MELIHAT NORTHERN LIGHT DI YUKON

Posted on January 5 2012 by Butce / IM

Kata orang sich Northern light ini merupakan “must to see before you die “. Bayangkan aja tiba-tiba
langit penuh dengan cahaya yang beraneka warna meliuk-liuk seperti permainan laser, tidak heran
kalo orang Eskimo bilang cahaya ini adalah roh halus yang lagi main bola . Gua dengar dulunya saking
takutnya mereka lemparin dengan air kencing.

Makanya begitu teman dekat saya John dan tunangannya Gloria ngajak kesana lansung saya sanggupin.
Cuma masalahnya untuk melihat Northern light atau A. Borealis ini kamu harus ke tempat yang sangat
dingin dan kering , biasanya sich sekitar bulan December. “Bruce..the temperature is minus 30 degree “
Hah? Gua lansung panik, seumur-umur belum pernah ke tempat yang sedingin itu…Gua pikir-pikir kalo
air membeku di suhu 0 derajad celcius, gimana tuh kalo 30 derajad,kencing kamu lansung jadi es batu
kali.

Walaupun di Alasca juga ada , tapi tempat yang kita pilih kali ini adalah Yukon di Canada. Untuk pergi
ke tempat ini kamu terbang dari Los Angeles ke Vancouver kemudian pindah ke pesawat lebih kecil
dan terbang lagi sekitar ½ jam. Yukon ini tidak seberapa besar, gua rasa sich kayak big bear di Los
Angeles. Dan bisa diduga kalo bukan musim turis kota ini bisa menjadi kota mati. “Sixty persen of people
here work for the government…” sahut sopirnya yang merangkap sebagai guide kita. Saya menangguk
angguk , mungkin itu cara government untuk mensubsidi kota ini. “We will pick you up at 8 pm “..sahut
sopirnya lagi.

Karena masih ada waktu kita jalan-jalan , explore kota tersebut. Gloria dengan Aching jalan di depan,
sementara John dan saya dibelakang, rupanya dia mau membicarakan sesuatu. “I already arrange the
cabin with the tour guide “ bisik John pada saya. Gua mengangguk dan tersenyum. Melihat A. Borealis
bukan merupakan satusatunya agenda kita, John merencanakan untuk propose ke Gloria besok malamnya
di special cabin, yang bakalan dihias dengan candle dan bunga . “ Good…is Aching know? “ tanya saya.
A ching adalah teman baik Gloria yang mendampingi dia. John mengangguk. “Hey..lets go to see the
river “ teriak Aching dengan exciting.Dia menunjuk pada sungai yang tampak beku dikejauhan. Pipinya
yang tembem menjadi semakin bulat kemerahan karena dingin. “Do you like her? “ bisik John. Rupanya
mereka juga ingin menjodohkan gua dengan A ching..Gua tersenyum “She is nice…” ,no comment.

Kita dijemput dengan van kecil bersama beberapa orang lainnya. Rupanya the best place untuk melihat A
Borealis harus diluar kota , yang tidak ada lampu kota sama sekali. Setelah drive kurang lebih 45 menit
kita berbelok kesebuah jalanan kecil dan berhenti di sebuah tanah lapang yang ditutupi salju. Ada sebuah
cabin, dengan tumpukan kayu untuk api unggun didepannya. Kita memasuki cabin itu, didalamnya ada
beberapa makanan kecil, juga minuman hangat lainnya seperti coklat atau teh. Rupanya A. borealis ini

Bersama Aching dan Gloria disungai yang membeku

belum kelihatan jadi kita duduk-duduk sambil ngobrol di dalam. Namanya aja fenomena alam, A. borealis
ini tidak bisa dipastikan untung-untungan. Biasanya bisa tampil selama 15 menit sampai 45 menit saja
terus hilang. Tour guide nya set up kamera dia, keliatannya hobby dia adalah photography. “That’s for
sale” Tunjuk dia pada beberapa foto yang dipajang didalam kabin tersebut, foto Aurora Borealis.

