
Dua hari yang lalu kutulis sebuah artikel dengan judul: BAGAIMANA
MEMAHAMI TIONGKOK “DULU” DAN SEKARANG — BERANIKAH MENJADIKAN TIONGKIOK
SEBAGAI TELADAN? Artikel tsb ditulis karena tergugah oleh dua buku yang
belum lama terbit. Yang satunya adalah buku berjudul “Verbijsterend
CHINA Wereldmacht van een Andere Soort”, “Tiongkok Yang Mengagumkan –
Suatu Kekuasaan Dunia Macam Lain”. Ditulis oleh wartawan kawakan Belanda
Jan van der Putten.
Yang satunya adalah yang ditulis oleh penulis tentang Tiongkok yang
cukup terkenal, Annette Nijs. Hubungannya dengan Tiongkok adalah di
bidang bisnis dan perguruan tinggi di Shanghai. Buku yang ditulisnya
berjudul “China Met Andere Ogen”, “Melihat Tiongkok dengan Cara
Pandangan Lain”. Annette Nijs menunjukkan kemajuan-kemajuan
besar-besaran yang dicapai Tiongkok sejak Politik Buka Pintu yang
dirintis oleh Deng Xiaoping. Dan menganjurkan orang berani memandang
Tiongkok dengan cara lain. Bisa melihat keunggulan-keunggulannya dan
BELAJAR DARI TIONGKOK.
* * *
Dalam bukunya itu Jan van der Putten. a.l. Menulis bahwa fihak Barat
dalam waktu panjang mengantisipasi bahwa Tiongkok akan menjadi sebuah
negeri demokrasi <Barat>. Bahwa sistim ekonomi Tiongkok dibanding dengan
sistim ekonomi Barat adalah inferiur, asor. Dan karena Politik Buka
Pintu, Tiongkok akhirnya akan berubah menjadi sebuah negeri model Barat.
*Perkembangan selama hampir tigapuluhtahun belakangan ini menunjukkan
bahwa analisis dan harapan Barat itu melését. Jan van der Putten
menguraikan cukup jernih bahwa Tiongkok merupakan kekuasaan dunia yang
lain samasekali.*
Tiongkok, tulis van der Putten, dibimbing oleh norma-norma dan
nilai-nilai Tiongkok sendiri. Oleh tradisi Tiongkok sendiri, bukan oleh
norma dan nilai-nilai Barat.
Yang menarik kesimpulan Jan van der Putten ialah bahwa *TIONGKOK MUNGKIN
AKAN DENGAN SENJATA MELINDUNGI KEPENTINGAN EKONOMINYA, TETAPI TIONGKOK
TIDAK AKAN MEMAKSAKAN SISTIM POLITIKNYA PADA NEGERI LAIN.*
** * **
Tulisan-tulisanku yl mengenai Tiongkok bukan disebabkan oleh suasaa
menjelang TAHUN BARU IMLÉK. Tahun Baru Imlek, di Betawi “tempo doeloe”
dikenal sebagai “Tahun Baru Tjiné” atau bahkan ‘Lebaran Tjiné’. Jadi
Imlek itu jelas sekali kaitannya dengan orang-orang Tionghoa. Dirayakan
terutama oleh orang-orang Tionghoa dan orang Indonesia turunan Tionghoa.
Tetapi orang Indonesia, orang-orang Bumiputera ketika itu tidak kurang
gairah ikut merayakan ‘Tahun Baru Ciné’. Dengan band musik ‘tandji-dor’
dan ‘ondél-ondél’-nya. Pokoknya cuku ramai, déh!
Kehidupan budaya antara bangsa Indonesia dan orang-orang Tionghoa
pendatang dan mereka yang telah menjadikan Indonesia sebagai negerinya
sendiri, yang harmonis dan damai, tiba-tiba berakhir mendadak, menjadi
rusak porak-poranda — ketika Jendral Suharto merebut kekuasaan negara
dan memulai suatu kampanye rasialis anti-Tionghoa dan anti-Tiongkok.
Kita pasti tidak bisa melupakan betapa biadab dan kejamnya Orde Baru
menjalankan politik rasialis dan diskriminasi terhadap orang-orang
Tionghoa di Indonesia dan warga Indonesia keturunan Tionghoa. Namun,
para pendukung Orba yang sekarang masih berjaya di Indonesia sesudah
Suharto ditumbangkan,– baik di dunia bisnis, pemerintahan, budaya
maupun bidang-bidang lainnya *sengaja hendak melupakan kejahatan dan
kebiadaban politik rezim Orba tsb*. Berkat politik Presiden Gus Dur dan
Megawati Sukarnoputri, politik anti-Tionghoa dan anti-Tiongkok tsb pada
pokoknya sudah tidak nampak lagi di permukaan kehidupan dewasa ini.
* * *
Dibawah ini disiarkan sebuah tulisanku tertanggal 23 Januari 2007.
Silakan baca! Isinya masih relevan dengan situasi sekarang. Sekarang
bisa dianggap bahwa tulisan ini disiarkan kembali dalam rangka
menyongsong TAHUN BARU IMLEK. Tahun Baru Imlék jatuh pada tanggal 23
Januari yad.
*TIONGKOK Yang KUKENAL (1)*
Enam tahun yang lalu, pada waktu Republik Rakyat Tiongkok mencapai usia
50 tahun, aku ditilpun VARA dari Hilversum. Radio/TV VARA adalah sebuah
pemancar non-pemerintah yang dapat subsidi dari pemerintah Belanda. VARA
mengundang aku untuk datang ke studio mereka. Mereka bertanya: Apakah
aku bersedia diwawancarai berkenaan dengan usia setengah abad Republik
Rakyat Tiongkok? Mengapa aku? Fikirku. Why me? Tetapi pertanyaanku itu
tak penting untuk dijawab. Penilpun dari VARA itu kujawab serta merata:
‘Ja Meneer! Ik accepteer uw uitnodiging’. Ya, undangan kalian saya terima.
VARA gembira dan segera mengatur menjemput aku di rumah untuk kemudian
mengantar kembali pulang. Suatu service istimewa, fikirku. Mengapa?
Nyatanya, ketika itu di mancanegara sedang ramai-ramainya media
membicarakan tentang Republik Rakyat Tiongkok dan Tiongkok secara umum,
berkenaan dengan ulang tahun ke-50 Republik Rakyat Tiongkok. Logis, di
Belanda VARA tidak ingin ketinggalan, untuk juga ambil bagian dalam
mengomentari Tiongkok Baru. Untuk itu a.l VARA memanfaatkan aku.
Satu hal yang gencar sekali disasar oleh wartawan VARA yang
mewawancaraiku, adalah masalah ‘pelanggaran HAM di Tiongkok’. Kata
wartawan VARA itu: Anda punya hubungan baik dengan Tiongkok. Adakah Anda
persoalkan masalah HAM dengan pejabat-pejabat Tiongkok? Kebetulan aku
bisa jawab langsung. Aku katakan kepadanya, karena aku punya hubungan
baik dan bersahabat dengan Tiongkok, aku tidak segan dengan terus
terang, langsung dan terbuka bicara mengenai kritik-kritik yang ada
terhadap Tiongkok, khususnya yang bersangkutan dengan ‘pelanggaran HAM’.
Dalam tahun 1998 aku mengunjungi Tiongkok (lagi), kataku kepada VARA. Di
salah satu tempat di Tiongkok, aku berdialog dengan seorang kader
pimpinan Tiongkok setempat, tingkat provinsi. Aku kemukakan kepada
pejabat provinsi itu, tentang komentar mengenai pelanggaran HAM di
Tiongkok. Sahabatku kader provinsi itu, mendengarkan dengan sabar
tentang kritik luar terhadap Tiongkok bersangkutan dengan pelanggaran HAM.
Dengan serius dan nada geram, yang tidak disembunyikan, ia berkata:
Orang yang mengeritik kami tentang pelanggaran HAM di Tiongkok, mereka
itu tidak benar. Kritrik-kritik mereka itu tidak adil! Puluhan tahun
lamanya kami bekerja keras untuk memperbaiki dan memajukan peri
kehidupan rakyat Tiongkok. Kami mencapai hasil-hasil yang nyata dalam
pembangunan negeri dan kehidupan rakyat yang lebih baik. Ini adalah
tugas utama kami, ini adalah tugas menyangkut hak-hak azasi manusia
Tiongkok yang harus kami penuhi. Sesungguhnya di Barat dan sementara
negeri lainnya, pelanggaran HAM lebih besar dan lebih serius terjadi.
Lihat di negeri mereka sendiri. Apakah di negeri mereka itu tidak ada
pelanggaran HAM. Jelas ada, bahkan amat besar. Mengapa mereka menjadikan
Tiongkok sebagai sasaran utama mereka?
Aku bisa mengerti reaksi sahabat Tiongkok ku itu. Sebelumnya aku juga
pernah mengajukan pendapatku kepada Tiongkok mengenai masalah ‘oposisi’
di Tiongkok. Tapi mengenai itu nanti akan dibicarakan belakangan.
* * *
Menyela sedikit.
*
Sudah beberapa kali aku menulis tentang Tiongkok. Masih saja kurasa ada
perlunya menulis lagi, dan menulis lagi tentang Tiongkok.*Karena
Tiongkok perkembangannya begitu cepat dan banyak yang mengatakan:
MENAKJUBKAN. Sahabatku Sugeng Slameto (sayang ia baru-baru ini meninggal
dalam ‘usia muda’), belum lama menulis sampai 9 artikel tentang
Tiongkok, sesudah dalam musim panas y.l bersama satu rombongan terdiri
dari 19 orang Indonesia yang berkunjung ke Tiongkok. Sugeng punya kesan
yang baik dan bersahabat tentang Tiongkok. Aku sengaja menekankan sikap
bersahabat Sugeng Slameto terhadap Tiongkok. Karena kuanggap sikap itu
baik dan tepat.
Memang benarlah apa yang ditulis oleh sejarawan Inggris E.H. Carr
(1961), bahwa, sekarang ini orang ingin mengerti, dan mengambil posisi
terhadapnya, tidak saja tentang keadaan sekitarnya, tetapi juga terhadap
dirinya; dan hal ini telah menambahkan dimensi baru terhadap akal, suatu
dimensi baru terhadap sejarah. Abad ini adalah abad yang paling
history-minded terbanding abad-abad lalu. Manusia modern sampai derajat
yang tak pernah tercapai sebelumnya, sadar akan dirinya dan oleh karena
itu sadar-sejarah. Demikian sejarawan E.H. Carr.
* * *
Ada juga yang bilang, Tiongkok sekarang m e n a k u t k a n. Lalu
berkampanye tentang bahaya Tiongkok sebagai ‘superpower baru’. Tentang
‘Bahaya Kuning’ ,dsb. Kuingat ketika berkunjung ke Indonesia dalam tahun
2001 dan sempat ngomong-ngomong dengan tokoh nasionalis Ruslan
Abdulgani. Beliau menandaskan tentang ‘bahaya mendatang’ yang dihadapi
Asia. Bukan Amerika atau Jepang, kata Ruslan. Tetapi Tiongkok. Nah,
jangan kaget terhadap pendapat Ruslan.
Jurnalis dan penulis terkenal Amerika Edgar Snow (1905-1972), dalam
bukunya RED STAR OVER CHINA (edisi pertama 1936, edisi yang diperbaharui
1972), menandaskan bahwa Tiongkok adalah suatu negeri yang sedang
berrevolusi. Suatu ‘REVOLUTION IN THE MAKING’. Revolusi yang mengubah
Tiongkok itu, kata Snow, adalah suatu transformasi yang paling hebat di
sepanjang 3000 tahun sejarah Tiongkok. Mungkin ada benarnya yang pernah
dikatakan mengenai Tiongkok oleh salah seorang negarawan Perancis,
Napoleon Bonaparte, Kaisar Perancis dan seorang diktator (1804-1815).
Kata Napoleon, di Timur sana ada Singa yamg sedang tidur. Jangan usik!
Karena, begitu bangun sang Singa akan menggemparkan seluruh dunia.
Sebab lainnya, yang mendorong aku sekarang ini menulis lagi tentang
Tiongkok, ialah dialogku belakangan ini dengan penulis dan penyair,
sahabatku, Asahan Aidit. Kami bertukar fikiran mengenai Mao dan buku
bestseller penulis Jung Chang dan suaminya Halliday, ‘MAO, THE UNKNOWN
STORY. Terima kasih sahabatku Asahan, tanggapan-tanggapan Anda
menggugahku untuk menulis lagi tentang Tiongkok.
* * *
Sedikit penjelasan. Mengapa penyiar radio VARA khusus minta aku bicara
dengan mereka? ‘Via-via’, akhirnya mereka tahu bahwa aku adalah seorang
Indonesia yang pernah duapuluh tahun lebih bekerja dan berdomisili di
Beijing (1966-1986).
