Now I Know Why They Call it Los Angeles

Posted on January 6 2012 by Klaus Heinrich Radityo / IM

Hari itu malam hari tanggal 17 September 2011, di tengah hembusan udara sejuk perkebunan teh Ciater,bumi Parahyangan Jawa Barat, kami para siswa Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu)

- Sekolah pendidikan bagi calon diplomat Kementerian Luar Negeri RI) angkatan
ke-36 duduk berharap-harap cemas menanti pengumuman. Pengumuman itu
mungkin adalah yang paling ditunggu-tunggu setelah proses pendidikan selesai,
pengumuman itu adalah tempat magang (internship) selama 3 bulan, sebuah
program prakarsa Mantan Menlu Dr. Hasan Wirayuda untuk memberikan kesan
pertama bagi para lulusan Sekdilu mencicipi suasana kerja di perwakilan RI di luar
negeri.

Setelah tercapai konsensus bersama, maka diputuskan bahwa pengumuman akan
dibacakan langsung oleh Dr. Ben Perkasa Drajat, Direktur Sekdilu in alphabetical
order. Nama teman-teman diucapkan beserta tempat magang mereka mulai dari
para siswa yang namanya dimulai dengan huruf A…B…C…dan seterusnya.

Ketika sampai kepada mereka yang namanya berawalan huruf I dan J, sekonyong-
konyong jantung saya berdebar kencang dan perhatian semakin terpusat ke
pada pengumuman.
“Klaus Heinrich Radityo…….KJRI Los Angeles”, begitu
mendengar pengumuman tersebut, hati saya terasa lega dan yang tidak disangka
ternyata teman-teman se-angkatan menampikan gesture yang lebih heboh. Kami
semua memang pernah saling bertukar cerita tentang tempat magang yang
paling diinginkan.

Saya sendiri tidak pernah menyebut Los Angeles, tetapi saya
memang memberikan isyarat bahwa ingin magang di AS daripada RRT. Desas-
desus yang berhembus memang mengatakan bahwa pimpinan mengarahkan saya
untuk magang di Beijing, karena pengalaman sebagai local staff politik di sana dan
kemampuan berbahasa Mandarin yang saya miliki.

Maka, gesture yang heboh dari
teman-teman adalah ungkapan kegembiraan mereka juga karena apa yang saya
harapkan selama ini bisa tercapai. Bahkan salah satu teman se-angkatan, Gulardi
Nurbintoro langsung mengenalkan saya dengan pamannya yang sedang bertugas
di KJRI Los Angeles lewat Facebook, beliau adalah Konsul Pensosbud, Pak Fiki
Oktanio.

Lima tahun di Beijing adalah pengalaman yang kaya dan indah, namun sebagai
orang muda yang jiwa petualangannya masih berkobar, pergi ke tempat yang belum
pernah didatangi selalu memberikan tantangan dan rasa penasaran yang lebih
besar.

Apalagi sebagai seorang Indonesia yang masa kecilnya diisi dengan serial
MacGyver, Growing Pains, Knight Rider dan film-film Hollywood, magang di Los
Angeles merupakan kesempatan yang unik untuk sejenak menikmati American
Dream.

10 Oktober 2011, pesawat saya mendarat di LAX, sebuah kehormatan bagi saya
dijemput dan disambut dengan hangat oleh tim Protokol, mereka adalah Mas Sigit
Aris dan Pak Challyandra. Setelah itu kami makan siang bersama di BCD Korean
Restaurant dan bertemu dengan seorang Konsul Muda, yaitu Mas Febry Elsafrino
(Mas Rino), sebelumnya saya sudah sempat kontak dengan Mas Rino lewat salah
seorang diplomat di KBRI Beijing.

Hari berikutnya adalah courtesy call kepada Konsulat Jenderal RI Los Angeles
Bapak Hadi Martono. Sebelum menghadap beliau, saya menerima pengarahan dari
Kepala Kanselerai, Ibu Magdalena F. Wowor Tompodung (Bu Rika) tentang segala
sesuatu yang perlu disiapkan selama magang. Setelah pengarahan selesai, Pak
Konjen berkenan menerima saya di ruangannya dalam suasana yang hangat, santai
dan penuh canda.

Setelah melewati hari pertama, hal yang paling tidak diduga adalah segala berjalan
begitu cepat, kegiatan demi kegiatan datang silih berganti, seperti “Discover
Woderful Indonesia” at The Grove, KTT APEC Hawaii, Raker Kepala Perwakilan RI
se-AS yang semuanya bisa berjalan dengan baik karena kerjasama dengan semua
staff KJRI.