Rencananya akan kesini selama 3 malam , setiap malam kita akan mulai menunggu dari jam 9.30 pm

sampai 1.30 am pagi. Saya lagi membuat teh panas, ketika ada rombongan yang masuk. Telinga saya
lansung berdiri, mendengar bahasa yang sangat familiar “Lho ojok kesana Ai “ teriak seorang anak
muda ke tantenya. He..he rombongan indo nech “ Hallo..dari Surabaya ya? “ tanya saya. “Wah senang
juga ketemu orang Indo di Yukon “. “Iya.ko .kita terbang dari Surabaya ke NewYork, terus lansung
kesini, minggu depan ke China melihat istana es..” Mata gua membelalak, wah kuat benar.Sepintas saya
melihat anggota rombongannya , keliatannya banyak juga yang sudah setengah abad. Apa tidak kecapean
tuh? Traveling di musim dingin paling repot , perlu bawa kopor gede sebab banyak baju hangat. Sampai
jam 1.30 am, A. Borealisnya tidak muncul juga, dengan sedikit kecewa kita balik ke hotel.

Malam berikutnya kita datang ke tempat yang sama. Cuma kali ini, lebih special karena John akan
propose. Kita pura-pura mau jalan-jalan keluar , tapi sebenarnya ingin mengecek cabin special yang
teletak kurang lebih 100 meter dari cabin utama. Setelah memastikan semuanya oke kita mengajak
Gloria dan Aching untuk pindah cabin. John terlihat agak tegang.Sementara Gloria keliatan agak sedikit
curiga..” Why we have to move to another cabin?” Tanyanya dengan muka polos, John agak gelagapan.
“Ooo so we can have more privacy..” jawab saya cepat-cepat. “We want to play card and sleep over
there..” sahut gua lagi.

Dengan memakai senter kita jalan menuju cabin itu.Originalnya cabin itu adalah kamar tidur dari tour
guidenya yang di sewa setengah malam , karena mau didekor dengan bunga dan candle. Rencananya
sich, Gloria akan membuka pintu itu dan surprise di lantai akan ada taburan bunga mawar dan susunan

John lagi melamar

lilin yang bertuliskan “ Will you marry me? “ Kita sengaja berjalan lambat dan membiarkan cewek-
cewek jalan duluan . Semakin dekat John semakin nervous , gua udah bersiap-siap dengan kamera untuk
mengabadikan the magic moment . Pintu dibuka, Gloria membelalakkan mata dan menutup mulutnya.
Tiba-tiba “ Oh..no..oh no…” teriak A Ching. Dia menerobos dari belakang Gloria ,berjalan keluar
masuk seperti orang nervous..Sementara itu Gloria diam terpaku tanpa berkata apa-apa. Gua melihat A
Ching dengan heran, kok malah dia yang heboh dan ribut..Entah apa yang dicari tapi yang jelas , The
romantic 5 minute beautiful moment yang kita rencanakan selama sebulan jadi kacau. Si A ching mutar-
mutar,sambil ketawa dengan nervous , terus keluar mencari sesuatu. Sementara itu si John berlutut untuk
propose dan saya siap-siap untuk mengabadikannya dengan foto. Tapi terhalang dengan si A Ching yang
sibuk mondar mandir, “ I lose my glassessss…” teriaknya.. “Oh man..achingggggggg”

“ I find it..” Teriak A ching dari luar.Dia berlari masuk menunjukkan lensa kacanya yang jatuh di salju.
Rupanya hawa panas dari cabin membuat kacamatanya berembun , jadi dia membuka kacamatanya dan
menggosok dengan bajunya tanpa disadari lensanya jatuh di salju. Ketika di dalam cabin A ching baru
sadar bahwa lensanya hilang satu jadi dia putar-putar nyari lensanya. “ I find my glass..he..he “ sahut A
ching sambil tersenyum lebar.pipinya semakin merah seperti tomat..Dia ketemu kacanya di salju di depan
pintu. Tapi kita udah kehilangan the magic moment..gua ndak dengar apa yang dikatakan John dan Gloria
gara-gara ikut bingung melihat Aching mondar mandir. “ Its oke..repeat again..” sahut gua lagi sambil
mengambil fotonya.

Untungnya pada malam ketiga, A. Borealis itu muncul sedikit. Samar-samar dengan warna kehijauan
di horizon. “Kok kaya sinar dari lampu jalanan..” gumam saya sedikit kecewa. Namanya juga fenomena
alam, untung-untungan. “Its oke…it ‘s look better with the high speed camera “ sahut Tour guidenya
menghibur, sembari meminta semua orang berkumpul untuk photo group.

This post was submitted by Butce / IM.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply