OBROLAN MALAM – Bagian ke-9 -Di Mana Kamu Pin?

Posted on January 6 2012 by Sobron Aidit / IM

Sabtu malam kami berangkat dari Amsterdam ke Paris. Ini tugas “rutine” saya setiap bulannya.
Biasanya kalau saya sendirian pakai kereta Thalys, kereta kilat yang satu jamnya 400 km, di rel kereta
tertentu, biasanya dari Paris sampai Brussel, atau dari Brussel ke Paris.

Dan biasanya saya akan dua minggu sampai tiga minggu di Paris atau Belanda. Tapi kalau dengan mobil diantar Breg,
saya hanya dua tiga hari saja. Seperti kali ini, Sabtu malam berangkat dan Senen sorenya kembali ke
Holland.

Seperti biasa apa saja yang saya kerjakan di Paris, selalu mengenai urusan – papier ka-
taorang Perancis. Mengisi formulir pajak, mengisi formulir aparteman berkenaan dengan tahun baru
mulai, biasaya antara Januari – Februari.

Lalu membayar segala asuransi. Dan asuransi yang ini,
luarbiasa! Asuransi kematian! Jadi saya setiap bulan harus bayar sekian euro sampai berumur
82 tahun. Kalau tidak sampai, maka uang sepenuhnya didapatkan oleh keluarganya, dalam soal ini :
saya, keluarga saya.

Kalau sekiranya sampai umur sekian, maka uang hilang! Kalau tergantung saya
sih, saya mau-nya uang hilang, karena umurnya sampai dengan perjanjian kontraknya! Tetapi soal
umur, hanya Tuhan yang tahu dan memutuskan.

Dan karena dua tiga hari itu saya ada di Paris, maka kosonglah cerita dan tulisan yang biasanya selalu
ada. Sebab di Paris mana sempat menulis, sibuk dengan urusan kertas dan bayar-bayar. Ada enaknya
hanya kami berdua, antara mertua dan menantu ini. Kalau di pertemuan dan demonstrasi, undangan
dsb, biasanya komposisinya jadi lain, yaitu besan dan besan,- Mas Dicky dan saya, sekarang anaknya
dan saya.

Orang-orang banyak yang heran akan pergaulan dan persahabatan kami ini. Kalau kami
kembali ke Holland, biasanya kami istirahat buat ngopi atau makan malam di dekat perbatasan antara
Belgique dan Holland,- di Hazeldonk. Disitu ada resto – kios dan cafe. Enak duduk-duduk sambil
melepaskan lelah.

Kami pertama kali datang di sebuah resto yang baru, namanya La Plage. Resto
ini lain dari yang lain. Ada ikan segar, maksudnya bukan dari dalam kulkas. Sayuran segar – dan
dibuatnya cara Thailand dan Tionghoa..

Ketika kami memilih ikan salmon – saumon – buat digoreng, lalu sup Thailand, ada seorang tukang
masaknya yang kami kira orang Thailand. Sedang kami diskusi, takut kepedasan, si koki Thailand
itu nyeletuk, “nanti kan cabenya dikurangi atau tidak usah pakai cabe samasekali!”Kami terkejut
karena bahasa Indonesianya bagus sekali. Dia senyum-senyum saja.

Maka sambil masak sup, kami
bertanya jawab dengan-nya. Ternyata dia baru tiga tahun di Holland ini. Dan bersuamikan orang
Belanda. “Saya juga pernah di USU”, kata Pin, wanita yang ramah dan cukup manis itu. “USU,
Universitas Sumatra Utara, Pin?”, kata saya. “Yalah pula, di Medan-lah saya tinggal ketika itu”,
katanya dengan
agak tebal dialek Medannya. Pin, berpakaian dapur – putih-putih, dan sambil masak sambil bercerita
ramah sekali. Kami semua pada heran.Di tengah masyarakat Belanda dekat perbatasan begini, ada
saja orang melayunya – melayu medan pula itu! Dan cantik pula itu! Karena baru berkenalan ini,
makananpun jadi tidak terfokus!

Dan hari ini kembali kami “mampir” buat makan di La Plage. Tapi kata kami kepada masing-masing
diri sendiri, “ingat lho, kita ini mau makan, dan memang sudah merasa lapar! Tidak ada hubungannya
dengan Pin!” Dan begitu kami sampai sudah jam 19.00. Kami lihat sambil lalu, bukan- nya mau
nyari! Tidak ada Pin.

Baru kami ingat. Dulu itu dia dinasnya hanya sampai jam 18.00, sudah itu dia
pulang ke rumahnya yang tak jauh dari kompleks resto – cafe dan kiosk itu,- Bahasa Indonesia Pin
sangat bagus, dan sebagai tukangmasak, masakannya memang sangat enak. Tukangmasak seperti Pin
ini, rasanya resto kami takkan sanggup membayar gajinya, mahal sekali.

Gaji di resto kami adalah
gaji peraturan minimum. Sesudah makan ikan goreng dengan sup mi-Thailand itu, ka- mipun pulang.
Kata Breg ” nggak begitu enak masakan meneer tadi itu. Coba kalau Pin yang masak, pasti deh enak!”
“Betul begitu? Bukan karena Pin-nya?”, kata saya. Dan kami mening- galkan resto La Plage dengan

pertanyaan Di Mana sih Kamu Pin? (Holland, Febr 03/IM)

This post was submitted by Sobron Aidit / IM.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply