Hongkong , 2009/ Indonesia Media.- Banyak Hoakiau Indonesia di Hongkong yang masih memelihara budaya Indonesia usia mereka rata-rata diatas kepala enam, namun ada juga satu dua yang muda diantara mereka. Tak
kurang dari 80-an perkumpulan-perkumpulan etnis Tionghoa di Hongkong ada yang berdasarkan asal satu sekolah, asal satu kota atau berasal dari satu propinsi di Indonesia. Selalu saja ada event dan kegiatan diantara mereka ditengah kesibukan sehari-hari.
Salah satunya adalah kegiatan kumpul-kumpul sambil bernostalgia ke-jadul. Pertemuan semacam ini paling sedikit 2 sampai 3 kali diadakan dalam

Walaupun sudah lama tinggal di Hongkong namun kerinduannya pada tembang-tembang lagu Indonesia tak bisa dilupakan
setahun. Pencinta lagu-lagu nostalgia Indonesia, Tionghoa dan Barat, juga mereka mengundang teman-teman dari kalangan non Tionghoa, ada juga staf KJRI Hong Kong, wartawan Indonesia dan TKW (Tenaga kerja Wanita atau domestic helper, pembantu rumah tangga).
Kami mengundang para penyanyi yang sering tampil di berbagai pentas komunitas Tionghoa asal Indonesia di Hong Kong, Bapak Thio Keng Bouw selaku ahli musik mengiringi mereka menyanyi dengan piano, dengan electronic keyboard, serta dengan ONE MAN ORCHESTRA, (Komputer musik).

Pak Chan CT adalah putera sulung Siauw Giok Tjhan, yang pakai topi putih, kaos T Shirt hitam ada garis merah di pundaknya dan pakai celana pendek putih, dan berkacamata. Wanita yang duduk disebelahnya adalah Ria Susanti, wartawan Sinar harapan di Hongkong, dan disebelahnya lagi adalah Sdr Yoso, direktur Resto Indonesia di Paris yang juga kebetulan ada di Hongkong ketika itu.
Setahun sekali dgn makanan Indonesia Rijstafel yang lengkap, umumnya pada peringatan HUT Republik Indonesia 17 Agustusan. Sedangkan pada kesempatan lainnya juga tersedia makanan kecil, minum kopi dan. Yang penting adalah mempererat persahabatan melalui kegiatan kebudayaan ini, melalui nyanyi dan dansa Ballroom/Latin yg digemari oleh kawan-kawan seperantauan Indonesia.
Kelompok semacam ini di Hongkong mungkin akan menyurut seiring dengan waktu yang semakin senja, maklum saja banyak dari mereka juga supah pada uzur, sedangkan generasi berikutnya umumnya sudah menjadi orang Hongkong, yang tak
pernah mengalami hidup di Indonesia, dan punya pengalaman mudanya yang berbeda dengan mereka ini, jadi mereka sudah mempunyai dunia mereka sendiri, dunia pemuda Hongkong yang hobby musiknya berbeda dengan para orang tuanya. Saya kira di USA
juga demikian, ujar Thio Keng Bouw yang mengajar sebagai guru musik itu.Thio, setiap tahunnya paling sedikit enam kali tampil di berbagai pentas kesenian di Hongkong, minimal dua bulan sekali. Umumnya mereka sudah kenal siapa Thio Keng Bouw itu. (IM)
This post was submitted by Indonesia Media.























