
May Swan-Penulis
Dalam Chinese Lunar Calendar, bulan ke tujuh biasa dikenal sebagai Hungry Ghost Month atau Bulan Hantu. Menurut kepercayaan tradisional orang Tionghua di Singapur, Malaysia dan Thailand, pertengahan bulan tujuh adalah Ghost Day, yaitu Hari Hantu. Dalam kurun waktu satu bulan ini, pintu gerbang alam baka terbuka lebar, seluruh hantu hantu dan arwah, termasuk arwah dari para leluhur berangsur keluar, bersuka ria berpesiar ke alam manusia ingin merasakan makanan makanan sedap yang pernah dirasakan ketika masih hidup dulu. Demikian meluasnya kepercayaan ini, sehingga pada pertengahan bulan tujuh diadakan perayaan dan sembahyang sebagai penghormatan pada hantu hantu tersebut yang diberi julukan Hungry Ghost Festival. Di Indonesia lebih terkenal dengan perayaan Zhong Yuan.
Lalu dengan masuknya pengaruh Taoist dan Buddhism menjadikan tradisi perayaan ini sarat dengan mitologi tentang hantu hantu kelaparan yang perlu dijamu pada masa kehadiran mereka di dunia manusia. Tumbuhlah bermacam cerita dan pantangan yang berhubungan dengan Bulan Hantu. Antara lain, dalam kurun waktu sebulan ini orang tidak merayakan perkawinan, tidak pindah rumah atau mengambil keputusan penting dalam keluarga, misalnya merayakan ulang tahun, atau menebang pohon besar, juga tidak memindahkan perabot besar di dalam rumah seperti ranjang, lemari, meja makan, karena adanya hantu hantu yang berkeliaran, maksudnya agar jangan sampai bentrok dengan mereka.
Tradisi ini sebenarnya merupakan produk masyarakat agraris di jaman dahulu yang bermula dari penghormatan kepada leluhur serta dewa dewa supaya panen yang biasanya jatuh di musim gugur dapat terberkati dan berlimpah. Lepas dari mitologi yang mengelilingi Hungry Ghost Festival, hikmah dari perayaan sebenarnya adalah penghormatan kepada leluhur dan penjamuan fakir miskin. Setelah ritual sembahyang selesai, hidangan yang dipersembahkan kepada hantu hantu yang berkeliaran dibagi bagikan kepada fakir miskin yang berkerumun datang. Jadi nampak ada nilai kerakyatan dan unsur perikemanusiaan bergabung dalam
perayaan ini.
Di Singapura, perayaan Hungry Ghost Festival banyak dihubungkan dengan kehadiran pertunjukan wayang tradisional dari Cantonese dan Teochew dialect. Biasanya pertunjukan diadakan di pentas terbuat dari alat bambu didirikan pinggir jalan raya yang disebut getai, terjemahan verbatim Pentas Nyanyi. Pada malam hari banyak masyarakat di sekitar datang berkerumun berdiri di bawah pentas mengikuti cerita wayang yang dibawa oleh para artiste dengan dandanan paras dan baju yang sangat mengilaukan mata setaraf dengan peran yang dipegang masing masing, diiringi oleh suara gong dan cymbal mengarungi seluruh kawasan melalui corong pembesar suara. Di sekitar tempat pementasan terdapat banyak penjual makanan kecil dan minuman datang menjajakan jualannya, menambah meriahnya suasana festival, terlebih lagi bagi anak anak kecil. Ini berjalan selama satu bulan.
Tapi semua ini telah berlalu. Keadaan telah berubah.
Sekarang Festival ditangani oleh professional event organizer. Tidak lagi dipentaskan di pinggir jalan raya, semua jalan raya sudah dipenuhi oleh lalu lintas kendaraan, juga tidak ada tempat luang untuk mendirikan pentas bamboo getai sekehendak hati. Semua sesuatu, termasuk pementasan Festival sudah diatur lokasinya, agar suara musik wayang yang keras tidak mengganggu ketertiban lingkungan, maka tidak lagi
dipentaskan di daerah permukiman. Yang paling sering diadakan di lapangan terbuka di Hock Hai Building daerah China Town. Sudah ada kursi tersedia, tidak perlu berdiri seperti dulu. Juga tidak ada penjaja makanan, minuman yang datang dengan gerobak kayu, karena untuk menjual makanan dan minuman sudah ada tempatnya yang tertentu, juga perlu minta izin, tidak boleh sesuka hati. Lalu nampak jelas yang datang menonton rata rata senior citizens, hampir tidak ada anak muda yang hadir. Mereka jauh lebih tertarik dengan pop music concert dari Taiwan seperti pertunjukan Jay Chou atau Amei yang selalu penuh, mahal sekali pun harga karcisnya.
Para organizer sebagaimana umumnya kaum pengusaha, dapat membaca situasi, dan cepat mengambil kesempatan. Mereka sadar, dengan
berjalannya jaman, pertunjukan wayang tradisional tidak lagi dapat menarik perhatian masyarakat umumnya seperti jaman lalu. Namun mereka dapat melihat adanya lumbung emas dalam budaya Hungry Ghost Festival, asalkan mampu mengendalikan keadaan. Pertama mereka merubah acara pertunjukan, wayang tradisional diganti dengan pertunjukan music pop, mengundang entertainer dan penyanyi kawakan dalam dan luar negeri. Acara pertunjukan dibuat sedemikian rupa sehingga berupa variety show, lincah dan meriah. Namun pemasukan uang bukan dari mereka yang hadir, karena tidak diambil bayaran. Siapa saja yang ingin datang boleh, tidak ada penjualan karcis.
Pemasukan datang dari corporate clients yang umumnya kuat keuangannya. Seperti sudah diterangkan bahwa festival ini berhubungan erat dengan budaya dan kepercayaan Taoist, sedangkan kebanyakan corporate clients adalah penganut aliran ini, maka mereka bersedia mengeluarkan beaya besar kepada organizer untuk mementaskan getai selama Hungry Ghost Festival, dengan harapan bisa diberi perlindungan dan mendapat berkah berlimpa. Kalau dulu petani mengharap panen berlimpa, sekarang corporate clients mengharap keuntungan finensiel berpuluh juta dolar.
Menurut berita orang dalam, getai organizer yang terkenal, dapat mengantongi keuntungan sekitar $ 30,000 sepanjang Bulan Hantu, yang tahun in tercatat mulai dari tanggal 10 Agustus hingga 7 September. Siapa bilang hantu hantu dari alam baka tidak membawa berkah?
This post was submitted by May Swan/IM .






















