Guilin Yang Indah
Kami berangkat dengan keretapi dari Nanchang ke Guilin. Guilin sebuah kota kecil di selatan, termasuk provinsi Kwangxi. Guilin sangat indah. Keindahannya terutama perpaduan sungai, pemandangan bebatuan di sungai
Ciang yang bagaikan batu-apung yang membentuk hiasan alam secara alamiah. Dan pemandangan para nelayan sepanjang sungai itu bergulat mencari kehidupan, menangkap ikan dengan jala, dan pukat tradisional, dan selalu diiringi burung-burung yang bertengger di sisi perahu itu. Burung itu akan menangkap ikan dan membawanya ke perahu, dan sebelumnya para nelayan mengikat leher burung itu agar tidak terus langsung menelan ikan. Dengan demikian si nelayan masih bisa memperoleh ikan itu. Burung-burung tersebut memang dipelihara untuk keperluan penangkapan ikan.
Pada umumnya para turis akan diajak berlayar sepanjang Sungai Ciang ini, menikmati pemandangan yang sangat indah. Kalau berkabutpun tetap indah, karena kabut itu seakan menjadi tabir-alam yang tampaknya sangat halus bagaikan sutera kekelabuan. Kalau ada matahari lain lagi keindahannya, sinar yang memancarkan caya keemasan, memantul di air sungai, dan dari jauh tampak lengkungan pelangi yang berwarna-warni. Ketika kita
sedang menikmati keindahan sungai dan bebatuan-raksasa yang bagaikan pelampung timbul mengapung itu, terdengar nyanyian para nelayan.
Mereka menyanyi dengan suara yang sangat bersih dan merdu, tanpa tahu bahwa disekeliling mereka siang-siur perahu-motor membawa para turis. Sangat alamiah, sangat naluriah, wajar dan bagaikan air sungai itu sendiri, mengalir dan mengalir, tanpa sengaja berbuat demi kepentingan para turis! Keindahan sungai Ciang bagaikan salah satu permata Tiongkok di bagian Selatan. Cerita Sungai Ciang betapa banyak yang mengharukan, dan sudah dijadikan opera Beijing dan opera setempat. Ke Guilin tetapi tidak melayari Sungai Ciang samasaja dengan tidak ke Guilin, sama saja ke Paris tidak melihat Eiffel Tower dan Musium Louvre atau istana musimpanas Versailles.
Ada yang hendak kuceritakan pahit-manisnya kunjungan kami ini selama di Guilin. Guilin Sungai dan keindahan bebatuan, para nelayan, burung-burung, perahu nelayan yang silang-siur, dan nyanyian merdu para nelayan yang sangat wajar itu, adalah di luar penginapan kami, di luar hotel kami. Kami
menginap di sebuah hotel berbintang yang juga disediakan buat para turis asing. Tetapi cara pengelolaan hotel itu sangat di luar kebiasaan hotel
lainnya di dunia! Kalau kami mau interlokal menilpun teman di Beijing, kami harus menyerahkan uang sejumlah 500 yuan kepada desk di pusat information, sebagai tanggungan.
Padahal ongkos tilpunnya tak sampai seharga 20 yuan! Ini wajib katanya, harus menyerahkan uang tang-gungan, sudah peraturannya begitu, walaupun kita yang akan menilpun itu tokh ada di depan mereka sendiri, petugas kantor itu! Lalu kalau kita mau membawa kunci kamar hotel, kita harus menyerahkan uang tanggungan juga sejumlah 500 yuan, dan jumlah ini bukannya sedikit, satu bulan gaji pegawai biasa ketika itu! Memang uang itu hanya sebagai tanggungan, dan akan kembali kepada kita lagi. Tetapi selama kami “naik-hotel turun-hotel” di Tiongkok ini, baru kejadian beginilah yang kami alami di Guilin. Tidak pernah terjadi di bagian manapun di dunia ini
seperti yang di Guilin itu! Memang mereka tidak menipu, tetapi peraturan yang sangat kaku dan aneh itu, kenapa masih bercokol di tengah keterbukaan Tiongkok ketika itu?!
Ketika kami berjalan-jalan di sekitar perhotelan, tampak barisan pengemis duduk dengan teratur, berjarak satu setengah meter seorang. Dan panjangnya barisan pengemis ini lebih dari 40 meter, sedangkan jumlah pengemisnya sekira 30 orang. Mereka memainkan alat musik, menyanyi dan berdoa cara mereka. Dan orang yang akan memberikan uang, dipersilahkan kepada siapa saja, karena tempat penampungan uangnya ada di depan mereka masing-masing. Pemandangan begini baru kali ini yang kulihat dan aku benar-benar
merasa aneh bin ajaib. Samasekali tak menyangka Guilin yang begitu bagus-indah, dipuja- puja, tokh masih mengandung borok-borok yang tadinya tak tampak jelas. Selama kami di Beijing 10 hari itu, kami tak pernah melihat pengemis, dan orang gelandangan, semacam di Guilin! Ada rasa kecewa dalam diriku. Jauh-jauh aku datang dari Paris mau melihat dan menikmati Guilin yang sangat bagus dan indah dan mengesankan ketika tahun 1973 dulu itu, kini tampak borok-borok yang dulunya tak terlihat atau memang belum muncul. Paris 12 April 1999 (bersambung)
This post was submitted by Sobron Aidit.






















