Putri dari Mantan Presiden Sukarno dan Ibu Ratna Sari Dewi
Mengenai mengapa Kartika disekolahkan di luar negeri dan bukannya di Indonesia, Dewi menuturkan, “Saya sengaja mementingkan agar Kartika mempunyai jiwa internasional. Kosmopolitan. Alam pikiran
internasionalisme itu justru untuk bisa menghormati nasionalisme.Begitu kata Bapak dulu. Bapak juga berpesan, meskipun Kartika tinggal di Paris, kalau ada kesempatan harus datang ke Indonesia. Itu agar Kartika mengenal akar dan asal-usulnya, budayanya, adat istiadat dan sejarahnya. Barulah dengan demikian dia akan menghargai perbedaan antarabangsa, antarbudaya dan sebagainya. Meski di sekolahnya Kartika adalah satu-satunya orang Indonesia, namun Dewi selalu mengusahakan agar pada berbagai kesempatan yang memungkinkan Kartika tetap menjalin tali batin sebagai orang Indonesia.”Memang tidak ada anak Indonesia di sekolah itu,” terang Dewi. “Namun hubungan dengan masyarakat Indonesia selalu dipelihara.
Kami selalu diundang Kedutaan Indonesia, pada perayaan Hari Kemerdekaan,Hari Sumpah Pemuda, dan lain-lain. Dan, setiap ada kesempatan, Kartika berlibur di Indonesia dan menemui saudaranya di sini.” “Kartika banyak mewarisi watak kuat ayahnya. Dia sudah bisa membentuk pendapatnya sendiri dan mengambil sikap sendiri. Dia pandai berpidato, pintar sekali membuat tulisan. Menurut Dewi, dia bisa menjadi pengacara hukum internasional yang baik, tapi tidak tahu apa dia mau menjadi itu.Terserah dia sendiri nanti. “Si anak, yang ditanya tentang cita-citanya, membenarkan kata-kata ibunya, “Saya ingin menjadi pengacara hukum internasional.” Salah satu persiapannya adalah belajar bahasa Spanyol–ia sendiri dalam usia semuda itu telah menguasai bahasa Jepang, Inggris, dan Prancis dengan baik.
Sayangnya, Kartika justru sangat sedikit mengetahui bahasa Indonesia. Jelas
ini disebabkan oleh pergaulannya yang lebih intens dengan orang non-Indonesia. Tapi, sebagai orang yang mudah memahami bahasa asing di luar bahasa ibunya, Kartika tampaknya tidak akan mengalami banyak kesulitan untuk belajar bahasa Indonesia. Lagipula, ia punya niat untuk tinggal dalam waktu yang lama di Indonesia. “Saya juga ingin bisa tinggal di Indonesia agak lama, tetapi harus bersama ibu.” Dewi mendukung keinginan anaknya itu. “Saya kira, kalau Kartika sudah berusia 16 atau 17 tahun, akan lebih sering dan lebih lama tinggal di sini”.
Mengenai ayahnya yang orang Indonesia, Kartika menunjukkan kekagumannya yang sangat dalam. Dewi, yang tahu bahwa anaknya akan banyak mendengar hal buruk tentang Sukarno, telah lama mewanti-wanti Kartika, bahwa Kartika tetap boleh saja mendengarkan semuanya, tapi tak perlu begitu saja percaja. Didikan ibunya membekas benar. “Apa pun kata orang tentang ayah, saya punya pendapat sendiri,” ujar Kartika. “Indonesia tentu mengingatkan saya pada ayahanda. Tetapi, pelajaran sekolah pun selalu mengingatkan saya padanya. Saya lalu membandingkannya dengan ayah. Dan saya yakin, ayah sayalah yang terbaik. Saya melihat pada karya yang dicapai dalam hidupnya. Lalu, saya sadar betapa ibu mencintainya, dan menghayati betapa ayah mencintai ibu.”
Mengenai Kartika pernah pertunangan dini. Dia telah melangsungkan pertunangannya dengan seorang anak jutawan Jerman Barat. Pria yang
bernama Lorne Thyssen ini berusia 21 tahun, atau terpaut dua tahun di atas Kartika dan masih kuliah di Jurusan Psikologi Universitas Edinburgh. Hanya saja, mereka tampaknya terlalu muda untuk memasuki sebuah hubungan yang penuh dinamika emosional seperti pertunangan. Sekembalinya dari liburan di Gstaad,Swiss, hubungan mereka sedang dalam keadaan sulit. Kartika kembali ke Paris dan hubungan itu terputus karena tidak ada kecocokan.
Pada hari Minggu, 12 Desember 1993, Kartika hadir di Keraton Surakarta, menjelang upacara perkawinan GRA Koes Moertiyah dan Eddy Supriono. Kartika datang jauh-jauh dari Jepang karena memperoleh undangan pribadi dari Gusti Mung, pengantin putri, yang ia kenal dengan baik. ” Saya merasa terharu dan berbahagia sekali, karena bisa menyaksikan adat-tradisi yang masih terpelihara baik seperti perkawinan agung keraton ini,” ungkapnya.Selain disebabkan karena undangan yang ada di tangannya, kedatangan Kartika, yang kala itu bekerja di sebuah biro public relation (PR), juga dalam rangka tugasnya sebagai peliput upacara pernikahan keraton itu untuk stasiun TV Jepang, NHK.
Seorang fotografer senior yang kala itu sudah berusia setengah abad lebih
dan juga hadir di acara yang sama, Agus Sutanto, menghampiri Kartika. Ia lalu memperlihatkan sebuah potret close up seorang anak perempuan berusia tiga tahun. Agus bercerita, gambar itu diambil pada 21 Juli 1971, saat upacara pemakaman jenazah Bung Karno di Blitar. Ia memotret Kartika kecil saat turun dari mobil sambil digandeng pembantunya yang berkebangsaan Prancis. Suasana pemakaman jenazah Bung Karno saat itu, tambah Agus, amat tegang karena disertai penjagaan ekstra ketat.
Melihat foto dirinya yang begitu dekat dan belum pernah ia saksikan sebelumnya, Kartika kontan kaget. “It’s make me crazy!” ia berteriak. Dengan penuh haru ia menimang-nimang foto hitam-putih berukuran kartu pos itu. Sementara itu, di antara keluarga besar Sukarno, Kartika mengaku paling dekat dengan Megawati Sukarnoputri. Sewaktu Megawati belum terpilih menjadi presiden, Kartika kerap mengikuti safari daerah kakaknya yang menjabat sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan. Dikatakan Kartika, waktu melihat massa yang emosional menyambut Megawati, ia dapat merasakan suasana kala ayahnya berhadapan langsung dengan rakyatnya. “Mbak Mega dengan saya selalu dekat,” ujar Kartika. “Sejak saya umur 18,” lanjutnya, “dia selalu mengontak saya dan selalu perhatian dengan keadaan saya. (Bersambung)
This post was submitted by Charlie Chen.




















Dia adalah seorang tokoh Indonesia yg hebat, modern dan progressive. Good luck to her!