PEMENGGALAN kepala patung Bunda Maria di Gua Maria Sendang Pawitra Sinar Surya –atau populer dengan nama Sendang Pawitra—tentu saja mengusik rasa keimanan kita. Bagi orang katolik yang punya tradisi devosi kepada Bunda Maria dan kemudian menghayati imannya dengan cara berziarah, kasus dipenggalnya kepala (patung) Bunda Maria di Sendang Pawitra ini menyisakan duka mendalam
Tentu tidak hanya bagi umat katolik. Melainkan juga Bunda Maria sendiri. Tak hanya kepalanya yang dipenggal orang, namun juga sejumlah patung malaikat, simbol-simbol religius umat kristiani seperti salib dan kotak air suci pun tak luput dari aksi vandalisme ini.
Di Tawamangu
Dimana persisnya letak Gua Maria Sendang Pawitra Sinar Surya ini? Kalau dari arah atas, maka posisi Gua Maria ini ada di sebelah kanan. Lokasinya kurang lebih 2 km dari Pasar Sayur Tawangmangu atau sekitar 3 km ke bawah dari Terminal Parkir Grojogan Sewu Tawangmangu.
Terletak masuk di sebuah gang sempit yang nyempil di tepi jalan besar, persis beberapa meter sebelum jalan utama itu menjadi 2 cabang: jalan sebelah kiri menuju arah Mangadeg –tempat pekamanan Pak Harto dan Ibu Tien Soeharto—sementar jalan sebelah kanan menuju Karangpandan.
Tawangmangu sendiri berlokasi kurang lebih 60 km ke timur dari arah Solo (Surakarta). Dari Tawangmangu, peziarah bisa melanjutkan ziarah wisata menuju Telaga Sarangan yang secara administratif sudah masuk wilayah Jawa Timur.
Menurut buku Ziarah Gua Maria di Jawa karya RL Soemijantoro, nama Sendang Pawitra Sinar Surya  in terkait erat dengan sejarah munculnya tempat ziarah devosi kepada Bunda Maria ini. Nama “Sendang†yang berarti mata air didapat, lantara tak jauh dari situ terdapat sendang.
Zaman dulu, tulis buku itu, lokasi tak jauh dari sendang itu merupakan tempat dimana para empu (ahli keris) biasa menempa baja yang kemudia dia ukir menjadi keris bermutu tinggi.
Lazimnya kebanyakan orang Jawa yang suka melakukan tirakatan (berkanjang dalam doa dari malam hingga menjelang subuh), maka lokasi itu pun juga sering dipakai untuk tempat tirakatan. Tradisi itu sudah terjadi sejak tahun 1960-an.
Baru tahun 1984, ada semacam “penampakan†berupa cahaya datang dari langit di atas Gunung Tempurung yang menyorot ke bawah hingga mengenai sebuah pohon. Lokasi dimana pohon itu berdiri akhirnya atas kesepakatan warga setempat kemudian dijadikan tempat peziarahan.
Tanah kosong seluar 200 m2 itu kemudian dibeli oleh warga katolik setempat secara patungan. Tahun 1986, Romo AY Harjasudarma SJ melakukan peletakan batu pertama di lokasi ini.
Nama “Pawitra†diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti tempat untuk menyucikan diri. Kata “Sinar Surya†digagas karena di lokasi itulah sebuah sinar terang datang dari langit menyinari bumi.(Bersambung)
This post was submitted by Mathias Hariyadi / Sesawi / IM.






















Hanya patung beton saja, tidak perlu disedihkan lagian bukan karya seni, sebab memang tidak ada keajaiban apa-pun di dunia ini, semuanya hanya buatan manusia, cerita manusia. Tunggu saja 2000tahun lagi akan ada kepercayaan avatar atrau matrix berdasarkan cerita karangan zaman ini…
Vandalisme adalah tindakan pengecut sebagai pepatah lempar batu sembunyi tangan atau menikam dari belakang. Analisa tindakan seperti ini dari sudut kriminalitas, jangan menghakimi keperjayaan orang lain yang mendapat kedamaian rohani di situs ini. Dengan meng amin kan hal2 seperti ini selanjutnya akan menyebabkan pemaksaan filsafat hidup yang tidak menghargai pendapat orang lain. Bila ada pandangan yang dalam dan menghargai hak azasi manusia yang bebas menjalankan kepercayaannya, aspirasinya; itu tidak mengganggu hak2 azasi kebebasan orang lain. Janganlah karena menganggap diri sendiri atau pendapat tertentu yang terbenar, terpelajar, terpandai menganggap remeh hal2 yang mystic didunia ini. Banyak hal2 yang tidak dapat diterangkan secara Science. Beri kesempatan untuk semua warga berpikir secara luas dan objektip jangan semua dianggap materi saja. Ada makna tersembunyi bila peninggalan potret keluargamu di cemari dan di robek2 walaupun hanya materi saja.
Menyederhanakan persoalan adalah kiat untuk tetap bertahan dalam hidup yang sulit. Malin Kundang menyederhanakan persoalan pemenggalan patung membuktikan keberaniannya untuk bersikap dalam keadaan yang sulit. Tetapi sikap ini bisa saja terjebak untuk memperlihatkan sikap tidak menghargai keadaan sulit orang lain. Jika sikap ini yang terjadi maka Malin Kundang tidak pantas untuk berbicara. Karena diam pun merupakan suatu langkah yang bijak