Tragedi Mei ’98, Jangan Lupakan Perkosaan

Posted on May 26 2010 by Eddy Djaja

11 Responses to “Tragedi Mei ’98, Jangan Lupakan Perkosaan”

  1. […] Media Indonesia. 2010. Tragedi Mei 98, Jangan di lupakan (Dont Forget to Mei 98 incident). http://www.indonesiamedia.com/2010/05/26/tragedi-mei-98-jangan-lupakan-perkosaan/. Retrived on 10 January […]

  2. eva says:

    walaupun para korban bungkam, tapi sejarah tidak dapat ditutupi , apalagi kebusukan pasti terbongkar. Dan semua ada pembalasannya cepat atau lambat, karena Tuhan tidak pernah tidur. Apa yang ditanam pasti dituai.

  3. james says:

    betul setuju banget Eva, kalau bisa Sedelapan deh

  4. Yohanes says:

    udahlah, ngga usah diinget lagi hal2 begituan. Demonstrasi rusuh pada saat Itu murni diluar kontrol aparat. Aparat terkesan tidak siap dan lambat bertindak. Kalaupun para korban mau menuntut, apakah masih ingat wajah pelakunya ? Paling2 pekakunya udah mati kena penyakit AIDS dan PMS.

  5. james says:

    pelakunya saja masih eksis kok, malah lenggang kangkung ama bayem

  6. Yohanes says:

    harus dibuktikan dengan tes DNA pelakunya. Kalau mau, para korban bisa buat laporan ke polisi. Sebaiknya media berhenti mempolitisasi kasus2 seperti ini.

  7. james says:

    Polisinya sudah Ompong gimana mau selidikna ???

  8. Moh Rifky Setiawan says:

    Etnis Tionghoa pada awalnya adalah pendatang dari luar negeri,dari negara China,pada saat generasi pertama mereka datang ke Indonesia.Pada saat itu China adalah sebuah negara yg sangat miskin&sengsara ,lebih miskin dari Indonesia.Sebuah negara komunis yg sangat menutup diri dari dunia luar,sangat sedikit pengaruh dari negara luar yg didapat,negara tanpa agama (seperti Korea Utara saat ini).Pemerintah China pada saat itu sangatlah kejam terhadap rakyatnya,mengharuskan seluruh rakyatnya bekerja keras,kemudian harus menyerahkan semua hasil kerjanya kepada pemerintah.Oleh sebab itu kemudian penduduk China menyebar ke seluruh dunia,termasuk ke Indonesia.Setelah sampai di tanah yg baru&mendapatkan kesempatan mencari nafkah di tanah yg baru,seharusnya etnis Tionghoa bisa bergaul&membaur dengan penduduk lokal,saling bantu-membantu dengan penduduk lokal,dan tidak bersikap diskriminasi terhadap penduduk lokal.Tetapi pada kenyataannya, mayoritas masyarakat Tionghoa tidak bisa bergaul&membaur dengan warga pribumi,mengeksklusifkan diri,menganggap derajat mereka paling tinggi dibandingkan dengan ras lain,sehingga membuat masyarakat Tionghoa bersikap diskriminasi secara semena-mena terhadap warga pribumi.Situasi ini telah berjalan ratusan tahun dan siap meledak sewaktu-waktu seperti bom waktu.Dan puncaknya adalah kejadian Mei 1998.Setiap kejadian pasti ada hikmah yg bisa diambil,yg bisa membuat kita berintrospeksi diri,supaya kejadian Mei 1998 tidak terulang lagi dimasa yg akan datang.Pambauran itu indah,karena bisa membuat bangsa dan negara kita tambah maju.Sudah saatnyalah semua ras yg hidup di bumi pertiwi ini bersatu dan bersama2 membangun bangsa ini supaya bangsa kita semakin disegani oleh bangsa2 lain dimasa yg akan datang. Bravo Indonesia !!!!

    • hahahaha says:

      Kesimpulannya ga usah balik ke Indonesia lagi lah. Buat apa? Isinya orang2 goblok semua, ga pemerintah ga rakyatnya. Semuanya sama2 ga tau aturan. Serasa hidup di negara barbar aja. Udah 15 tahun sejak 98, buktinya negara ini semakin hancur entah mau dibawa ke mana. Diskriminasi terhadap etnis tionghoa pun tidak berdasar. Hanya karena kecemburuan sosial dan kepentingan oknum semata juga propaganda Orba yang konyol. Etnis tionghoa jauh lebih memberi manfaat dan kontribusi bagi negara tapi tidak pernah dilindungi. Ya buat apa buang2 waktu di negara keparat itu.

      • Hehehe says:

        Silakan. Pergilah ke manapun anda mau. Ndak usah balek2 lagi. Dunia sudah terlalu penuh dengan orang2 berpikiran kerdil seperti anda.

  9. James says:

    Proses Pembauran Ternyata Hingga Saat ini dan Nanti Kedepannya Tidak Dapat Berjalan Dengan Mulus, hanya persentasi kecil saja yang berhasil, persentasi besarnya Hanya Merugikan Sebelah Pihak saja

Leave a Reply