokal dalam kegiatan pembangunan daerah harus diikutsertakan dan mutlak. namun masalahnya, apakah masyarakat mampu mengikuti situasi pekerjaan. sebab proyek di daerah umumnya memiliki waktu yang sedikit dalam konteks tahun anggaran pemerintah. masyarakat lokal yang dilibatkan biasanya selalu manja karena mereka berpikir bahwa pekerjaan yang dilakukan diwilayah mereka, sedangkan pihak kontraktor tentu membutuhkan waktu yang singkat dan tepat. oleh karena itu kontraktor menggunakan tenaga kerja dari luar daerah sangat dibutuhkan mengingat keterampilan sudah dimiliki.
    tenaga kerja lokal umumnya hanya mampu bekerja sampingan bukan sebagai keahlian, sedangkan tenaga kerja luar sudah memiliki keahlian dan waktu dalam pekerjaan. jika tenaga kerja lokal tidak diperhatikan biasanya akan menjadi sandungan di daerah tersebut. (adanya pemaksaan pekerjaan, keamanan dll)

  2. Al-Asyi says:

    Upaya untuk menjelek2kan aceh tak pernah berhenti, sepertinya memang "mereka" tak ingin melihat kami hidup damai berdampingan dengan suku manapun di negeri ini. Kami tak benci siapapun mereka yang menginjak tanah rencong demi kemaslahatan. kami benci kemungkaran tapi tak pernah benci mereka yang mencari rezeki. skenario membenturkan aceh dan jawa ini memang layak jual utk menggiring aceh kembali berkonflik. bila konflik, "mereka" akan untung, dengan modal M-16, saat pulang jadi 16 M. mereka yang kopral bisa menjadi jenderal. lantas, jika tak ikhlas menganggap kami sebagai bagian negara "mereka", biarkan kami berdiri sendiri, dengan indentitas lama semisal negara turunan Kerajaan Aceh Darussalam, masa nenek moyang dulu, terima kasih…

  3. sbagio says:

    karena orang jawa rajin-rajin ulet, disiplin, mau prihatin,pekerja kasar yang handal tidak banyak amenuntut itulah mengapa para pemborong memilih orang dari jawa gituuuuu…….

Leave a Reply