Satu hal yang tidak boleh dilewatkan selama magang adalah kegiatan eksplorasi
kota dimana kami ditugaskan. Beberapa hal yang paling menarik untuk dieksporasi
di Los Angeles adalah museum dan masyarakat Indonesia.

Saya bersyukur bisa mengunjungi museum-museum seperti Paul Getty Museum,
LACMA, Japanese American National Museum, Reagen Presidential Library
dan Cathedral Our Lady of The Angels.

Saya bermimpi negara kita bisa memiliki
museum selengkap dan semegah yang dimiliki AS sehingga bangsa kita bisa belajar
bnyak dari sejarah karena hanya bangsa besar yang bisa menghargai jasa para
pahlawannya dan berdiri teguh di atas nilai-nilai yang diformulasikan para pendirinya.

Thomas L. Friedman dan Michael Mandelbaum dalam bukunya “That Used to Be
Us” menulis bahwa kejayaan AS bisa pulih jika masyarakat dan pemerintahnya
mau kembali meruntut sejarah mereka dan mengaplikasikan nilai-nilai agung yang
pernah mengantar mereka kepada kebesaran.

Sekilas, pernyataan ini juga tidak jauh
berbeda dengan apa yang didengungkan oleh Presiden RRT Hu Jintao bahwa RRT
tidak bisa menjiplak sistem negara lain untuk maju karena RRT memiliki keunikan
sendiri dan harus maju dengan caranya sendiri, seperti yang dirumuskan dalam
doktrin “Socialism with Chinese Characteristic” (中国特色社会主义)

Bagaimana dengan kita? Lebih dari satu dekade kita telah memasuki masa reformasi
dan perdebatan besar masih tetap mewarnai kepemimpinan nasional, apakah kita
berada pada jalur yang benar atau akan kembali tersesat.

Semoga kita bisa belajar
dari kedua bangsa besar ini bahwa kejayaan negara akan pulih jika kita setia teguh
berdiri di atas fondasi kita sendiri. Untuk Indonesia, fondasi itu tidak lain adalah
Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Tentang masyarakat Indonesia di Los Angeles, saya sangat bersyukur bahwa
masyarakat kita tidak melupakan segala sesuatu tentang Indonesia. Masyarakat
Indonesia sangat majemuk dengan segala macam permasalahannya dan pergulatan
hidup yang tidak ringan.

Kesempatan yang sangat berharga juga saya dapatkan
ketika mengunjungi warga Indonesia yang ditahan di penjara di Arizona bersama
Ibu Sri Wahyuni dan Mbak Endang Pratiwi. Ini merupakan wujud perhatian nyata
dan konkret dari pemerintah RI untuk melindungi warganya. Dubes RI Dr. Dino
Patti Djalal dalam Rapat Kerja Kepala Perwakilan RI bulan Desember 2011
kembali menyerukan komitmen keberpihakan kepada warga Indonesia dengan
memberikan pelayanan maksimal dan mengusahakan segala macam kesempatan
yang memungkinkan.

KJRI Los Angeles juga tidak bisa bekerja sendirian dalam
menjalankan misinya, karena itu kerjasama dan peran aktif masyarakat Indonesia
adalah mutlak diperlukan.

Akhirnya, kalau boleh saya menyimpulkan, pengalaman selama kurang lebih 3 bulan
di KJRI Los Angeles ini adalah pengalaman yang sangat memperkaya kehidupan
saya sebagai calon diplomat maupun sebagai pribadi.

Terima kasih kepada Konjen RI Bapak Hadi Martono, Bu Rika, Bu Yuni, Pak Edi, Pak Fiki, Pak Ellan, Mbak Diyah,
Mas Rino, Mas Sigit, Pak Kris, Bu Dedeh, Pak Zul, Pak Iman dan ibu-ibu DWP yang
selalu menyediakan santapan yang lezat. Terima kasih juga kepada teman-teman

atas kerjasamanya dan bantuan untuk mengunjungi tempat-tempat yang sangat
menarik, terutama buat Melany Lintuuran, Mbak Endang Pratiwi, Julius Kurniawan,
Bu Nike M. Gaston, Andrew Karnadi, Pak Denny, Pak Chally, Pak Agung, Razak,
Pak Ciptoning, Pak Chairul, Pak Dadang, Pak Eddot, Pak Lukman, Bu Yanthi, Pak
Wahono, semua staff KJRI dan segenap masyarakat Indonesia di wilayah kerja KJRI
Los Angeles.

Terima kasih untuk keramahan dan penerimaan yang hangat….Now I
know why they call it Los Angeles….City of Angels…..


Klaus Heinrich Radityo
Staff Magang KJRI Los Angeles (10 Oktober-30 Desember 2011)

This post was submitted by Klaus Heinrich Radityo / IM.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply