Kontroversi sang Filsuf Agung

Posted on March 13 2010 by Eddy Djaja

AWALNYA banyak pihak meragukan aktor Chow Yun-fat pantas memerankan filsuf agung Confusius. Alasan utamanya adalah, film ini dibuat dalam bahasa Mandarin, sedangkan Chow sendiri adalah penduduk asli yang berbahasa Kanton, Hongkong.

Alasan lain, banyak yang khawatir di tangan Chow Yun-fat, sang filsuf agung menjelma jadi pendekar kung-fu. Mengingat jejak sang aktor yang memang sangat kental dengan film  laga semisal “Crouching Tiger, Hidden Dragon”.

Keraguan itu dengan gemilang bisa dipatahkan aktor kawakan tersebut. Chouw Yun-fat dengan meyakinkan bisa menjiwai tokoh bijak abad pertengahan tersebut. Skeptisme akan bahasa verbal bisa dilenyapkan dengan kemampuannya mengoptimalkan bahasa tubuh.

Sorot mata, senyum, dan gerak-gerik Confusius yang tak pernah dialiri emosi benar-benar tergambarkan dalam film ini. Chow Yun-fat seakan bisa mengimplementasikan salah satu ajaran utama sang filsuf yakni ‘tetap sabar dan tenang menghadapi situasi seperti apapun, dan selalu menjaga etika sopan santun”.

Tak berlebihan, ada yang menyebut film ini seakan jadi demontrasi kepiawaian Chow Yun-fat. Tengok saja aksinya saat ia dan pengikutnya kelaparan di pengasingan. Dengan muka pucat, dan jenggot panjang memutih, berhari-hari tanpa makan, Confusius menenggelamkan diri larut memainkan alat musik petik. Klimaksnya, dalam dentingan nada tinggi, sang tokoh seperti trance sebelum jatuh pingsan. Akting yang sungguh memikat.

Film ini dimulai saat Confucius mengabdi pada kerajaan Lu. Ia jadi penasihat urusan politik yang menekankan perlunya moralitas, dan etika dalam pemerintahan. Toh, banyak pihak tak suka dengan ajaran, dan popularitasnya yang kian berkembang. Maka, pada usia 55 tahun ia disingkirkan sang perdana menteri, dan pergi mengembara.

Diikuti sejumlah pengikutnya. 14 tahun lamanya ia mengembara, mencari dan menemukan arti kehidupan, serta menuliskannya dalam bentuk puisi, dan nasihat bijak. Kritik lain yang membanjir  untuk film ini adalah diselipkannya adegan romantis ketika permasuri Nanzi coba menggoda sang filsuf. Banyak yang menilai adegan itu terlalu dipaksakan untuk tujuan komersil.

Banyak juga yang mencerca point of view atau pendekatan cerita yang lebih menitikberatkan karier sang filsur sebagai politikus dan ahli militer alihalih sebagai pendidik dan  filsuf. Mereka khawatir, pendekatan itu akan menyesatkan begitu banyak orang untuk mengenali dirinya, terutama generasi muda Tionghoa dan mereka yang bukan orang Tionghoa Terakhir, film ini sepertinya diluncurkan pada saat yang tak tepat. Pasalnya di saat bersamaan film ‘Avatar’ sedang merajalela. Kabarnya, penonton di China, Taiwan, dan Hongkong lebih tertarik-tarik berbondong-bondong menonton film produk Hollywood tersebut ketimbang menyimak film Confusius.

Pada sisi lain, kehadiran Confusius memang tak bisa ditunda mengingat pekan ini sudah masuk pada tahun baru China alias Imlek. Rasanya, memanfaatkan momentum Imlek, sungguh tepat untuk menyimak film tentang sang filsuf agung ini –dengan segala keterbatasannya– di di Bioskop XXI atau Blitzmegaplex di kota Anda. (Persda Network/dic)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply