Bagian Pertama
Ketika usai perkawinan Sukarno-Dewi menginjak 7 tahun, Sukarno kelihatan resah. Rupanya ia merindukan seorang momongan kasih cintanya berdua. Pada suatu hari Sukarno mengungkapkan secara terus terang kegalauan
hatinya itu, ” kau berumur 26 tahun dan aku 64 tahun, walaupun aku ingin sekali punya anak, tetapi setelah 7 tahun belum juga ada tanda-tanda bahwa kau mengandung, aku mulai putus asa, ” ungkap Sukarno. Untungnya, kemurahan Tuhan memang selalu datang tepat waktunya. Tuhan mengabulkan doa Ratna Sari Dewi. Dia mengandung dan karenanya ia sangat bersyukur atas karunia Tuhan. Kehamilan itu merupakan kebahagiaan tak terkira bagi Sukarno. Sebagaimana seorang suami yang baik, Sukarno kerap menunggui Dewi di Wisma Yasso.
Keperluan dan kebutuhan Dewi sebagai ibu hamil dipenuhinya dengan baik. Bahkan ia juga mengalami kepanikan khas seorang suami, yakni pontang-panting mencari makanan yang menjadi objek ngidam istrinya. Menurut Rachmawati, ketika hamil Dewi Sukarno ngidam bubur kembang tahu dengan kinca. Meskipun membahagiakan, namun ini adalah situasi yang dilematis, karena saat itu sebenarnya tenaga Dewi sangat dibutuhkan. Sukarno memilih untuk tidak mengambil resiko. Ketika situasi negeri ini semakin tak menentu, Sukarno menyarankan agar Dewi pulang ke Jepang bersama bayi yang dikandungnya. Pada bulan November 1966, atas desakan keras dari Sukarno ini, Dewi terbang ke Jepang.
Di tanah kelahirannya itu ia melahirkan anaknya yang pertama. Anak itu diberi nama Indonesia seperti ibunya, sesuai dengan pesanan ayahnya, yakni Kartika Sari Dewi ( ada sumber, termasuk dari Dewi sendiri, yang menyebut Karina Sari Dewi ). Menurut Dewi, ” bayi itu lahir selamat pada tanggal 11 Maret 1967, diberi nama : Karina Sari Dewi “. Hanya sayangnya ketika Karina lahir, ayahnya sudah tak berkuasa di negerinya. Begitu sayangnya Sukarno pada Karina, beliau tak pernah lupa titip salam pada si kecil jika berkirim surat pada Dewi. Salah satu isi suratnya pada Karina antara lain berbunyi demikian : “Buat Kartika, papa sangat senang sekali…… Karina…… Karina…… darling Karina “. Nama yang sebenarnya Karina, tapi Sukarno kadang memanggilnya dengan Kartika.
Kebahagiaan pasangan suami-istri lintas negara ini belakangan terusik lantaran beredarnya berita miring yang menyebut bahwa Kartika bukanlah keturunan Sukarno. Untunglah kabar burung itu berhembus ketika ia masih bayi merah, jika tidak pasti menyakitkan sekali bila ia tumbuh dalam bayangan sebuah isu : Ayahnya bukanlah Sukarno, tetapi Ali Butho, sahabat Sukarno yang juga pemimpin Pakistan. Sebagai penguasa dari dua negara yang memiliki latar belakang ideologis dan kepentingan yang sama, kedekatan yang terjalin sangat hangat dan intim. Ini pula yang menyebabkan Dewi diundang untuk datang ke Pakistan sebagai tamu negara. Sukarno yang sudah kadung percaya, ditambah lagi dengan kesibukannya mengatur negara, mengizinkan Dewi pergi seorang diri.
Konon, dari peristiwa inilah muncul kabar angin tentang kemiripan anak Dewi dengan Ali Butho. Berita ini juga dihubung-hubungkan dengan kondisi Sukarno yang mulai tua dan sakit-sakitan. Ia dikabarkan sudah tidak sanggup lagi menghadapi wanita dalam urusan seksual. Kasak-kusuk seputar berita ini semakin santar dan sempat menjadi rahasia umum di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Akan tetapi, bila kabar burung ini dibawa ke depan Kartika yang kini telah beranjak dewasa, ia tentu dengan sigap dapat menampiknya. Ia yakin betul Sukarno adalah ayah biologisnya dan ia bangga sekali dengan kenyataan itu. ” Saya lahir di Tokyo dan waktu itu ayah saya dalam tahanan rumah di Jakarta. Tapi saya tahu beliau memberi nama saya dan kakak-kakak saya dengan nama dari bahasa Sanskerta yang berkaitan dengan alam.
Saya Kartika Sari, itu artinya “sari bintang” (essense of the star). Megawati itu dari cloud, Mega,” kata Kartika. Sama seperti ibunya, Kartika adalah tipikal wanita modern yang aktif dan kosmopolitan. Masa kecil hingga remaja ia lewati di negeri Perancis. SMA Victor Hugo di Paris adalah pintu masuk kedewasaannya. Status mahasiswa disandangnya di Jurusan Komunikasi MASSA di Pine Manor College, Massachusetts, Amerika Serikat. Setamat kuliah ia meniti karier di sebuah stasiun televisi di Jepang. Tak lama berselang, ia kembali ke Amerika dan bekerja di Kota ” Big Apple”, Biro periklanan New York.
Kendati telah menjadi warga dunia, ia selalu berusaha untuk dekat dengan Indonesia. Oleh teman-teman sekolahnya di Prancis Kartika dikenal sebagai orang Indonesia. Ibunya sendiri kerap mengingatkan Kartika akan tanah asal bapaknya. Kesempatan untuk datang ke Indonesia selalu dimanfaatkan Kartika dengan baik dan penuh antusiasme. Pada hari Jumat, 16 Oktober 1981 Kartika dan ibunya mendarat di Jakarta untuk menghadiri pernikahan Mohammad Taufan Soekarnoputra, anak Sukarno dari Hartini. Di bandara yang memakai nama ayahnya, Kartika dan Dewi disambut oleh keluarga besar Sukarno, yang menunjukkan bahwa mereka adalah tamu istimewa yang kedatangannya telah dinanti-nantikan.
Dalam rombongan penjemput tampak Megawati, Rachmawati, Sukmawati, Guntur, dan Guruh. Kartika, yang waktu itu berusia 14 tahun dan duduk di kelas 1 SMA Victor Hugo Paris, diberi izin libur seminggu oleh sekolahnya. Selain bersama ibunya, ia juga didampingi Tana Kaleya, seorang artis dan fotografer yang banyak bergerak di dunia perfilman. Karena baru saja melakukan perjalanan jauh, Kartika dan ibunya baru mau menerima wartawan keesokan harinya. Sewaktu kepadanya ditanyakan tentang kebangsaannya, Kartika dengan ceria menjawab dalam bahasa Prancis, “Je suis Indonesienne !”. ” Ibu menyekolahkan saya ketika saya baru berusia dua tahun. Padahal seharusnya paling sedikit tiga tahun baru bisa diterima sekolah. Jadi, saya untung satu tahun,” ujar Kartika melanjutkan perbincangan. Dewi, yang duduk di sebelahnya, menimpali, “Pendidikan memang merupakan program yang saya pentingkan baginya. Apalagi dia hidup di lingkungan Asia yang kecil saja, di tengah lingkungan Eropa.”
(Bersambung)
This post was submitted by Charlie Chen.






















