Resensi buku: Aku Orang China

Posted on March 18 2010 by Dr. Beni Bevly

Narasi Pemikiran Politik Plus dari Seorang Tionghoa Muda – Penulis: Dr. Beni Bevly*

Tragedy Kemanusiaan Mei 1998 dan kejadian-kejadian masa lalu yang berkaitan dengan konflik etnis di Indonesia memperingatkan penulis. Peringatan ini membisikkan bahwa kehidupan antara suku, ras, agama dan

Dr Beni Bevly - penulis

antar golongan di Indonesia ternyata masih jauh dari keharmonisan dan setiap saat berpotensi untuk terjadi konflik termasuk konflik berdarah yang sering kali etnik Tionghoa sebagai objek penderita. Sadar akan peringatan inilah maka penulis mengambil inisiatif untuk menulis buku “Aku Orang China? Narasi Pemikiran Politik Plus dari Seorang Tionghoa Muda.”

Sesuai dengan gambar sampul belakang buku ini, yaitu lampion atau lampu tradisional Tionghoa, yang bermaksud menyampikan pesan bahwa buku ini ingin menerangkan sisi-sisi kehidupan etnik Tionghoa dan refleksi pemikirannya. Dengan demikian, diharapkan timbul pengertian dari pembaca paling tidak tentang salah satu sosok Tionghoa di Tanah Air.

Pada gambar halaman depan sampul, ditampilkan jembatan yang memberikan pesan bahwa setelah membaca buku ini diharapkan bahwa para pembaca akan merasa jurang pemisah antara etnik Tionghoa dan non-Tionghoa bisa diperkecil dan terjadi interaksi yang wajar dan bisa hidup lebih harmonis di antara mereka.

Sesuai dengan kata plus di judul buku ini, penulis tidak hanya menarasikan pemikiran politik, tetapi juga menuturkan pemikiran ekonomi, manajemen dan kepemimpinan organisasi dan aplikasinya di Indonesia. Pemikiran plus ini mengisi sisi ilmu politik yang cenderung science for science atau ilmu murni, sedangkan ilmu ekonomi, manajemen dan kepemimpinan organisasi cenderung mengarah ke aplikasi. Pemikiran politik plus diharapkan mampu diangkat ke permukaan karena bekal pendidikan yang multidisiplin yang penulis miliki.

Hal lain bahwa penulis berusaha keras untuk menarasikan fenomena sosial politik dan ekonomi Indonesia yang kompleks menjadi sederhana. Ia mengaitkan hampir setiap topik yang dibahas dengan metafor kejadian sederhana sehari-hari yang pernah dialami. Diharapkan hal ini membuat bahasan pemikiran politiknya menjadi mudah dimengerti.

Ciri khas pendekatan narasi pemikiran politik yang multidisiplin dan mengangkatnya dari metafor kejadian sehari-hari inilah yang diharapkan membedakan buku Aku Orang China? Narasi Pemikiran Politik Plus dari Seorang Tionghoa Muda dari buku lain yang sejenis.

Pada bagian pertama (Lari di Atas Api) dan terakhir (Menuju Indonesia Baru) buku ini terdapat persamaan isi, yaitu mengenai narasi singkat tentang konflik dan kekerasan yang terjadi pada etnik Tionghoa dan akibatnya yang menyakitkan. Narasi tersebut sengaja diulang di dalam dua bagian ini untuk memberi tekanan dan mengingatkan kita bahwa konflik kekerasan yang memilukan seperti itu mestinya tidak perlu terjadi dan bisa dicari jalan keluar dengan cara non-kekerasan.

Bertambahnya satu lagi koleksi buku yang berkaitan dengan etnik Tionghoa ini diharapkan membantu masyarakat agar bisa semakin memahami seperti apa sesungguhnya pemikiran seorang anak manusia yang secara umum beretnikkan Tionghoa dan secara khusus beretnikkan Hakka. Perlu ditekankan, bahwa sehubungan dengan sangat beragamnya etnik Tionghoa di Indonesia, maka penulis tidak bisa mengklaim bahwa narasi pemikiran  politik plus di buku ini mewakili seluruh etnik Tionghoa.

Keasingan dan ketidaktahuan akan sesuatu cenderung menimbulkan rasa curiga dan takut. Secara naluri, perasaan ini juga menimbulkan sifat ingin bertahan. Seringkali orang menerjemahkan bahwa pertahanan yang terbaik adalah menyerang. Tentu saja kita tidak mau serang menyerang seperti ini terjadi di antara beragam etnik di Indonesia hanya dikarenakan keasingan dan ketidaktahuan satu sama lain.

Dengan penerbitan buku ini, penulis berharap bahwa etnik Tionghoa tidak terlalu menjadi mahluk asing di Indonesia sehingga apa yang diprediksikan oleh Huntington (2003, p. 28) dalam The Clash of Civilizations and the Remaking of the World Order yaitu meningkatnya clash of ethnicity pada post cold war di tingkat domestik suatu negara seperti yang telah terjadi di Indonesia,  tidak terulang lagi.  (*Dr. Beni Bevly adalah analist dari dan bisa dijumpai di OverseasThinkTankforIndonesia.com, yaitu suatu badan studi mengenai Indonesia yang berlokasi di Kalifornia Utara).

This post was submitted by Dr. Beni Bevly.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply