Benarkah Ada Cuci Otak & Hipnotis oleh Anand Krishna?

Posted on March 18 2010 by Yuan Yudistira

Mengikuti perkembangan berita yang saya baca di beberapa media yang berkembang saat ini tentang Bapak Anand Krishna. Bapak Anand Krishna telah dilaporkan oleh dua orang yang konon mengaku sebagai mantan murid

Yuan Yudistira - penulis

telah melakukan perbuatan pelecehan seksual. Mengingat ketokohan beliau – isu seperti ini tentu menjadi hal yang menarik untuk dipublikasikan oleh beragam media baik cetak maupun elektronik .

Apakah benar apa yang dilaporkan kedua “mantan murid” Bapak Anand Krishna kepada pihak polisi, saya berpendapat biarkan proses hukum yang berjalan dengan baik tanpa adanya tekanan dari pihak manapun. Semuanya harus bisa dibuktikan oleh pihak pelapor.

Menyimak adanya isu yang berkembang bahwa pelapor telah mengalami brain wash atau proses cuci otak.  Dan bahkan akhir-akkhir ini apa yang dilakukan oleh Lembaga Anand Ashram pun tak luput disoroti media dan disebut-sebut sebagai sebuah lembaga yang menyebarkan ajaran sesat.

Menanggapi semua pemberitaan yang ada, saya terdorong untuk menuliskan beberapa hal berdasarkan pengalaman pribadi saya yang berkenalan dengan Bapak Anand Krishna serta lembaga Anand Ashram.Semoga apa yang saya sampaikan ini bisa memberikan informasi yang cukup bagi siapa saja yang penasaran tentang apa yang sebenarnya dilakukan di Anand Ashram dari sudut pandang yang netral.

Izinkan saya memperkenalkan diri – Nama lengkap saya Yuan Novadhya Yudistira, kelahiran 28 November 1975. Beragama Islam. Pendidikan terakhir S2 dan saat ini bekerja sebagai IT Manager sebuah perusahaan media di Jakarta. Saat ini telah menikah dan dikaruniai dua orang anak.

Bagaimana Saya Mengenal Anand Krishna dan Anand Ashram Mungkin akan saya mulai dengan menceritakan kilas balik saya pertama kali mengenal Bapak Anand Krishna dan lembaga Anand Ashram. Sekira tahun 1998 – ketika itu saya kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB) tingkat akhir.  Seperti kebanyakan mahasiswa yang lain,  saya pernah aktif di beberapa organisasi – terutama organisasi rohani Islam dan juga musala kampus.

Rasa pengetahuan tentang Islam – dan mungkin dilatar belakangi – dasar pemahaman saya yang masih sangat dangkal,  proses pencarian jati diri saya membawa saya terlibat dalam sebuah organisasi gerakan islam yang cukup ekstrim dan bergerak di bawah tanah. Kurang lebih dua tahun saya aktif di sana dan bahkan saya pernah menjadi salah satu “perangkat pemerintahan” pada level setingkat desa. Walaupun saya tidak menyebutkan gerakan apa yang saya ikuti, pembaca tentu bisa menerka kira-kira apa. Pada saat itu, semangat jiwa muda saya yang mendorong dan bergerak 100 persen. All out.

Gerakan yang saya ikuti ini memberikan semacam doktrin yang cukup ekstrim, dimana jangankan orang yang beragama di luar Islam, bahkan orang Islam yang belum masuk kedalam gerakan ini – dalam istilah mereka “melakukan hijrah”  adalah termasuk orang kafir dan layak untuk diperangi!

Begitu terlenanya saya dengan ajaran yang saya terima telah mendorong saya untuk mencurahkan seluruh perhatian, dana dan waktu saya pada kegiatan gerakan tersebut. Bahkan pihak keluarga saya merasa “telah kehilangan saya”. Kerasnya aktivitas di sana dan karena konsentrasi pada pencurahan dana dan sumberdaya manusia yang sangat tinggi,  mengantarkan saya pada sebuah titik kulminasi. Sebuah titik dimana saya merasa hati dan jiwa saya kering.  Saya merasa apa yang sudah saya korbankan tidak membawa saya kemana mana, jiwa masih saya kering, hidup saya tidak tenang dan yang pasti hubungan saya dengan keluarga dan orang tua menjadi  berantakan.

Apa yang saya rasakan saat itu sesungguhnya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Saya mengalami goncangan yang cukup dahsyat.  Di satu sisi saya sudah didoktrin tentang sebuah ideologi, di sisi lain – saya merasa telah pada satu titik jenuh dan merasa tidak mendapatkan apa yang saya cari.

Dalam situasi dan kondisi tersebutlah saya berkenalan dengan Bapak Anand Krishna melalui sebuah buku yang beliau tulis. Tertarik dengan apa yang saya baca, akhirnya saya memutuskan untuk datang pada sebuah acara open house yang diselenggarakan di sunter. (bersambung)

This post was submitted by Yuan Yudistira.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply