MAGELANG-
Baginya, bermeditasi di Candi Borobudur mendatangkan kebahagiaan, mengikuti makna dari tingkatan
lantai yang baru saja diinjaknya, Arupadhatu, yang berarti “selangkah lagi menuju surga”. Saat
bermeditasi sekitar 10 menit, warga negara Jerman yang kini tinggal di New York, Amerika Serikat, ini
mengaku dapat merasakan dirinya menyatu dengan alam. Dalam penyatuan itulah ia dapat merasakan
energi
“Benda-benda
merasakan
hari bekerja sebagai psycho therapist ini.
Candi
masing-masing menjadi simbol tahapan kehidupan manusia. Arupadhatu, sebagai salah satunya, adalah
simbol kondisi manusia yang sudah terbebas dari segala nafsu, bentuk, dan rupa. Sesuai dengan simbol
itu,
pikirannya hanya terfokus pada relasi antara dirinya dan candi.
Ikatan spiritual
Kekuatan energi serupa juga pernah dirasakan 28 warga asing di bawah pimpinan seniman perupa Toni 
Kanwa. Dengan adanya kekuatan besar dari candi, mereka pun meyakini, energi itu juga tersebar di
seluruh benda lain di lingkungan candi, seperti pohon bodhi, kelapa hijau, dan rerumputan. Keseluruhan
lingkungan candi dianggap sakral dan berkekuatan agung.
Priyoto, pemilik Penginapan Lotus I di Jalan Medangkamulan, Kecamatan Borobudur, mengatakan, ikatan
spiritual Candi Borobudur dengan wisatawan asing, terutama mereka yang berasal dari Eropa dan
Amerika, sudah ada sejak lama. Laku spiritual biasanya dijalankan dengan rutin bermeditasi dan
melakukan pradaksina, berjalan mengelilingi Candi Borobudur.
Meditasi dilakukan dengan berbagai cara. Ketika ingin bermeditasi saat malam hari dan tak bisa
memasuki candi, meditasi cukup dilakukan di atas atap Penginapan Lotus. “Mereka biasanya
berkonsentrasi dengan memandang Candi Borobudur dari kejauhan,” ujarnya.
Meditasi ini kerap dilakukan para pengunjung yang berusia di atas 40 tahun. Selain Buddha, ritual ini juga
dilakukan mereka yang memiliki beragam agama lain. Meditasi ini dilakukan sebagai ritual untuk
menenangkan jiwa dan bukan menjadi salah satu kegiatan keagamaan.
Tamu-tamu Penginapan Lotus yang sudah pernah melakukan ritual ini, mengungkapkan bahwa meditasi
di Candi Borobudur mendatangkan kekuatan yang luar biasa. “Energi yang didapat, menurut mereka, akan
terus terasa setiap hari yang kemudian berdampak membawa ketenangan jiwa dan pencerahan pikiran
dalam
Ikatan batin yang demikian kuat antara candi dan manusia, menurut Priyoto, pernah dilihatnya dari
pengalaman seorang warga negara Kanada yang menjadi tamu penginapannya. Sang tamu bercerita bahwa
dia mendapatkan wasiat dari ibunya sebelum meninggal, bahwa abu kremasi si ibu harus dibuang ke
candi. Hal ini terjadi karena ibu tamu tersebut memang sudah beberapa kali datang dan berdoa di Candi
Borobudur.
Mengacu pada pengalaman tersebut, Priyoto meyakini candi borobudur bukanlah bangunan mati.
Candi ini adalah monumen hidup, yang terus menerus memberikan pengaruh dan energi spiritual yang tidak ada habisnya,
bagi siapa saja yang peka menangkapnya.
Setidaknya bagi kita yang tidak memiliki keahlian spiritual, Candi Borobudur tetap berupaya memberikan energi kebaikan dengan memberikan arahan dan petunjuk kehidupan dalam relief relief cerita didinding candi.
JIka itu dipelajari secara mendalam,arahan itu akan memberikan arahan positif yang tidak kalah membara.
This post was submitted by Regina Rukmorini/M Burhadunin/kps.




