Sebelumnya, yaitu dalam *musim panas tahun 1963*aku bersama keluarga
pernah diundang ke Tiongkok. Kami saksikan Tiongkok yang baru saja pulih
dari ‘musibah’ yang membawa tidak sedikit korban di kalangan rakyat, dan
kerugian ekonomi besar, akibat dilaksanakannya politik ekonomi Partai
Komunis Tiongkok yang ternyata salah besar, di bawah Mao Tjetung. Yaitu
kebijaksanaan pembangunan ‘Komune Rakyat’ dan ‘Maju melompat besar’
Tujuannya ialah, untuk dalam waktu singkat dan secepat mungkin membangun
Sosialisme di Tiongkok serta melampaui Barat dalam bidang-bidang ekonomi
yang penting. Ketika menyimpulkan pengalaman negatif ini, pimpinan
Tiongkok sesudah meninggalnya Mao Tjetung, menyatakan bahwa politik
ekonomi yang salah itu sumbernya adalah Mao Tjetung, meskipun pimpinan
Partai Komunis Tiongkok dan pemerintah Tiongkok juga menyatakan bahwa
mereka tidak bisa ‘cuci tangan’, dan sebagai penguasa lari dari
tanggung-jawabnya.
* * *
VARA tahu juga bahwa sejak kami meninggalkan Tiongkok lebih sekali aku
berkunjung lagi ke Tiongkok. Dan mungkin tahu juga bahwa aku tetap
memelihara hubungan baik dengan teman-orang Tiongkok yang sebidang
pekerjaan. Yaitu yang aktif di Komite Tiongkok Untuk Setiakawan dengan
Rakyat-Rakyat Asia-Afrika dan dari Komite Tiongkok untuk Persahabatan
dengan Luarnegeri (Youxie) di Beijing.. Bisa saja VARA tahu, juga
via-via, bahwa aku kenal dengan sementara tokoh atau pejabat Tiongkok.
Aku tidak sembunyikan itu. Itu bukan rahasia. Meskipun, bisa saja
macam-macam analisis orang Belanda mengenai kami sekeluarga. Maklum,
meskipun Perang Dingin sudah jadi sejarah, tetapi pengaruh dan dampaknya
pada fikiran sementara orang, termasuk penguasa di Belanda, masih kuat.
Namun, sebagai warganegara Belanda, aku tidak khawatir akan
‘diapa-apakan’ karena diketahui bersahabat dengan Tiongkok, karena,
nyatanya, sekarang ini pemerintah Belanda juga punya hubungan baik
dengan Republik Rakyat Tiongkok. Bahkan ingin mengembangkannya.
Aku tidak sembunyikan bahwa aku bersikap bersahabat dengan Tiongkok.
Bahwa duapuluh tahun lamanya kami sekeluarga tinggal di Tiongkok Bahwa
empat orang putri kami, semuanya bersekolah di Tiongkok. Tiga orang
putri kami menamatkan pendidikan di tingkat universitas/akademi, dan
yang bungsu baru memasuki tahun pertama akademi ekonomi. Kemudian
meneruskan studinya di Belanda.
Meskipun suasana di Belanda, ketika kami baru tiba, masih dalam
cengkeraman kultur ‘Perang Dingin’, bukan main curiga pada Tiongiok dan
segala sesuatu yang Kiri, ditakuti dan mungkin saja diawasi, tokh tak
kusembunyikan sikapku tentang Tiongkok . Seperti biasa ada sementara
yang sejak semula mengambil posisi yang ‘hostile’, anti, benci bahkan
bermusuhan terhadap Tiongkok. Sebabnya macam-macam. Tidak urgen untuk
dimasuki masalah tsb kali ini. Selain yang ‘netral’, ada pula yang
mengambil sikap bersahabat atau bisa dikatakan ‘pro-Tiongkok’. Pada
periode Perang Dingin, bila diketahui bersikap simpati atau bersahabat
dengan Tiongkok, kontan akan dicap ‘Komunis’, atau, kalau itu orang
Indonesia akan dituduh anggota PKI. Sekarang, pada masa pasca ‘Perang
Dingin’, sesudah Tiongkok menempuh haluan politik baru, dengan
diberikannya kesempatan luas bagi modal asing menanam modal dan berusaha
di Tiongkok, memberlakukan ekonomi pasar, dsb., sikap bersahabat dengan
Tiongkok umumnya tidak akan dicap sebagai ‘Komunis’ atau PKI.
* * *
Tak terelakkan ada pertanyaan, mengapa aku, keluargaku yang pernah
duapuluh tahun tinggal dan bekerja di Tiongkok, mengambil sikap
BERSAHABAT dengan TIONGKOK. Dan pertanyaan ini baik dijawab
sebisa-bisanjya. Sejujur-jujurnya.
Hubungan persahabatku dengan Tiongkok Baru, dengan aktivis-aktivis
Tiongkok Baru, telah dimulai jauh sebelum aku dan keluarga berkunjung ke
Tiongkok.
Suatu ketika dalam tahun 1952, bersama seorang kawan lagi, aku diutus ke
Kopenhagen, Denmark, untuk mewakili Pemuda Indonesia dalam suatu
Konferensi Persiapan untuk Kongres Pemuda Sedunia yang akan berlangsung
di Wina, Austria. Di dalam konferensi itulah aku mula berhubungan dan
kenal dengan utusan pemuda Republik Rakyat Tiongkok yang hadir dalam
konferensi persiapan itu. Kali berikutnya ketika sebagai utusan Komite
Perdamaian Indonesia, menghadiri Sidang Biro Perdamaian Dunia (1956) di
Wina, hubungan dan kerjasama kami dengan utusan Tiongkok semakin erat.
Wajar sekali, bahwa perkembangan hubungan dan kerjasama itu semakin
baik. Hal itu adalah pengaruh dari Konferensi Asia — Afrika Bandung
(1955) yang historis itu. Dalam Konferensi Bandung, Indonesia dan
Tiongkok, telah bekerjasama dengan baik sekali, bersama dengan
utusan-utusan dari India, Birma, Mesir dan banyak negeri AA lainnya,
sehingga menciptakan syarat yang baik sekali untuk suksesnya Konferensi
Bandung yang melahirkan yang dikenal kemudian dengan ‘SEPULUH PRINSIP
BANDUNG’. Lahirnya kekuatan ketiga di arena internasional, yang
mendorong maju gerakan kemerdekaan bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Dan
yang lebih penting lagi ialah, bahwa kekuatan ini tidak tunduk pada
fihak-fihak yang bertarung dalam Perang Dingin ketika itu.
Hubungan kerjasama dan saling bantu dengan utusan Tiongkok paling lama
dan intensif ialah ketika aku ditugaskan mewakili Indonesia dalam
Sekretariat Tetap Organisasi Setiakawan Rakyat-Rakyat Afrika, yang
bermarkas di Cario, Mesir. Dari hari ke hari, minggu ke minggu, tahun ke
tahun lamanya, utusan Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok
bekerjasama, bahu membahu dalam pekerjaan dan kegiatan kami memberikan
dorongan dan sumbangan organisasi kami terhadap perjuangan melawan
kolonialisme dan imperialisme, untuk kemerdekaan nasional dan
pengkonsolidasiannya.
Perubahan drastis di Indonesia, dengan digulingkannya Presiden Sukarno
dan berdirinya rezim Orba, menyebabkan kami sekaluarga pindah dan
bekerja di Beijing.
Kami sekeluarga di Tiongkok bukan sebagai ‘pengungsi politik’ dan juga
bukan ‘peminta suaka’ yang kemudian dapat asil di Tiongkok. Aku diundang
untuk ambil bagian dalam perkerjaan studi dan riset tentang
negeri-negeri Asia dan Afrika di lembaga Tiongkok. Maka kami juga dapat
perlakuan sebagai ‘akhli asing’, sebagai ‘eksper asing’ yang banyak
bekerja di pelbagai instansi dan lembaga Tiongkok. Aku juga dapat izin
untuk menerbitkan buletin penerbitan mengenai Indonesia yang diterbitkan
oleh OISRAA, Organisasi Indonesia Untuk Setiakawan Rakyat-Rakyat Asia,
yang kebetulan aku adalah salah satu anggota pengurusnya.
Maka perlakuan baik sekali dan amat bersahabat dari fihak Tiongkok,
merupakan penyebab penting, sikapku yang bersahabat dengan Tiongkok.
Selain menurut pendapatku, menggalang hubungan baik dan bersahabat
dengan Tiongkok adalah menguntungkan dua belah fihak, menguntungkan
Indonesia dan juga menguntungkan Tiongkok.
*
Betapapun kami sekeluarga tidak bisa dan tidak akan melupakan sikap dan
perlakuan baik budi serta setiakawan Tiongkok terhadap kami di Tiongkok.
Sikap ini dari hati nurani sejujur-jujurnya!*
(Bersambung)
This post was submitted by IBRAHIM ISA / IM.

